بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Rabu, 02 September 2026

Sebab-Sebab Terkabulnya Doa | @KitabulSalaf

Tematik (236) | @KitabulSalaf
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sebab-Sebab Terkabulnya Doa

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (751 H) berkata:

- "Jika seseorang menggabungkan dalam doanya kehadiran hati dan totalitasnya pada permintaan yang diminta, dan menemukan waktu dari enam waktu terkabulnya doa, yaitu:

(1) Sepertiga malam terakhir,
(2) Saat adzan,
(3) Antara adzan dan iqamah,
(4) Setelah shalat wajib,
(5) Saat naiknya imam pada mimbar pada hari Jumat hingga selesainya shalat pada hari tersebut,
(6) Jam terakhir setelah ashar.

- Dan jika ditemukan khusyuk dalam hati,
- Rasa tunduk di hadapan Tuhan,
- Rasa hina kepada-Nya, ketundukan, dan kelembutan,
- Menghadap kiblat,
- Dalam keadaan suci,
- Mengangkat tangan kepada Allah,
- Memulai dengan memuji Allah dan memuliakan-Nya,
- Kemudian bershalawat kepada Muhammad hamba dan rasul-Nya ﷺ,
- Kemudian mengajukan taubat dan istighfar sebelum meminta,
- Kemudian masuk kepada Allah dan memohon dengan sungguh-sungguh,
- Merengek dan berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan cemas,
- Bertawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan keesaan-Nya,
- Dan memberikan sedekah sebelum doanya,

Maka doa ini hampir tidak akan pernah ditolak, terutama lagi apabila bertemu dengan doa-doa yang diberitakan oleh Nabi ﷺ bahwa itu adalah kondisi yang besar prasangka terkabulnya doa, atau mengandung nama Allah yang agung."

Taddabbur Al Quran Hal 467

Tadabbur Al-Quran Hal. 467
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Gafir ayat 4 :

مَا يُجَادِلُ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ اِلَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِى الْبِلَادِ

Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah engkau (Muhammad) tertipu oleh keberhasilan usaha mereka di seluruh negeri.

- Asbabun Nuzul Gafir ayat 4 :

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari As-Suddi yang bersumber dari Abi Malik, bahwa firman Allah "ma yujadilu fi ayatillahi illal ladzina kafaru" (Surat Ghafir: 4) turun berkenaan dengan Al-Harits bin Qais As-Sahmi).

- Tafsir Al Muyassar Gafir ayat 4 :

Tiada yang menentang ayat-ayat Al Qur'an dan dalil-dalilnya yang menetapkan keesaan Allah dan menyikapinya dengan kebatilan kecuali para pengingkar yang mengingkari bahwa Allah adalah Ilah yang haq yang berhak untuk disembah. Maka janganlah kamu (wahai Rasul) terkecoh oleh hilir mudik mereka di berbagai negeri dengan berbagai macam perniagaan dan mata pencaharian, kenikmatan dan perhiasan dunia.

- Riyāduş şālihin :

Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, Nabi Saw. bersabda, "Ketika Allah menciptakan makhluk, maka Dia membuat ketentuan terhadap diri-Nya sendiri di dalam kitab-Nya yang berada di atas Arsy. Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku." (HR Al-Bukhāri-Muslim)
Hadis di atas memberikan beberapa faedah:
(a) Murka dan rahmat Allah Swt. kembali kepada Irādah (kehendak)-Nya.
(b) Irādah-Nya yang memberikan ganjaran kepada orang yang taat dan memberi manfaat kepada seorang hamba disebut keridaan dan rahmat-Nya.
(c) Irādah-Nya memberikan siksaan kepada orang yang maksiat dan merendahkan seorang hamba disebut murka-Nya.
(Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādiş Şālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 381).

- Hadis Nabawi :

Dari Imrān bin Hushain Ra. berkata, "Ketika aku berada di sisi Nabi Saw. tiba-tiba ada sekelompok kaum dari Bani Tamim mendatangi beliau, lantas beliau bersabda, Terimalah berita gembira, wahai Bani Tamim! Mereka menjawab, Engkau telah memberi kami kabar gembira, maka berikanlah (kami sesuatu)!" Kemudian beberapa orang penduduk Yaman datang lalu beliau bersabda, Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, sebab Bani Tamim tidak menerimanya! Mereka jawab, 'Kami menerimanya, kami datang untuk belajar agama dan bertanya kepadamu awal-awal
kejadian alam ini!" Nabi Savw. menjawab, Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Arsy-Nya berada di atas air kemudian Allah menciptakan langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam Adz-Dzikr (Lauhu'l mahfuz)" (HR AL-Bukhāri, Sahihu'l Bukhāri, Juz 4, No. Hadis: 7418, 1400 H: 387-388)

- Hadis Motivasi QS 40: 4 :

Dari Abdurrahman bin Mihran. mantan budak Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: "Negeri (ternpat) yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya." (HR Muslim. 671)

- HADIS NIAGA 2S Gäfir, 40: 3 :

Allah Maha Mengampuni Dosa dan Maha Menerima Tobat Dari Abu Hurairah , dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda dari yang telah dikabarkan oleh Allah : "Dahulu, ada seorang yang telah berbuat dosa. Setelah itu, dia berdoa dan bermunajat, 'Ya Allah, ampunilah dosaku!' Kemudian, Allah berfirman: 'Sesungguhnya, hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwasanya día mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa atau memberi siksa karena dosa.' Kemudian, orang tersebut berbuat dosa lagi dan dia berdoa, Ya Allah, ampunilah dosaku!' Maka Allah berfirman: 'Hamba-
Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwasanya dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyiksa hamba-Nya karena dosa. Oleh karena itu, berbuatlah sekehendakmu karena Aku pasti akan mengampunimu (jika kamu bertobat)," (HR Muslim, 2758)

- AMAL NIAGA :

1. Perbaharuilah tobat Anda dan jadikanlah hari ini sebagai permulaan untuk meninggalkan perbuatan dosa dalam segala aktivitas kehidupan, termasuk dalam urusan bisnis yang dijalani.
2. Minta maaflah kepada seorang muslim dan nonmuslim yang pernah Anda zalimi.

- Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 75

Ayat 75 dari surat Az-Zumar ini meneruskan ayat sebelumnya. Para malaikat melingkar di  sekeliling ‘Arsy Allah sambil bertasbih memujiNya. Semua perkara manusia sudah diputuskan  dengan Maha adil dan semuanya memuji Allah Pencipta alam semesta. 

Tadabbur Surah Al-Mukmin Ayat 1-7 :

Ayat 2-7 surat Al-Mukmin menjelaskan : 
1. Al-Qur’an itu diturunkan dari Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui, Maha Pengampun atas dosa hamba-Nya, Maha Penerima taubat, namun Mahakeras hukuman-Nya serta memiliki karunia yang amat banyak. Tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia dan kepada-Nya semua manusia dikembalikan.  
2. Yang membantah ayat-ayat Al-Qur’an itu hanyalah orang-orang kafir. Umat Islam tidak  boleh terperdaya oleh kehebatan mereka dalam kehidupan dunia. Sebelum mereka sudah  ada kaum Nuh dan umat lain setelah mereka yang menolak dengan keras kehadiran para Rasul Allah, berupaya menangkap dan mendebat mereka untuk melenyapkan kebenaran  yang dibawa mereka. Lalu Allah menyiksa kaum tersebut dengan siksaan yang amat keras. Allah telah menetapkan dengan benar bahwa orang-orang kafir itu menjadi penghuni neraka. 
3. Para malaikat yang memikul ‘Arsy dan  yang berada di sekitarnya bertasbih memuji Allah, beriman kepada-Nya dan memintakan ampunan bagi kaum mukmin sambil berkata : Ya  Rabbana. Rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala  sesuatu, maka ampunilah kaum mukmin yang  bertaubat, mengikuti jalan-Mu dan hindarkan mereka dari azab neraka.

Kamis, 27 Agustus 2026

Kisah Istri Rasulullah SAW (5) | @KitabulSalaf

Kisah Istri Rasulullah SAW (5) | @KitabulSalaf
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Zainab binti Khuzayma (wafat 1H)

Dapat dikatakan bahwa pengetahuan kita tentang Zainab binti Khuzaimah r.a. sangatlah terbatas karena dia telah wafat ketika Rasulullah saw. masih hidup.

Zainab binti Khuzaimah adalah istri Rasulullah yang dikenal dengan kebaikan, kedermawanan, dan sifat santunnya terhadap orang miskin. Dia adalah istri Rasul kedua yang wafat setelah Khadijah r.a.. Untuk memuliakan dan mengagungkannya, Rasulullah mengurus mayat Zainab dengan tangan beliau sendiri.

Nasab dan Masa Pertumbuhannya
Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah. Ibunya bemama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah.

Berdasarkan asal-usul keturunannya, dia termasuk keluarga yang dihormati dan disegani. Tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, namun ada riwayat yang rnenyebutkan bahwa dia lahir sebelum tahun ketiga belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad bahwa Zainab binti Khuzaimali bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah adalah Ummul-Masakin. Gclar tersebut disandangnya sejak masa jahiliah. Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin pun di terangkan bahwa Rasulullah saw. menikahinya sebelum beliau menikah dengan Maimunah r.a., dan ketika itu dia sudah dikenal dengan sebutan Ummul-Masakin sejak zaman jahiliah. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa Zainab binti Khuzaimah terkenal dengan sifat kemurah-hatiannya, kedermawanannya, dan sifat santunnya terhadap orang-orang miskin yang dia utamakan daripada kepada dirinya sendiri. Sifat tersebut sudah tertanarn dalam dirinya sejak memeluk Islam walaupun pada saat itu dia belum mengetahui bahwa orang-orang yang baik, penyantun, dan penderma akan memperoleh pahala di sisi Allah.

Keislaman dan Pernikahannya
Zainab binti Khuzaimah r.a. termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah.

Para perawi berbeda pendapat tentang nama-nama suami pertama dan kedua sebelum dia menikah dengan Rasulullah. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang kemudian menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, namun dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami keduanya adalah Abdullah bin Jahsy. Sebenarnya masih banyak perawi yang mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Akan tetapi, dari berbagai pendapat itu, pendapat yang paling kuat adalah riwayat yang mengatakan bahwa suami pertamanya adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah ke Madinah. Untuk mernuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara laki-laki Thufail) menikahi Zainab. Sebagaimana kita ketahui, Ubaidah bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul-Muththalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang tersebut.

Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang kehidupannya hingga Rasulullah saw. menikahinya. Rasulullah menikahi Zainab karena beliau ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang dialaminya. Hati beliau menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil dia sudah dikenal dengan kelemah- lembutannya terhadap orang-orang miskin. Scbagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam semesta, beliau rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk kepentingan Zainab. Beiau senantiasa memohon kepada Allah agar hidup miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orang orang miskin.

