بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Selasa, 18 Juni 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 384

Tadabbur Al-Quran Hal. 384
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 85 :

وَوَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ بِمَا ظَلَمُوْا فَهُمْ لَا يَنْطِقُوْنَ

Dan berlakulah perkataan (janji azab) atas mereka karena kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata.

- Tafsir Al Muyassar An-Naml ayat 85 :

Kalimat siksa berlaku atas mereka di sebabkan oleh kezaliman mereka dan pendustaan mereka. Mereka sama sekali tidak bisa menyodorkan hujjah yang dengannya mereka bisa membela diri dari azab yang menimpa mereka.

- Riyāduş Şālihin :

Dari Hisyam bin Hakim bin Hizam, sesungguhnya ia pernah melewati beberapa orang petani di Syam yang dijemur di terik matahari dan minyak dicurahkan di atas kepala mereka. Kemudian Hisyam bertanya, "Mengapa mereka ini dihukum?" Mereka menjawab, "Mereka disiksa karena masalah pajak." Hisyam berkata, 'Aku bersaksi sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah akan menyiksa
orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia." Maka, Hisyam menemuinya dan menyampaikan hadis tersebut kepadanya. Akhirnya, Umair menyuruh untuk membebaskan para petani tersebut. (HR Muslim).

Hadiš ini memberikan faedah:
(a) Ancaman karena menyiksa orang lemah dan orang miskin tanpa hak.
(b) Para sahabat mencontoh Rasulullah Saw. dalam amar ma'ruf nahi munkar.
(c) Peringatan kepada orang yang zalim dikarenakan perbuatan zalimnya.
(Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 2, 1407H/1987 M: 1103).

- Hadiš Nabawi :

Dari Khabbab bin Al Arat, ia berkata, "Kami mengadu kepada Rasulullah Saw. ketika beliau sedang berbantalkan kain selimut beliau di bawah naungan Ka'bah, 'Tidakkah baginda memohon pertolongan bagi kami? Tidakkah baginda berdoa memohon kepada Allah untuk kami?" Beliau bersabda, Ada seorang laki-laki dari umat sebelum kalian, lantas digalikan lubang untuknya dan ia diletakkan di dalamnya, lalu diambil gergaji.
kemudian diletakkan gergaji itu di kepalanya lalu dia dibelah menjadi dua bagian namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Tulang dan urat di bawah dagingnya disisir dengan sisir besi, namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, sungguh urusan (Islam) ini akan sempurna hingga ada seorang yang mengendarai kuda berjalan dari Sana ia menuju Hadramaut tidak ada yang ditakutinya melainkan Allah
atau kambing tidak khawatir terhadap serigala. Akan tetapi, kalian sangat tergesa-gesa." (HR Al-Bukhari, Sahihu'l Bukhāri, Juz 4, No. Hadis, 3612, 1400 H: 201).

- Hadiš Qudsi :

Dari Jundab bin Abdullah, dia berkata, Rasulullah Saw., bersabda, Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar, lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Swt. berfirman, 'Hamba-Ku mendahuIui Aku dengan membunuh dirinya. Oleh  karena itu Aku haramkan baginya surga.
(HR Al-Bukhari) (Mustafa bin Adawi, As-Sahihul Musnadu Minal Ahādisil Qudsiyyati, t.t: 132).

- Hadis Motivasi :

Dari Sahl bin Muadz bin Anas, dari bapaknya bahwa Rasulullah bersabda: "Barang siapa mengajarkan suatu ilmu. dia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikit pun." (HR lbnu Majah, 240)

- HADIS NIAGA QS An-Naml, 27: 86 :

Bergerak dan Bekerja Memenuhi Kewajiban Manusia pada Waktu Siang Dari lbnu Mas'ud , dia berkata, "Mencari rezeki yang halal merupakan kewajiban setelah kewajiban (yang lainnya)" (HR Baihaqi, 5271).

- AMAL NIAGA :

1. Seorang niagawan muslim hendaknya merenungkan dan mengevaluasi setiap peluang dan kesempatan yang didapat.
2. Seorang niagawan muslim tidak boleh menganggap profesinya hanyalah passion. Jadikanlah ia sebagai bagian dari kewajiban agama setelah kewajiban beribadah lain. Hal ini supaya dalam pelaksanaannya, seorang niagawan selalu menyadari bahwa semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
3. Niatkan aktivitas mencari nafkah yang Anda lakukan semata-mata karena Allah. "Sungguh, tidaklah engkau menginfakkan nafkah dengan tujuan mengharapkan wajah Allah (pada hari kiamat), kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala, sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu." (HR Bukhari, 56)

- Tadabbur Surah An-Naml Ayat 77-88 :

Ayat 77-79 meneruskan ayat sebelumnya tentang Al-Qur’an. Al-Qur’an itu adalah petunjuk hidup dan rahmat bagi manusia, termasuk  Bani Israil. Allah akan memutuskan perkara manusia dengan hukum-Nya, karena Dia Mahaperkasa lagi Mengetahui. Dalam menghadapi kekufuran manusia Allah meminta Rasul Saw. dan umatnya untuk bertawakal hanya pada-Nya.

Ayat 80-87 menjelaskan: 

1. Rasul Saw. tidak akan mampu menyadarkan orang yang mati dan buta hatinya serta tidak mau mendengarkan Al-Qur’an. Hanya orang yang meyakini ayat-ayat Al-Qur’an yang akan mendapat  hidayah dan mau mendengarkannya.
2. Di antara ciri kiamat besar, Allah keluarkan makhluk melata dari bumi yang bersaksi manusia sebelumnya banyak yang tidak yakin pada ayat-ayat Allah. 
3. Di Padang Mahsyar nanti, kaum kafir akan dibagi berkelompok-kelompok. Mereka akan ditanya kenapa mereka kafir padanya dan mereka tidak bisa bicara. 
4. Allah ciptakan malam  untuk istirahat dan siang itu terang adalah ayat Kekuasaan-Nya. 
5. Saat sangkakala pertama ditiup, semua makhluk akan mati.

Ayat 88  menjelaskan gunung-gunung itu berarak bagaikan awan. Ciptaan Allah itu amat sempurna. Dia Maha Mengetahui.

Rabu, 12 Juni 2024

Khawarij Qa'diyah Lebih Berbahaya Dari Khawarij Muharibah

Tematik (207)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khawarij Qa'diyah Lebih Berbahaya Dari Khawarij Muharibah

Khawarij itu ada 2 macam :

1. Muharibah
2. Qa'diyyah

1. Khawarij "Muharibah" adalah khawarij yang mudah mengkafirkan umat muslim, mengkafirkan pemerintah dengan semua jajarannya. Mereka (Khawarij Muharibah) selain mudah mengkafirkan, mereka juga mengangkat senjata, memberontak, memerangi dan menumpahkan darah kaum muslimin.

Khawarij Muharibah ini ada 2 macam :

Jenis pertama: Khawarij Muharibah yang mempunyai organisasi yang jelas diketahui, mungkin untuk berhubungan dengannya. Pemerintah boleh untuk mendebat mereka dan diskusi dengan mereka dengan dalil-dalil sebagaimana yang dilakukan amirul mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, khalifah keempat dari khulafaur rasyidin. Semoga Allah meridhai mereka semua. Beliau waktu itu mengirim sepupunya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu, kepada Khawarij negeri Nahrawan. Beliau mendebat mereka sampai mengalahkan mereka. Sampai orang yang kembali ke pangkuan khilafah Ali bin Abi Thalib berjumlah ribuan orang. (Yang tidak kembali diperangi).

Jenis kedua: Khawarij Muharibah yang tidak mempunyai organisasi, tetapi berupa gerombolan-gerombolan, atau mereka punya organisasi tapi tersembunyi (gerakan bawah tanah). Mereka ini tidak perlu didebat. Bahkan kalau mereka bisa ditangkap oleh pemerintah mereka diberi hukuman.

2. Khawarij Qa'diyah, yaitu orang-orang yang memprovokasi untuk berontak penguasa muslim, baik dengan terang-terangan atau dengan sembunyi-sembunyi.

--- Secara terang-terangan, maka mereka menyebut person-person Pemerintah nama-namanya, menyebarkan kekeliruan Pemerintah, mencela dan menyebarkannya di publik, di berbagai macam acara dan berbagai macam media.

--- Secara isyarat, mereka tidak menyebut person penguasa atau pegawainya. Tetapi mereka memakai bahasa isyarat dengan ungkapan-ungkapan yang mereka gunakan untuk memprovokasi melawan penguasa yang sah atau para pegawainya.

Mereka disebut qa'diyah, karena mereka tidak mengangkat senjata, mereka hanya duduk berdiam. (Qa'id artinya duduk).

Sebenarnya khawarij qa'diyah ini bibit (embrio) khawarij Muharibah.

Di antara ciri-ciri Khawarij qa'diyah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Hadyus Saari halaman 483:

ﻭﺍﻟﻘَﻌَﺪﻳﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳُﺰَﻳِّﻨﻮﻥ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝَ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻭﻻﻳﺒﺎﺷِﺮﻭﻥ ﺫﻟﻚ

"Al Qa'diyah adalah kelompok yang memprovokasi massa untuk memberontak penguasa sedang mereka tidak terlibat langsung dalam pemberontakan tersebut".

Di kitab beliau yang lain beliau rahimahullah menjelaskan: "Kelompok Al-Qa'd adalah salah satu sekte kelompok Al- Khawarij yang mereka dahulu tidak pernah terlihat melakukan pemberontakan dengan senjata. Namun mereka selalu berupaya menentang para penguasa yang zhalim atau penguasa yang kejam semaksimal kemampuan mereka, dan mengajak (umat) kepada paham mereka. Bersama dengan itu mereka selalu mempropagandakan penentangan".
(Tahdzibut Tahdzib VIII/114) 19).

