بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kamis, 25 Mei 2023

Tadabbur Al-Quran Hal 299

Tadabbur Al-Quran Hal. 299
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-Kahf ayat 51 :

۞ مَآ اَشْهَدْتُّهُمْ خَلْقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَا خَلْقَ اَنْفُسِهِمْۖ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّيْنَ عَضُدًا

Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.

- Tafsir Al Muyassar Al-Kahf ayat 51 :

Aku tidak menghadirkan lblis dan anak cucunya (yang kalian taati) dalam penciptaan langit dan bumi, lalu Aku meminta pertolongan kepada mereka dalam penciptaan keduanya. Tidak pula Aku menjadikan sebagian dari mereka sebagai saksi atas penciptaan sebagian yang lainnya. Bahkan Aku sendirilah yang menciptakan semua itu, dengan tanpa penolong dan pembantu. Aku juga tidak mengambil orang-orang sesat dari kalangan setan dan selain mereka sebagai penolong. Jadi, bagaimana mungkin kalian memberikan hak-Ku kepada mereka, dan kalian menjadikan mereka sebagai penolong-penolong selain-Ku, padahal Akulah Pencipta segala sesuatu?

- Mu' jam Al-Kahf ayat 51 :

عَضُدًا

Al-Adud ialah apa yang ada di antara sikut sampai bahu (lengan atas). Kata itu dipinjam untuk ungkapan, "adadtusy syajara bil mi'dadi (aku menebang kayu dengan sabit). Dan kata Adud juga dapat dipinjam untuk menunjukkan seorang penolong. Firman Allah,.dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong (QS Al-Kahf, 18: 51). (Ar-Ragib Al-Asfahani, Mujam Mufradāti Alfāzi Al-Quräni, 1431 H/2010 M: 254)

- Riyadus Salihin :

Dari lbnu 'Abbas bahwasanya Nabi Saw. pernah berdoa ketika dalam kesulitan yaitu, "Lã Ilāha illällāhul Azimul Halim, Lã llāha illallāh Rabbul Arsyil 'Azim, Lã llāha illallāh Rabbussamāwāti warabbul Ardi warabbul'Arsyil Karimi (Tiada sesembahan yang haq selain Allah Yang Mahaagung dan Maha Penyantun. Tiada tuhan selain Allah, Tuhan Penguasa Arsy yang agung. Tiada sesembahan yang haq selain Allah, Tuhan langit dan bumi serta Tuhan 'Arsy yang mulia)." (HR Bukhāri-Muslim).

Hadis ini memberikan beberapa faedah di antaranya:

(a) Anjuran untuk berdoa dengan doa ini ketika dalam kesulitan karena dapat dipastikan dari Rasul Saw.
(b) Obat yang bisa menyembuhkan ketika dalam kesulitan adalah tauhid kepada Allah Swt. dan bermunajat kepada-Nya dengan Asmaul Husna dan sifat-sifatNya yang tinggi, dan tidak berlindung kepada yang lain. Oleh karena itu, memulai pujjan ini dengan menyebut Ar Rabbu untuk menyesuaikan dengan hilangnya kesulitan lalu menyebut Al-Azim karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang agung selain-Nya, karena keagungan itu menunjukkan
sempurnanya kekuasaan, lalu menyebutkan Al-Halim yang menunjukkan kepada ilmu, karena Al-Jahil tidak tergambar darinya ilmu dan kemuliaan, lalu berdoa, Ya Allah, lepaskanlah kesulitan kami dan ampunilah dosa-dosa kami karena sesungguhnya Engkau tuhan kami dan kami tidak bisa menghitung pujian terhadap-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri."
(Abu Usamah Salim bin 'idul Hilali, Hajatan Nāzirina Syarhu Riyādis Şālihina, Jilid 2, t.t.:593-594)

- Hadis Nabawi :

Dalam sebuah hadis yang telah diriwayatkan dari Aisyah Ra., ia mengatakan bahwasanya Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Malaikat adalah (makhluk) yang diciptakan dari jenis cahaya, sedangkan jin adalah (makhluk) yang diciptakan dari jenis api yang menyala-nyala, adapun Adam (makhluk) yang diciptakan dari sesuatu yang mana (ciri-cirinya) telah disebutkarn kepada kaliansesuatu yang sudah kalian ketahui)." (HR Muslim, Şahih Muslim, Juz 4, No. Hadi 2996: 2294).

- Hadis Qudsi :

Suhaib meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, "Bila Ahli surga telah masuk ke surga, maka Allah berfirman, "Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan untuk kalian?" Mereka menjawab, "Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih berseri? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Beliau melanjutkan sabdanya, "Lalu Alah membukakan hijab pembatas, maka tidak ada satu pun kenikmatan yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada kenikmatan (dapat) memandang Rabb mereka." Imam Muslim berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, dari Hammad bin Salamah dengan sanad ini, dan dia menambahkan, "Kemudian beliau membaca firman Allah, Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah)..(QS Yũnus,10: 26) (HR Muslim) (Işāmuddin As-Şabābati, Jāmiu'l Ahādisi T Qudsiyyatí, Jilid 2, t.t:451).

- Penjelasan Surah Al-Kahfi Ayat 46-53 :

Ayat 46-53 menjelaskan lima hal berikut: 

Harta dan anak itu hanya hiasan dunia. Hanya iman dan amal saleh yang akan dibawa kembali kepada Allah.