Meskipun Nabi saw. mengingkari beberapa nama atau julukan yang dikenal pada zaman jahiliah, tetapi beiau tidak mengingkari julukan “ummul-masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah.

Selain dikenal sebagai wanita yang welas asih, Zainab juga dikenal sebagai isteri Rasulullah saw. yang senang meringankan beban saudara-saudaranya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Atha bin Yasir yang mengisahkan, bahwa Zainab mempunyai seorang budak hitam dari Habasyah. Ia sangat menyayangi budak itu, hingga budak dari Habasyah itu tidak diperlakukan layaknya seorang budak, Zainab malah memperlakukan layaknya seorang kerabat dekat. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw. pernah menyatakan pujian kepada Ummul Mukminin Zainab binti Khuzaimah r.a. dengan sabdanya, Ia benar-benar menjadi ibunda bagi orang-orang miskin, karena selalu memberikan makan dan bersedekah kepada mereka.

Menjadi Ummul-Mukminin
Tidak diketahui dengan pasti masuknya Zainab binti Khuzaimah ke dalam rumah tangga Nabi saw., apakah sebelum Perang Uhud atau sesudahnya. Yang jelas, Rasulullah saw. menikahinya karena kasih sayang terhadap umamya walaupun wajah Zainab tidak begitu cantik dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat yang bersedia menikahinya. Tentang lamanya Zainab berada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah pun banyak tendapat perbedaan. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Zainab memasuki rumah tangga Rasulullah selama tiga bulan, dan pendapat lain delapan bulan. Akan tetapi, yang pasti, prosesnya sangat singkat kanena Zainab meninggal semasa Rasulullah hidup. Di dalam kitab sirah pun tidak dijelaskan penyebab kematiannya. Zainab meninggal pada usia relatif muda, kurang dari tiga puluh tahun, dan Rasulullah yang menyalatinya. Allahu A’lam. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Zainab binti Khuzaimah r.a. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Rabu, 26 Agustus 2026

PANDUAN SHALAT TAHAJUD | @KitabulSalaf

Tematik (235) | @KitabulSalaf
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

PANDUAN SHALAT TAHAJUD


Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumid diin. Suatu kenikmatan yang sangat indah adalah bila seorang hamba bisa merasakan bagaimana bermunajat dengan Allah di tengah malam terutama ketika 1/3 malam terakhir. Berikut sedikit panduan dari kami mengenai shalat tahajud.

Maksud Shalat Tahajud

Shalat malam (qiyamul lail) biasa disebut juga dengan shalat tahajud. Mayoritas pakar fiqih mengatakan bahwa shalat tahajud adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari secara umum setelah bangun tidur.1

Keutamaan Shalat Tahajud

Pertama: Shalat tahajud adalah sifat orang bertakwa dan calon penghuni surga.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).

Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini, “Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari, mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang shubuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.”2

Kedua: Tidak sama antara orang yang shalat malam dan yang tidak.

Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang 

mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9). Yang dimaksud qunut dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai dengan khusu’.3

Salah satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!”4 Jawabannya, tentu saja tidak sama.

Ketiga: Shalat tahajud adalah sebaik-baik shalat sunnah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”5

An Nawawi –rahimahullah– mengatakan, “Ini adalah dalil dari kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam hari lebih baik dari shalat sunnah di siang hari. Ini juga adalah dalil bagi ulama Syafi’iyah (yang satu madzhab dengan kami) di antaranya Abu Ishaq Al Maruzi dan yang sepaham dengannya, 

bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah rawatib. Sebagian ulama Syafi’iyah yang lain berpendapat bahwa shalat sunnah rawatib lebih afdhol (lebih utama) dari shalat malam karena kemiripannya dengan shalat wajib. Namun pendapat pertama tetap lebih kuat dan sesuai dengan hadits. Wallahu a’lam.6

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Waktu tahajud di malam hari adalah sebaik-baik waktu pelaksanaan shalat sunnah. Ketika itu hamba semakin dekat dengan Rabbnya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu langit dan terijabahinya (terkabulnya) do’a. Saat itu adalah waktu untuk mengemukakan berbagai macam hajat kepada Allah.”7
‘Amr bin Al ‘Ash mengatakan, “Satu raka’at shalat sunnah di malam hari lebih baik dari 10 raka’at shalat sunnah di siang hari.” Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya.8

Ibnu Rajab mengatakan, “Di sini ‘Amr bin Al ‘Ash membedakan antara shalat malam dan shalat di siang hari. Shalat malam lebih mudah dilakukan sembunyi-sembunyi dan lebih mudah mengantarkan pada keikhlasan.”9 Inilah sebabnya para ulama lebih menyukai shalat malam karena amalannya yang jarang diketahui orang lain.

Keempat: Shalat tahajud adalah kebiasaan orang sholih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ

“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat malam adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ”10

Kelima: Sebaik-baik orang adalah yang melaksanakan shalat tahajud.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar,

« نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ » . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .

“Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.” Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.”11

Waktu Shalat Tahajud

Shalat tahajud boleh dikerjakan di awal, pertengahan atau akhir malam. Ini semua pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik -pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengatakan,

مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ وَلَا نَشَاءُ أَنْ نَرَاهُ نَائِمًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ

“Tidaklah kami bangun agar ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari mengerjakan shalat kecuali pasti kami melihatnya. Dan tidaklah kami bangun melihat beliau dalam keadaan tidur kecuali pasti kami melihatnya pula.”12

Ibnu Hajar menjelaskan,

إِنَّ صَلَاته وَنَوْمه كَانَ يَخْتَلِف بِاللَّيْلِ وَلَا يُرَتِّب وَقْتًا مُعَيَّنًا بَلْ بِحَسَبِ مَا تَيَسَّرَ لَهُ الْقِيَام

“Sesungguhnya waktu shalat malam dan tidur yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbeda-beda setiap malamnya. Beliau tidak menetapkan waktu tertentu untuk shalat. Namun beliau mengerjakannya sesuai keadaan yang mudah bagi beliau.”13

Waktu Utama untuk Shalat Tahajud

Waktu utama untuk shalat malam adalah di akhir malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kami -Tabaroka wa Ta’ala- akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do’a pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya”.”14

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai di sisi Allah adalah puasa Daud15 dan shalat yang dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Beliau biasa tidur di separuh malam dan bangun tidur pada sepertiga malam terakhir. Lalu beliau tidur kembali pada seperenam malam terakhir. Nabi Daud biasa sehari berpuasa dan keesokan harinya tidak berpuasa.”16
‘Aisyah pernah ditanyakan mengenai shalat malam yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah menjawab,

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ ، فَيُصَلِّى ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ ، وَإِلاَّ تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).”17

Shalat Tahajud Ketika Kondisi Sulit

Bermunajatlah pada Allah di akhir malam ketika kondisi begitu sulit.

‘Ali bin Abi Tholib pernah menceritakan,

رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ وَمَا كَانَ مِنَّا فَارِسٌ يَوْمَ بَدْرٍ غَيْرَ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ

“Kami pernah memperhatikan pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan shalat di bawah pohon. Beliau memanjatkan do’a pada Allah hingga waktu Shubuh. Dan tidak ada di antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al Aswad.”18 Dalam riwayat lain disebutkan,

يُصَلِّى وَيَبْكِى حَتَّى أَصْبَحَ

“Beliau melaksanakan shalat sambil menangis hingga waktu shubuh.”19

Jumlah Raka’at Shalat Tahajud yang Dianjurkan (Disunnahkan)

Jumlah raka’at shalat tahajud yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Dan inilah yang menjadi pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Aisyah mengatakan,

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at. Beliau melakukan shalat empat raka’at, maka jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat empat raka’at lagi dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat tiga raka’at.”20

Ibnu ‘Abbas mengatakan,

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat malam 13 raka’at. ”21

Zaid bin Kholid Al Juhani mengatakan,

لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

“Aku pernah memperhatikan shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun melaksanakan 2 raka’at ringan. Kemudian setelah itu beliau laksanakan 2 raka’at yang panjang-panjang. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Beliau pun lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Lalu terakhir beliau berwitir sehingga jadilah beliau laksanakan shalat malam ketika itu 13 raka’at.”22 Ini berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan witir dengan 1 raka’at.23

Dari sini menunjukkan bahwa disunnahkan sebelum shalat malam, dibuka dengan 2 raka’at ringan terlebih dahulu. ‘Aisyah mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak’at yang ringan.”24

Bolehkah Menambahkan Raka’at Shalat Malam Lebih Dari 11 Raka’at?

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan,

وَلَا خِلَاف أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدّ لَا يُزَاد عَلَيْهِ وَلَا يَنْقُص مِنْهُ ، وَأَنَّ صَلَاة اللَّيْل مِنْ الطَّاعَات الَّتِي كُلَّمَا زَادَ فِيهَا زَادَ الْأَجْر ، وَإِنَّمَا الْخِلَاف فِي فِعْل النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا اِخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ

“Tidak ada khilaf bahwa tidak ada batasan jumlah raka’at dalam shalat malam, tidak mengapa ditambah atau dikurang. Alasannya, shalat malam adalah bagian dari ketaatan yang apabila seseorang menambah jumlah raka’atnya maka bertambah pula pahalanya. Jika dilakukan seperti ini, maka itu hanya menyelisihi perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyelisihi pilihan yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.”25

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan,

فلا خلاف بين المسلمين أن صلاة الليل ليس فيها حد محدود وأنها نافلة وفعل خير وعمل بر فمن شاء استقل ومن شاء استكثر

“Tidak ada khilaf di antara kaum muslimin bahwa shalat malam tidak ada batasan raka’atnya. Shalat malam adalah shalat nafilah (shalat sunnah) dan termasuk amalan kebaikan. Seseorang boleh semaunya mengerjakan dengan jumlah raka’at yang sedikit atau pun banyak.”26

Adapun dalil yang menunjukkan bolehnya menambah lebih dari 11 raka’at, di antaranya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.”27 Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya.

Lalu bagaimana dengan hadits ‘Aisyah,

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at. ”28

Jawabannya adalah sebagai berikut:

Jika ingin mengikuti sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mestinya mencocoki beliau dalam jumlah raka’at shalat juga dengan tata cara shalatnya.

Sedangkan shalat yang paling bagus, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوت

“Shalat yang paling baik adalah yang paling lama berdirinya.”29

Namun sekarang yang melakukan 11 raka’at demi mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan lama seperti beliau. Padahal jika kita ingin mencontoh jumlah raka’at yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seharusnya juga lama shalatnya pun sama.

Sekarang pertanyaannya, manakah yang lebih utama melakukan shalat malam 11 raka’at dalam waktu 1 jam ataukah shalat malam 23 raka’at yang dilakukan dalam waktu dua jam atau tiga jam?

Yang satu mendekati perbuatan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dari segi jumlah raka’at. Namun yang satu mendekati ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari segi lamanya. Manakah di antara kedua cara ini yang lebih baik?

