بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Senin, 07 Oktober 2024

Keutamaan Memiliki Anak Perempuan

One Day One Hadits (321)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Keutamaan Memiliki Anak Perempuan

عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْن حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ أنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ)) وضَمَّ أصَابِعَهُ. رواه مسلم. 

Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Barangsiapa yang menanggung segala keperluan dua gadis - dan mencukupkan makan minumnya, pakaiannya, pendidikannya, dan lain-lain - sampai keduanya meningkat usia baligh, maka ia datang pada hari kiamat, saya - Nabi Muhammad s.a.w. - dan ia adalah seperti kedua jari ini dan beliau mengumpulkan jari-jarinya." (Riwayat Muslim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

1. Islam telah mendorong agar para orang tuaa Muslim mendidik anak-anak perempuannya sebaik mungkin, terlebih karena perempuan, yang kelak akan menjadi ibu, adalah madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya.

2. Setiap anak adalah anugerah yang telah dititipkan oleh Allah kepada setiap orang tua. Baik anak laki-laki ataupun anak perempuan saling memiliki keutamannya masing-masing. Seorang anak yang dididik agamanya dengan baik akan menjadi penolong bagi orang tuanya ketika di akhirat kelak. Sebaliknya, sorang anak yang tidak terdidik dengan baik juga akan meminta pertanggungjawaban kelak.

3. Dalam Islam, memiliki anak laki-laki maupun perempuan derajatnya sama saja, keduanya sama-sama memiliki kebaikan dan keistimewaan di sisi Allah. Jika orang tua mampu mendidik anak dengan benar, baik laki-laki maupun perempuan, maka keduanya bisa mengantarkannya masuk ke surga.

4. Keutamaan memiliki anak perempuan bila orang tua mampu mendidik dengan baik dan benar dijanjikan rasulullah, besuk disurga bersamanya seperti kedua jari ini dan beliau mengumpulkan jari-jarinya.

Tema hadist yang berkaitan dengan al quran :

1. Setiap anak adalah anugerah yang telah dititipkan oleh Allah kepada setiap orang tua. Baik anak laki-laki ataupun anak perempuan saling memiliki keutamannya masing-masing.
Seorang anak yang dididik agamanya dengan baik akan menjadi penolong bagi orang tuanya ketika di akhirat kelak. Sebaliknya, sorang anak yang tidak terdidik dengan baik juga akan meminta pertanggungjawaban kelak.
Namun pada jaman jahiliyah, memiliki anak perempuan merupakan sebuah aib bagi keluarganya. Bahkan ketika seorang istri melahirkan seorang bayi perempuan maka sang ayah tak segan untuk membunuh bayi tersebut dengan menguburnya hidup-hidup. Bahkan peristiwa ini juga tertulis dalam Al-Quran yakni pada surat An-Nahl ayat 58;

وإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

Artinya: Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah (Q.S. An Nahl: 58)

2. Selain sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan, anak merupakan karunia dan hibah dari Allah SWT sebagai penyejuk pandangan mata, kebanggaan orang tua, dan sekaligus sebagai perhiasan dunia, serta belahan jiwa

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا 

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
 (QS Al Kahfi [18]: 46).  

3. Ketika Allah menceritakan nikmat anak yang Allah berikan kepada hamba-Nya, Allah awali dengan anak perempuan, baru anak lelaki.
Sebagian ulama memahami, urutan ini bukan tanpa makna. Artinya, bisa jadi mereka yang dikaruniai Allah anak perempuan sebagai anak pertama, itu merupakan tanda kebaikan untuknya.

لِلَّهِ مُلْكُ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشاءُ إِناثاً وَيَهَبُ لِمَنْ يَشاءُ الذُّكُورَ

“Hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. as-Syura: 49).

4. Sungguh mengerikan apa yang terjadi pada zaman tersebut. Untunglah Islam hadir sebagai pengangkat derajat kaum hawa. Peraturan sebelumnya yang menjerumuskan perempuan kini telah berubah karena Islam sangat memuliakan perempuan terutama ibu. Islam tidak membedakan dalam beramal baik laki-laki atau perempuan. 

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh —baik laki-laki maupun perempuan— dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik: dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.(An Nahl:97).

Sabtu, 05 Oktober 2024

Tadabbur Al Quran Hal.398

Tadabbur Al-Quran Hal. 398
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-'Ankabut ayat 19 :

اَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللّٰهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.

- Tafsir Al Muyassar Al-'Ankabut ayat 19 :

Apakah mereka itu tidak mengetahui bagaimana Allah menciptakan makhluk dari ketiadaan, kemudian mengembalikannya setelah kematiannya, sebagaimana Dia menciptakannya pertama kali dalam bentuk makhluk yang baru, hal itu tidaklah sulit bagi-Nya. Sesungguhnya hal itu bagi Allah adalah mudah, semudah Dia menciptakan makhluk untuk pertama kalinya.

- Hadis Sahih Al-'Ankabut ayat 19 :

Dari Tariq bin Syihāb, dia berkata, "Aku mendengar Umar Ra. berkata, Nabi Saw berdiri i hadapan kami pada suatu tempat, lalu beliau Saw. mengabarkan tentang awal peniptaan makhluk sampai pada (ketetapan) penduduk surga masuk ke tempat tinggal mereks, dan penduduk neraka sudah masuk ke tempat tinggal mereka Orang yang mengingatnya tentu ingat dan orang yang melupakannya tentu akan lupa" (HR Bukhāri, A-Jāmiu Sahih Bukhári Juz 2, No. Hadis 3192: 418).

- Riyāduş şālihin :

Dari Abdullah bin Amr Ra., dia berkata, "Kami pernah mengadakan suatu perjalanan bersama Rasulullah Saw., lalu di suatu tempat pemberhentian kami berhenti. Sebagian kami ada yang memperbaiki tempat tidur, sebagian lagi berlatih memanah, sebagian lagi memberi makan hewan, dan sebagainya. Tiba-tiba terdengar utusan Rasulullah Saw. menyeru, memanggil kami untuk salat berjamaah, lalu kami berkumpul di dekat beliau. Beliau Saw. bersabda, Para Nabi sebelum aku diutus untuk menuntun umatnya kepada kebaikan yang telah diajarkan Allah Swt. bagi mereka dan mengingatkan bahaya yang mengancam mereka. Umatku yang sempurna dan Selamat ialah angkatan yang pertama, angkatan sesudah itu akan ditimpa berbagai cobaan berupa hal-hal yang tidak
disenanginya, seperti timbulnya fitnah. Dimana sebagian mereka menghina sebagian yang lain sehingga timbullah bencana. Orang-orang mukmin berkata, Inilah kiranya yang membinasakanku Setelah hilang bencana tersebut, timbul pula bencana yang lain. Dan orang mukmin berkata, 'Ini..! Ini..!" Siapa yang ingin bebas dari neraka dan ingin masuk ke surga, hendaklah dia menemui kematiannya dalam keimanan kepada Allah Swt. dan hari akhirat.." (HR Muslim). (Dr. Muştafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 1, 1407 H/1987M: 551-552).

