بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Selasa, 18 Juni 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 384

Tadabbur Al-Quran Hal. 384
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 85 :

وَوَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ بِمَا ظَلَمُوْا فَهُمْ لَا يَنْطِقُوْنَ

Dan berlakulah perkataan (janji azab) atas mereka karena kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata.

- Tafsir Al Muyassar An-Naml ayat 85 :

Kalimat siksa berlaku atas mereka di sebabkan oleh kezaliman mereka dan pendustaan mereka. Mereka sama sekali tidak bisa menyodorkan hujjah yang dengannya mereka bisa membela diri dari azab yang menimpa mereka.

- Riyāduş Şālihin :

Dari Hisyam bin Hakim bin Hizam, sesungguhnya ia pernah melewati beberapa orang petani di Syam yang dijemur di terik matahari dan minyak dicurahkan di atas kepala mereka. Kemudian Hisyam bertanya, "Mengapa mereka ini dihukum?" Mereka menjawab, "Mereka disiksa karena masalah pajak." Hisyam berkata, 'Aku bersaksi sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah akan menyiksa
orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia." Maka, Hisyam menemuinya dan menyampaikan hadis tersebut kepadanya. Akhirnya, Umair menyuruh untuk membebaskan para petani tersebut. (HR Muslim).

Hadiš ini memberikan faedah:
(a) Ancaman karena menyiksa orang lemah dan orang miskin tanpa hak.
(b) Para sahabat mencontoh Rasulullah Saw. dalam amar ma'ruf nahi munkar.
(c) Peringatan kepada orang yang zalim dikarenakan perbuatan zalimnya.
(Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 2, 1407H/1987 M: 1103).

- Hadiš Nabawi :

Dari Khabbab bin Al Arat, ia berkata, "Kami mengadu kepada Rasulullah Saw. ketika beliau sedang berbantalkan kain selimut beliau di bawah naungan Ka'bah, 'Tidakkah baginda memohon pertolongan bagi kami? Tidakkah baginda berdoa memohon kepada Allah untuk kami?" Beliau bersabda, Ada seorang laki-laki dari umat sebelum kalian, lantas digalikan lubang untuknya dan ia diletakkan di dalamnya, lalu diambil gergaji.
kemudian diletakkan gergaji itu di kepalanya lalu dia dibelah menjadi dua bagian namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Tulang dan urat di bawah dagingnya disisir dengan sisir besi, namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, sungguh urusan (Islam) ini akan sempurna hingga ada seorang yang mengendarai kuda berjalan dari Sana ia menuju Hadramaut tidak ada yang ditakutinya melainkan Allah
atau kambing tidak khawatir terhadap serigala. Akan tetapi, kalian sangat tergesa-gesa." (HR Al-Bukhari, Sahihu'l Bukhāri, Juz 4, No. Hadis, 3612, 1400 H: 201).

- Hadiš Qudsi :

Dari Jundab bin Abdullah, dia berkata, Rasulullah Saw., bersabda, Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar, lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Swt. berfirman, 'Hamba-Ku mendahuIui Aku dengan membunuh dirinya. Oleh  karena itu Aku haramkan baginya surga.
(HR Al-Bukhari) (Mustafa bin Adawi, As-Sahihul Musnadu Minal Ahādisil Qudsiyyati, t.t: 132).

- Hadis Motivasi :

Dari Sahl bin Muadz bin Anas, dari bapaknya bahwa Rasulullah bersabda: "Barang siapa mengajarkan suatu ilmu. dia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikit pun." (HR lbnu Majah, 240)

- HADIS NIAGA QS An-Naml, 27: 86 :

Bergerak dan Bekerja Memenuhi Kewajiban Manusia pada Waktu Siang Dari lbnu Mas'ud , dia berkata, "Mencari rezeki yang halal merupakan kewajiban setelah kewajiban (yang lainnya)" (HR Baihaqi, 5271).