Fadhilatusy Syaikh Shalih As Sadlaan menerangkan : "Sebagian saudara-saudara kita melakukan hal itu dengan niat baik. Mereka beranggapan bahwa pembangkangan itu hanyalah dengan senjata saja. Padahal pembangkangan itu tidak hanya dilakukan dengan senjata atau dengan tindakan-tindakan anarkis yang sudah dikenal luas. Bahkan pembangkangan lewat kata-kata lebih berbahaya daripada pembangkangan dengan senjata. Karena pembangkangan dengan senjata hanyalah perpanjangan dari pembangkangan lewat kata-kata".
(Muraja'at fi Fiqhil Waqi' As Siyasi, hal 88).

Sesungguhnya membakar emosi masyarakat dan memprovokasi mereka berontak terhadap penguasa atau pegawainya, inikah pokok perbuatan khawarij dan peperangan mereka.

Semoga yang sedikit ini mudah dipahami dan bermanfa'at untuk kita semua

Barakallahu fiikum

Minggu, 09 Juni 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 383

Tadabbur Al-Quran Hal. 383
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 65 :

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗوَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”

- Tafsir Al Muyassar :

Dan tanyakanlah kepada mereka: Siapa yang mulai menciptakan makhluk dan mematikannya bila Dia berkehendak, kemudian mengembalikannya? Siapa yang memberi mereka rizki kepada kalian dengan menurunkan hujan dari langit, dan dari bumi dengan menumbuhkan tanaman dan lainnya? Adakah sesembahan lain selain Allah yang bisa melakukan hal itu? Katakanlah: Berikanlah bukti kalian bila kalian adalah orang-orang yang benar dalam klaim kalian bahwa Allah memiliki sekutu dalam kerajaan dan ibadah.

- Hadis Sahih (ayat 65) :

Dari Ibnu Umar Ra. dari Nabi Saw. Beliau bersabda, "Kunc-kunci kegaiban itu ada lima: tidak mengetahuinya selain Allah, tidak ada yang mengetahui kandungan Surut (gugur berkurang) selain Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok selai Allah, tidak ada yang mengetahui seorang pun kapan hujan itu datang selain Allah, tidak ada satu jwa pun yang tahu di bumi mana kita mati selain Allah. dan tidak ada yang mengetahui kapan hari kiamat terjadi selain Allah." (HR Bukhar, Sahihul Bukbari, Jilid 3, No. Hadıs 4351. 1400 H 35; An-Nasair 7728).

- Riyāduş Şālihin :

Dari Hużaifah Ra. dan Abu Zar Ra., mereka berkata, "Apabila Nabi Saw. hendak tidur, beliau membaca, 'Bismika Allāhumma Ahyā wa Amūtu (Dengan nama-Mu Ya Allah, aku hidup dan aku mati), Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan, A-Hamdulillähillażi Ahyāna Ba'da Mã Amātana wailaihi Nusyür (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya tempat kembali)." (HR AI-Bukhari).
Hadis di atas memberikan faedah tentang anjuran membaca doa di atas sebelum tidur sebagaimana Nabi Saw. contohkan. (Dr. Mustafā Sa'id A-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 2, 1407H/1987 M: 998). B

- Hadiš Nabawi :

Dari Imrān bin Huşain Ra., dia berkata, "Serombongan orang dari Bani Tamim datang menemui Nabi Saw., lalu beliau berkata, "Wahai Bani Tamim, bergembiralah. Mereka berkata, 'Anda telah memberikan kabar gembira kepada kami. Oleh karena itu berilah kami (sesuatu). Seketika itu wajah beliau berubah. Kemudian datanglah penduduk Yaman menemui beliau Saw., lalu beliau Saw. berkata, "Wahai penduduk Yaman, terimalah kabar gembira, jika Bani Tamim tidak mau menerimanya. Mereka berkata, Kami siap menerimanya. Maka Nabi Saw. mulai berbicara tentang penciptaan makhluk dan al-'Arsy. Tiba-tiba datang seseorang seraya berkata, Wahai 'Imrān, untamu lepas.' Seandainya aku tidak berdiri
(untuk mengejar unta)." (HR Al-Bukhāri, Al-Jāmiu Sahih Bukhāri, Juz 2, No. Hadis, 3190: 418).

- Hadiš Qudsi :

Dari Abu Hurairah Ra., dari Nabi Saw. yang beliau riwayatkan dari Rabbnya Swt., Allah Swt. berfirman, "Kesombongan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarungKu, maka barangsiapa mengambil salah satunya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka." (HR Ahmad, Abu Dāwud, dan Ibnu Mājah). (Mulla Ali A-Qāri, A-Ahādiśu Qudsiyyatu'l Arba'iniyyah, Juz 2: 122).

- HADIS NIAGA :

Perintah untuk Berjalan di Bumi dan Menjalin Relasi Dari Umar bin Khathab dia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, Dia akan memberikan kepada kalian rezeki, sebagaimana Dia telah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan perut kosong kemudian pulang dalam keadaan perut berisi" (HR Tirmizi, 2344)

- AMAL NIAGA :

Seorang niagawan harus memperbanyak relasi dan memperluas jaringan koneksinya. Cakupan relasi tidak hanya mengandalkan regional. Akan tetapi, harus diperluas sampai setaraf internasional. Bacalah karakter orang dari berbagai daerah, wilayah, pulau, atau negara. Kemudian jadikanlah bahan pertimbangan dan pembelajaran. Contohnya, jika memiliki relasi dari negara yang mayoritas penduduknya muslim, kita bisa menawarkan produk-produk muslim/muslimah untuk diniagakan di negara tersebut.

- Hadis Motivasi :

Dari Abu Sa'id AI-Khudri . dia berkata. Rasulullah bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam saatnya dan tidak mengetahui berapa rakaat dia salat. tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan dan ambillah yang pasti (yaitu yang sedikit), Kemudian sujudlah dua kali sebelum memberi salam. Jika ternyata dia salat lima rakaat maka sujudnya telah menggenapkan salatnya. Dan jika ternyata salatnya memang empat rokaat maka kedua sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan." (HR Muslim. S71)

- Tadabbur Surah An-Naml Ayat 64-76 :

Ayat 64-66 meneruskan empat pertanyaan sebelumnya : Siapakah yang memulai penciptaan manusia dan mengulangi ciptaan tersebut sehingga terjaga kelestarian manusia di atas bumi sampai kiamat nanti, serta memberi mereka rezeki dari langit melalui hujan dan sebagainya. Masih adakah yang berhak disekutukan dengan Allah? Menyekutukan Allah itu tentulah tidak beralasan. Tidak ada yang mengetahui rahasia langit dan bumi kecuali Allah. Manusia tidak tahu kapan mereka dibangkitkan. Kaum kafir tidak mengetahui tentang kiamat, meragukannya dan buta terhadap tanda-tandanya yang begitu nyata..

Ayat 65-75 menjelaskan: 

1. Kaum kafir itu meragukan peristiwa kebangkitan Manusia. Mereka menganggapnya cerita dongeng karena sudah dijanjikan pada umat terdahulu. Kalau mereka melakukan penelitian, mereka akan tahu apa akibat buruk yang  dialami oleh umat sebelumnya yang menginkarinya. 
2. Allah melarang Rasul Saw. agar tidak sedih terhadap orang-orang kafir itu dan tidak panik terhadap makar yang mereka lakukan. 
3. Orang-orang kafir menantang Rasul Saw. terkait azab yang dijanjikan kepada mereka. Boleh jadi azab itu sudah dekat. Kalaulah bukan karena karunia Allah, pastilah mereka sudah disiksa dengan ucapan itu. Dia Maha Mengetahui apa yang disembunyikan hati manusia. Segala sesuatu sudah tercatat di Lauhul Mahfuz.
4. Ayat 76 menjelaskan Al-Qur’an itu menceritakan perilaku Bani Israel, termasuk masalah-masalah yang mereka perselisikan seperti tentang Nabi Isa dan sebagainya. 

Kamis, 06 Juni 2024

Adab Bertetangga

Tematik (206)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Adab Bertetangga

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya. Maka, kehadiran tetangga dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim sangat dibutuhkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ

Artinya: “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).

Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam juga bersabda,

مَا زَالَ يُوصِينِى جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Artinya: “Jibril senantiasa bewasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya” (HR. Al Bukhari no.6014).

Agama Islam menaruh perhatian yang sangat besar kepada pemeluknya dalam segala hal dan urusan. Mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi, semua tidak luput dari ajarannya. Tak terkecuali dalam masalah adab. Berikut ini diantara adab-adab seorang muslim kepada tetangganya yang patut kita perhatikan.

Menghormati Tetangga dan Berperilaku Baik Terhadap Mereka
Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).

Berkata Al-Hafizh (yang artinya): “Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamrah mengatakan, ‘Dan terlaksananya wasiat berbuat baik kepada tetangga dengan menyampaikan beberapa bentuk perbuatan baik kepadanya sesuai dengan kemampuan. Seperti hadiah, salam, wajah yang berseri-seri ketika bertemu, memperhatikan keadaannya, membantunya dalam hal yang ia butuhkan dan selainnya, serta menahan sesuatu yang bisa mengganggunya dengan berbagai macam cara, baik secara hissiyyah (terlihat) atau maknawi (tidak terlihat).’” (Fathul Baari: X/456).

Kata tetangga mencangkup tetangga yang muslim dan juga yang kafir, ahli ibadah dan orang fasik, teman dan lawan, orang asing dan penduduk asli, yang memberi manfaat dan yang memberi mudharat, kerabat dekat dan bukan kerabat dekat, rumah yang paling dekat dan paling jauh. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam al-Fath (X/456).

Bangunan Rumah Kita Jangan Mengganggu Tetangga
Usahakan semaksimal mungkin untuk tidak menghalangi mereka mendapatkan sinar matahari atau udara. Kita juga tidak boleh melampaui batas tanah milik tetangga kita, baik dengan merusak ataupun mengubah, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaannya.