Pada hari kiamat nanti, semua manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar dan tak satu pun yang terlupakan. Di sana semua manusia dihadapkan kepada Tuhan Pencipta

Allah Ta’ala dengan berbaris dan datang kepada-Nya seperti mereka lahir, yakni sendiri-sendiri.

Pada hari itu, kitab catatan amal manusia dibagikan kepada mereka. Orang-orang kafir dan pendosa sangat ketakutan terhadap isinya dan berkata: Celakalah kita. Kitab ini mencatat semua amal kita, kecil maupun besar. Mereka melihat langsung semua perbuatan yang mereka lakukan di dunia dan Allah sedikit pun tidak menzalimi siapa pun. Akan tetapi mereralah yang menzalimi diri dengan menyekutukan Allah dan tidak mau taat pada Allah.

Iblis itu dari kalangan jin. Ia durhaka kepada Allah saat diperintahkan sujud kepada Adam. Mengapa orang-orang musyrik dan zalim itu menjadikannya pemimpin selain Allah? Itu adalah pengganti yang sangat buruk. Padahal Iblis dan anak cucunya sama sekali tidak terlibat menciptakan langit, bumi dan dan bahkan diri mereka sendiri diciptakan Allah. Sebab itu, Allah tidak suka jika manusia menjadikan Iblis dan anak cucunya sebagai penolong mereka.

Pada hari itu para tuhan kaum musyrikin tidak mampu menolong mereka sedikit pun. Ketika melihat neraka, mereka yakin masuk ke dalamnya dan mereka tidak mampu menghindar sedikitpun.

Rabu, 24 Mei 2023

Shalat Taubat

One Day One Hadits (257)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Shalat Taubat

عن أبي بكر الصديق رضي اللَّه عنه قال،  رسول الله صلى الله عليه وسلم قال،
« مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ

Dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (HR. Tirmidzi no. 406, Abu Daud no. 1521, Ibnu Majah no. 1395. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :

1. Jika seseorang terlanjur terjerumus dalam dosa? Jawabnya, ia punya kewajiban untuk bersegera bertaubat dan kembali pada Allah. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyunnahkan shalat taubat ketika seseorang benar-benar ingin bertaubat.

2. Shalat taubat adalah shalat yang disunnahkan berdasarkan kesepakatan empat madzhab
Shalat taubat ini bisa cukup dengan dua raka’at dan cukup niat dalam hati, tanpa perlu melafazhkan niat tertentu.

3. Waktu pelaksanaannya, boleh dilakukan siang atau malam hari.
Setelah seseorang mengetahui shalat taubat, ia pun harus memenuhi syarat-syarat taubat.

4. Syarat-syaratnya, secara ringkas dikatakan oleh para ulama sebagaimana disampaikan Ibnu Katsir,
a. Menghindari dosa untuk saat ini.
b. Menyesali dosa yang telah lalu.
c. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. 
d. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.

5. Semoga Allah mudahkan kita untuk selalu taat kepada-Nya dan menjauhi setiap dosa serta menjadikan kita hamba-hamba yang gemar bertaubat atas dosa yang tidak bosan-bosannya dilakukan. Amiin Yaa Mujibas Saailin.

Tema hadits yang berkaitan dengan Alquran:

1. Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Jika dilakukan setelah itu, maka taubat tersebut tidak lagi diterima.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8).

2. Apabila mereka melakukan suatu dosa, maka mereka mengiringinya dengan tobat dan istigfar (memohon ampun kepada Allah).
Ditekankan berwudu dan salat dua rakaat di kala hendak bertobat berdasarkan hadits diatas. 

وَالَّذِينَ إِذا فَعَلُوا فاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (Ali Imran: 135)

Senin, 22 Mei 2023

SIAPAKAH PENGIKUT ULAMA SALAF SEBENARNYA

Tematik (141)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

SIAPAKAH PENGIKUT ULAMA SALAF SEBENARNYA.

1) Imam Hanafi lahir: 80 hijriah
2) Imam Maliki lahir: 93 hijriah
3) Imam Syafie lahir: 150 hijriah
4) Imam Hanbali lahir:164 hijriah
5) Imam Asy’ari lahir: 240 hijriah

Mereka ini semua ulama Salafus Sholeh atau dikenali dgn nama ulama SALAF. 

Apa itu salaf?

Salaf ialah nama zaman yaitu merujuk kpd golongan ulama yg hidup antara kurun zaman kerosulan Nabi Muhammad hingga 300 HIJRAH. 3 kurun pertama itu bisa diartikan 3 Abad pertama (0-300 H). 

1). Golongan generasi pertama dari 300 tahun hijrah tu disebut “Sahabat Nabi” karena mereka pernah bertemu Nabi SAW

2). Golongan generasi kedua pula disebut “Tabi’in” yaitu golongan yg pernah bertemu Sahabat nabi meski tdk pernah bertemu Nabi

3). Golongan generasi ketiga disebut sbg “Tabi’ tabi’in” yaitu golongan yg tak pernah bertemu nabi dan sahabat tapi bertemu dengan tabi’in. Jadi Imam Abu Hanifah (pencetus mazhab Hanafi) merupakan murid Sahabat Nabi maka beliau seorang TABI'IN

.Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal), Imam Asy’ari pula berguru dgn tabi’in maka mereka adalah golongan TABI’IT TABI’IN. Jadi kesemua Imam2 yg mulia ini merupakan golongan SALAF YG SEBENARNYA

Dan pengikut mazhhab mereka lah yg paling layak digelar sbg "Salafiyah" karena “salafi” maksudnya “pengikut golongan SALAF”. Jadi beruntung lah kita ASWAJA yg masih berpegang kpd mazhab Syafi'i yg merupakan mazhab SALAF yg SEBENARNYA dan tdk lari dari paham NABI DAN SAHABAT.