- AMAL NIAGA :

1. Seorang niagawan muslim hendaknya merenungkan dan mengevaluasi setiap peluang dan kesempatan yang didapat.
2. Seorang niagawan muslim tidak boleh menganggap profesinya hanyalah passion. Jadikanlah ia sebagai bagian dari kewajiban agama setelah kewajiban beribadah lain. Hal ini supaya dalam pelaksanaannya, seorang niagawan selalu menyadari bahwa semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
3. Niatkan aktivitas mencari nafkah yang Anda lakukan semata-mata karena Allah. "Sungguh, tidaklah engkau menginfakkan nafkah dengan tujuan mengharapkan wajah Allah (pada hari kiamat), kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala, sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu." (HR Bukhari, 56)

- Tadabbur Surah An-Naml Ayat 77-88 :

Ayat 77-79 meneruskan ayat sebelumnya tentang Al-Qur’an. Al-Qur’an itu adalah petunjuk hidup dan rahmat bagi manusia, termasuk  Bani Israil. Allah akan memutuskan perkara manusia dengan hukum-Nya, karena Dia Mahaperkasa lagi Mengetahui. Dalam menghadapi kekufuran manusia Allah meminta Rasul Saw. dan umatnya untuk bertawakal hanya pada-Nya.

Ayat 80-87 menjelaskan: 

1. Rasul Saw. tidak akan mampu menyadarkan orang yang mati dan buta hatinya serta tidak mau mendengarkan Al-Qur’an. Hanya orang yang meyakini ayat-ayat Al-Qur’an yang akan mendapat  hidayah dan mau mendengarkannya.
2. Di antara ciri kiamat besar, Allah keluarkan makhluk melata dari bumi yang bersaksi manusia sebelumnya banyak yang tidak yakin pada ayat-ayat Allah. 
3. Di Padang Mahsyar nanti, kaum kafir akan dibagi berkelompok-kelompok. Mereka akan ditanya kenapa mereka kafir padanya dan mereka tidak bisa bicara. 
4. Allah ciptakan malam  untuk istirahat dan siang itu terang adalah ayat Kekuasaan-Nya. 
5. Saat sangkakala pertama ditiup, semua makhluk akan mati.

Ayat 88  menjelaskan gunung-gunung itu berarak bagaikan awan. Ciptaan Allah itu amat sempurna. Dia Maha Mengetahui.

Rabu, 12 Juni 2024

Khawarij Qa'diyah Lebih Berbahaya Dari Khawarij Muharibah

Tematik (207)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khawarij Qa'diyah Lebih Berbahaya Dari Khawarij Muharibah

Khawarij itu ada 2 macam :

1. Muharibah
2. Qa'diyyah

1. Khawarij "Muharibah" adalah khawarij yang mudah mengkafirkan umat muslim, mengkafirkan pemerintah dengan semua jajarannya. Mereka (Khawarij Muharibah) selain mudah mengkafirkan, mereka juga mengangkat senjata, memberontak, memerangi dan menumpahkan darah kaum muslimin.

Khawarij Muharibah ini ada 2 macam :

Jenis pertama: Khawarij Muharibah yang mempunyai organisasi yang jelas diketahui, mungkin untuk berhubungan dengannya. Pemerintah boleh untuk mendebat mereka dan diskusi dengan mereka dengan dalil-dalil sebagaimana yang dilakukan amirul mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, khalifah keempat dari khulafaur rasyidin. Semoga Allah meridhai mereka semua. Beliau waktu itu mengirim sepupunya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu, kepada Khawarij negeri Nahrawan. Beliau mendebat mereka sampai mengalahkan mereka. Sampai orang yang kembali ke pangkuan khilafah Ali bin Abi Thalib berjumlah ribuan orang. (Yang tidak kembali diperangi).

Jenis kedua: Khawarij Muharibah yang tidak mempunyai organisasi, tetapi berupa gerombolan-gerombolan, atau mereka punya organisasi tapi tersembunyi (gerakan bawah tanah). Mereka ini tidak perlu didebat. Bahkan kalau mereka bisa ditangkap oleh pemerintah mereka diberi hukuman.

2. Khawarij Qa'diyah, yaitu orang-orang yang memprovokasi untuk berontak penguasa muslim, baik dengan terang-terangan atau dengan sembunyi-sembunyi.