Dan termasuk hak-hak bertetangga adalah tidak menghalangi tetangga untuk menancapkan kayu atau meletakkannya di atas dinding untuk membangun kamar atau semisalnya. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wassallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

لاَ يَمْنَعْ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِى جِدَارِهِ

Artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dinding (tembok)nya” (HR.Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau; Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)).

Akan tetapi, diperbolehkannya menyandarkan kayu ke dinding tetangga dengan beberapa syarat,
pertama, tidak merusak atau merobohkan dinding tembok;
kedua, dia sangat membutuhkan untuk meletakkan kayu itu di dinding tetangganya;
ketiga, tidak ada cara lain yang memungkinkan untuk membangun selain menyandarkan kepada tembok tetangga.

Apabila salah satu atau sebagian dari ketentuan di atas tidak dipenuhi maka tetangga tidak boleh memanfaatkan bangunan dan menyandarkannya kepada tembok tetangganya karena akan menimbulkan mudharat yang telah terlarang secara syari’at, “Tidak boleh memberi bahaya dan membahayakan orang lain” (HR. Ibnu Majah (no.2340); dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya (no.1910,1911)).

Memelihara Hak-hak Tetangga, Terutama Tetangga yang Paling Dekat
Diantara hak tetangga yang harus kita pelihara adalah menjaga harta dan kehormatan mereka dari tangan orang jahat baik saat mereka tidak di rumah maupun di rumah, memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata dari keluarga mereka yang wanita dan merahasiakan aib mereka.

Adapun tetangga paling dekat memiliki hak-hak yang tidak dimiliki oleh tetangga jauh. Hal ini dikutip dari pertanyaan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, manakah yang aku beri hadiah?’ Nabi menjawab,

إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكَ باَباً

‘Yang pintunya paling dekat dengan rumahmu’” (HR. Bukhari (no.6020); Ahmad (no.24895); dan Abu Dawud (no.5155)).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam memerintahkan hal tersebut, diketahui bahwa hak tetangga yang paling dekat lebih didahulukan daripada hak tetangga yang jauh. Diantara hikmahnya adalah tetangga dekatlah yang melihat hadiah tersebut atau apa saja yang ada di dalam rumahnya, dan bisa jadi menginginkannya. Lain halnya dengan tetangga jauh. Selain itu, sesungguhnya tetangga yang dekat lebih cepat memberi pertolongan ketika terjadi perkara-perkara penting, terlebih lagi pada waktu-waktu lalai. Demikian penjelasan Al Hafizh dalam Fathul Baari (X/361).

Tidak Mengganggu Tetangga
Seperti mengeraskan suara radio atau TV, melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutupi jalan bagi mereka. Seorang mukmin tidak dihalalkan mengganggu tetangganya dengan berbagai macam gangguan.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan adanya larangan dan sikap tegas bagi seseorang yang mengganggu tetangganya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam menggandengkan antara iman kepada Allah dan hari Akhir, menunjukkan besarnya bahaya mengganggu tetangga. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya’”(HR. Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau, Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)).

Dan dalam Hadits lainnya, Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

وَاللَّه لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

Artinya: “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. “Sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Bukhari (no.6016)).

Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Artinya: “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Muslim (no.46); Ahmad (no.8638); Al Bukhari (no.7818)).

Jangan Kikir untuk Memberikan Nasehat dan Saran kepada Mereka
Sudah seharusnya kita mengajak mereka agar berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasehat baik, tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekan mereka. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wassallam bersabda, “Agama itu nasehat.” Kami (para shahabat) bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Artinya: “Untuk Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin” (HR. Muslim (no.55); Ahmad (no.16493); an-Nasa’I (no.4197); dan Abu Dawud (no.4944)).

Dan nasehat untuk seluruh kaum muslimin adalah termasuk tetangga kita. Tujuannya untuk memberikan kebaikan kepada mereka, termasuk mengajarkan dan memeperkenalkan kepada mereka perkara yang wajib, serta menunjukkan mereka kepada al-haq (kebenaran). Hal ini dijelaskan dalam Kasyful Musykil mim Hadits ash-Shahihain karya Ibnul Jauzi (IV/219).

Memberikan Makanan kepada Tetangga
Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

Artinya: “Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu” (HR. Muslim). Adapun tetangga yang pintunya lebih dekat dari rumah kita agar lebih didahulukan untuk diberi.

Bergembira ketika Mereka Bergembira dan Berduka ketika Mereka Berduka
Kita jenguk tetangga kita apabila ia sedang sakit, kita tanyakan kehadirannya apabila ia tidak ada, bersikap baik apabila kita menjumpainya, dan hendaknya sesekali kita undang mereka untuk datang ke rumah kita. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka luluh dan akan menimbulkan rasa kasih sayang kepada kita. Karena sebaik-baik manusia adalah yang akhlaknya paling baik. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dan beliaulah manusia yang memiliki akhlak paling terpuji, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Bukhari (no.6035); Ahmad (no.6468); dan at-Tirmidzi (no.1975)).

Tidak Mencari-cari Kesalahan Tetangga
Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan tetangga kita. Jangan pula bahagia apabila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

Sabar Atas Perilaku Kurang Baik Mereka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda (yang artinya): “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah, … Disebutkan diantaranya: “Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah boleh kematian atau keberangkatannya” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Ketika kita berinteraksi dengan manusia, pasti ada suatu kekurangan atau perlakuan yang kurang baik dari sebagian mereka kepada sebagian yang lainnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Maka orang yang terzhalimi disunnahkan menahan marah dan memaafkan orang yang menzhaliminya. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syuura: 37).

Dan juga Allah Ta’ala berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya:“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran:134).

Firman Allah “Dan orang-orang yang menahan amarahnya” yaitu apabila mereka diganggu oleh orang lain sehingga mereka marah dan hati mereka penuh dengan kekesalan yang mengharuskan mereka membalasnya dengan perkataan dan perbuatan, akan tetapi mereka tidak mengamalkan konsekuensi tabi’at manusia tersebut (tidak membalasnya). Bahkan mereka menahan amarah lalu bersabar dan tidak membalas orang yang berbuat jahat kepadanya. Wallahu musta’an

Rabu, 05 Juni 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 382

Tadabbur Al-Quran Hal. 382
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 56

۞ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهٖٓ اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اَخْرِجُوْٓا اٰلَ لُوْطٍ مِّنْ قَرْيَتِكُمْۙ اِنَّهُمْ اُنَاسٌ يَّتَطَهَّرُوْنَ

Jawaban kaumnya tidak lain hanya dengan mengatakan, “Usirlah Lut dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (menganggap dirinya) suci.”

- Hadiš Qudsi :

Abu Hurairah Ra. berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, Ada dua orang laki-laki dari Bani Isrā il yang saling bersaudara. Salah seorang dari mereka suka berbuat dosa sedangkan yang lain giat dalam beribadah. Orang yang giat dalam beribadah itu selalu melihat saudaranya berbuat dosa hingga ia berkata, Berhentilah. Lalu pada suatu hari ia kembali mendapati saudaranya berbuat dosa, ia berkata lagi, Berhentilah. Orang yang Suka berbuat dosa itu berkata, Biarkan aku bersama Tuhanku, apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku! Ahli ibadah itu berkata, Demi Allah, sungguh Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke dalam surga. Allah Swt. kemudian mencabut nyawa keduanya sehingga keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam. Kemudian Allah Swt. bertanya kepada ahli ibadah, Apakah kamu lebih tahu dari-Ku? Atau apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku? Lalu Allah Swt. berkata kepada pelaku dosa, Pergi dan masuklah kamu ke dalam surga dengan rahmat-Ku. Dan berkata kepada ahli ibadah, "Pergilah kamu ke dalam neraka." Abu Hurairah Ra. berkata, "Demi Zat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh ia telah mengucapkan satu ucapan yang mampu merusak dunia dan akhiratnya." (HR Abu Dāwud (Mustafā bin Adawi, As-Sahihul Musnad minal Ahadisil Qudsiyyati: 36).

- Tafsir bnu Kašir :

Jawaban kaumnya tidak lain dengan mengatakan, "Usirlah Lut dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (menganggap dirinya) suci. (QS An-Naml, 27: 56) Yatataharün bermakna mereka menjauhi dosa, karena perbuatan homosek yang kalian lakukan dan karena kalian tetap melakukannya. Lalu kaumnya mengusir mereka dari hadapan kalian, karena mereka tidak pantas bertetangga dengan kalian di negeri kalian. Kaumnya bertekad mengusir mereka. Lalu Allah membinasakan kaum tersebut. Orang-orang kafir pun sama dibinasakan. Allah Swt. berfirman, Maka Kami selamatkan dia dan keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah menentukan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Artinya, istrinya termasuk orang-orang yang celaka beserta kaumnya karena ia telah membantu agama mereka, dan cara mereka dalam menerima perbuatan-perbuatan yang buruk. (bnu Kašir, Tafsirul Qur'anil Azimi, Jilid 10, 1421 H/2000 M: 418).

- Riyāduş Şälihin

Dari "Umar bin Al-Khattab Ra., dia berkata, "Rasulullah Saw. bersabda, 'Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rezeki seperti rezekinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh." (HR At-Tirmiži).

Hadis di atas memberikan faedah:
(a) Dorongan untuk tawakal kepada Allah Swt. dengan membenarkan-Nya dan meyakini segala peristiwa yang terjadi.
(b) Mengambil nilai-nilai kehidupan dari apa yang sudah terjadi dan terus berusaha mencari rezeki untuk membuktikan ketawakalan seseorang pada Allah Swt. seperti halnya burung bisa makan dan tanpa berhenti mencari makanan (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Salihina, Juz 1, 1407H/1987 M:113-114).