SEMENTARA ULAMA RUJUKAN WAHABI YANG MENGAKU SEBAGAI SALAFI ADALAH SBB :

1) Ibnu Taimiyyah lahir: 661 Hijrah (lahir 361 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF

2) Nashiruddin Al-Albani lahir: 1333 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi,lahir 1033 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)

3) Muhammad Abdul Wahhab (pendiri gerakan Wahabi): 1115 Hijrah (lahir 815 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)

4) Bin baz lahir: 1330 Hijrah (wafat tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi, sama dfn Albani, lahir 1030 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)

5) Al-Utsaimin lahir: 1928 Masehi (wafat tahun 2001), beliau lahir entah berapa ribu tahun setelah zaman SALAF

Mereka ini semua hidup di AKHIR ZAMAN kecuali Ibnu Taimiyyah yg hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf dan zaman dajjal (akhir zaman). Saat Islam diserang oleh tentara Mongol. Tak ada sorang pun Imam rujukan mereka yg mereka ikuti hidup di zaman SALAF.

Mereka ini ..

(ulama rujukan wahabi) semua SANGAT JAUH DARI ZAMAN SALAF tapi SANGAT ANEH apabila pengikut sekte Wahabi membanggakan diri sebagai Salafi (pengikut Golongan Salaf) dan menyebut sebagai SALAFI WAHABI.

Sdgkan rujukan mereka adalah dari kalangan yang datang dari golongan ulama’ akhir zaman. Mereka menuding ajaran Sifat 20 Imam Asy’ari yang lahir tahun 240 H sebagai bid’ah yang sesat.

Padahal ajaran Tauhid Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat yang mereka ajarkan juga bid’ah dan diajarkan pada masa Khalaf, oleh orang yg lahir tahun 1115 H. Ini jelas membodohi aqidah ummat Islam.

Wallahu a'lam

Semoga bermanfaaat ..

Minggu, 21 Mei 2023

Tadabbur Al-Quran Hal. 298

Tadabbur Al-Quran Hal. 298
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Al-Kahf ayat 37 :

قَالَ لَهٗ صَاحِبُهٗ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗٓ اَكَفَرْتَ بِالَّذِيْ خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوّٰىكَ رَجُلًاۗ

Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya sambil bercakap-cakap dengannya, “Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna?

- Tafsir Al Muyassar Al-Kahf ayat 37 :

Kawannya yang Mukmin itu berkata kepadanya, saat ia bercakap-cakap dengannya untuk menasihatinya:
Bagaimana mungkin kamu kafir kepada Allah yang telah menciptakanmu dari tanah, kemudian dari sperma ayah ibu, kemudian Dia menjadikanmu sebagai maunusia sempurna, seimbang postur dan tubuhnya? Dalam perbincangan ini terdapat dalil bahwa Dzat yang kuasa menciptakan makhluk pada permulaannya, kuasa pulauntuk mengembalikan mereka.

- Riyadus Salihin Al-Kahf ayat 37 :

Dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Rasulullah Saw. yaitu As-Sadiq Al-Masduq (seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar). Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya"
(HR Bukhäri dan Muslim, Riyadus Sãlihin, No. 396, 2010 M 137).

- Hadis Nabawi : 

Dari Abu Musa Ra., ia berkata, "Kamni pernah bersama Nabi Saw. dalam sebuah perjalanan. Jika kami menaiki tempat yang tinggi. Maka kami bertakbir, dan beliau bersabda, 'Sederhanakanlah kalian dalam berdoa, sebab kalian tidak, menyeru Zat yang tuli dan tidak pula yang gaib, sesungguhnya kalian menyeru Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan Maha dekat. Kemudian beliau mendatangiku sedang aku berkata dalam hati: 'Lā Haula walā Quwwata illā billãh (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Maka beliau berkata, Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah Lã Haula walā Quwwata illä bi'lläh, sebab bacaan itu adalah perbendaharaan surga."
(HR Al-Bukhāri, Sahih Bukhāri, Juz 4, No. Hadis 7386: 381).

- Hadis Qudsi :

Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Ketika Allah Swt. menciptakan Adam dan meniupkan ruh padanya, Adam bersin seraya berkata, "Al-Hamdulillāhi" dia memuji Allah dengan izin-Nya.Maka Allah berkata kepadanya, "Yarhamukallahu" (Semoga Allah merahmatimu), wahai Adam!" (HR A-Hakim). (isamuddin As-Sabäbati, Jāmiu'l Ahadisil Qudsiyyati, Jilid 2, t.t: 487).