--- Secara terang-terangan, maka mereka menyebut person-person Pemerintah nama-namanya, menyebarkan kekeliruan Pemerintah, mencela dan menyebarkannya di publik, di berbagai macam acara dan berbagai macam media.

--- Secara isyarat, mereka tidak menyebut person penguasa atau pegawainya. Tetapi mereka memakai bahasa isyarat dengan ungkapan-ungkapan yang mereka gunakan untuk memprovokasi melawan penguasa yang sah atau para pegawainya.

Mereka disebut qa'diyah, karena mereka tidak mengangkat senjata, mereka hanya duduk berdiam. (Qa'id artinya duduk).

Sebenarnya khawarij qa'diyah ini bibit (embrio) khawarij Muharibah.

Di antara ciri-ciri Khawarij qa'diyah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Hadyus Saari halaman 483:

ﻭﺍﻟﻘَﻌَﺪﻳﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳُﺰَﻳِّﻨﻮﻥ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝَ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻭﻻﻳﺒﺎﺷِﺮﻭﻥ ﺫﻟﻚ

"Al Qa'diyah adalah kelompok yang memprovokasi massa untuk memberontak penguasa sedang mereka tidak terlibat langsung dalam pemberontakan tersebut".

Di kitab beliau yang lain beliau rahimahullah menjelaskan: "Kelompok Al-Qa'd adalah salah satu sekte kelompok Al- Khawarij yang mereka dahulu tidak pernah terlihat melakukan pemberontakan dengan senjata. Namun mereka selalu berupaya menentang para penguasa yang zhalim atau penguasa yang kejam semaksimal kemampuan mereka, dan mengajak (umat) kepada paham mereka. Bersama dengan itu mereka selalu mempropagandakan penentangan".
(Tahdzibut Tahdzib VIII/114) 19).

Fadhilatusy Syaikh Shalih As Sadlaan menerangkan : "Sebagian saudara-saudara kita melakukan hal itu dengan niat baik. Mereka beranggapan bahwa pembangkangan itu hanyalah dengan senjata saja. Padahal pembangkangan itu tidak hanya dilakukan dengan senjata atau dengan tindakan-tindakan anarkis yang sudah dikenal luas. Bahkan pembangkangan lewat kata-kata lebih berbahaya daripada pembangkangan dengan senjata. Karena pembangkangan dengan senjata hanyalah perpanjangan dari pembangkangan lewat kata-kata".
(Muraja'at fi Fiqhil Waqi' As Siyasi, hal 88).

Sesungguhnya membakar emosi masyarakat dan memprovokasi mereka berontak terhadap penguasa atau pegawainya, inikah pokok perbuatan khawarij dan peperangan mereka.

Semoga yang sedikit ini mudah dipahami dan bermanfa'at untuk kita semua

Barakallahu fiikum

Minggu, 09 Juni 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 383

Tadabbur Al-Quran Hal. 383
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 65 :

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗوَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”

- Tafsir Al Muyassar :

Dan tanyakanlah kepada mereka: Siapa yang mulai menciptakan makhluk dan mematikannya bila Dia berkehendak, kemudian mengembalikannya? Siapa yang memberi mereka rizki kepada kalian dengan menurunkan hujan dari langit, dan dari bumi dengan menumbuhkan tanaman dan lainnya? Adakah sesembahan lain selain Allah yang bisa melakukan hal itu? Katakanlah: Berikanlah bukti kalian bila kalian adalah orang-orang yang benar dalam klaim kalian bahwa Allah memiliki sekutu dalam kerajaan dan ibadah.

- Hadis Sahih (ayat 65) :

Dari Ibnu Umar Ra. dari Nabi Saw. Beliau bersabda, "Kunc-kunci kegaiban itu ada lima: tidak mengetahuinya selain Allah, tidak ada yang mengetahui kandungan Surut (gugur berkurang) selain Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok selai Allah, tidak ada yang mengetahui seorang pun kapan hujan itu datang selain Allah, tidak ada satu jwa pun yang tahu di bumi mana kita mati selain Allah. dan tidak ada yang mengetahui kapan hari kiamat terjadi selain Allah." (HR Bukhar, Sahihul Bukbari, Jilid 3, No. Hadıs 4351. 1400 H 35; An-Nasair 7728).