Jawabannya, tentu yang kedua yaitu yang shalatnya lebih lama dengan raka’at yang lebih banyak. Alasannya, karena pujian Allah terhadap orang yang waktu malamnya digunakan untuk shalat malam dan sedikit tidurnya. Allah Ta’ala berfirman,

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (QS. Adz Dzariyat: 17)

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” (QS. Al Insan: 26)

Oleh karena itu, para ulama ada yang melakukan shalat malam hanya dengan 11 raka’at namun dengan raka’at yang panjang. Ada pula yang melakukannya dengan 20 raka’at atau 36 raka’at. Ada pula yang kurang atau lebih dari itu. Mereka di sini bukan bermaksud menyelisihi ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun yang mereka inginkan adalah mengikuti maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan mengerjakan shalat malam dengan thulul qunut (berdiri yang lama).

Sampai-sampai sebagian ulama memiliki perkataan yang bagus, “Barangsiapa yang ingin memperlama berdiri dan membaca surat dalam shalat malam, maka ia boleh mengerjakannya dengan raka’at yang sedikit. Namun jika ia ingin tidak terlalu berdiri dan membaca surat, hendaklah ia menambah raka’atnya.”

Mengapa ulama ini bisa mengatakan demikian? Karena yang jadi patokan adalah lama berdiri di hadapan Allah ketika shalat malam. -Demikianlah faedah yang kami dapatkan dari penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam At Tarsyid–30

Qodho’ bagi yang Luput dari Shalat Tahajud karena UdzurUdzur

Bagi yang luput dari shalat tahajud karena udzur seperti ketiduran atau sakit, maka ia boleh mengqodho’nya di siang hari sebelum Zhuhur.

‘Aisyah mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau luput dari shalat malam karena tidur atau udzur lainnya, beliau mengqodho’nya di siang hari dengan mengerjakan 12 raka’at.”31

‘Umar bin Khottob mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَىْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ

“Barangsiapa yang tertidur dari penjagaannya atau dari yang lainnya, lalu ia membaca apa yang biasa ia baca di shalat malam antara shalat shubuh dan shalat zhuhur, maka ia dicatat seperti membacanya di malam hari.”32

Demikian pembahasan ringkas kami mengenai shalat tahajud. Kami masih akan membahas kiat-kiat bangun shalat tahajud dan panduan shalat witir -insya Allah-. Semoga Allah mudahkan.

Semoga kita semakin terbimbing dengan sajian ringkas ini. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan sekaligus merutinkannya.Aamiin

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Taddabbur Al-Quran Hal. 466

Tadabbur Al-Quran Hal. 466
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Az-Zumar ayat 73 :

وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.”

- Tafsir Al Muyassar Az-Zumar ayat 73 :

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dengan mentauhidkan-Nya dan mengamalkan perintahNya digiring ke surge dengan berbondong-bondong. Ketika mereka tiba di depannya, Nabi meminta kepada Allah agar pintu-pintu surga dibuka. Maka ia pun dibuka, para malaikat penjaga surga menyambutnya, memberikan penghormatan kepada mereka dengan penuh kebahagiaan dan suka cita karena kesucian mereka dari noda-noda kemaksiatan, seraya berkata kepada mereka: Selamat untuk kalian, kalian juga selamat dari segala cacat, kehidupan kalian adalah baik. Masuklah kalian ke dalam surga dengan kekal di dalamnya.

- Hadis Sahih Az-Zumar ayat 73 :

Dart Sabit, dari Anas bin Malik Ra ia berkata, "Rasulullah Saw. bersabda, Saya mendatangi pintu surga pada hari kiamat, tahu. saya meminta supay dibukakan. Lalu seorang penjaga (Malaikat} bertanya, Siapa kamu? Saya menjawab. Muhammad. Lalu ia berkata, Khusus untukmu, aku diperintahkan untuk tidak membukakan pintu bagi siapapun, sebelum kamu masuk" (HR MUslim, Sahib Muslim. Juz 1. 1412 H1991 M 188)

Mujam OS A-Zumar, 39 73 :

زُمَرًا
Zumara merupakan bentuk jamak dari kata Zumratun Lataz Zumars mengandung makna kelompok kecil. Latat Zumara jun dimaknai seperti perkataan, "Kambing 43 memiliki bulu sedikit. Seorang laki-laki yang kurang patriotis" Lataz Arzammarotu" juga merupakan kasan da perbuatar jahat. (Ar-Ràgib ALAstahan, Mujamu Mufradatı Alfazi AFQur ani 1431 H2010 M 162).

- Tazkiyyatun Nafs :