- Penjelasan Surah Al-Kahfi Ayat 35-45 :

Ayat 35-44 meneruskan ayat sebelumnya terkait perumpamaan yang Allah buat atara orang yang kafir dan beriman pada-Nya. Orang memiliki harta yang banyak itu masuk ke dalam kebunnya dengan sombong, meyakini kedua kebunnya tidak akan pernah musnah. Hal itu menggambarkan ia tidak percaya kepada hari kiamat, sambil meremehkan kekuasaan Allah. Lalu temannya menasihatinya atas kekafirannya pada Allah yang menciptakannya dari tanah, kemudian satu sel sperma, kemudian menjadi manusia sempurna. Ia melanjutkan: 

Allah Penciptaku dan aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Sebaiknya Anda mengatakan: Ini semua atas kehendak Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Anda boleh sombong kepadaku karena harta dan anakku sanat sedikit. Saya yakin Allah akan memberiku di akhirat kelak jauh lebih baik dari kebun anda. Allah mampu mengirim bencana dari langit sehingga kebun itu hancur, atau Allah keringkan mata air di bawahnya. Ketika itu anda tidak bisa berbuat apa-apa. Allah kirim bencana ke atas kedua kebun orang kafir itu sehingga musnah. Ia menyesali biaya besar yang sudah dikeluarkannya sambil berkata: Aduhai kiranya aku tidak menyekutukan Allah dengan harta atau apapun. Penyesalan sudah terlambat. Tidak ada yang dapat menolongnya, karena pertolongan itu hanya milik Allah  dan diberkan kepada para kekasih-Nya.

Ayat 45 menjelaskan perumpamaan kehidupan dunia seperti tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan subur, kemudian Allah kirim angin panas sehingga menjadi kering kerontang. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Selasa, 16 Mei 2023

Tadabbur Al-Quran Hal. 297

Tadabbur Al-Quran Hal. 297
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-Kahf ayat 28 :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.

- Asbabun Nuzul Al-Kahf ayat 28 :

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari Juwaibir, dari Ad Dahhak, yang bersumber dari lbnu Abbas bahwa akhir ayat ini (Al Kahfi: 28) turun berkenaan dengan Umayyah bin Khalaf Al Jumhi yang mengajak Nabi sallallahu alaihi wa sallam untuk melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah swt, yaitu mengusir shahabat-shahabat Rasul yang fakir dan berusaha mendekatkan tokoh-tokoh Quraisy kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Ayat ini melarang Rasulullah meluluskan permintaannya.

Diriwayatkan oleh lbnu Abi Hatim yang bersumber dari Ar Rabi' bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam menghadapi Umayyah bin Khalaf dengan baik dan lupa akan apa yang diwahyukan kepadanya. Maka turunlah ayat ini yang mengingatkan beliau untuk tidak mengikuti ajakan orang yang menyebabkan lupa kepada Tuhan.

Diriwayatkan oleh lbnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Uyainah bin Hishin datang menghadap Rasulullah yang sedang duduk bersama salman Al Farisi. Uyainah berkata: "Jika kami datang, hendaknya orang ini dikeluarkan. Setelah itu barulah kami dipersilakan masuk." Maka turunlah ayat ini yang mengingatkan Rasulullah untuk menolak permintaannya.

Sumber: Asbabun Nuzul-K. H.Q.Shaleh H.A.A Dahlan dkk.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Juwaibir dari ad-Dhahhak dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya,"....dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami.." ayat ini turun tentang Umayyah bin khalaf al-Jamhi, yaitu ketika dia menyuruh Nabi saw melakukan suatu hal yang tidak disukai Allah, yakni mengusir orang-orang miskin dan mendekatkan par pemimpin mekah.

Ibnu abi Hatim meriwayatkan dari ar-Rabi' mereka diberitahu bahwa Nabi saw berjumpa dengan Umayyah bin Khalaf yang lalai dan lengah dari apa yang dikatakan kepadanya. Maka turunlah ayat ini. Ia meriwayatkan dari abu hurairah. Uyainah bin Hishn menemui Nabi saw yang sedang bersama salman. Maka Uyainah berkata, 'kalau kami datang, suruh orang ini keluar dan undang kami masuk". Maka turunlah ayat ini.

- Tafsir Al Muyassar Al-Kahf ayat 28 :

Sabarkanlah dirimu, wahai Nabi, bersama para shahabatmu dari kalangan orang-orang mukmin yang fakir yang senantiasa menyembah Rabb mereka semata dan berdoa kepada-Nya di pagi dan petang karena mengharapkan wajah-Nya. Duduklah bersama mereka dan bergaulah dengan mereka. Jangan palingkan pandanganmu dari mereka kepada selain mereka, yaitu orang-orang kafir, karena ingin menikmati perhiasan kehidupan dunia.

Janganlah pula menuruti orang yang Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami, dan lebih mementingkan hawa nafsunya daripada menaati Rabb-nya, lalu urusannya dalam semua perbuatannya menjadi sia-sia dan hancur.

- Tazkiyyatun Nafs :

Sesungguhnya kemuliaan pengetahuan (ilmu) itu sesuai dengan kemuliaan objek yang diketahui. Maka tidak disangsikan bahwa pengetahuan yang paling mulia dan paling agung adalah pengetahuan tentang Allah Swt., Tuhan semesta alam, Yang Menciptakan langit dan bumi, Yang Maha benar, Yang Mempunyai segala sifat kesempurnaan, Yang suci dari segala kekurangan, dan Yang tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupaiNya dalam kesempurnaan. Tidak disangsikan bahwa pengetahuan tentang nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling tinggi nilainya. Jika
dibandingkan dengan segala jenis pengetahuan, maka seperti perbandingan objek yang diketahui dengan objek-objek lainnya. Tentang Allah Swt. adalah asas dari segala pengetahuan. Sebagaimana keberadaan segala sesuatu tergantung kepada keberadaan-Nya Yang Maha Menciptakan, maka semua jenis ilmu mengikuti ilmu tentang-Nya, dan membutuhkan-Nya untuk merealisasikan keberadaannya.
Tidak disangsikan lagi bahwa pengetahuan tentang sebab awal dan penyebab utama, berkonsekuensi pada pengetahuan tentang akibat dan efeknya. Keberadaan segala sesuatu selain Allah Swt. bergantung kepada-Nya, sebagaimana keberadaan sebuah benda yang tergantung pada pembuatnya, dan obyek kepada subjeknya. Maka ilmu tentang Zat, sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah Swt. berimplikasi kepada pengetahuan tentang selain Allah Swt. Barang siapa tidak mengenal Tuhannya, maka dia lebih tidak mengetahui segala sesuatu selain Dia. Allah Swt. berfirman, «Dan janganlah kamu seperti orang-ofang yang lupa kepada Allah Swt., sehingga Allah Swt. menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. (QS Al-Hasyr, 59: 19).