- Riyāduş Şālihin :

Dari Hużaifah Ra. dan Abu Zar Ra., mereka berkata, "Apabila Nabi Saw. hendak tidur, beliau membaca, 'Bismika Allāhumma Ahyā wa Amūtu (Dengan nama-Mu Ya Allah, aku hidup dan aku mati), Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan, A-Hamdulillähillażi Ahyāna Ba'da Mã Amātana wailaihi Nusyür (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya tempat kembali)." (HR AI-Bukhari).
Hadis di atas memberikan faedah tentang anjuran membaca doa di atas sebelum tidur sebagaimana Nabi Saw. contohkan. (Dr. Mustafā Sa'id A-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 2, 1407H/1987 M: 998). B

- Hadiš Nabawi :

Dari Imrān bin Huşain Ra., dia berkata, "Serombongan orang dari Bani Tamim datang menemui Nabi Saw., lalu beliau berkata, "Wahai Bani Tamim, bergembiralah. Mereka berkata, 'Anda telah memberikan kabar gembira kepada kami. Oleh karena itu berilah kami (sesuatu). Seketika itu wajah beliau berubah. Kemudian datanglah penduduk Yaman menemui beliau Saw., lalu beliau Saw. berkata, "Wahai penduduk Yaman, terimalah kabar gembira, jika Bani Tamim tidak mau menerimanya. Mereka berkata, Kami siap menerimanya. Maka Nabi Saw. mulai berbicara tentang penciptaan makhluk dan al-'Arsy. Tiba-tiba datang seseorang seraya berkata, Wahai 'Imrān, untamu lepas.' Seandainya aku tidak berdiri
(untuk mengejar unta)." (HR Al-Bukhāri, Al-Jāmiu Sahih Bukhāri, Juz 2, No. Hadis, 3190: 418).

- Hadiš Qudsi :

Dari Abu Hurairah Ra., dari Nabi Saw. yang beliau riwayatkan dari Rabbnya Swt., Allah Swt. berfirman, "Kesombongan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarungKu, maka barangsiapa mengambil salah satunya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka." (HR Ahmad, Abu Dāwud, dan Ibnu Mājah). (Mulla Ali A-Qāri, A-Ahādiśu Qudsiyyatu'l Arba'iniyyah, Juz 2: 122).

- HADIS NIAGA :

Perintah untuk Berjalan di Bumi dan Menjalin Relasi Dari Umar bin Khathab dia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, Dia akan memberikan kepada kalian rezeki, sebagaimana Dia telah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan perut kosong kemudian pulang dalam keadaan perut berisi" (HR Tirmizi, 2344)

- AMAL NIAGA :

Seorang niagawan harus memperbanyak relasi dan memperluas jaringan koneksinya. Cakupan relasi tidak hanya mengandalkan regional. Akan tetapi, harus diperluas sampai setaraf internasional. Bacalah karakter orang dari berbagai daerah, wilayah, pulau, atau negara. Kemudian jadikanlah bahan pertimbangan dan pembelajaran. Contohnya, jika memiliki relasi dari negara yang mayoritas penduduknya muslim, kita bisa menawarkan produk-produk muslim/muslimah untuk diniagakan di negara tersebut.

- Hadis Motivasi :

Dari Abu Sa'id AI-Khudri . dia berkata. Rasulullah bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam saatnya dan tidak mengetahui berapa rakaat dia salat. tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan dan ambillah yang pasti (yaitu yang sedikit), Kemudian sujudlah dua kali sebelum memberi salam. Jika ternyata dia salat lima rakaat maka sujudnya telah menggenapkan salatnya. Dan jika ternyata salatnya memang empat rokaat maka kedua sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan." (HR Muslim. S71)

- Tadabbur Surah An-Naml Ayat 64-76 :