- Medical Hadiš :

Dari 'Aşim bin Umar bin Qatādah, dia berkata, "Jabir bin Abdullah pernah datang pada keluarga kami. Kebetulan, ketika itu ada seseorang yang menderita sakit bengkak bernanah atau luka. Lalu Jabir berkata,'Kamu sakit apa?' la menjawab, 'Bengkak, saya sakit sekali. Jabir berkata, Hai pelayan, panggil tukang bekam kemari!" Orang yang sakit itu bertanya, Ya Abdullah, apa yang akan kamu perintahkan pada tukang bekam itu? Jabir menjawab, Saya akan menyuruhnya untuk membekam bengkakmu. Orang sakit itu berkata, Demi Allah Swt. dihinggapi lalat atau tersentuh kainnya saja aku merasa sakit sekali. Apalagi jika dibekam. Ketika Jabir mengetahui bahwa orang yang sakit tersebut enggan untuk dibekam, maka ia pun berkata, 'Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, Di antara penyembuhan yang ampuh adalah berbekam, minum madu, atau sudutan dengan panas api (Al-Kay). (HR AI-Bukhāri-Muslim)
(Aż-Zahabi, At-tibbun Nabawi, 1410 H/1990 M: 151).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat 'Asal (madu)

Manfaat Asal (madu) sudah banyak dijelaskan di bagian terdahulu dan sering disinggung. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa madu sangat baik untuk memelihara kesehatan. Yang paling baik ialah yang warnanya putih dan bening, yang manisnya lebih alami. Yang diambil dari hutan dan pepohonan lebih baik daripada yang diambil dari gua. Yang pasti, hal ini tergantung dari tempat peternakan lebah. (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdul Ma 'ãdi fi Hadyi Khayril lbādi, Juz 4, t.t.: 340-341).

- Hadis Motivasi QS 29: 15 :

Dari Nu'man bin Basyir dari Rasulullah beliau bersabda: "Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang diam terhadapaya, seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah kapal. Lalu orang yang berada di bawah kapal jika mereka mencari air untuk minum. mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagan atas seraya berkata, "Seandainya boleh kami melubangi saja kapal ini untuk mendapatkan bagian kami sehingga kami tidak mengganggu orang yang berada di atas kami." Jika orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang dinginkan orang-orang yang di bawah itu. mereka akan binasa semuanya. Namun, jika mereka mencegah dengan tangan mereka, mereka akan selamat semuanya." (HR Bukhari. 2361)

- HADIS NIAGA QS AI-Ankabüt, 29: 17 :

Meyakini Hanya Allah Pemberi Rezeki

Dari Anas bin Malik , Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya, hanya Allah yang pantas menaikkan dan menurunkan harga. Dialah yang menahan dan melapangkan rezeki. Aku berharap dapat berjumpa dengan Allah dan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku karena kezaliman pada darah dan harta." (HR Abu Dawud, 3451; Tirmizi, 1314)

- AMAL NIAGA :

1. Ar-Rāziq adalah satu di antara nama Allah Ar-Rāzig bermakna Maha Pemberi Rezeki. Sementara itu, ArRazzãq adalah bentuk hiperbolis dari Ar Rāziq yang berarti 'banyak memberi rezeki. Allah-lah yang menguasai seluruh rezeki tersebut.
2. Seluruh rezeki dan ketentuannya hanya milik Allah. Allah-lah yang memberi kepada orang yang Dia kehendaki. Allah pula yang menghalangi rezeki tersebut pada yang lain sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya yang luas.
3. Ada binatang di muka bumi ini yang lemah dan tidak memiliki kekuatan dan kecerdasan. Dia tidak bisa menyimpan rezekinya. Akan tetapi, rezeki itu selalu bersamanya karena Allah yang menjaminnya setiap waktu.

- Tadabbur Surah Al-Ankabut Ayat 15-23 :

1. Ayat 15-23 masih meneruskan kisah Nabi Nuh  dan diteruskan dengan Ibrahim dan Muhammad Saw. Allah selamatkan Nuh dan semua penumpang kapalnya. Allah jadikan peristiwa tersebut sebagai bukti kekuasaan-Nya dan kelemahan orang-orang yang kafir pada-Nya.  Nabi Ibrahim juga mengajak kaumnya untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan tuhan-tuhan palsu yang diciptakan mereka sendiri. Faktanya, tuhan-tuhan tersebut tidak mampu memberi mereka rezeki. Nabi Ibrahim menyeru mereka agar mau mencari rezeki dari Allah, menyembah-Nya dan bersyukur pada-Nya. Namun, umatnya tetap saja menolak dan memerangi dakwah Ibrahim.
2. Sebab itu, Allah menghibur Nabi Muhammad saw. agar tidak bersedih menghadapi kaum kafir Quraisy yang memerangi dakwah beliau, karena para rasul Allah sebelumnya juga diperangi dengan cara yang sama, dan bahkan lebih dari itu. Tugas Rasul saw. hanya menyampaikan dakwah tauhid kepada segenap manusia. Kalau kaum kafir itu mau mempelajari bagaimana Allah memulai penciptaan manusia kemudian mengulanginya sampai kepada mereka dengan sangat mudah, mereka akan dapat memahami dakwah Rasulullah saw.  Allah kuasa  membangkitkan manusia yang sudah mati pada hari kebangkitan nanti. Allah akan mengazab dan merahmati orang yang dikehendaki-Nya dan kepada-Nya mereka dikembalikan.
3. Orang-orang kafir itu tidak akan mampu melemahkan kehendak Allah dan  tidak akan mendapat pelindung dan penolong selain Allah. Sebenarnya, orang-orang kafir pada Al-Qur’an  dan pertemuan dengan Allah ialah orang-orang yang berputus asa pada rahmat-Nya dan bagi mereka azab neraka di akhirat nanti.