- Hadiš Nabawi

Abu Hurairah Ra. berkata, Nabiyullah Saw. bersabda, "Apabila Allah menetapkan satu perkara di atas langit, maka para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya, seakan-akan rantai yang berada di atas batu besar. Apabila hati mereka telah menjadi stabil, mereka berkata, Apa yang difirmankan Rabb kalian? Mereka menjawab, 'A-Hag, dan Dia datang sebelum menyampaikan kepada yang di bawahnya, bisa jadi mereka menyampakannya sebelum diterjang bintang, kemudian dicampur dengan seratus kebohongan. Maka dikatakan, Bukankah dia (jin) itu telah berkata kepada kita tentang ini dan itu. Maka mereka percaya dengan kata-kata yang didengar dari langit." (HR AI-Bukhāri, Al-Jāmiu Sahihu Bukhāri, Juz 3, No. Hadis, 4800: 281).

Sabtu, 01 Juni 2024

Etika Orang yang Beriman

One Day One Hadits (309)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Etika Orang yang Beriman

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ . [رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1. Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.

2. Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dikalangan individu masyarakat muslim.

3. Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.

4. Berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.

5. Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.

6. Tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.

7. Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangganya dan memperhatikanya serta tidak menyakitinya.

8. Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.

9. Memuliakan tamu termasuk diantara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmennya terhadap syariat Islam.

10. Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan baik.

Tema hadits dan ayat-ayat Al Quran yang terkait :

1. Menjaga perkataan 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidak ada sebarang perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang sentiasa sedia (menerima dan menulisnya).
[Surat Qaf 18]

2. Hubungan baik dengan tetangga :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan jiran tetangga yang dekat, dan jiran tetangga yang jauh, dan rakan sejawat, dan orang musafir yang terlantar, dan juga hamba yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong takbur dan membangga-banggakan diri;
[Surat An-Nisa' 36].

3. Sikap mulia terhadap tamu :

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ
إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ
فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ
فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

Sudahkah sampai kepadamu (wahai Muhammad) perihal tetamu Nabi Ibrahim yang dimuliakan?
Ketika mereka masuk mendapatkannya lalu memberi salam dengan berkata: "Salam sejahtera kepadamu!" Ia menjawab: Salam sejahtera kepada kamu! "(Sambil berkata dalam hati): mereka ini orang-orang yang tidak dikenal.
Kemudian ia masuk mendapatkan Ahli rumahnya serta dibawanya keluar seekor anak lembu gemuk (yang dipanggang).
Lalu dihidangkannya kepada mereka sambil berkata: "Silalah makan".
[Surat Adz-Dzariyat :24-25-26-27].

Rabu, 29 Mei 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 381

Tadabbur Al-Quran Hal. 381
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 46 :

قَالَ يٰقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُوْنَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِۚ  لَوْلَا تَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dia (Saleh) berkata, “Wahai kaumku! Mengapa kamu meminta disegerakan keburukan sebelum (kamu meminta) kebaikan? Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?”

- Tafsir AI Muyassar An-Naml ayat 46 :

Shalih berkata kepada kubu yang kafir: Mengapa kalian memilih kekufuran dan perbuatan buruk yang mendatangkan azab Allah atas kalian, dan meninggalkan iman dan perbuatan baik yang mendatangkan pahala bagi kalian? Mengapa kalian tidak memohon anmpunan kepada Allah pertama kali, bertaubat kepada-Nya dengan harapan kalian diberi rahmat?

- Hadis Sahih An-Naml ayat 46 :

Dari Huzaifah Ra.. dari Nabi Säw., belau bersabda, "Sebelum kalian ada seseorang yang berburuk sangka dengan amalannya, lalu dia berkata kepada keluarganya, Apabila aku mati, ambilah jasadku, lalu sabarkan (abu) ku di laut pada saat hari sangat panas Saat ia mati keluarganya melaksanakan pesan itu Lalu Allah Swt menyatakannya dari berfiman padanya, Apa yang membuatmu melakukan hal itu. Orang itu menjawab, Aku tidak melakukan hal itu kecuali karena takut kepada-Mu. Maka ANah Swt. mengampuninya, (HR Bukhäri, As Sahihul Musnad miral Ahadisil Oucsiyyati, 42).

- Tafsir Ath Tabari :

Maksud ayat ini: sembilan pimpinan yang merusak di muka bumi itu telah mengkhianati Salih As. dengan mengendap-endap pada malam hari untuk membunuh Salih As. dan keluarganya sedangkan Salih As. tidak sadar. Dan Kami pun membuat makar/tipu daya, maka Kami menghukum mereka dan menyegerakan siksaan itu kepada mereka. Sedangkan mereka tidak merasakannya, yakni terhadap makar Kami. Telah dijelaskan mengenai makar Allah Swt. pada pembahasan yang lalu: untuk siapa makar itu, apa tujuannya, bahwa makar itu dilakukan secara tersembunyi, atau melalui pelimpahan nikmat kepada sebagian pihak yang kufur kepada-Nya, bermaksiat kepada-Nya, lalu ditimpakanlah sebuah hukuman secara tiba-tiba dan dalam keadaan tidak sadar. Apa yang telah dijelaskan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh para ahli takwil/tafsir. Antara lain diriwayatkan dari Ali, ia berkata, "A-makru (makar) adalah Gadar (kemarahan), sedangkan A-Gadar adalah kekufuran."

Diriwayatkan dari Ibnu Zaid mengenai firman-Nya, Mereka membuat tipu daya, dan Kami pun menyusun tipu daya., la berkata, "Mereka melakukan tipu daya untuk urusannya, maka Allah Swt. pun membuat tipu daya pada mereka. Mereka benar-benar melakukan tipu daya pada Salih, maka Kami pun melakukan tipu daya pada mereka, tetapi mereka tidak merasakan tipu daya Kami, sedangkan Kami merasakan tipu daya mereka. Mereka mengatakan, "Salih As. mengira bahwa ia telah selesai dari kami setelah tiga perkara (ancaman Allah) terjadi. Sedangkan kami akan selesai darinya dan keluarganya sebelum tiga perkara itu terjadi. Terdapat sebuah masjid miliknya, yang berada di tempat yang berbatu di sebuah bukit, lalu ia salat di dalamnya. Kemudian mereka keluar menuju gua, dan mereka berkata, Apabila ia (Salih As.) datang untuk melaksanakan salat, kita bunuh dia. Setelah kita selesai darinya, kita menuju keluarganya, dan kita selesaikan mereka. Kemudian dia membacakan firman Allah Swt., Mereka berkata.
"Bersumpahlah kamu dengan (nama) Allah bahwa kita pasti akan menyerang dia bersama keluarganya pada malam hari, kemudian kita akan mengatakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya itu, dan sungguh. kita orang yang benar. (QS An-Naml, 27:49). Kemudian Allah Swt. mengutus batu-batu yang menghujani mereka, merekapun bergegas untuk memecahkannya. Lalu mereka meninggalkan gua itu, dan batu besar itu pun menutupi mulut gua tersebut. Maka kaumnya tidak mengetahui dimana mereka. Mereka pun tidak tahu apa yang Dia lakukan terhadap kaumnya. Maka Allah Swt. mengazab mereka yang di sana (gua), dan mereka yang di situ (kaumnya). Allah Swt. menolong Nabi Salih As. beserta pengikutnya. (At-Tabari, Jāmiu'l Bayāni An Ta 'wili Ayil Qur'āni, Juz 18, 1422 H/2001 M.92-94).

- Riyāduş Şālihin :

Dari Al-Barra bin 'Azib Ra., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda kepadaku, "Apabila kamu hendak tidur, maka ucapkanlah, 'Allāhumma Aslamtu Nafsi ilaika wa Fawadtu Amri ilaika wa Alja tu Zahri ilaika Rahbatan wa Ragbatan ilaika Lã Malja a walā Manjā minka illä ilaika Amantu bikitābika Allażi Anzalta wabinabiyika Arsalta' (Ya Allah, ya Tuhanku, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari azab-Mu kecuali dengan berlindung kepadaMu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus)." Apabila kamu meninggal (pada malam itu), maka kamu mati dalam keadaan fitrah (suci). Dan jadikan bacaan tersebut sebagai penutup ucapanmu (menjelang tidur)." (Dr. Mustafā Said Al-Khin, Nuzhatul Muttagina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 1, 1407 H/1987M: 114-115)

- Hadiš Nabawi :

Dari Uqbah bin Amir Ra., dari Nabi Saw. beliau bersabda, "Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah Istidrāj." Kemudian Rasulullah Saw. membacakan ayat, Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS Al-An'ām, 6: 44). (HR Ahmad, Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 28, No. Hadis 17311: 547, Sahih Al-Jāmi no.561).

- Hadiš Qudsi :

Dari Hužaifah Ra., dari Nabi Saw. beliau bersabda, "Sebelum kalian ada seseorang yang berburuk sangka dengan amalannya, lalu dia berkata kepada keluarganya, Apabila aku mati, ambillah jasadku, lalu sebarkan (abu)ku di laut pada saat hari sangat panas. Saat ia mati keluarganya melaksanakan pesan itu. Lalu Allah Swt. menyatukannya dan berfirman padanya, Apa yang membuatmu melakukan hal itu?

Orang itu menjawab, Aku tidak melakukan hal itu kecuali karena takut kepada-Mu. Maka Allah Swt. mengampuninya." (HR AI- Bukhāri, As-Sahihul Musnad minal Ahādisil Qudsiyyati, 42).

- Penjelasan Surah An-Naml Ayat 45-55 :

Ayat 45-53 menjelaskan kisah kaum Tsamud dan Nabi Saleh. Perintah Nabi Saleh agar menyembah Allah saja malah mereka tanggapi dengan salah sehingga mereka menjadi dua golongan yang saling bermusuh-musuhan. Mereka lebih cepat berbuat jahat ketimbang berbuat baik dan tidak mau istigfar (minta ampun) pada Allah. Mereka menuduh Nabi Saleh membawa sial, padahal segala sesuatu di tangan Allah. Mereka tidak sadar sedang diuji.