Perhatikanlah ayat ini dengan seksama, maka Anda akan temukan makna yang sangat indah, yaitu, barang siapa yang melupakan Tuhannya, niscaya Tuhan akan membuat mereka lupa tentang dirinya sendiri sehingga dia tidak mengenal hakikat dirinya dan kemaslahatannya sendiri. Bahkan, dia lupa apa yang menjadi kebaikan dan keberuntungannya di dunia dan di akhirat. Dengan demikian, dia pun menjadi rusak dan diabaikan seperti binatang. Bahkan, mungkin binatang lebih mengetahui kemaslahatannya karena mengikuti petunjuk yang diberikan Sang Pencipta kepadanya. Sedangkan orang tersebut keluar dari fitrah penciptaannya, sehingga dia lupa akan Tuhannya dan Tuhan pun membuatnya lupa tentang dirinya, dan tentang hal-hal yang membuat dia sempurna serta bahagia di dunia dan akhirat.

Allah Swt. berfirman, Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia, dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas. (QS Al-Kahf, 18: 28).

Dia lalai mengingat Tuhannya, sehingga dia pun lupa akan hati dan keadaannya.Akhirnya, dia sama sekali tidak mempedulikan kemaslahatan, kesempurnaan, dan hal-hal yang membersihkan jiwa serta hatinya.
Bahkan, dia kehilangan hatinya, kacau-balau dan bingung, tanpa mendapatkan petunjuk sama sekali.

Kesimpulannya adalah bahwa pengetahuan (marifat) tentang Allah Swt. adalah asal segala ilmu. la adalah asas ilmu hamba tentang kebahagiaan, kesempurnaan, dan kemaslahatan dunia akhirat. Tidak adanya pengetahuan tentang Allah Swt. mengakibatkan ketidaktahuan tentang diri sendiri dan kemaslahatannya, serta apa yang membersihkan dan mendatangkan kebahagiaan baginya. Karena itu, pengetahuan tentang Allah Swt. merupakan pangkal kebahagiaan hamba, sedangkan ketidaktahuan tentang Allah Swt. merupakan pangkal penderitaan.
(bnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Miftāhu Dâris Sa'ādati, Juz 1, 1416 H/1996 M: 311-312).

- Riyadus Salihin :

Dari Ali bin Abu Talib Ra., ia bertanya kepada Nabi Saw., "Ya Rasulullah, apakah saya harus memerangi kaum musyrikin hingga mereka menjadi orang-orang muslim seperti kita?" Rasululah Saw. menjawab, "Hai Ali, laksanakanlah tugasmu dengan baik dan tidak tergesa-gesa hingga kamu tiba di wilayah mereka. Setelah itu, serulah mereka untuk masuk ke dalam agama Islam. Beritahukan kepada mereka tentang kewajiban- kewajiban yang harus mereka lakukan di dalam ajaran Islam! Demi Allah Swt., sungguh petunjuk Allah Swt. yang diberikan
kepada seseorang (hingga ia masuk Islam) melalui perantaraanmu, adalah lebih baik bagimu daripada kamu memperoleh nikmat yang melimpah-ruah berupa unta merah."
Hadis di atas mengandung beberapa faedah, antara lain keutamaan menyeru manusia ke jalan Allah Swt. dan dorongan agar memberi petunjuk kepada manusia ke arah kebaikan dan kebenaran, karena yang demikian itu akan berbuah pahala yang besar.
(Dr. Mustafa Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttagina Syarhu Riyadis Salihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 200-201).

- Medical Hadis :

Dari Rib'iyyah binti lyad Al-Kilabiyyah, ia berkata, Aku mendengar Ali berkata, "Makanlah Ar Rummān (delima) dengan kulitnya karena ia membersihkan lambung." (bnu'l Qayyim A-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, t.t: 243).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat Rumman (buah delima)

Buah delima itu bersifat panas dan lembab, bagus untuk perut dan menguatkannya, karena mempunyai daya cengkeraman yang lembut, juga bermanfaat untuk dada, tenggorokan dan paru-paru, dapat digunakan untuk mengobati batuk, menambah produksi mani, dan membangkitkan gairah seks. Meski demikian, buah delima tidak bagus untuk orang yang sakit demam.

Allah Swt. berfirman tentang rummān, Didalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma, dan delima. Maka nkmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (0S Ar-Rahmān, 55: 68-69) (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdu'l Ma ādi fi Hadyi Khayril lbādi, Juz 4, t.t.. 315-316).