Begini Urutan Tanda Kiamat Besar di Akhir Zaman

Tematik (219)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
 
Begini Urutan Tanda Kiamat Besar di Akhir Zaman

Para ulama menyebutkan bahwa tanda-tanda besar hari kiamat ada 10, sebagaimana yang datang dalam hadits dari sahabat Hudzaifah Al-Ghifari, beliau berkata,

اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ، فَقَالَ: مَا تَذَاكَرُونَ؟ قَالُوا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ، قَالَ: ” إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ – فَذَكَرَ – الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada kami, sedangkan kami sedang berbincang-bincang. 
Maka beliau bertanya, ‘Apa yang kalian perbincangkan?’ Para sahabat berkata, ‘Kami sedang membincangkan tentang hari kiamat.’ 
Beliau bersabda, ‘(Ketahuilah) bahwasanya hari kiamat tidak akan tegak sampai kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda (besar).’ 

Maka beliau menyebutkan: 
Dukhan (asap), Dajjal, Dabbah (hewan yang bisa berbicara), terbitnya matahari dari barat, turunnya nabi ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, tiga pembenaman (amblasnya bumi): amblasnya bumi di bagian timur, amblasnya bumi di bagian barat, amblasnya bumi di Jazirah Arab dan tanda terakhirnya adalah keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia menuju mahsyar’.” 
(HR. Muslim no. 2901)

Hanya saja para ulama berselisih pendapat tentang urutannya secara kronologis, karena hadits di atas demikian pula hadits-hadits yang lain tidak secara jelas dan gamblang menjelaskan urutan tanda-tanda kiamat. 

Urutan yang ada di dalam hadits sama sekali tidak mengandung arti urutan yang sebenarnya dalam kronologis, bahkan antara satu dalil dengan dalil lainnya datang dalam urutan yang berbeda. 
Bisa jadi yang paling pertama terjadi adalah terbitnya matahari dari barat, atau munculnya dukhan, atau kejadian lainnya.

Oleh karena itu, sikap kita adalah tawaqquf dan tidak perlu menyimpulkan secara pasti urutan-urutan tersebut. 

Secara umum para ulama menyatakan bahwa keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam dan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj terjadi dalam satu masa. Sebelum itu, kemunculan Imam Mahdi telah mendahuluinya.

Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada:

1. Ketika Imam Mahdi bersama pasukannya tengah bersiap berperang melawan Dajjal

2. Turunlah Nabi Isa ‘alaihissalam ke bumi. 

3. Di tangan Nabi Isa-lah Dajjal terbunuh. 

4. Setelah itu, Ya’juj Ma’juj keluar untuk membuat kerusakan di muka bumi. Ketika mereka berada di puncak kesombongannya, Allah mengirimkan pasukannya untuk memusnahkan mereka dari muka bumi.

Setidaknya empat fenomena tersebut yang disebutkan oleh para ulama terjadi secara berurutan. 

Adapun kejadian sebelum dan setelahnya diperselisihkan oleh para ulama dengan perselisihan yang kuat.

Banyak ulama yang menyebutkan bahwa tanda terakhir adalah keluarnya angin yang mencabut ruh orang beriman. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذْ بَعَثَ اللهُ رِيحًا طَيِّبَةً، فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ، وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ، يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

“Tiba-tiba Allah mengirimkan angin yang baik, lalu angin tersebut masuk ke bawah ketiak-ketiak orang-orang beriman, lalu mengambil ruh dari setiap orang yang beriman dan setiap muslim. Yang tersisa adalah orang yang paling buruk, mereka berbuat kerusakan layaknya keledai, di tengah-tengah merekalah hari kiamat terjadi.” 
(HR. Muslim no. 2937)

Senin, 30 September 2024

Kekhawatiran Nabi Terhadap Pemimpin Yang Bodoh

One Day One Hadits (320)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kekhawatiran Nabi Terhadap Pemimpin Yang Bodoh

عن عوف بن مالك رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا : إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ وَ سَفْكَ الدَّمِ وَ بَيْعَ الْحُكْمِ وَ قَطِيْعَةَ الرَّحْمِ وَ نَشْوًا يَتَّخِذُوْنَ الْقُرْآنَ مَزَامِيْرَ وَ كَثْرَةَ الشُّرَطِ

Dari Auf bin Malik rodhiAllahu anhu berkata Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
"Aku khawatir atas kalian enam perkara: imarah sufaha (orang-orang yang bodoh menjadi pemimpin), menumpahkan darah, jual beli hukum, memutuskan silaturahim, anak-anak muda yang menjadikan Alquran sebagai seruling-seruling, dan banyaknya algojo (yang zalim)" (HR. ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabiir 18/57 no 105)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits: 

1. Yang dimaksud dengan imarah sufaha adalah para pemimpin yang memimpin umat Islam tidak menggunakan sunnah Rasul dan Syariat Islam.
Dari Jabir bin Abdillah (ia berkata): "Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada Ka’ab bin ‘Ujrah: “Ya Ka’ab bin ‘Ujrah! Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan yang bodoh!”. Ka’ab bin ‘Ujrah bertanya: “Kenapa demikian ya Rasulullah, dan siapakah pemerintahan yang bodoh itu?”.Beliau menjawab: “Para umarah (penguasa) yang akan datang nanti sesudahku, mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak mengamalkan Sunnahku. Maka barang siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan menolong ke zhaliman mereka, maka mereka itu bukan dariku dan aku bukan dari mereka, dan mereka tidak akan dibawa ke telagaku (pada hari kiamat). Akan tetapi barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak menolong kezhaliman mereka, maka mereka itu dariku dan aku dari mereka, dan mereka akan dibawa ke telagaku (pada hari kiamat)." (HR. Ahmad)

2. Pemimpin itu punya potensi dan peran yang sangat strategis, bagaimana bila pemimpin itu bodoh?.
Tanda tangannya itu bisa menentukn nasib banyak orang.

3. Sedangkan yang lain dikhawatirkan Rasûlullâh shallallah alaihi wa salam yaitu:

a. Menumpahkan darah. Saat ini tidak hanya membunuh yang darahnya tertumpah yang disebutkan disini, tetapi juga bisa meracuni orang atau bahkan dengan cara apapun bisa membunuh secara pelan-pelan misal lewat embargo dan sebagainya.

b. Jual beli hukum, salah satunya adalah suap menyuap dalam sebuah perkara.

c. Memutus silaturahim.
Memutus silaturrahim itu adalah dengan orang yang memiliki hubungan kekerabatan, baik karena hubungan darah ataupun karena perkawinan.

d. Anak-anak muda yang menjadikan al-Qur’an sebagai seruling-seruling. Mereka menyuarakan al-Qur'an dengan dinyanyikan tanpa memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj sehingga persis seperti suara nyanyian.

e. Banyaknya algojo yang merupakan lambang kedzaliman. Algojo masa kini adalah orang-orang yang dibayar bertujuan untuk merampas hak orang lain. Pihak ini bisa saja penguasa ataupun juga orang yang memiliki kuasa.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur'an:

1. Orang yang bodoh (kurang sempurna akalnya) tidak boleh mentasorufkan harta lebih lagi menjadi pemimpin pemerintahan

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِياماً وَارْزُقُوهُمْ فِيها وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً 

Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kalian yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.[An-nisa:5]

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan adanya imarah sufaha, karena mereka tidak mau mengambil petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peraturan, sehingga hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dikesampingkan. Akibatnya, rusaklah kehidupan, padahal hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kehidupan untuk manusia.