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang hatinya tidak dibersihkan Allah Swt., maka ia akan mendapatkan kehinaan di dunia dan siksa di akhirat, sesuai dengan tingkat kekotoran dan keburukan hatinya. Karena itu, Allah Swt. mengharamkan surga bagi orang yang di dalam hatinya terdapat najis dan kotoran dan ia tidak masuk surga kecuali setelah bersih dan baik hatinya sebab surga adalah kampung bagi orang-orang yang baik. Karena itu, dikatakan kepada mereka, .. Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu.  Maksudnya, masuklah kamu ke dalam surga disebabkan oleh kebaikan kalian dan ini merupakan berita gembira bagi mereka saat kematian, yang tidak didapatkan oleh orang-orang selain mereka, sebagaimana firman Allah Swt., (yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malakat) mengatakan (kepada mereka), Salāmun alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan. (QS An Nahl, 16: 32). Maka surga tidak dapat dimasuki oleh kekal di dalamnya. (QS Az-Zumar, 39:73). Orang yang kotor, bahkan tidak oleh orang yang di dalam dirinya ada sedikit kotoran. Karena itu, orang yang membersihkan dirinya di dunia dan berjumpa dengan Allah Swt. dalam keadaan bersih dari najis dan kotoran, niscaya ia akan masuk surga dengan tanpa ada halangan. Sebaliknya, siapa yang belum membersihkan dirinya di dunia, jika najisnya adalah najis ain (diri) seperti orang kafir, ia sama sekali tidak akan masuk surga. Jika najisnya adalah karena dosa-dosa dan maksiatnya, ia akan masuk surga setelah ia dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran-kotoran itu di dalam neraka, lalu ia masuk ke dalam surga yang selanjutnya tidak akan pernah keluar darinya selama-lamanya. Jika orang-orang beriman melewati sirāt, ditahan di suatu jembatan antara surga dan neraka. Di sana mereka dibersihkan dan disucikan dari kotoran-kotoran yang masih menempel pada mereka. Mereka belum mencapai syarat masuk surga, tetapi hal itu juga tidak menjadikan mereka masuk neraka hingga jika mereka telah dibersihkan dan disucikan, barulah mereka diizinkan masuk surga. Dengan hikmah-Nya, Allah Swt. menjadikan masuk surga bergantung pada kebersihan. Tidak boleh seseorang melakukan salat kecuali dalam keadaan suci, demikian pula Allah Swt. menjadikan kebaikan dan kesucian sebagai syarat untuk masuk surga. Tidak ada yang masuk surga kecuali dalam keadaan baik dan bersih. Dengan demikian, kebersihan itu terbagi menjadi dua macam: bersih badan dan bersih hati. Karenaitu, disyariatkan bagi setiap orang yang berwudu agar berdoa seusai wudu, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Swt. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah Swt. jadikanlah aku di antara orang-orang yang tobat dan jadikanlah aku di antara orang-orang yang suci." (Diriwayatkan Muslim dari Uqbah bin Amir). Jadi, kebersihan hati adalah dengan tobat, sedangkan kebersihan badan dengan air. Ketika seseorang telah bersih dengan keduanya, maka ia layak untuk masuk, menghadap, dan bermunajat kepada Allah Swt. (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Igāsatu'lLahfāni fi Masāyidi Asy-Syaițāni, Juz 1, t.t.: 118-121).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat Mā (air)

Air merupakan materi kehidupan, penuntun minuman, dan merupakan salah satu sendi kehidupan alam semesta. Bahkan air merupakan sendi yang fundamental, karena langit diciptakan dari uap air dan bumi diciptakan dari buihnya dan dari air itulah Allah Swt menjadikan segala sesuatu menjadi hidup. Air bersifat dingin dan lembap, meredam panas, dan menjaga kelembapan badan, mengganti apa yang keluar dari badan, melembutkan makanan, dan keluar dalam bentuk keringat. Kualitas air dapat dilihat dari sepuluh faktor: (1) warnanya harus bening, (2) aromanya harus murni, tanpa ada bau, (3) rasanya harus segar seperti air sungai Nil dan Eufrat, (4) beratnya harus ringan, (5) tempat alirannya harus bagus, (6) sumbernya harus jauh, (7) harus terkena sinar matahari dan angin, tidak tersembunyi di bawah tanah sehingga sinar matahari dan udara tidak bisa menjangkaunya, (8) gerakan dan alirannya harus cepat, (9) debitnya harus banyak agar dapat menolak kotoran yang bercampur dengannya, (10) alirannya harus dari arah utara ke selatan atau dari barat ke timur. Tidak ada air yang memenuhi semua syarat ini secara sempurna kecuali di empat sungai, sebagaimana disebutkan da- lam hadis riwayat Muslim di atas. (lbnu' Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdu'l Ma ādi fi Hadyi Khayri'l bādi, Juz 4, t.t.: 388-389).

- Medical Hadis :

Dari Abu Hurairah Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Saihan, Jaihan, Nil, dan Eufrat, masing-masing berasal dari sungai surga." (HR Muslim). Dari Jābir Ra., dia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Saw. meminta air, lalu bersabda, Apakah kamu memiliki air yang tersisa malam ini dalam griba, jika tidak kami akan menghirupnya langsung (dari saluran air tersebut)." (HR Al-Bukhāri). (tbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, tt.: 303; Aż-Zahabi, At-Tibbun Nabawi, 1410 H/1990 M: 142).

- Hadis Motivasi QS 39: 73 :

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah. beliau bersabda: "Rombongan pertama yang memasuki surga, rupa mereka bagaikan bulan saat purnama, dan rombongan berikutnya yang mengiringi mereka bagaikan bìntang yang sangat terang cahayanya di langit. Hati mereka bagaikan hati seorang laki-laki yang tidak pernah menbenci dan saling hasad (iri) di antara mereka. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri dari bidadari yang sumsum tulangnya dapat kelihatan dari betis-betis mereka dari balik tulang dan daging." (HR Bukhari, 3081)

- HADIS NIAGA QS Az-Zumar, 39: 73 :