Ayat 64-66 meneruskan empat pertanyaan sebelumnya : Siapakah yang memulai penciptaan manusia dan mengulangi ciptaan tersebut sehingga terjaga kelestarian manusia di atas bumi sampai kiamat nanti, serta memberi mereka rezeki dari langit melalui hujan dan sebagainya. Masih adakah yang berhak disekutukan dengan Allah? Menyekutukan Allah itu tentulah tidak beralasan. Tidak ada yang mengetahui rahasia langit dan bumi kecuali Allah. Manusia tidak tahu kapan mereka dibangkitkan. Kaum kafir tidak mengetahui tentang kiamat, meragukannya dan buta terhadap tanda-tandanya yang begitu nyata..

Ayat 65-75 menjelaskan: 

1. Kaum kafir itu meragukan peristiwa kebangkitan Manusia. Mereka menganggapnya cerita dongeng karena sudah dijanjikan pada umat terdahulu. Kalau mereka melakukan penelitian, mereka akan tahu apa akibat buruk yang  dialami oleh umat sebelumnya yang menginkarinya. 
2. Allah melarang Rasul Saw. agar tidak sedih terhadap orang-orang kafir itu dan tidak panik terhadap makar yang mereka lakukan. 
3. Orang-orang kafir menantang Rasul Saw. terkait azab yang dijanjikan kepada mereka. Boleh jadi azab itu sudah dekat. Kalaulah bukan karena karunia Allah, pastilah mereka sudah disiksa dengan ucapan itu. Dia Maha Mengetahui apa yang disembunyikan hati manusia. Segala sesuatu sudah tercatat di Lauhul Mahfuz.
4. Ayat 76 menjelaskan Al-Qur’an itu menceritakan perilaku Bani Israel, termasuk masalah-masalah yang mereka perselisikan seperti tentang Nabi Isa dan sebagainya. 

Kamis, 06 Juni 2024

Adab Bertetangga

Tematik (206)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Adab Bertetangga

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya. Maka, kehadiran tetangga dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim sangat dibutuhkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ

Artinya: “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).

Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam juga bersabda,

مَا زَالَ يُوصِينِى جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Artinya: “Jibril senantiasa bewasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya” (HR. Al Bukhari no.6014).

Agama Islam menaruh perhatian yang sangat besar kepada pemeluknya dalam segala hal dan urusan. Mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi, semua tidak luput dari ajarannya. Tak terkecuali dalam masalah adab. Berikut ini diantara adab-adab seorang muslim kepada tetangganya yang patut kita perhatikan.

Menghormati Tetangga dan Berperilaku Baik Terhadap Mereka
Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).

Berkata Al-Hafizh (yang artinya): “Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamrah mengatakan, ‘Dan terlaksananya wasiat berbuat baik kepada tetangga dengan menyampaikan beberapa bentuk perbuatan baik kepadanya sesuai dengan kemampuan. Seperti hadiah, salam, wajah yang berseri-seri ketika bertemu, memperhatikan keadaannya, membantunya dalam hal yang ia butuhkan dan selainnya, serta menahan sesuatu yang bisa mengganggunya dengan berbagai macam cara, baik secara hissiyyah (terlihat) atau maknawi (tidak terlihat).’” (Fathul Baari: X/456).

Kata tetangga mencangkup tetangga yang muslim dan juga yang kafir, ahli ibadah dan orang fasik, teman dan lawan, orang asing dan penduduk asli, yang memberi manfaat dan yang memberi mudharat, kerabat dekat dan bukan kerabat dekat, rumah yang paling dekat dan paling jauh. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam al-Fath (X/456).

Bangunan Rumah Kita Jangan Mengganggu Tetangga
Usahakan semaksimal mungkin untuk tidak menghalangi mereka mendapatkan sinar matahari atau udara. Kita juga tidak boleh melampaui batas tanah milik tetangga kita, baik dengan merusak ataupun mengubah, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaannya.

Dan termasuk hak-hak bertetangga adalah tidak menghalangi tetangga untuk menancapkan kayu atau meletakkannya di atas dinding untuk membangun kamar atau semisalnya. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wassallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

لاَ يَمْنَعْ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِى جِدَارِهِ

Artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dinding (tembok)nya” (HR.Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau; Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)).