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 179).

Minggu, 29 September 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 397

Tadabbur Al-Quran Hal. 397
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-'Ankabut ayat 8 :

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۗوَاِنْ جَاهَدٰكَ لِتُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۗاِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

- Tafsir Al Muyassar Al-'Ankabut ayat 8 :

Kami mewasiatkan kepada manusia agar berbakti kepada bapak ibunya, berbuat baik kepada keduanya dengan perkataan dan perbuatan. Bila keduanya berusaha membawamu (wahai manusia) untuk mempersekutukan-Ku dalam beribadah kepada-Ku, maka jangan menaati perintahnya. Segala bentuk maksiat juga dikutkan ke dalam perihal ajakan berbuat syirik kepada Allah, sehingga tidak ada ketaatan bagi makhluk siapa pun dia dalam bermaksiat kepada Khalik. Sebagaimana hal itu diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah. Hanya kepada-Ku tempat kembali kalian di hari kiamat, lalu Aku
mengabarkan kepada kalian apa yang dulu kalian perbuat di dunia berupa amal baik atau buruk, dan Aku akan membalas kalian karenanya.

- Asbabun Nuzul Al-'Ankabut ayat 8 :

Muslim, at-Tirmidzi, dan lain-lain meriwayatkan dari Sa'ad bin Abi Waqqash bahwa Ibunya Sa'ad berkata, "Bukankah Allah telah memerintahkan kamu berbakti!? Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati atau kamu kafir." Maka turunlah ayat ini.

- Hadis Sahih Al-'Ankabut ayat 8 :

Darn Abdullah Ra, ia berkata, Saya pernah bertanya kepada Nabi Saw, Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab, Salat tepat pada waktunya. la bertanya lagi, "Kemudiarn apa? Beliau menjawab, Berbakti kepada kedua orang tua'. la bertanya lagi, Kemudian apa lagi? Beliau menjawat, Berjuang di jalan Allah'" (HR Bukhari, Fathul 8ầri. Juz 12, No 5970, 1416 H1996 M: 3).

- Tazkiyyatun Nafs :

Jihad terbagi menjadi empat tingkatan, yaitu: 
Pertama, jihad melawan hawa nafsu, yang terdiri atas empat tingkatan pula, yaitu (a) memerangi nafsu dengan cara mempelajari petunjuk dan agama yang benar, yang tidak ada keberuntungan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kecuali dengan ilmu ini; (b) berjihad melawan nafsu dengan amal setelah ilmu. Sebab jika jihad ini hanya dengan ilmu tanpa amal, tidak membahayakan diri sendiri, maka setidak-tidaknya ia tidak memberi manfaat; (c) berjihad melawan nafsu dengan mengajak kepada pendalaman ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain yang belum mengetahui.
Jika tidak, dia termasuk orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah Swt. sehingga ilmunya itu tidak bermanfaat bagi pemiliknya dan tidak bisa menyelamatkannya dari siksa Allah Swt.; (d) berjihad memerangi nafsu dengan cara bersabar menghadapi kesulitan dakwah di jalan Allah Swt. dan gangguan manusia. Jika empat tingkatan ini telah terwujud dengan sempurna pada diri seseorang, maka dia termasuk Rabbaniyyin sehingga dia mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.
Kedua, jihad melawan setan, yang terdiri atas dua tingkatan, yaitu (a) berjihad melawan setan dengan cara menolak apa-apa yang hendak disusupkan kepada seorang hamba, seperti syubhat dan keragu-raguan yang dapat menodai keimanan; (b) berjihad melawan setan dengan menolak keinginan-keinginan yang merusak dan syahwat. Jihad yang pertama menghasilkan keyakinan, sementara jihad yang kedua menghasilkan kesabaran, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surah As-Sajadah, 32: 24. Allah Swt. mengabarkan bahwa kepemimpinan agama hanya bisa diperoleh dengan kesabaran dan keyakinan. Sabar menolak syahwat dan kehendak yang rusak, sedangkan keyakinan menolak keraguan dan syubhat.
Ketiga, jihad melawan orang-orang kafir. 
Keempat, jihad melawan orang-orang munafik. Kedua jihad ini terdiri atas empat tingkatan, yaitu memerangi mereka dengan hati, lisan, harta, dan jiwa. Jihad memerangi Allah Swt. menghubungkan kesabaran dengan berbagai posisi dalam Islam, iman, keyakinan, takwa, tawakal, syukur, amal saleh, rahmat, dan lain sebagainya. Karena itu, sabar termasuk bagian dari iman, seperti kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada artinya iman bagi seseorang yang tidak memiliki kesabaran, sebagaimana tidak ada artinya tubuh tanpa kepala.
Nabi Saw. memerintahkan orang-orang Ansar untuk bersabar menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan sepeninggal beliau hingga mereka bersua beliau di akhirat. Beliau juga memerintahkan untuk sabar saat berhadapan dengan musuh dan sabar saat ditimpa musibah. Beliau memerintahkan orang yang ditimpa musibah agar melakukan hal yang paling bermanfaat baginya, yaitu sabar dan mencari rida Allah Swt. karena yang demikian itu akan meringankan musibahnya dan melipatgandakan pahalanya. Mengeluh dan gundah hati justru membuat musibah itu terasa semakin berat dan menghilangkan pahala. (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju As-Sālikin Manāzilu lyyāka Na budu wa lyyāka Nasta inu, Juz 2, t.t.: 158-163).