Di kota tempat mereka tinggal ada 9 orang tokoh kejahatan yang selalu berbuat onar dan tidak mau memperbaiki diri. Mereka merencanakan pembunuhan Nabi Saleh dan keluarganya di malam hari, setelah itu mereka akan bersaksi bahwa mereka tidak tahu menahu. Ketika mereka membuat makar itu, Allah membuat makar pula, sedang-kan mereka tidak menyadarinya.Akibat merencanakan makar atas Nabi Saleh  dan keluarganya, Allah binasakan semua penduduk kota itu sehingga rumah-rumah mereka kosong dari penghuni. Semua itu akibat kezaliman mereka sendiri. Peristiwa itu selayaknya menjadi pelajaran bagi kaum yang mengetahui sejarah mereka. Lalu, Allah selamatkan orang-orang beriman dan bertakwa  dari kalangan pengikut Nabi Saleh.

Ayat 54 dan 55 menjelaskan kisah Luth ketika ia menyeru kaumnya untuk meninggalkan praktek seks menyimpang, yakni homoseks dan tidak mau menikahi wanita. Mereka benar-benar kaum jahiliah, yakni tidak mau hidup sesuai aturan Tuhan Pencipta mereka, yakni Allah Ta’ala. Sebab itu, seks menyimpang  bukan kodrat manusia seperti yang dipahami sebagian manusia hari ini, tapi penyakit dan menyimpang.

- Hadis Motivasi QS 27: 55 :

Dari Zaid bin Arqam. dia berkata, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya seorang penghuni surga akan diberikan kekuaton seratus orang Jaki-laki dalam hal makan. minum, hubungan badan. dan syahwat." Lalu, ada seorang Yahudi berkata, "Sesungguhnya, orang yang makan dan minun itu akán kencing dan buang hajat." Beliau bersabda: "(Kotoran itu) akan keluar dari kulitnya melalui keringat dan perutnya telah menyatu (tidak berfungsi lagi)." (HR Darimi. 2825)

- HADIS NIAGA QS An-Naml, 27: 50 :

Larangan Berbuat Kerusakan di Bumi

Dari Abu Amr bin Jubair bin Abdillah, dia berkata, Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang berbuat baik dalam Islam, dia akan memperoleh pahala dari perbuatan itu dan pahala dari orang yang melaksanakan atau menirunya. Barang siapa yang berbuat jelek, dia akan medapatkan dosa dari perbuatannya itu dan dosa darí orang-orang yang melaksanakan atau menirunya tanpa mengurangi dosa peniru." (HR Muslim, 1017)

- AMAL NIAGA :

1. Waspadalah terhadap kerusakan di Bumi karena kerusakan manusianya,; semakin tidak berakhlak dan bersikap seperti bukan manusia. Waspadai juga kerusakan alam, seperti bencana alam, kebakaran, perusakan hutan, tersebarnya penyakit menular, dan sebagainya.

2. Kerusakan yang terjadi di Bumi, dalam berbagai bentuknya, disebabkan oleh perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan oleh manusia. Ini menunjukkan bahwa maksiat adalah inti "kerusakan" yang sebenarnya serta sumber utama kerusakan-kerusakan yang tampak di Bumi.

Senin, 27 Mei 2024

MEMAHAMI MACAM-MACAM TAKDIR

Tematik (204)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

MEMAHAMI MACAM-MACAM TAKDIR

Sebagai seorang muslim, pasti tidak asing dengan yang namanya takdir.  
Tapi tahukah Anda kalau takdir itu bermacam- macam? Berikut macam-macam takdir yang harus kita ketahui.

Macam-macam Takdir 

Para ulama menjelaskan ada empat (4) macam takdir, yaitu :

1. TAKDIR AZALI
2. TAKDIR ‘UMRI
3. TAKDIR SANAWI 
4. TAKDIR YAUMI 

Berikut penjelasannya :

1. TAKDIR AZALI 

Yaitu takdir yang ditulis dalam lauhil mahfudz 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. TAKDIR AZALI ini adalah takdir yang merupakan takdir utama yang pasti terjadi bagi semua mahkluk.

Allah Ta'ala berfirman,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.”  
[QS. Al-Hajj/22 : 70]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ، قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ، بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi."  
Beliau shalallahu'alaihi wasallam bersabda,  
“Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.”  
[HR. Muslim]

2. TAKDIR ‘UMRI 

Yaitu takdir yang ditulis malaikat ketika meniupkan roh ke dalam janin.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ، فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat : untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya).”  
[HR. Bukhari Muslim]

3. TAKDIR SANAWI 

Takdir yang berlaku tahunan dan ditulis kejadian setahun ke depan setiap malam lailatul qadar.

Allah Ta'ala berfirman,

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”  
[QS. Ad-Dukhaan/44 : 4]

Allah Ta'ala juga berfirman,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Pada malam itu turun para Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”  
[QS. Al-Qadr/97 : 4-5]

4. TAKDIR YAUMI 

Yaitu takdir yang berlaku harian.

Allah Ta’ala berfirman,

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”  
[QS. Ar-Rahmaan/55 : 29]

Perlu diperhatikan bahwa di antara empat takdir ini, takdir utamanya adalah takdir azali yang tertulis di lauhil mahfudz, sedangkan tiga takdir yang lainnya (‘umri, sanawi, dan yaumi) adalah takdir yang bisa merubah. Perhatikan kalimat berikut :

“Perubahan takdir (‘umri, sanawi dan yaumi) ini tertulis dalam takdir azali di lauhil mahfudz.”

Contohnya :  
bisa saja dalam takdir ‘umri tertulis dia seorang yang celaka, tetapi karena dia bersungguh-sungguh mencari hidayah, maka ia menjadi orang yang beruntung. Perubahan takdir ‘umri ini tertulis dalam lauhil mahfudz.

Ini juga yang dimaksud dengan “takdir bisa dirubah dengan do'a”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ

“Tidaklah merubah suatu takdir melainkan do'a.”  
[HR. Al Hakim, hasan]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa takdir yang berubah tersebut berkaitan dengan do'a, beliau berkata :

الدعاء من أسباب رد القدر المعلق ، والقدر يكون معلقا ويكون مبتوتا ، فإذا كان قدرا معلقا

“Do'a termasuk sebab merubah takdir yang mu’allaq (bergantung pada sebabnya). Takdir itu ada yang mu’allaq dan ada yg telah tetap, sama sekali tidak berubah.” 

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perubahan takdir dan do'a tersebut juga tertulis dalam takdir azali lauhil mahfudz. Beliau berkata :

لكنه في الحقيقة لا يرد القضاء؛ لأن الأصل أن الدعاء مكتوب وأن الشفاء سيكون بهذا الدعاء، هذا هو القدر الأصلي الذي كتب في الأزل

“Pada hakikatnya takdir (azali) tidak berubah, karena doa tersebut sudah tertulis (dilauhil mahfudz) bahwa kesembuhan karena adanya doa, inilah takdir asli yang tertulis dalam takdir azali.”  
[Majmu’ Fatawa wa Rasail 2/93]

Minggu, 26 Mei 2024

Pertolongan dan Perlindungan Allah

One Day One Hadits (308)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pertolongan dan Perlindungan Allah

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ
[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah ), niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu ). Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering ) .
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : Haditsnya hasan shahih). Dalam sebuah riwayat selain Turmuzi dikatakan : Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya didepanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :

1. Perhatian Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam mengarahkan umatnya serta menyiapkan generasi mu’min idaman.

2. Termasuk adab pengajaran adalah menarik perhatian pelajar agar timbul keinginannya terhadap pengetahuan sehingga hal tersebut lebih terkesan dalam dirinya.

3. Siapa yang konsekwen melaksanakan perintah-perintah Allah, nicsaya Allah akan menjaganya di dunia dan akhirat.

4. Beramal saleh serta melaksanakan perintah Allah dapat menolak bencana dan mengeluarkan seseorang dari kesulitan.

5. Tidak mengarahkan permintaan apapun (yang tidak dapat dilakukan makhluk) selain kepada Allah semata.

6. Manusia tidak akan mengalami musibah kecuali berdasarkan ketetapan Allah ta’ala.

7. Menghormati waktu dan menggunakannya kepada sesuatu yang bermanfaat sebagaimana Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memanfaatkan waktunya saat beliau berkendaraan.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al quran:

1. Menyiapkan generasi beriman :

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
[Surat An-Nisa : 9]

2. Allah tempat bergantung dan berlindung : 

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
[Surat Al-Ikhlas : 2]

3. Musibah dan keberuntungan hanya datang dari Allah : 

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).
[Surat Yunus : 49]

Jumat, 24 Mei 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 380

Tadabbur Al-Quran Hal. 380
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 36 :

فَلَمَّا جَاۤءَ سُلَيْمٰنَ قَالَ اَتُمِدُّوْنَنِ بِمَالٍ فَمَآ اٰتٰىنِ  َۧ اللّٰهُ خَيْرٌ مِّمَّآ اٰتٰىكُمْۚ بَلْ اَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُوْنَ

Maka ketika para (utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata, “Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

- Tafsir Al Muyassar An-Naml ayat 36 :

Manakala utusan sang ratu datang kepada Sulaiman membawa hadiah, Sulaiman mengingkari perbuatannya dan menyampaikan kepadanya bahwa Allah telah melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya: Apakah kalian memberiku harta hanya untuk mengambil hatiku? Kenabian, kerajaan dan harta melimpah ruah yang telah Allah berikan kepadaku jauh lebih baik dan lebih utama daripada apa yang kalian berikan kepadaku. Justru kalianlah orang-orang yang akan berbahagia bila diberi hadiah, karena kalian adalah orang-orang yang gemar bersaing dan membanggakan dunia.

- Hadis Sahih (ayat 36-37) :

Dari Abdullah bin Amr Ra., ia berkata, "Rasululah Saw. melaknat orang yang melakukan suap dan yang disuap, (HR Abu Dawud, Sunan Abu Dàwud, Juz 4, No Hadis 3580, 1418 H/1997 M: 10}

- Tafsir bnu Kasir :

Para ulama tafsir dari generasi salaf dan yang lainnya menyebutkan bahwa ia (Ratu Balqis) telah mengutus (beberapa orang) untuk menemuinya (Sulaiman As.) dengan membawa hadiah besar berupa bejana yang terbuat dari emas, permata, dan lain-lainnya.