Pintu-Pintu Surga

Dari Abu Hurairah dia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang menginfakkan dua jenis (berpasangan) dari hartanya di jalan Allah, dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, (lalu dikatakan kepadanya), "Wahai Abdullah, inilah kebaikan (dari yang kamu amalkan). Barang siapa dari kalangan ahli salat, dia akan dipanggil dari pintu salat. Barang siapa dari kalangan ahli jihad, dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barang siapa dari kalangan ahli sedekah, dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Barang siapa dari kalangan ahli puasa, dia akan dipanggil dari pintu Rayyān. Lantas, Abu Bakar bertanya, Jika seseorang dipanggil dari satu pintu di antara pintu-pintu yang ada, itu sebuah kepastian.' Dia bertanya lagi, 'Dan apakah mungkin setiap orang akan dipanggil dari pintu-pintu itu semuanya?" Rasulullah menjawab: "Benar, dan aku berharap kamu termasuk di antara mereka, wahai Abu Bakar." (HR Bukhari, 1897, 3666; Muslim, 1027)

- AMAL NIAGA :

Lakukanlah amal saleh yang beragam setiap harinya, seperti salat, puasa, dan sedekah. Mudah-mudahan Anda mendapat surga dari salah satu pintu yang dikhususkan untuk amal-amal tersebut.

- Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 68-74 :

Ayat 68-74 menjelaskan sebagian proses  terjadinya kiamat sampai orang-orang bertakwa masuk surga. Tiupan sangkakala pertama  menyebabkan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi mati. Pada tiupan kedua, Allah bangkitkan semua manusia yang sudah mati. Di  Padang mahsyar, tempat persidangan raksasa terang benderang disebabkan cahaya Allah, disana diberikan kitab catatan amal manusia, dihadirkan para Nabi dan para malaikat untuk  memberikan kesaksian atas tugas yang diamanahkan Allah kepada mereka. Di sana pula diputuskan perkara manusia dengan adil, tanpa sedikitpun dizalimi. Allah sempurnakan balasan setiap manusia atas apa yang mereka kerjakan, karena Dia Maha Mengetahui detil apa  saja yang mereka kerjakan. 

Orang-orang kafir digiring ke neraka berombongan. Saat ditanya para malaikat penjaga neraka, mereka mengakui atas kekufuran mereka terhadap para rasul Allah yang telah menyampaikan dan membacakan kepada mereka kitab-kitab-Nya serta memperingatkan akan hari persidangan akhirat. Lalu mereka dilemparkan ke  dalam neraka. Itulah tempat tinggal yang paling  buruk bagi mereka yang sombong kepada Allah  dan rasul-rasul-Nya. 

Adapun orang-orang bertakwa dibawa masuk ke surga berombongan. Saat berada di depan pintu surga, mereka disambut oleh para penjaganya dengan ucapan : Sejahtera dan berbahagialah kalian, maka masuklah ke dalam  surga selama-lamanya. Mereka spontan berucap : Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya pada kami dan mewariskan kepada kami tempat di surga ini di mana saja kami kehendaki. Alangkah indahnya balasan orang-orang beramal saleh sewaktu hidup di dunia.

Selasa, 18 Agustus 2026

Taddabbur Al-Quran Hal. 465

Tadabbur Al-Quran Hal. 465
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Az-Zumar ayat 64 :

قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?”

- Asbabun Nuzul Az-Zumar ayat 64 :

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab Ad-Dalail yang bersumber dari Al-Hasan Al-Bishri, bahwa kaum musyrikin berkata: "Apakah engkau menganggap bahwa nenek moyangku termasuk orang sesat, hai Muhammad?".

Asbab Nuzul ayat ini (surat Az-Zumar: 64) akan dikemukakan pula dalam asbab nuzul surat Al-Kafirun.

- Tafsir Al Muyassar Az-Zumar ayat 64 :

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrikin dari kaummu: Apakah kalian wahai orang-orang yang tidak mengetahui Allah memerintahkanku untuk menyembah selain Allah padahal hanya Dia satu-satunya yang berhak untuk disembah?

- Riyāduş Şālihin :

Dari Ibnu Mas'ud Ra., ia berkata, "Suatu saat kami bersama Nabi Saw. dalam sebuah hunian dari tanah liat, tiba-tiba Nabi Saw. bertanya, 'Puaskah kalian menjadi seperempat penghuni surga? Kami menjawab, Ya. Nabi bertanya lagi, "Puaskah kalian menjadi sepertiga penghuni surga?' Kami menjawab, Ya. Nabi bertanya lagi, 'Puaskah kalian menjadi separuh penghuni surga?" Kami menjawab, Ya.' Nabi bersabda, "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi separuh peng-
huni surga, dan surga tidak dimasuki selain seorang muslim, dan perbandingan kalian di antara orang-orang musyrik tidak lain hanyalah seperti rambut putih pada kulit sapi yang hitam." (HR Al-Bukhāri-Muslim)

Hadis di atas memberikan beberapa faedah, antara lain diperbolehkan untuk mengabarkan berita gembira secara berulang kali untuk memperbaharui rasa syukur dan bahwa orang-orang muslim merupakan setengah dari penghuni surga. (Dr. Muştafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyadis Sālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 388-389).

- Hadis Nabawi :

Imam Muslim berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Ayyub Al-Gailani, yaitu Sulaiman bin Ubaidillah dan Hajāj bin Asy-Syāir, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amr, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Qurrah, dari Abu Az-Zubair, ia berkata telah menceritakan kepada kami Jābir bin Abdullah Ra., ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, 'Barangsiapa menemui Allah Swt. (mati) dalam keadaan tidak menyekutukanNya sedikit pun, maka dia masuk surga. Dan barangsiapa menemui Allah Swt. (mati) dalam keadaan menyekutukan-Nya, maka dia masuk neraka." (HR Muslim, Sahih Muslim, Juz 1, No. Hadiš 93, 1412H/1991 M: 94).