- Penjelasan Surah Al-Kahfi Ayat 28-34 :

Ayat 28-31 meneruskan ayat 27 sebelumnya terkait dengan perintah Allah kepada Rasul Saw. Setelah perinah membaca dan mengikuti petunjuk Al-Qur’an, Allah memerintahkah Rasul Saw. untuk sabar hidup bersama sahabatnya yang taat pada Allah dan hanya mencari ridha Allah, kendati jumlahnya sedikit dan sebagiannya dari kaum yang lemah. Kamudian, Allah merlarang Rasulullah Saw. memilik motivasi duniawi dalam berdakwah dan mengikuti orang-orang yang lalai hati mereka mengingat Allah dan mengikuti nafsu. 

Sesungguhnya Al-Qur’an itu kebenaran dari Allah. Iman dan kafir itu adalah pilihan. Bagi yang kafir, Allah sediakan neraka yang apinya membakar seluruh tubuhnya dan minumannya dari tembaga panas yang menghanguskan seluruh wajahnya. Bagi yang beriman dan beramal saleh surga yang mengalir di bawahnya berbagai macam sungai dan berbagai hiasan emas dan pakaian sutera serta peralatan mewah lainnya. 

Ayat 32-34 menjelaskan perumpamaan orang yang kafir dan beriman itu seperti dua orang yang satunya memiliki kebun anggur dan kurma. Keduanya dikelilingi berbagai pohon dan ada sungai di tengahnya. Hartanya sangat banyak. Lalu ia berkata pada temannya: Harta saya lebih banyak dari harta Anda.

Kamis, 11 Mei 2023

Tadabbur Al-Quran Hal. 296

Tadabbur Al-Quran Hal. 296
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-Kahf ayat 23 :

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,”

- Asbabun Nuzul Al-Kahf ayat 23-25 :

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat, "..dan mereka tinggal di dalam gua..". turun, lalu seseorang bertanya,"Ya Rasulullah, tahun atau bulan?". Maka Allah menurunkan ayat, "tiga ratus tahun dan ditambah Sembilan tahun". Ibnu Jarir meriwayatkannya juga dari ad-Dhahhak. Ibnu Mardawaih juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw mengeluarkan sebuah sumpah, kemudian setelah berlalu empat puluh hari, maka Allah menurunkan ayat ini.

- Tafsir Al Muyassar ayat 23 :

Janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu yang kamu tekadkan untuk melakukannya: Sesungguhnya aku akan melakukan hal itu besok,

- Riyadus Salihin :

Dari Abu Musa Al Asy'ari Ra., ia menceritakan bahwa Nabi Saw. apabila khawatir kepada suatu kaum, beliau berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan-Mu di leher-leher mereka (yaitu menghadapi mereka) dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka." (HR Abu Däwud dan An-Nasāi) dengan sanad yang sahih.

Hadis ini memberi faedah:

(a) Penjagaan diri dari musuh dan kemenangan atas mereka hanyalah dengan pertolongan dan kekuatan dari Allah Swt.
(b) Pencegahan kejahatan musuh itu hanyalah dari Allah Swt, karena sesung-guhnya Allah-lah yang mengetahui apa yang disembunyikan di dalam hati mereka dan apa yang ditampakkan.
(c) Hendaklah kita meminta perlindungan kepada Allah Swt. dari kejahatan musuh-musuh dan tidak berharap bertemu mereka, dan apabila seorang hamba diuji, maka ia wajib sabar menghadapi ujian tersebut dan memohon keselamatan kepada Allah Swt.
(Abu Usamah Salim bin 'ldul Hilali, Bahjatun Nāzirina Syarhu Riyādis Sālihina, Jilid 2, t.t.:218-219)

- Hadis Nabawi :

Wabisah Ra. berkata, "Aku mendekat kepada Nabi Saw. hingga duduk di hadapannya. Kemudian beliau bertanya, "Wahai Wabişah, aku beritahukan kepadamu atau kamu yang akan bertanya padaku?' Aku menjawab, Tidak, akan tetapi beritahukanlah padaku. Beliau Saw. lantas bersabda, Kamu datang untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)? Aku menjawab, Benar Beliau Saw. kemudian menyatukan ketiga jarinya seraya menepukkannya ke dadaku. Setelah itu beliau bersabda, Wahai Wabisah, mintalah petunjuk pada hati dan jiwamu -beliau mengulanginya tiga kali.- Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menenteramkan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia memberimu fatwa dan membenarkanmu." (HR Ahmad, Musnadul Imām Ahmad Bin Hanbal, Tahqiq: Syu'aib Al-Arnaut, Jlid 29, No, Hadis:18006: 533).

- Hadis Qudsi :

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Aku memohon kepada Rabb-ku, lalu Allah memberiku janji untuk memasukkan umatku sebanyak tujuh puluh ribu dalam bentuk seperti bulan di malam purnama, lalu aku meminta tambahan dan Dia memberiku tambahan beserta setiap tujuh puluh ribu, seribu orang. Lalu aku berkata, "Wahai Rabb, bagaimana jika jumlah itu tidak terpenuhi dari orang-orang yang berhijrah dari umatku?" Allah berfirman, "Kalau begitu akan Aku penuhi jumlah itu dari Arab Baduy." (HR Ahmad).
(Isamuddin As-Sabābati, Jāmiu'l Ahādisil Qudsiyyati, Jilid 2, t.t: 400).