Ratu Balqis berkata, "Apabila ia mengetahui berbagai hal, maka ia itu seorang nabi." Nabi Sulaiman As. tidak memperhatikan seluruh yang dibawa oleh mereka, tapi justru beliau berkata seraya menolak atas hadiah yang diberikan oleh mereka. Perkataan-nya yaitu, ..Apakah kamu akan memberi harta kepadaku?.. (QS An-Naml, 27: 36) yakni, "Apakah harta-harta yang diberikan kepadaku itu adalah cara kalian supaya aku membiarkan kerajaan kalian melakukan kemusyrikan? ..Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu.. (QS An-Naml, 27: 36), yakni kerajaan, harta, dan prajurit yang diberikan Allah kepadaku itu lebih baik daripada semua yang kalian miliki { ...tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu., yaitu memang kalian bisa tunduk hanya dengan hadiah, namun aku tidak semudah itu dan tidak ada yang dapat aku terima dari kalian kecuali lslam atau pedang. Kembalilah kepada mereka!... (QS An-Naml, 27: 37), yakni dengan hadiah mereka d.. Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya... (QS An-Naml, 27: 37) yaitu, mereka tidak akan .. Dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba) secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina. (QS An-Naml, 27: 37). mampu berperang melawannya. 
Setelah utusan-utusan itu pulang de-ngan membawa hadiahnya kembali dan membawa apa yang diperintahkan Sulaiman As. berikut ancamannya, maka Ratu Balqis dan rakyatnya itu tunduk serta mau mengikuti untuk masuk dalam Islam. Tatkala Sulaiman As. mendapat berita atas kedatangan mereka dengan ketundukan kepadanya, gembiralah Sulaiman As. dengan berita itu. (Ibnu Kasir, Tafsirul Qurānil Azimi, Jilid 10, 1421 H/2000 M: 405-406).

- Riyāduş şālihin :

Dari Aisyah Ra. ia berkata, "Sungguh Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan menghimpitnya dengan tujuh lapis tanah (bumi)." (HR AI-Bukhari Muslim).

Hadis di atas memberikan beberapa faedah: 
(a) Ancaman yang keras bagi yang menzalimi hak-hak manusia
(b) Dorongan untuk menunaikan hak sekecil apa pun.
Dari Abu Musa Ra., dia berkata, "Rasulullah Saw. bersabda, 'Sesungguhnya Allah Swt. akan menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Dan apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya. Kemudian Rasulullah membaca ayat." QS Hūd, 11: 102." (HR A- Bukhari-Muslim). (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis sālihina, Juz 2 1407 H/1987 M: 232-233).

- Hadiš Nabawi :

Dari Abdullah bin Amr Ra., ia berkata, "Rasulullah Saw. melaknat orang yang melakukan suap dan yang disuap." (HR Abu Dawud, Sunan Abu Dāwud, Juz 4, No. Hadis 3580, 1418 H/1997 M: 10),

- Hadiš Qudsi :

Dari Abu Hurairah, Nabi Saw. bersabda, "Yang pertama-tama dipanggil pada hari kiamat adalah Adam As., maka anak cucu keturunannya saling memandang. Lalu diperkenalkan kepada mereka, "Ini adalah ayah kalian, Adam." Adam menjawab, "Baik dan aku memenuhi panggilan-Mu." Selanjutnya Allah berfirman, "Datangkanlah utusan-utusan Jahanam dari anak cucumu!". Adam bertanya, "Wahai Rabb, berapa yang aku datangkan?" Allah menjawab, "Datangkanlah dari setiap seratus orang, sembilan puluh sembilan orang!" Para sahabat berujar, "Wahai Rasulullah, jika setiap seratus dari kami diambil sembilan puluh sembilan orang, kami tinggal berapa? Nabi menjawab, "Umatku dibandingkan umat-umat lainnya hanyalah bagaikan sehelai rambut putih yang terdapat pada seekor sapi hitam." (HR Al-Bukhāri) (isāmuddin As Sabäbati, Jāmiu'l Ahādisil Qudsiyyati, Jilid 2, t.t: 304-305).

- Penjelasan Surah An-Naml Ayat 36-44 :

Ayat 36-44 meneruskan cerita Sulaiman  dan Ratu Saba’. Sulaiman menolak tawaran harta yang disodorkan padanya, menyuruh delegasi Ratu Saba’ pulang dan berjanji akan mengirimkan pasukannya yang tidak mungkin dikalahkan. Akhirnya, Ratu Saba’ menyerah dan masuk Islam. Dari kisah Sualaiman dan Ratu Saba’ ini dapat kita ambil pelajaran sebagai berikut: 

Nabi Sulaiman tidak silau dengan harta yang ditawarkan Raja Saba’ karena kenabian dan keislaman jauh lebih mahal dari dunia dan seisinya. 

Kekuatan prajurit Sulaiman sangat tangguh jauh melebihi teknologi canggih saat ini. Buktinya, Jin Ifrit bisa memindahkan kerajaan Saba’ yang terletak di Yaman ke Palestina sebelum Sulaiman beranjak dari tempat duduknya. Ada lagi yang lebih dahsyat, seorang manusia yang menurut ahli tafsir,  sekretarisnya yang  mampu melakukannya sekedipan mata. 

Nabi Sulaiman adalah orang bersyukur  dan melihat semua karunia itu sebagai ujian, bukan kemuliaan dan kebanggaan. 

Kemusyrikan telah menutup pikiran dan  hati Ratu Saba’ dan kaumnya untuk tidak bisa beriman kepada Allah. Setelah melihat mukjizat Allah, barulah Ratu tersebut menyadari kezalimannya.

- Hadis Motivasi QS 27: 36 :

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah beliau bersabda: "Salinglah memberi hadiah maka kalian akan saling mencintai." (HR Bukhari dalam Al Adab A-Mufrad, 594)

- HADIS NIAGA QS An-Naml, 27: 40 :

Menanamkan Sikap Mensyukuri Nikmat Dari Muadz bin Jabal , Rasulullah bersabda: "Sungguh, aku mencintairnu.

Janganlah engkau meninggalkan di akhir (setelah selesai) setiap salat untuk mengucapkan, 'Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir (selalu ingat) kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta memperbaiki ibadah kepada-Mu.'" (HR Abu Dawud,
1522)

- AMAL NIAGA :

1. Bersyukurlah agar Allah menambah nikmat yang diberikan. Sudah menjadi jaminan dari-Nya bahwa menerima pemberian Allah dan berterimakasih kepada-Nya dengan memuji dan melaksanakan perintah-Nya akan menambah nikmat lainnya kepada kita.

2. Berbagai macam cobaan, ujian, penderitaan, penyakit, kesulitan, dan kesengsaraan mempunyai manfaat dan hikmah yang besar bagi mereka yang nau berpikir.

3. Bersyukur akan menumbuhkan empati dan simpati kepada orang lain serta mengikis kekufuran akan nikmat Allah. Kufur nikmat akan melahirkan kerakusan dan kesombongan. Orang yang kufur nikmat akan menganggap keberhasilannya hanyalah hasil kerja dan susah payah dirinya.

Minggu, 19 Mei 2024

Maksud Nasehat, Ingin Orang Lain Jadi Baik

One Day One Hadits (307)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Maksud Nasehat, Ingin Orang Lain Jadi Baik

عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قَالَ: بَايَعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم عَلَى إقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، والنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. 

Dari Jarir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah berbaiat (berjanji setia) pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya menegakkan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasehat kepada setiap muslim.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 57 dan Muslim no. 56).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1. Ini menunjukkan bahwa saling menasehati itu didasarkan karena kita muslim adalah bersaudara sehingga kita ingin agar saudara kita pun menjadi baik.

2. Dan juga menunjukkan bahwa bentuk kasih dan sayang terhadap sesama muslim adalah dengan saling menasehati.

3. Arti nasehat -menurut para ulama- adalah menginginkan kebaikan pada orang lain. Sebagaimana kata Al Khottobi rahimahullah,

النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له

“Nasehat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasehati” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 219).

4. Nasehat adalah engkau suka jika saudaramu memiliki apa yang kau miliki. Engkau bahagia sebagaimana engkau ingin yang lain pun bahagia. Engkau juga merasa sakit ketika mereka disakiti. Engkau bermuamalah (bersikap baik) dengan mereka sebagaimana engkau pun suka diperlakukan seperti itu.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 2: 400).

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan,

المؤمن يَسْتُرُ ويَنْصَحُ ، والفاجرُ يهتك ويُعيِّرُ

“Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir (pelaku dosa) biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 225).

5. Semoga Allah memberikan kita sifat saling mencintai sesama dengan saling menasehati dalam kebaikan dan takwa.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :

1. Maksud nasehat adalah supaya orang lain menjadi baik. Ingatlah maksud nasehat adalah ingin orang lain menjadi baik. Jadi dasarilah niat seperti itu.

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepada kalian, dan aku hanyalah pemberi nasihat yang dapat dipercaya bagi kalian. (Al-A'raf: 68)

2. Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengan menyebutkan bahwa manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, yakni rugi dan binasa.
Maka dikecualikan dari jenis manusia yang terhindar dari kerugian, yaitu orang-orang yang beriman hatinya dan anggota tubuhnya mengerjakan amal-amal yang saleh.
dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran. 
Yakni menunaikan dan meninggalkan semua yang diharamkan dan nasihat-menasihati supaya menetapi dalam kesabaran. 
Yaitu tabah menghadapi musibah dan malapetaka serta gangguan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang melakukan kemungkaran.

وَالْعَصْرِ ،إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.
[Al-'Asr, ayat 1-3].