Akan tetapi, diperbolehkannya menyandarkan kayu ke dinding tetangga dengan beberapa syarat,
pertama, tidak merusak atau merobohkan dinding tembok;
kedua, dia sangat membutuhkan untuk meletakkan kayu itu di dinding tetangganya;
ketiga, tidak ada cara lain yang memungkinkan untuk membangun selain menyandarkan kepada tembok tetangga.

Apabila salah satu atau sebagian dari ketentuan di atas tidak dipenuhi maka tetangga tidak boleh memanfaatkan bangunan dan menyandarkannya kepada tembok tetangganya karena akan menimbulkan mudharat yang telah terlarang secara syari’at, “Tidak boleh memberi bahaya dan membahayakan orang lain” (HR. Ibnu Majah (no.2340); dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya (no.1910,1911)).

Memelihara Hak-hak Tetangga, Terutama Tetangga yang Paling Dekat
Diantara hak tetangga yang harus kita pelihara adalah menjaga harta dan kehormatan mereka dari tangan orang jahat baik saat mereka tidak di rumah maupun di rumah, memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata dari keluarga mereka yang wanita dan merahasiakan aib mereka.

Adapun tetangga paling dekat memiliki hak-hak yang tidak dimiliki oleh tetangga jauh. Hal ini dikutip dari pertanyaan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, manakah yang aku beri hadiah?’ Nabi menjawab,

إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكَ باَباً

‘Yang pintunya paling dekat dengan rumahmu’” (HR. Bukhari (no.6020); Ahmad (no.24895); dan Abu Dawud (no.5155)).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam memerintahkan hal tersebut, diketahui bahwa hak tetangga yang paling dekat lebih didahulukan daripada hak tetangga yang jauh. Diantara hikmahnya adalah tetangga dekatlah yang melihat hadiah tersebut atau apa saja yang ada di dalam rumahnya, dan bisa jadi menginginkannya. Lain halnya dengan tetangga jauh. Selain itu, sesungguhnya tetangga yang dekat lebih cepat memberi pertolongan ketika terjadi perkara-perkara penting, terlebih lagi pada waktu-waktu lalai. Demikian penjelasan Al Hafizh dalam Fathul Baari (X/361).

Tidak Mengganggu Tetangga
Seperti mengeraskan suara radio atau TV, melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutupi jalan bagi mereka. Seorang mukmin tidak dihalalkan mengganggu tetangganya dengan berbagai macam gangguan.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan adanya larangan dan sikap tegas bagi seseorang yang mengganggu tetangganya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam menggandengkan antara iman kepada Allah dan hari Akhir, menunjukkan besarnya bahaya mengganggu tetangga. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya’”(HR. Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau, Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)).

Dan dalam Hadits lainnya, Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

وَاللَّه لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

Artinya: “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. “Sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Bukhari (no.6016)).

Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Artinya: “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Muslim (no.46); Ahmad (no.8638); Al Bukhari (no.7818)).

Jangan Kikir untuk Memberikan Nasehat dan Saran kepada Mereka
Sudah seharusnya kita mengajak mereka agar berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasehat baik, tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekan mereka. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wassallam bersabda, “Agama itu nasehat.” Kami (para shahabat) bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Artinya: “Untuk Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin” (HR. Muslim (no.55); Ahmad (no.16493); an-Nasa’I (no.4197); dan Abu Dawud (no.4944)).

Dan nasehat untuk seluruh kaum muslimin adalah termasuk tetangga kita. Tujuannya untuk memberikan kebaikan kepada mereka, termasuk mengajarkan dan memeperkenalkan kepada mereka perkara yang wajib, serta menunjukkan mereka kepada al-haq (kebenaran). Hal ini dijelaskan dalam Kasyful Musykil mim Hadits ash-Shahihain karya Ibnul Jauzi (IV/219).

Memberikan Makanan kepada Tetangga
Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

Artinya: “Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu” (HR. Muslim). Adapun tetangga yang pintunya lebih dekat dari rumah kita agar lebih didahulukan untuk diberi.