Hadis Qudsi :

Dari lyad bin Himar Al-Mujasyi'l, ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, pada suatu hari dalam khutbah beliau, "Sesungguhnya Tuhanku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Dia ajarkan padaku pada hari ini, Semua harta yang Aku berikan pada hamba itu halal. Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus. Kemudian, mereka didatangi oleh setan lalu dijauhkan dari agama mereka. Setan mengharamkan yang Aku halalkan pada mereka dan memerintahkan mereka agar menyekutukan-Ku yang tidak Aku turunkan kuasanya. Sesungguhnya, Allah memandang penduduk bumi, lalu Allah membenci mereka, Arab maupun Ajam, kecuali sisa-sisa dari ahli kitab. la berfirman, Sesungguhnya Aku merngutusmu untuk mengujimu dan denganmu Aku menguji, Aku menurunkan kitab padamu yang tidak basah oleh air,
engkau membacanya dalam keadaan tidur dan terjaga.' Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar kaum Quraisy lalu aku berkata, Wahai Tuhanku, kalau begitu mereka akan memecahkan kepalaku lalu mereka membiarkannya menjamur. la berfirman: Usirlah mereka sebagaimana mereka mengusirmu, perangilah mereka, niscaya Kami akan membantumu, berinfaklah, niscaya Kami akan menggantinya, utuslah bala tentara, niscaya Kami akan mengirim lima kali sepertinya, perangilah orang yang mendurhakaimu bersama orang yang menaatimu." (HR Muslim). (Isāmuddin As- Sabābati, Jāmiul Ahādisil Qudsiyyati, Jilid 3, t.t.: 108).

- Hadis Motivasi QS 39: 64 :

Dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya. dari kakeknya. dia mengatakan bahwa Rasulullah mendengar satu kaum saling membenturkan Allah Lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya. orang-orang sebelum kalian binasa karena hal yang demikian. Mereka membenturkan kitab Allah yang satu dengan yang lainnya. Sesungguhnya. kitab Alah turun saling membenarkan antara sebagian đengan sebagian yang lainnya maka janganlah kalian mendustai sebagian ayat dengan sebagian yang lain. Apa-apa yang kalian ketahui darinya maka katakanlah dan apa-apa yang kalian tidak ketahui maka kembalikanlah kepada yang tahu." (HR Ahmad. 6702)


- HADIS NIAGA QS Az-Zumar, 39: 60 :

Larangan Berdusta saat Berdagang

Dari Abdurrahman bin Syibl, dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: "Para pedagang adalah tukang maksiat" Di antara para sahabat, ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?" Rasulullah menjawab: "Ya, tetapi mereka sering berdusta dalam berkata dan sering bersumpah, tetapi sumpahnya palsu." (HR Ahmad, 3/428)

- AMAL NIAGA :
1. Hadis ini tidak bermaksud menurunkan motivasi untuk berdagang karena tidak semua pedagang adalah tukang maksiat. Hadis ini hanya merupakan peringatan agar berbuat jujur dan tidak mudah bersumpah ketika berdagang. Rasulullah sendiri adalah seorang pedagang.
2. Apabila Anda seorang pedagang, hendaklah Anda menjadi pedagang yang jujur dalam masalah barang dagangan. Sedangkan jika Anda seorang pembeli, jadilah pembeli yang jujur dalam masalah harga.
3. Carilah keberkahan dan kebaikan dari transaksi jual-beli yang Anda lakukan, di antaranya dengan cara jujur dan tidak banyak bersumpah.

- Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 57-67 :

Ayat 57-67 menjelaskan beberapa hal: 
1. Meneruskan ayat sebelumnya terkait orang kafir dan musyrik saat menghadapi azab Allah. Mereka mengatakan seandainya Allah memberiku petunjuk niscaya aku bagian dari orang-orang bertakwa. Atau ketika melihat azab neraka nanti berkata : Seandainya akau dikembalikan ke dunia niscaya aku akan menjadi orang yang taat pada Allah dan Rasul-Nya. Penyesalan nanti tidak akan berguna karena waktu di dunia menolak Al-Qur’an, bersikap sombong dan kafir padanya.  
2. Pada hari kiamat nanti wajah kaum kafir pada Allah hitam pekat. Tempat mereka adalah Jahannam disebabkan kesombongan mereka terhadap Allah, Rasul-Nya dan Al-Qur’an.  
3. Sebaliknya, Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya dari neraka dan diberikan kesuksesan masuk surga. Di dalamnya mereka tidak akan mengalami keburukan dan tidak akan bersedih lagi.  
4. Allah Pencipta segala sesuatu dan memelihara segala ciptaan-Nya, memiliki kunci-kunci langit dan bumi. Orang-orang yang menolak  Al-Qur’an, maka mereka pasti merugi.  
5. Kaum jahiliyah mencoba mengajak Rasul saw. menyembah kepada berhala-berhala. Padahal, Allah telah mewahyukan kepada Rasul saw. dan kepada Rasul-Rasul sebelumnya, jika ia menyekutukan Allah, maka semua amalnya batal dan pasti menjadi orang merugi. 
6. Sebab itu, Rasul saw. diperintahkan hanya menyembah Allah dan menjadi orang  yang bersyukur pada-Nya. 
7. Orang-orang kafir dan musyrik itu tidak menghargai Allah dengan penghargaan yang  benar. Padahal pada hari kiamat nanti bumi  dalam genggaman-Nya dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang mereka sekutukan.