Tadabbur Al Quran Hal. 379

Tadabbur Al-Quran Hal. 379
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 30 :

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,

- Tafsir Al Muyassar An-Naml ayat 30 :

Kemudian sang ratu menjelaskan isinya, dia berkata: Sesungguhnya ia dari Sulaiman, sesungguhnya ia dibuka dengan: Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

- Hadis Sahih An-Naml ayat 30 :

Dari Ibnu Abbas, ia berkata "Abu Suftyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya bahwa Heraklius (raja Romawi) pernah mengutusnya kepada sekelompok orang Quraisy yaitu para pedagang di Syam, setelah itu para pedagang tersebut menemuinya lalu perawi menyebutkan riWayat hadis ia berkata, Kemudian Heraklius meminta surat Rasululah Saw Ketika dibaco ternyata di dalamnya tertulis ismilfahirrahmänirrohimi yang artinya 'Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang' darí Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Hiraklius, raja Romawi, salam kesejahteraan bagi yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du" (HR Bukhäri. Sahihul Bukhãi, Juz 4, No Hadis 6260, 1400 H: 143)

- Tafsir Ibnu Kasir :

Allah Swt. memberitahu mengenai ucapan Sulaiman As. yang ditujukan kepada burung Hudhud ketika Hudhud memberitakan tentang negeri Saba dan ratunya,  { Dia (Sulaiman) berkata, "Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta. } (QS An-Naml, 27: 27) yakni, apakah kamu benar dengan beritamu ini, ..atau termasuk yang berdusta. tentang ucapanmu itu, (jika dusta), maka aku akan menghukummu sebagaimana aku janjikan kepadamu. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan. (QS An-Naml, 27: 28). Begitulah Sulaiman As. menulis surat kepada Ratu Balqis dan kaumnya, lalu surat itu diberikan kepada Hudhud untuk dibawanya. Ada yang mengatakan bahwa surat itu dibawa dengan sayapnya, sebagaimana kebiasaan para burung. Ada pula yang mengatakan, dengan paruhnya. Hudhud pergi menuju negeri mereka, kemudian sampailah ke istana Balqis. la menuju sebuah tempat tersendiri, yang mana Ratu Balqis biasa menyendiri di tempat itu. Dijatuhkanlah surat itu tepat di hadapan Ratu Balqis, kemudian Hudhud berpaling darinya dengan sopan santun. Balqis heran dengan apa yang ia lihat, hal itu mengejutkannya. Kemudian ia mengambil surat itu lalu membuka dan membacanya, ternyata isinya, { Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. (QS An-Naml, 27: 30-31), maka pada saat itu juga ia mengumpulkan para pangeran dan para menteri serta para pembesar kerajaan. Kemudian ia (Balqis) berkata kepada mereka, {(Dia (Balqis) berkata, "Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia. (QS An-Naml, 27: 29) yakni, dengan kemuliaan hal yang menakjubkan yang ia lihat, yaitu sikap burung yang menghadap kepadanya dengan menjatuhkan surat kepadanya, lalu pergi dengan penuh kesopanan. Hal ini tak mampu dikuasai raja mana pun, dan tak ada cara bagi mereka untuk bisa melakukan hal seperti itu. Lalu Ratu Balqis membacakannya pada mereka, Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. (QS An-Naml, 27: 30-31), maka mereka pun tahu bahwa surat itu dari seorang nabi Allah Sulaiman As., dan sesungguhnya mereka bukanlah tandingannya. Surat ini begitu indah. ringkas dan fasih, yang menghasilkan makna dengan ungkapan yang termudah dan terindah. Para ulama mengatakan, "Tidak ada yang menulis (di surat) Bismillähirrahmānirrahim, sebelum Sulaiman As." (Ibnu Kasir Tafsirul Qur'ānil Azimi, Jilid 10, 1421 H/2000 M: 403).

- Riyāduş Şālihin :

Dari Hakim bin Hizam Ra., dari Nabi Saw. beliau bersabda, "Orang yang bertransaksi jual beli berhak memilih selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, keduanya mendapatkan keberkahan dalam jual beli. Tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, keberkahan jual beli antara keduanya hilang." (HR Al-Bukhari-Muslim)

Hadiš di atas memberikan faedah:

a) Wajib memperlihatkan kekurangan-kekurangan pada barang dagangan dan haram menyembunyikanya. Apa-bila diketahui terdapat kecacatan pada barang tersebut, pembeli berhak untuk membatalkan jual beli itu.
(b) Berdusta merupakan sebab hilangnya keberkahan. (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādiş Şālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 89-90).

- Hadis Nabawi :

Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, "Rasulullah Saw. menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadan. Kemudian ada orang yang datang mencuri makanan, lalu aku menangkapnya. Lalu aku katakan, "Demi Allah, aku pasti akan mengadukanmu kepada Rasulullah Saw." Orang itu berkata, "Sungguh aku sedang butuh, keluargaku banyak, dan aku sangat membutuhkannya." Abu Hurairah Ra. berkata, "Lalu aku melepaskannya." Di pagi hari, Nabi Saw. bersabda, "Hai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?" Aku katakan, "Wahai Rasulullah, dia mengadukan kebutuhannya dan keluarganya yang mendesak, sehingga aku mengasihaninya dan aku lepaskan." Beliau Saw. bersabda, "Dia telah membohongimu, dia akan kembali." Peristiwa ini berulang hingga tiga kali. Pada peristiwa yang ketiga kalinya, setelah aku laporkan kepada Rasu-lullah Savw. bahwa dia mengajarkan kepadaku bacaan ayat Kursi 'Alāhu Lã illāha illa Huwal Hayyul Qayyũm, sampai akhir ayat, dan dia berkata, "Sesungguhnya kamu akan berada dalam penjagaan Allah dan tidak akan ada setan yang mendekatimu sampai pagi." Maka Rasulullah Saw. bersabda,*Dia telah berkata benar padahal dia pendusta. Kamu tahu siapa yang engkau ajak bicara selama tiga malam, hai Abu Hurairah?" Abu Hurairah Ra. berkata, Tidak.' Beliau Saw. bersabda, "Dia itu setan." (HR Bukhari, Sahih Bukhāri, Juz 3, No. Hadiš, 5010, 1422 H: 342).

- Hadiš Qudsi :

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Surga dan neraka saling berbantahan. Neraka berkata, Orang-orang congkak dan sombong memasukiku. Dan Surga berkata, 'Orang-orang lemah dan orang-orang miskin memasukiku.' Lalu Allah berfirman kepada neraka, 'Engkau adalah siksaan-Ku, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki atau boleh jadi sabdanya, Denganmu Aku menimpakan (azab)
pada siapa saja yang Aku kehendaki. Dan Allah berfirman kepada surga, 'Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dan masing-masing dari kalian berdua berisi penuh." (HR Muslim) (Işāmuddin Aş-Sabābati, Jāmiul Ahādisi1 Qudsiyyati, Jilid 2, t.t: 297),

- Tadabbur Surah An-Naml Ayat 23-35 :

Ayat 23-35 meneruskan kisah Sulaiman  dan Hud-Hud sebelumnya. Hud-Hud menjelaskan bahwa negeri Saba’ dipimpin seorang ratu. Namun, disayangkan mereka menyembah matahari, bukan Allah yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Hanya Dia yang berhak disembah dan memiliki Arasy yang Maha-agung. Mendengar cerita itu, Sulaiman ingin menguji Hud-Hud apakah ceritanya benar atau tidak. Untuk itu, Sulaiman menyerahkan suratnya untuk disampaikan kepada Raja Saba’. Hud-hud pun terbang menuju Kerajaan Saba’ dengan penuh semangat seorang prajurit yang taat. 
Setelah surat itu sampai, Ratu Saba’ menyampaikannya kepada para  pembesarnya bahwa ia mendapat surat mulia dari Sulaiman yang dimulai dengan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Isinya singkat, tapi padat, yakni,  jangan kalian membangkang kepada saya dan datanglah kepada saya dalam keadaan  menyerah. Lalu sang Ratu meminta pendapat para pembesarnya sebelum mengambil keputusan. Para  pembesarnya mengatakan: Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang tangguh. Apa pun  perintah Tuan akan kami lakukan. Mendengar ucapan itu, sang Ratu menyadari kekuatan Sulaiman yang tiada tandingannya dan berkata:  Jangan kita lawan. Biasanya bila raja-raja itu masuk ke suatu negeri, mereka akan memporak-porandakannya dan menghinakan orang-orang yang  mulianya. Mereka pasti lakukan itu. Lebih baik saya utus delegasi yang akan memberikan hadiah kepada Sulaiman. Lalu kita lihat nanti apa hasilnya.

- Hadis Motivasi QS 27: 23 :

Dari Anas bin Malik dari Rasulullah. beliau bersabda: "Pergi keluar berperang di jalan Allah pada awal (pagi) hari atau pergi keluar berperang pada akhir (siang) hari lebih baik dari pada dunio dan seisirnya. Dan sungguh panjang (sehasta) busur parnah seorang dari kalian di surga atau tempat (sarung) cambuknya lebih baik dari dunia dan seisinya. Dan seandainya seorang perempuan (bidadari) penduduk surga muncul di tengah penduduk Bumi niscaya dia akan menerangi yang ada di antara keduanya (cakrawala langit dan Bumi), dan aroma wanginya akan memenuhi cakrawala itu, dan sungguh kerudung yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR Bukhari, 2643)

- HADIS NIAGA  QS An-Naml, 27: 34 :

Menjauhi Sikap Zalim dalam Memimpin

Dari Ma'qil bin Yasar dia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin bawahannya, yang pada hari kematiannya, dia masih berbuat curang atau menipu bawahannya, kecuali Allah mengharamkan surga atasnya." (HR Bukhari 7150;Muslim, 142)

- AMAL NIAGA :

1. Jadilah pemimpin yang memperbaiki dan mengubah keadaan bawahannya.
Membuat bawahan yang pada awalnya tidak sejahtera menjadi sejahtera, yang pada awalnya malas menjadi rajin, yang pada awalnya pesimis menjadi optimis.
2. Menjadi pemimpin adalah salah satu cara berjuang di jalan Allah. Dia tidak hanya memikirkan kemaslahatan dirinya sendiri, tetapi juga kemaslahatan orang lain.
3. Jauhilah sikap zalim atau otoriter dalam memimpin. Walaupun seseorang memiliki kekuasaan, hendaklah dia tetap bisa menguasai ego dan kepentingan pribadinya. Utamakanlah kepentingan bersama terlebih dahulu.