Bergembira ketika Mereka Bergembira dan Berduka ketika Mereka Berduka
Kita jenguk tetangga kita apabila ia sedang sakit, kita tanyakan kehadirannya apabila ia tidak ada, bersikap baik apabila kita menjumpainya, dan hendaknya sesekali kita undang mereka untuk datang ke rumah kita. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka luluh dan akan menimbulkan rasa kasih sayang kepada kita. Karena sebaik-baik manusia adalah yang akhlaknya paling baik. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dan beliaulah manusia yang memiliki akhlak paling terpuji, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Bukhari (no.6035); Ahmad (no.6468); dan at-Tirmidzi (no.1975)).

Tidak Mencari-cari Kesalahan Tetangga
Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan tetangga kita. Jangan pula bahagia apabila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

Sabar Atas Perilaku Kurang Baik Mereka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda (yang artinya): “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah, … Disebutkan diantaranya: “Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah boleh kematian atau keberangkatannya” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Ketika kita berinteraksi dengan manusia, pasti ada suatu kekurangan atau perlakuan yang kurang baik dari sebagian mereka kepada sebagian yang lainnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Maka orang yang terzhalimi disunnahkan menahan marah dan memaafkan orang yang menzhaliminya. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syuura: 37).

Dan juga Allah Ta’ala berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya:“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran:134).

Firman Allah “Dan orang-orang yang menahan amarahnya” yaitu apabila mereka diganggu oleh orang lain sehingga mereka marah dan hati mereka penuh dengan kekesalan yang mengharuskan mereka membalasnya dengan perkataan dan perbuatan, akan tetapi mereka tidak mengamalkan konsekuensi tabi’at manusia tersebut (tidak membalasnya). Bahkan mereka menahan amarah lalu bersabar dan tidak membalas orang yang berbuat jahat kepadanya. Wallahu musta’an

Rabu, 05 Juni 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 382

Tadabbur Al-Quran Hal. 382
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 56

۞ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهٖٓ اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اَخْرِجُوْٓا اٰلَ لُوْطٍ مِّنْ قَرْيَتِكُمْۙ اِنَّهُمْ اُنَاسٌ يَّتَطَهَّرُوْنَ

Jawaban kaumnya tidak lain hanya dengan mengatakan, “Usirlah Lut dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (menganggap dirinya) suci.”

- Hadiš Qudsi :

Abu Hurairah Ra. berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, Ada dua orang laki-laki dari Bani Isrā il yang saling bersaudara. Salah seorang dari mereka suka berbuat dosa sedangkan yang lain giat dalam beribadah. Orang yang giat dalam beribadah itu selalu melihat saudaranya berbuat dosa hingga ia berkata, Berhentilah. Lalu pada suatu hari ia kembali mendapati saudaranya berbuat dosa, ia berkata lagi, Berhentilah. Orang yang Suka berbuat dosa itu berkata, Biarkan aku bersama Tuhanku, apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku! Ahli ibadah itu berkata, Demi Allah, sungguh Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke dalam surga. Allah Swt. kemudian mencabut nyawa keduanya sehingga keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam. Kemudian Allah Swt. bertanya kepada ahli ibadah, Apakah kamu lebih tahu dari-Ku? Atau apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku? Lalu Allah Swt. berkata kepada pelaku dosa, Pergi dan masuklah kamu ke dalam surga dengan rahmat-Ku. Dan berkata kepada ahli ibadah, "Pergilah kamu ke dalam neraka." Abu Hurairah Ra. berkata, "Demi Zat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh ia telah mengucapkan satu ucapan yang mampu merusak dunia dan akhiratnya." (HR Abu Dāwud (Mustafā bin Adawi, As-Sahihul Musnad minal Ahadisil Qudsiyyati: 36).