- Penjelasan Surah Al-Kahfi Ayat 21-27

Ayat 21-26 meneruskan kisah ajaib pemuda yang tidur di gua selama 309 tahun itu. Dengan peristiwa yang sangat ajaib tersebut, Allah perlihatkan kepada manusia agar mereka tahu bahwa semua janji Allah itu benar termasuk peristiwa kiamat. Masyarakat saat itu kagum pada peristiwa tersebut. Raja yang sudah beriman pada Allah saat itu ingin membangun tempat ibadah di atas gua tersebut. Generasi setelah mereka akan berbeda pendapat tentang jumlah mereka. Ada yang mengatakan tiga orang, empat dengan anjing mereka, atau lima orang, enam dengan anjing mereka, atau tujuh orang, delapan dengan anjing mereka. Semua itu tidak benar. Hanya Allah yang tahu jumlah pastinya. Sebab itu, Allah melarang memperdebatkan yang gaib dan memastikan bisa melakukan sesuatu esok hari, kecuali jika Allah kehendaki. Allah Mahatahu kegaiban langit dan bumi, Maha tajam penglihatan dan pendengaran-Nya. Maka jangan sekali-kali menyekutukan-Nya.

Ayat 27 menjelaskan, Allah memerintahkan Rasul Saw. untuk membaca  dan mengikuti petunjuk Al-Qur’an. Itu adalah keputusan-Nya. Kalau tidak dilakukan, Rasul Saw. tidak akan dapat lari dari ancaman Allah sebagaimana halnya dengan manusia lainnya.

Selasa, 09 Mei 2023

Tadabbur Al-Quran Hal. 295

Tadabbur Al-Quran Hal. 295
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-Kahf ayat 16 :

وَاِذِ اعْتَزَلْتُمُوْهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ فَأْوٗٓا اِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِّنْ اَمْرِكُمْ مِّرْفَقًا

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu. [489]

- [489] Perkataan ini terjadi diantara mereka sendiri yang timbulnya karena ilham dari Allah.

- Tafsir Al Muyassar Al-Kahf ayat 16 :

Ketika kalian berpisah dari kaum kalian dengan membawa agama kalian, dan meninggalkan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain beribadah kepada Allah, maka berlindunglah ke dalam gua di sebuah bukit untuk ibadah kepada Rabb kalian semata, niscaya Rabb kalian akan meluaskan untuk kalian sebagian dari rahmat-Nya yang dapat menutupi kalian di dua negeri (dunia dan akhirat), dan memudahkan sebagian urusan kalian yang bermanfaat bagi kalian dalam kehidupan kalian, yaitu factor-faktor kehidupan.

- Hadis Sahih Al-Kahf ayat 16 :

Dari Abu Said Al-Khudri, dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, Hampir saja terjadi (suatu zaman) dimana ketika itu harta seorang muslim yang paling baik adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung dan tempat-tempat terpencil, dia pergi menghindar dengan membawa agamanya disebabkan takut terkena fitnah" (HR Bukhari, Sahihul Bukhäri, Juz 1, No. Hadis 19, 1400 H: 23).

- Tazkiyyatun Nafs :

Syirik ada dua macam, besar dan kecil. Syirik besar tidak akan diampuni Allah Swt. kecuali dengan tobat, seperti membuat tandingan bagi Allah Swt. Pelakunya mencintai tandingan ini seperti cintanya kepada Allah. Ini merupakan syirik seperti syiriknya orang-orang musyrik yang menyamakan sesembahannya dengan Allah Swt. Mereka tetap mengakui bahwa hanya Allah Swt. semata yang menciptakan segala sesuatu, penguasa, dan rajanya. Mereka juga tahu bahwa sesembahan mereka selain Allah Swt. tidak mampu mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan. Penyamaan ini hanya dalam kecintaan, pengagungan, dan penyembahan, seperti keadaan mayoritas orang-orang musyrik. Mereka mencintai, mengagungkan, memuja, dan membela sesembahannya selain Allah Swt. Bahkan, mereka lebih mencintai sesembahan itu daripada Allah Swt. Mereka lebih marah jika
sesembahannya dicaci dibanding jika Allah Swt. yang dicaci.

Begitulah keadaan para penyembah berhala yang menjadikan bebatuan, pepohonan, atau benda mati apa pun sebagai sesuatu yang dipuja-puja.
Allah Swt. berfirman tentang para pendahulu orang-orang musyrik, ingatlah!

Hanya milik Allah Swt. agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), "Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah Swt. dengan sedekat-dekatnya." Sungguh, Allah Swt. akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah Swt. tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. (QS Az-Zumar, 39: 3)

Mereka merasa yakin di dalam hati bahwa sesembahan-sesembahan itu akan memberi syafaat (pertolongan) kepada mereka di sisi Allah Swt. Allah Swt. menyanggah anggapan mereka ini. Sesungguhnya semua syafaat ada di tangan Allah Swt. Tak seorangpun bisa memberi syafaat yakni orang di sisi-Nya kecuali setelah mendapat izin Allah Swt. untuk memberikan syafaat, yang perkataan dan perbuatannya diridai, dan mereka ini adalah ahli tauhid. Syafaat yang ditetapkan Allah Swt. dan Rasul-Nya adalah syafaat yang keluar dari izin-Nya, sebagaimana Allah Swt. berfirman, antara lain dalam surah Al-Kahf, 18:17.

Di antara kebodohan orang musyrik ialah keyakinannya bahwa siapa yang dijadikannya sebagai penolong atau pemberi syafaat, bisa memberi syafaat dan manfaat kepadanya di sisi Allah Swt., seperti lazimnya pertolongan yang diberikan para pemimpin dan penguasa terhadap rakyatnya. Mereka tidak sadar bahwa siapa pun tidak akan bisa memberi syafaat di sisi Allah Swt. kecuali yang mendapat izin-Nya. Sementara tak seorang pun yang diberi izin oleh Allah Swt. kecuali orang yang perbuatan dan perkataannya diridai Allah Swt.