- Riyāduş Şālihin :

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy Ra. sesungguhnya ada beberapa orang dari kalangan Anshār meminta (pemberian sedekah) kepada Rasulullah Saw., lalu beliau memberi. Kemudian mereka meminta kembali, lalu beliau memberi. Kemudian mereka meminta kembali, lalu beliau memberi lagi hingga habis apa yang ada pada beliau. Kemudian beliau Saw. bersabda, "Apa-apa yang ada padaku dari kebaikan (harta), sekali-kali tidaklah aku akan menyembunyikannya dari kalian semua. Namun, barangsiapa menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah Swt. akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan, maka Allah Swt. akan mencukupkannya dan barangsiapa yang menyabarkan dirinya, maka Allah Swt. akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada
suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran." (HR Al-Bukhāri.-Muslim).
Hadis di atas mengandung beberapa faedah:
(a) Nabi Saw. memiliki akhlak mulia, berupa lapang dada dan dermawan. Orang kaya itu bukan karena banyaknya harta benda, namun kaya hati. Di samping dorongan untuk bersikap Qana ah (kerelaan atas bagiannya yang diterima) dan iffah (penjauhan diri dari hal-hal yang tidak baik atau hina).
(b) Akhlak mulia dan sifat-sifat terpuji akan diperoleh melalui kesabaran.
(Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 1, 1407H/1987 M: 58-59). m

- Medical Hadis :

Dari Asma binti Umais Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda kepadaku, "Dengan apa kamu minum untuk menyembuhkan sakit perutmu? Aku menjawab, Dengan Syubrum." Beliau bersabda, Panas. Aku berkata, "Kemudian aku meminum obat sakit perut dengan menggunakan Sanā. Lantas beliau bersabda, 'Seandainya ada sesuatu yang bisa menyembuhkan mati, maka itu adalah Sanā, dan Sanā adalah obat dari kematian." (HR Ibnu Majah, At-Tirmidzi, dan Ahmad, dan redaksi ini versi Ibnu Mājah). (Hadis Daif, Sahih wa Daif Sunan Ibni Mājah, no. 3461, Sahih wa Daif Sunan At-Tirmiži, no. 2081). (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziy-yah, At-Tibbun Nabawi, t.t.: 253).

- Tibbun Nabawi :

Hubungan Sabar dengan Kesehatan

Sabar merupakan bagian dari iman, seperti halnya kepala merupakan bagian dari jasad. Sabar ada tiga macam, yaitu: 
(1) sabar melaksanakan kewajiban dari Allah Swt. sehingga tidak menelantarkannya, 
(2) sabar menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah Swt. sehingga tidak mengerjakannya, 
(3) sabar menerima Qada dan Qadar Allah Swt. sehingga tidak marah karenanya.
Siapa yang mampu menyempurnakan tiga tahapan ini, maka sempurnalah sabarnya. Kesenangan di dunia dan kenikmatan akhirat serta keberuntungan, ada pada sabar dan iman. Seseorang tidak sampai kepada iman kecuali dengan menyeberangi jembatan sabar, sebagaimana seseorang tidak bisa sampai ke surga kecuali dengan melewati Sirātul-Mustaqim.
Mayoritas penyakit badan dan hati berasal dari tidak adanya sabar. Hanya sabarlah yang bisa menjaga kesehatan hati dan badan serta jivwa. Allah Swt. beserta orang-orang yang sabar dan mencintai mereka, serta mengulurkan pertolongan kepada mereka. (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zādul Ma ādi fi Hadyi Khayril 1bādi, Juz 4, t.t.: 332-333).

- Hadis Motivasi QS 29: 8 :

Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah dia mengatakan bersabda: "Tidak ada hak seorang muslim yang menpunyai suatu barang yang akan điwasatkannya, dia bermalam selama dua malam, kecuali wasiatnya itu ditulls di sisinya." (HR Bukhari. 2599)

- HADIS NIAGA QS AI-Ankabūt, 29: 8 :

Keutamaaan Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua

Dari Abdullah dia berkata, Aku bertanya kepada Nabi "Amal apakah yang paling utama?" Nabi menjawab: "Salat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan salat pada awal waktunya)." Aku bertanya lagi, "Kemudian, apa?" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Berjihad di jalan Allah." (HR Bukhari, 527: Muslim, 85)

- AMAL NIAGA :

1. Berbaktilah kepada orang tua. Itu adalah kewajiban seorang muslim karena pengorbanan orang tua tidak akan terbalas dengan apa pun.
2. Ridha orang tua adalah kunci sukses dalam berniaga dan kunci keberhasilan dalam kehidupan.
3. Rasulullah pernah mengatakan bahwa betapa ruginya orang yang tidak berbakti kepada kedua orang tuanya. Beliau bersabda: "(Sungguh hina) seorang yang merndapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, tetapi justru dia tidak masuk surga." (HR Muslim, 2551)

- Tadabbur Surah Al-Ankabut Ayat 7-14 :

1. Ayat 7-9 masih menjelaskan tentang iman dan amal saleh. Di antaranya, iman dan amal saleh akan menghapus dosa dan balasannya di sisi Allah berlipat ganda. Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah amal saleh yang tinggi nilainya. Sedangkan taat pada mereka hanya dibolehkan selama tidak dalam kemusyrikan dan maksiat pada Allah.  Orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan  digabungkan Allah di akhirat nanti bersama orang-orang saleh pula.
2. Ayat 10 dan 11 menjelaskan bahwa sebagian manusia ada yang berpura-pura beriman. Ciri-cirinya, mereka tidak siap mendapat ujian di jalan Allah. Namun, bila kaum muslimin meraih kemenangan, mereka mengklaim bersama mereka. Allah Mahatahu siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik.
3. Ayat 12 dan 13 menjelaskan orang-orang kafir, sejak kafir Quraisy sampai kiamat nanti selalu berupaya memurtadkan kaum muslimin  dengan cara mengajak kaum muslimin untuk  mengikuti jalan atau sistem hidup mereka dan mengklaim bisa menanggung dosa-dosa yang dilakukan kaum muslimin. Allah menjelaskan semua itu adalah kebohongan belaka. Padahal yang benar ialah orang-orang kafir itu hanya akan memikul dosa mereka, termasuk dosa menyesatkan manusia dari jalan Allah. Mereka akan dimintakan pertanggungjawaban atas apa yang mereka ada-adakan itu pada hari kiamat nanti.
4. Ayat 14 menjelaskan bahwa Allah mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya untuk mendakwahkan Tauhid selama 950 tahun. Pada akhirnya, mereka dimusnahkan Allah dengan topan besar disebabkan kekufuran dan kemusyrikan yang mereka lakukan.

Rabu, 25 September 2024

NGERI BANGET DOANYA !

Tematik (218)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
 
NGERI BANGET DOANYA ! 

Ngeri banget doanya, binasa di alam kubur dan akhirat... dan doa orang yang terdzolimi itu biasanya dikabulkan, pelajaran buat kita, hiduplah sesuai kemampuan, jangan jadikan utang itu sebagai kebiasaan, karena bagi sebagian orang, utang itu emang sudah jadi candu.... 