Rabu, 15 Mei 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 378

Tadabbur Al-Quran Hal. 378
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 22 :

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيْدٍ فَقَالَ اَحَطْتُّ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَاٍ ۢبِنَبَاٍ يَّقِيْنٍ

Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba' [595] membawa suatu berita yang meyakinkan.

- [595] Saba ialah nama kerajaan zaman dahulu, ibu kotanya Ma'rib yang terletak di dekat kota San'a ibukota Yaman sekarang.

- Tafsir Al Muyassar An-Naml ayat 22 :

Tidak lama berselang Hud hud pun hadir, maka Sulaiman menyalahkannya karena ketidakhadirannya dan keterlambatannya. Maka Hudhud berkata kepadanya:
Saya mengetahui sesuatu dengan sangat baik yang tidak engkau ketahui, saya datang dari kota Saba' di Yaman
dengan membawa berita yang sangat penting, dan saya benar-benar meyakini kebenarannya.

- Hadis Sahih Hadis Sahih (ayat 22) :

Dari Abu Bakrah Ra.. ia berkata, "Sungguh Allah telah memberikan manfaat kepadaku dengan suatu kalimat yang pernah aku dengar darr Rasuiullah, yaitu pada waktu perang lamal, tatkala aku hampir bergabung dengan para penunggang unta, lalu aku ingin berperang bersama
mereka. la berkata, Tatkala sampai kepada Rasulullah Sew., bahwa penduduk Persia telah dipimpin oleh seorang putri Kisra, beliau bersabda, Tidak akan beruntung suatu kaum apabila mereka dipimpin oleh Seorang wanita (HR Bukhän, Sahihul Bukhári, Jid 3, No. Hadis 4425, 1400 H 181),

- Kisah Nabi & Rasul :

Tatkala Sulaiman As. berada pada sebagian tempat penyerangannya, ia sangat membutuhkan air. Pada saat tidak ada seorang pun yang mengetahui dimana adanya sumber air, Sulaiman As. pun mencari burung Hudhud (yang ditugaskan untuk
mencari sumber air) untuk menanyakan kepadanya. Pada saat mencarinya, ia tidak mendapatinya. Sulaiman As. berkata, Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang
berat atau kusembelih ia kecuali jika ia
datang kepadaku dengan alasan yang jelas.

Saat itu Hudhud sedang melintas di
atas istana Ratu Balqis. la melihat kebun-kebun yang begitu subur milik Ratu Balqis yang terletak di belakang istananya. Maka ia pun menuju ke hadapan Ratu Balqis itu.

Ratu Balqis bertanya kepadanya, .Dari
mana asalmu?... Kata Hudhud, ..Dari
Sulaiman...,. k..Apa yang kamu perbuat disitu dan siapa Sulaiman?".
Hudhud pun menjelaskan bagaimana
keberadaan Sulaiman As. yang sebenarnya dan apa saja yang tunduk kepadanya, baik dari bangsa burung atau darí bangsa yang lainnya. Mendengar hal itu Ratu Balqis pun
merasa heran. Hudhud pun mengatakan kepadanya, "Aku pun merasa heran, kenapa banyak kaum yang menjadikan perempuan sebagai penguasanya." ...Dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar. Singgasana yang terbuat dari emas, dimahkotai dengan permata yang sangat indah terbuat dari Yaqut, Zabarzad, dan Mutiara. Kenapa mereka membuktikan syukur kepada Allah itu dengan cara sujud kepada matahari (menyembah matahari) tidak sujud kepada Allah.

Setelah itu Hudhud pun kembali ke-
pada Sulaimān As. dan memberitahukan kepadanya alasan-alasan kenapa sampai
terlambat menghadap. Kemudian Sulaimān berkata kepada Hudhud, ...Pergi dan bawalah suratku ini, berikanlah kepadanya (Ratu Balqis).

Maka Hudhud pun melaksanakannya.
Pada saat itu Ratu Balqis sedang berada di istananya. Hudhud melemparkan surat itu ke dalam kamarnya. Lalu Ratu Balqis pun
mengambilnya, lantas membacanya kemudian menghadap kaumnya seraya berkata,
<Wahai para pembesar! Sesungguhnya
telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia." Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah
diri. Balqis berkata, Wahai para pembesar!

Berilah aku pertimbangan dalam perkaraku ini. Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelisku. Mereka menjawab, Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa untuk berperang, tetapi keputusan berada
di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan. Ratu Balqis berkata, Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah... Jika dia
menerimanya, maka dia itu merupakan raja dunia, sedang kami lebih gagah dan lebih kuat darinya. Tetapi bila tidak menerimanya, maka dia itu adalah Nabi Allah." (bnul Ašir A-Jazari, A-Kāmil fit Tārikhi, Jilid 1: 179-181).

- Riyāduş Şālihin :

Dari Ibnu Abbas Ra., ia mengatakan, bahwa pada suatu ketika Umar bin Khattab Ra. pergi ke Syam. Setelah sampai di Sarag, pimpinan tentara datang menyambutnya,

faedah di antaranya:

(a) Anjuran bermusyawarah kepada pemimpin bersama para pembantunya. Pendapat dalam musyawarah tidak harus selalu berpegang pada imam.
(b) Hendaknya para pemimpin memperhatikan rakyatnya dan memberikan keselamatan baginya, dan tidak lalai ketika terjadi musibah yang menimpa rakyatnya.
(Dr. Mustafā Sa'id AI-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādiş Sālihina, Juz 2, 1407 H/1987 M: 1218).

- Hadis Nabawi :

Dari Abu Bakrah Ra., ia berkata, "Sungguh Allah telah memberikan manfaat kepadaku dengan suatu kalimat yang pernah aku dengar dari Rasulullah, yaitu pada waktu perang Jamal, tatkala aku hampir bergabung
dengan para penunggang unta, lalu aku ingin berperang bersama mereka. la berkata.

Tatkala sampai kepada Rasulullah Saw., bahwa penduduk Persia telah dipimpin oleh seorang putri Kisrā, beliau bersabda, "Tidak akan beruntung suatu kaum, apabila
mereka dipimpin oleh seorang wanita. (HR Bukhāri, Sahih Bukhari, Jilid 3, No. Hadis, 4425, 1400 H: 181).

- Nasihat & Pelajaran : 

Allah Swt. memberikan pujian kepada Nabi Sulaiman As. bahwa dia adalah sebaik-baik hamba. Ini merupakan satu keutamaan bagi Sulaiman As. karena ketaatan, dan ibadah, kepada Allah Swt., Allah memberikan tobatnya
kekuasaan, ilmu, dan pengertian tentang hukum (yang lebih tepat). Allah menundukkan baginya bangsa manusia, jin, dan burung-burung. Mereka semuanya dibagi dengan pengāturan yang mengagumkan dan sangat luar biasa. Semua itu merupakan keutamaan nubuwah (kenabian) yang Allah berikan kepadanya.

Saat Balqis mengirim utusan dengan
membawakan hadiah, yang tidak lain untuk  mengetahui betul dan tidaknya Sulaiman As itu seorang Nabi, Nabi Sulaiman As. menolaknya. la tidak mau menerimanya, bahkan ia memerintahkan supaya harta itu dibawa pulang kembali seraya berkata, "Aku tidak pernah gembira dengan banyaknya harta dan tidaklah bagiku dunia ini sesuatu yang dibutuhkan, karena Allah telah memberikan ke-
padaku yang tidak diberikan kepada seorang pun." Semua yang dilakukan Nabi Sulaiman As. hanya karena Allah semata. Dan Allah Swt. akan mengganti apa yang telah dikorbankan di jalan Allah dengan yang lebih." (Abdurrahmān An-Najdi, Taisirul Manān fi Qasasil Qu'rãn, 1429 H: 288-300).

- Hadis Motivasi QS 27: 19 :

Dari Abu Dzar dia berkata, Rasulullah
bersabda: "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah. Engkau berbuat makruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah. Engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah. Engkau menuntun orang yang
berpenglihatan kabur juga sedekah. Menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah." (HR Tirnizi. 1956)

- HADIS NIAGA QS An-Naml, 27: 16 :

Warisan Kebaikan untuk Generasi Berikutnya

Dari Amir bin Sa'ad, dari ayahnya, Sa'ad, dia berkata, Rasulullah menjengukku ketika menunaikan haji Wada karena aku sakit keras. Aku pun berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakitku sangat keras sebagaimana yang engkau lihat
Sementara itu, aku mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewaris
hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah aku sedekahkan 2/3 dari harta itu?

Beliau menjawab: "Tidak." Aku bertanya lagi, "Bagaimana kalau separuhnya?" Beliau menjawab: "Tidak." Aku bertanya lagi, "Bagaimana kalau sepertiganya?" Beliau menjawab: "Sepertiga itu banyak (atau cukup besar). Sesungguhnya, jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin hingga mereka terpaksa meminta minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya, apa yang kamu nafkahkan dengan
maksud untuk mencari ridha Allah, pasti kamu akan diberi pahala, termasuk apa  yang dimakan oleh istrimu." (HR Bukhari, 4409; Muslim, 1628)

- AMAL NIAGA : 

Menurut syariat, harta peninggalan lebih baik diserahkan kepada ahli waris agar mereka berada dalam keadaan berkecukupan. Jangan menelantarkan mereka hingga membuat mereka hidup dalam penuh keterbatasan.