- Tafsir bnu Kašir :

Jawaban kaumnya tidak lain dengan mengatakan, "Usirlah Lut dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (menganggap dirinya) suci. (QS An-Naml, 27: 56) Yatataharün bermakna mereka menjauhi dosa, karena perbuatan homosek yang kalian lakukan dan karena kalian tetap melakukannya. Lalu kaumnya mengusir mereka dari hadapan kalian, karena mereka tidak pantas bertetangga dengan kalian di negeri kalian. Kaumnya bertekad mengusir mereka. Lalu Allah membinasakan kaum tersebut. Orang-orang kafir pun sama dibinasakan. Allah Swt. berfirman, Maka Kami selamatkan dia dan keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah menentukan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Artinya, istrinya termasuk orang-orang yang celaka beserta kaumnya karena ia telah membantu agama mereka, dan cara mereka dalam menerima perbuatan-perbuatan yang buruk. (bnu Kašir, Tafsirul Qur'anil Azimi, Jilid 10, 1421 H/2000 M: 418).

- Riyāduş Şälihin

Dari "Umar bin Al-Khattab Ra., dia berkata, "Rasulullah Saw. bersabda, 'Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rezeki seperti rezekinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh." (HR At-Tirmiži).

Hadis di atas memberikan faedah:
(a) Dorongan untuk tawakal kepada Allah Swt. dengan membenarkan-Nya dan meyakini segala peristiwa yang terjadi.
(b) Mengambil nilai-nilai kehidupan dari apa yang sudah terjadi dan terus berusaha mencari rezeki untuk membuktikan ketawakalan seseorang pada Allah Swt. seperti halnya burung bisa makan dan tanpa berhenti mencari makanan (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Salihina, Juz 1, 1407H/1987 M:113-114).

- Hadiš Nabawi

Abu Hurairah Ra. berkata, Nabiyullah Saw. bersabda, "Apabila Allah menetapkan satu perkara di atas langit, maka para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya, seakan-akan rantai yang berada di atas batu besar. Apabila hati mereka telah menjadi stabil, mereka berkata, Apa yang difirmankan Rabb kalian? Mereka menjawab, 'A-Hag, dan Dia datang sebelum menyampaikan kepada yang di bawahnya, bisa jadi mereka menyampakannya sebelum diterjang bintang, kemudian dicampur dengan seratus kebohongan. Maka dikatakan, Bukankah dia (jin) itu telah berkata kepada kita tentang ini dan itu. Maka mereka percaya dengan kata-kata yang didengar dari langit." (HR AI-Bukhāri, Al-Jāmiu Sahihu Bukhāri, Juz 3, No. Hadis, 4800: 281).

Sabtu, 01 Juni 2024

Etika Orang yang Beriman

One Day One Hadits (309)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Etika Orang yang Beriman

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ . [رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1. Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.

2. Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dikalangan individu masyarakat muslim.

3. Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.

4. Berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.

5. Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.

6. Tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.

7. Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangganya dan memperhatikanya serta tidak menyakitinya.

8. Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.

9. Memuliakan tamu termasuk diantara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmennya terhadap syariat Islam.

10. Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan baik.

Tema hadits dan ayat-ayat Al Quran yang terkait :

1. Menjaga perkataan 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidak ada sebarang perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang sentiasa sedia (menerima dan menulisnya).
[Surat Qaf 18]

2. Hubungan baik dengan tetangga :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan jiran tetangga yang dekat, dan jiran tetangga yang jauh, dan rakan sejawat, dan orang musafir yang terlantar, dan juga hamba yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong takbur dan membangga-banggakan diri;
[Surat An-Nisa' 36].

3. Sikap mulia terhadap tamu :

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ
إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ
فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ
فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

Sudahkah sampai kepadamu (wahai Muhammad) perihal tetamu Nabi Ibrahim yang dimuliakan?
Ketika mereka masuk mendapatkannya lalu memberi salam dengan berkata: "Salam sejahtera kepadamu!" Ia menjawab: Salam sejahtera kepada kamu! "(Sambil berkata dalam hati): mereka ini orang-orang yang tidak dikenal.
Kemudian ia masuk mendapatkan Ahli rumahnya serta dibawanya keluar seekor anak lembu gemuk (yang dipanggang).
Lalu dihidangkannya kepada mereka sambil berkata: "Silalah makan".
[Surat Adz-Dzariyat :24-25-26-27].