Islam adalah agama yang mulia. Islam telah mengatur seluruh permasalahan di dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di dalamnya adalah permasalahan hutang-piutang. Islam tidak hanya membolehkan seseorang berhutang kepada orang lain, tetapi Islam juga mengatur adab-adab dan aturan-aturan dalam berhutang.

Hukum Berhutang

Hukum asal dari berhutang adalah boleh (jaa-iz). Allah subhaanahu wa ta’aala menyebutkan sebagian adab berhutang di dalam Al-Qur’an. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ }

“Hai orang-orang yang beriman! Apabila kalian ber-mu’aamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.” (QS Al-Baqarah: 282)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berhutang. Di akhir hayat beliau, beliau masih memiliki hutang kepada seorang Yahudi, dan hutang beliau dibayarkan dengan baju besi yang digadaikan kepada orang tersebut.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu’anhaa, bahwasanya dia berkata:

( أَنَّ النَّبِيَّ –صلى الله عليه وسلم– اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ فَرَهَنَهُ دِرْعَهُ )

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya” (HR Al-Bukhari no. 2200)

Kebiasaan Sering Berhutang

Akan tetapi, banyak kaum muslimin yang menganggap remeh hal ini. Mereka merasa nyaman dengan adanya hutang yang “melilit’ dirinya. Bahkan, sebagian dari mereka di dalam hidupnya tidak pernah sedetik pun ingin lepas dari hutang. Sebelum lunas pinjaman yang pertama, maka dia ingin meminjam lagi untuk yang kedua, ketiga dan seterusnya.

Jika hal ini dibiarkan, maka ini akan berlarut-larut dan akan “menular” kepada orang lain di sekitarnya. Terlebih lagi, dengan banyaknya fasilitas untuk berhutang yang disediakan oleh lembaga-lembaga, badan-badan atau perusahaan-perusahaan yang menganut sistem ribawi. Dan parahnya, tidak hanya orang-orang awam yang terlibat dengan hal-hal seperti ini, orang yang sudah lama mengaji, orang berilmu dan orang-orang kaya pun turut berpartisipasi dalam “meramaikannya”. Na’uudzu billaahi min dzaalika.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat takut berhutang dan sangat takut jika hal tersebut menjadi kebiasaannya. Mengapa demikian?

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di shalatnya:

( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ)

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berhutang“

Berkatalah seseorang kepada beliau:

( مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ )

“Betapa sering engkau berlindung dari hutang?”

Beliau pun menjawab:

( إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ, حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ. )

“Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berhutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya” (HR Al-Bukhaari no. 832 dan Muslim no. 1325/589)

Perlu dipahami bahwa berhutang bukanlah suatu perbuatan dosa sebagaimana telah disebutkan. Tetapi, seseorang yang terbiasa berhutang bisa saja mengantarkannya kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala. Pada hadits di atas disebutkan dua dosa akibat dari kebiasaan berhutang, yaitu: berdusta dan menyelisihi janji. Keduanya adalah dosa besar bukan?

Mungkin kita pernah menemukan orang-orang yang sering berhutang dan dililit oleh hutangnya. Apa yang menjadi kebiasaannya? Bukankan orang tersebut suka berdusta, menipu dan mengingkari janjinya? Allaahumma innaa na’udzu bika min dzaalika.

Memberi Jaminan Ketika Berhutang

Mungkin di antara pembaca ada yang mengatakan, “Bukankan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri berhutang?”

Ya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berhutang karena sangat membutuhkan hal tersebut pada saat itu. Coba kita perhatikan dengan seksama hadiits yang telah disebutkan. Bukankan yang dihutangi oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah makanan? Jika benar-benar memiliki kebutuhan, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang tercela.

Tetapi perlu diingat, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan hal yang mulia ketika beliau berhutang. Apakah hal yang mulia tersebut? Beliau menggadaikan baju besinya sebagai jaminan. Apabila beliau tidak mampu membayarnya, maka baju besi itulah yang menjadi pembayarannya.

Begitulah seharusnya yang kita lakukan ketika berhutang. Kita harus memiliki jaminan dalam berhutang. Jaminan-jaminan tersebut bisa berupa:

Harta yang dimiliki
Misalkan seseorang ingin membeli motor, dia memiliki uang di simpanannya sebanyak Rp 15 juta. Uang tersebut tidak berani dia keluarkan, karena menjadi simpanan usahanya yang harus di sisakan di simpanan bisnisnya, untuk berjaga-jaga dalam permodalan atau karena hal-hal lain. Kemudian orang tersebut membeli motor dengan kredit seharga Rp 15 juta kepada seseorang dengan batas waktu yang telah ditentukan.Hal seperti ini tidak tercela, karena seandainya dia meninggal, maka dia memiliki jaminan harta yang ada di simpanannya.
Menggadaikan barang (Ar-Rahn)
Hal ini telah dijelaskan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Mengalihkan hutang kepada piutang yang dimiliki (Al-Hawaalah/Al-Hiwaalah)
Misalkan si A memiliki piutang (orang lain [si B] berhutang kepadanya) sebesar Rp 5 juta, kemudian orang tersebut ingin berhutang kepada si C sebesar Rp 5 juta. Si A mengatakan kepada si C, “Bagaimana menurutmu jika piutangku pada si B menjadi jaminan hutang ini.” Kemudian si C pun menyetujuinya. Maka hal tersebut juga tidak tercela dan pengalihan seperti ini diperbolehkan di dalam Islam. Seandainya si A meninggal, maka hutang tersebut menjadi tanggung jawab si B untuk membayarkannya kepada si C.
Mencari penanggung jawab atas hutang yang dimiliki (Al-Kafaalah)
Misalkan seseorang membutuhkan biaya yang sangat besar secara mendadak, seperti: biaya operasi yang diakibatkan oleh kecelakaan. Orang tersebut tidak memiliki uang atau harta sebagai jaminannya. Pihak rumah sakit meminta orang tersebut mencari seorang penanggung jawab (kafil) atas hutangnya tersebut. Seandainya orang tersebut kabur atau meninggal dunia, maka penanggung jawabnyalah yang membayarkan hutangnya kepada rumah sakit. Hal ini diperbolehkan dengan syarat penanggung jawab tersebut mampu untuk membayarkan hutangnya atau mampu mendatangkan orang yang berhutang tersebut apabila dia kabur.
Keburukan Jika Hutang Tidak Sempat Dilunasi

Jika tidak memiliki jaminan-jaminan yang telah disebutkan di atas, sebaiknya jangan membiasakan diri untuk berhutang. Karena orang yang meninggal sedangkan dia memiliki tanggungan hutang, maka dia akan mendapatkan banyak keburukan. Setidaknya penulis sebutkan tiga keburukan pada tulisan ini.

Keburukan pertama: Tidak dishalati oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menshalati jenazah yang memiliki hutang.

( عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ –رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ– قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ –صلى الله عليه وسلم– إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا ، فَقَالَ : (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )), قَالُوا: لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا ؟ )), قَالُوا: لاَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قِيلَ : نَعَمْ ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ )) قَالُوا : ثَلاَثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ تَرَك شَيْئًا؟ )) قَالُوا : لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قَالُوا: ثَلاَثَةُ دَنَانِيرَ ، قَالَ: (( صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ ))، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.)

Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallaahu ‘anhu, dia berkata, “Dulu kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian didatangkanlah seorang jenazah. Orang-orang yang membawa jenazah itu pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain. Orang-orang yang membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. Kemudian didatangkanlah jenazah yang ketiga. Orang-orang yang membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Beliau pun berkata, ‘Shalatlah kalian kepada sahabat kalian! Kemudian Abu Qatadah pun berkata, ‘Shalatilah dia! Ya Rasulullah! Hutangnya menjadi tanggung jawabku.’ Kemudian beliau pun menshalatinya.” (HR Al-Bukhaari no. 2289)

Hadits di atas jelas sekali menunjukkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menshalati orang yang punya hutang. Hal ini sebagai bentuk pengajaran beliau bahwa membiasakan diri untuk berhutang sedangkan dia tidak memiliki jaminan adalah sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, sudah selayaknya orang-orang terpandang, tokoh masyarakat dan agama melakukan hal seperti ini ketika ada orang yang meninggal dan dia memiliki tanggungan hutang.

Keburukan kedua: Dosa-dosanya tidak akan diampuni sampai diselesaikan permasalahannya dengan orang yang menghutanginya

Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiallaahu ‘anhu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

( أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّى خَطَايَاىَ ؟)

“Bagaimana menurutmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan diampuni?”

Beliau pun menjawab:

( نَعَمْ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلاَّ الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ لِى ذَلِكَ )

“Ya, dengan syarat engkau sabar, mengharapkan ganjarannya, maju berperang dan tidak melarikan diri, kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam baru memberitahuku hal tersebut” (HR Muslim no. 4880/1885)

Hadits di atas menjelaskan bahwa ibadah apapun, bahkan yang paling afdhal sekalipun yang merupakan hak Allah tidak bisa menggugurkan kewajiban untuk memenuhi hak orang lain.

Keburukan ketiga: Ditahan untuk tidak masuk surga, meskipun dia memiliki banyak amalan sampai diselesaikan permasalahannya dengan orang yang menghutanginya

Diriwayatkan dari Tsauban, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( مَنْ مَاتَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ: الْكِبْرِ, وَالْغُلُولِ, وَالدَّيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ )

“Barang siapa yang mati sedangkan dia berlepas diri dari tiga hal, yaitu: kesombongan, ghuluul (mencuri harta rampasan perang sebelum dibagikan) dan hutang, maka dia akan masuk surga. (HR At-Tirmidzi no. 1572, Ibnu Majah no. 2412 dan yang lainnya. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Shahih” di Shahih Sunan Ibni Majah)

Nasehat Seputar Hutang

Oleh karena, sebelum mengakhiri tulisan ini, ada beberapa hal yang ingin penulis nasihatkan untuk diri penulis dan pembaca sekalian:

Janganlah membiasakan diri untuk berhutang. Terutama berhutang yang tidak memiliki jaminan.
Fasilitas untuk berkecimpung di dalam riba sangatlah banyak sekali di zaman ini. Oleh karena itu, janganlah kita biarkan diri kita berkecimpung di dalamnya! Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:( لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا ، وَمُوكِلَهُ ، وَشَاهِدَهُ ، وَكَاتِبَهُ.)“Allah melaknat pemakan riba, yang memberi makan, saksi dan juru tulisnya” (HR Ahmad no. 3725. Syaikh Syu’aib mengatakan, “Shahih li ghairih.”)
Apabila ingin berhutang, maka niatkanlah dengan hati yang jujur untuk segera melunasi hutang tersebut pada waktu yang telah dijanjikan. Insya Allah, Allah akan membantu pelunasannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:( مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ.)“Barang siapa meminjam harta manusia dan dia ingin membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Barang siapa yang meminjamnya dan dia tidak ingin membayarnya, maka Allah akan menghilangkan harta tersebut darinya.” (HR Al-Bukhaari no. 2387)
Apabila telah sampai batas waktu yang telah ditentukan, maka segeralah membayar hutang tersebut dan jangan menunda-nundanya, terkecuali pada saat itu kita tidak memiliki harta untuk membayarnya. Orang yang memiliki harta untuk membayar hutangnya, tetapi dia sengaja memperlambat pembayarannya, maka dianggap sebagai suatu kezoliman/dosa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam  مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ )“Memperlambat pembayaran hutang untuk orang yang mampu membayarnya adalah kezaliman.” (HR Al-Bukhaari no. 2288 dan Muslim no. 4002/1564)
Jika benar-benar tidak mampu membayar hutang pada waktu yang telah ditentukan, maka bersegeralah meminta maaf kepada orang yang menghutangi dan minta tenggang waktu untuk membayarnya.
Demikian tulisan yang singkat ini. Mudahan bermanfaat untuk kita semua dan mohon perkenannya untuk menyampaikan kepada yang lain.

Selasa, 24 September 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 396

Tadabbur Al-Quran Hal. 396
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Al-Qasas ayat 85 :

اِنَّ الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لَرَاۤدُّكَ اِلٰى مَعَادٍ ۗقُلْ رَّبِّيْٓ اَعْلَمُ مَنْ جَاۤءَ بِالْهُدٰى وَمَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali [617]. Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”

- [617] Kota Makkah. Ini adalah suatu janji dari Allah bahwa Nabi Muhammad akan kembali ke Makkah sebagai orang yang menang dan ini sudah terjadi pada tahun ke delapan hijrah ketika beliau menaklukkan kota Makkah. Ini merupakan suatu mukjizat bagi beliau.

- Asbabun Nuzul Al-Qasas ayat 85 :

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari adh-Dhahhak bahwa ketika Nabi saw. keluar dari Mekah dan tiba di al-Juhfah, beliau merasa rindu kepada Mekah. Maka Allah menurunkan ayat ini.

- Tafsir Al Muyassar Al-Qasas ayat 85 :

Sesungguhnya Allah yang menurunkan Al Qur'an kepadamu (wahai Rasul) dan mewajibkan atasmu untuk menyampaikannya dan berpegang teguh dengannya pasti akan mengembalikanmu ke tempat di mana kamu keluar darinya, yaitu Makkah. Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrikin itu: Rabb-ku lebih mengetahui siapa yang datang membawa petunjuk dan siapa yang melenceng jauh dari kebenaran.

- Riyāduş şālihin :

Dari Abdullah bin Amr Ra., dia berkata, "Kami pernah mengadakan suatu perjalanan bersama Rasulullah Saw., lalu di suatu tempat pemberhentian kami berhenti. Sebagian kami ada yang memperbaiki tempat tidur, sebagian lagi berlatih memanah, sebagian lagi memberi makan hewan, dan sebagainya. Tiba-tiba terdengar utusan Rasulullah Saw. menyeru, memanggil kami untuk salat berjamaah, lalu kami berkumpul di dekat beliau. Beliau Saw. bersabda, Para Nabi sebelum aku diutus untuk menuntun umatnya kepada kebaikan yang telah diajarkan Allah Swt. bagi mereka dan mengingatkan bahaya
yang mengancam mereka. Umatku yang sempurna dan selamat ialah angkatan yang pertama, angkatan sesudah itu akan ditimpa berbagai cobaan berupa hal-hal yang tidak disenanginya, seperti timbulnya fitnah. Dimana sebagian mereka menghina sebagian yang lain sehingga timbullah bencana. Orang-orang mukmin berkata, Inilah kiranya yang membinasakanku, Setelah hilang bencana tersebut, timbul pula bencana yang lain. Dan orang mukmin berkata, Ini.! Ini..!" Siapa yang ingin bebas dari neraka dan ingin masuk ke surga, hendaklah dia menemui kematiannya dalam keimanan kepada Allah Swt. dan hari akhirat..." (HR Muslim). (Dr. Mustafā Said Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 551-552).

- Medical Hadiš :

Dari 'Asim bin Umar bin Qatādah, dia berkata, "Jabir bin Abdullah pernah datang pada keluarga kami. Kebetulan, ketika itu ada seseorang yang menderita sakit bengkak bernanah atau luka. Lalu Jabir berkata, 'Kamu sakit apa?' la menjawab, 'Bengkak, saya sakit sekali. Jabir berkata, 'Hai pelayan, panggil tukang bekam kemari!' Orang yang sakit itu bertanya, Ya Abdullah, apa yang akan kamu perintahkan pada tukang bekam itu? Jabir menjawab, Saya akan menyuruhnya untuk membekam bengkakmu. Orang sakit itu berkata, Demi Allah Swt. dihinggapi lalat atau tersentuh kainnya saja aku merasa sakit sekali. Apalagi jika dibekam." Ketika Jabir mengetahui bahwa orang yang sakit tersebut enggan untuk dibekam, maka ia pun berkata, 'Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, Di antara penyembuhan yang ampuh adalah berbekam, minum madu, atau sudutan dengan panas api (A-Kay). (HR AI-Bukhāri-Muslim)
(Aż-Zahabi, At-tibbun Nabawi, 1410 H/1990 M:151).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat 'Asal (madu)

Manfaat Asal (madu) sudah banyak dijelaskan di bagian terdahulu dan sering disinggung. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa madu sangat baik untuk memelihara kesehatan. Yang paling baik ialah yang warnanya putih dan bening, yang manisnya lebih alami. Yang diambil dari hutan dan pepohonan lebih baik daripada yang diambil dari gua. Yang pasti, hal ini tergantung dari tempat peternakan lebah. (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdul Ma 'ādi fi Hadyi Khayril lbādi, Juz 4, t.t.: 340-341),.

- Hadis Motivasi QS 28: 85 :

Dari Abu Sa'id Al-Khudri. Ditanyakan kepada Rasulullah . "Siapakah manusia yang paling utama?" Rasulullah bersabda: "Seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya ... (HR Bukhari. 2634) dia berkata.

- HADIS NIAGA QS AI-Ankabüt, 29: 2 :

Ujian dalam Berniaga

Dari Mush'ab bin Sa'ad, dari bapaknya, dia berkata, Aku berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?" Beliau menjawab: "Para nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah, akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya." (HR Tirmizi, 2398)

- AMAL NIAGA :

1. Sesuai dengan kadar keimanannya. Ujian yang paling berat adalah ujian yang diberikan kepada para nabi karena keimanan mereka yang luar biasa.
2. Setiap muslim pasti diuji oleh Allah. Kerugian dan masalah adalah bentuk ujan dari Allah kepada para niagawan muslim.
3. Bentuk ujian bukan hanya berupa hal-hal yang tidak disukai. Hal-hal yang disukai termasuk ujan pula, seperti kebahagiaan dan kesuksesan.

- Tadabbur Surah Al-Qashash Ayat 85-88 :

Ayat 85-88 dari surah Al-Qasas ini menjelaskan beberapa hal terkait Rasul Saw. 
1. Allah  yang mewajibkan Nabi Muhammad Saw. untuk menerapkan hukum-hukum Al-Qur’an.  Sebab itu, Allah meminta pertanggungjawaban Rasul saw. di akhirat atas kewajiban tersebut. 
2. Rasul  saw. menerima Al-Qur’an itu bukan atas keinginannya sendiri, melainkan murni rahmat dari Allah. Sebab itu, Nabi Muhammad Saw. dilarang menjadi penolong kaum kafir dan kekufuran. 
3. Allah mewajibkan Rasul Saw. untuk terus-menerus berdakwah kendati rintangannya sangat berat dan jangan sekali-kali terlibat dalam perbuatan syirik. Semua yang ada pasti hancur kecuali Allah dan hukum itu hanya milik-Nya dan kepada-Nya manusia dikembalikan.

Tadabbur Surah Al-Ankabut Ayat 1-6 :

1. Ayat 2-6 dari surah Al-’Ankabūt ini menjelaskan bahwa Allah akan menguji setiap mukmin, seperti halnya orang-orang mukmin sebelumnya. Ujian itulah yang akan menentukan kualitas imannya; benar atau dusta belaka. Apakah orang-orang kafir dan musyrik itu mengira bahwa mereka sanggup mengalahkan Allah atau menghidnar dari azab Allah? Sunggung perkiraan yang amat lemah dan jelek sekali.
2. Orang-orang yang berharap berjumpa dengan Allah di surga nanti, hendaklah beriman, beramal saleh dan mencurahkan semua potensi diri dan hartanya di jalan Allah untuk kebaikan diri sendiri. Sungguh Allah tidak butuh pada apa dan siapa pun.