Syirik kecil adalah seperti sedikit riya', mencari muka di hadapan manusia, bersumpah dengan selain Allah Swt.. perkataan seseorang kepada orang lain, "Menurut kehendak Allah Swt. dan kehendakmu, atau perkataannya, "Ini berasal dari Allah Swt. dan darimu, " atau perkataannya, "Aku bergantung kepada Allah Swt. dan juga kepadamu," atau perkataannya, "Kalau bukan karena dirimu, tentu hal ini tidak akan terjadi." Tapi perkataan seperti ini bisa berubah menjadi syirik besar, tergantung kepada siapa yang mengatakannya dan apa tujuannya. Macam-macam syirik ini banyak sekali dan hampir tak terhitung banyaknya.
((bnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju As-Sālikin Manāzilu lyyāka Na'budu wa lyyāka Nasta inu, Juz 1, t.t.: 368-373).

- Riyaduş Salihin :

Dari Sa'ad bin Ubādah, sesungguhnya lbnu Umar Ra. mendengar seorang laki-laki berkata, "Tidak, demi Ka'bah." Lalu lbnu Umar Ra. berkata, "Tidak boleh bersumpah dengan selain Allah Swt. Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, "Barang siapa bersumpah dengan selain Allah Swt., maka ia telah kafir atau berbuat syirik."
(HR At-Tirmizi, dan ia berkata, "Hadiš ini derajatnya hasan.").

Hadis di atas mengandung beberapa faedah, antara lain seseorang dilarang bersumpah dengan selain Allah Swt., seperti sumpah dengan kemuliaan, anak-anak, kasih sayang orang tua, tempat-tempat suci, dan lain-lain.
(Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 2, 1407 H/1987 M:1167-1168).

- Medical Hadis :

Dari Abu Hurairah Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Barang siapa ditawarkan kepadanya wewangian, maka janganlah menolaknya, karena sesungguhnya wewangian ringan bebannya dan harum baunya." (HR Muslim) (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, t.t.: 241).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat Raihan

Raihan adalah setiap tanaman yang harum aromanya dan biasanya penduduk di daerah memiliki sesuatu yang khusus sebagai Raihān. Manfaat Raihān bisa membersihkan kulit kepala, menguatkan rambut agar tidak rontok dan menghitamkannya. Apabila digosokan ke badan, ia dapat menghentikan keringat dan menghilangkan bau ketiak, juga bermanfaat menyambung tulang yang patah dengan cara membalurkannya. Tanaman ini telah disinggung oleh Allah Swt. dalam firman-Nya, Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah Swt.), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan. (0S Al-Wāqi'ah, 56: 88-89) dan sabda Nabi Saw. dalam riwayat Muslim.
(bnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdu' Ma adi fi Hadyi Khayri'l lbādi, Juz 4, t.t.:313-314).

- Penjelasan Surah Al-Kahfi Ayat 16-20 :

Ayat 16-20 meneruskan kisah para pemuda beriman yang bersembunyi ke dalam gua demi menjaga kebersihan akidah mereka dari pengaruh kemusyrikan yang mendominasi kehidupan masyarakat saat itu. Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka dan memudahkan jalan kebaikan bagi mereka. Di antara rahmat Allah pada mereka adalah matahari terbit sebelah kanan dan tenggelam sebelah kiri mereka agar mereka selalu mendapat panas matahari sehingga kesehatan mereka terjaga kendati mereka tidur selama 350 tahun. 

Kisah Ashabul Kahfi sangat mengagumkan. Siapa yang dapat menjadikannya pelajaran maka ia akan dapat hidayah dan begitu pula sebaliknya. Allah tidurkan dan menggerakkan mereka ke kanan dan ke kiri agar terjaga keseimbangan fisik mereka. Sedangkan anjing mereka menjaga mereka di depan pintu gua dalam posisi siap menerkam siapa yang menghampirinya. 

Setelah tidur panjang, Allah bangunkan mereka supaya mereka saling bertanya berapa lama mereka berada di dalam gua itu. Mereka merasakan hanya sekitar satu atau setengah hari saja. Mereka yakin hanya Allah yang tahu. Lalu mereka mengutus salah seorang dari mereka untuk ke kota membawa uang perak agar ia membeli makanan yang halal. Tapi, dengan bersikap lemah lembut dan tidak boleh memberitahukan tempat mereka kepada siapapun. Sebab, bila mereka diketahui oleh masyarakat atau penguasa zalim di negeri itu, maka mereka pasti akan merajam para pemuda itu sampai mati, atau dipaksa murtad dari agama Allah dan menganut agama kemusyrikan yang merajalela di negeri mereka. Bila hal itu terjadi, maka mereka tidak akan beruntung selama-lamanya.

Kamis, 04 Mei 2023

Tadabbur Al-Quran Hal. 294

Tadabbur Al-Quran Hal. 294
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-Kahf ayat 6 :

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an).

- Asbabun Nuzul Al-Kahf ayat 6 :

Ibnu Jarir meriwayatkan dari ibnu ishaq dari seorang kakek penduduk mesir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa kaum Quraisy mengutus an-Nadhr ibnul Haris dan Uqbah bin Abi Muith untuk menemui pendeta yahudi di Madinah dengan pesan,"Tanyakan kepada mereka tentang diri Muhammad, berikan gambaran tentang dirinya. Dan beri tahu mereka tentang perkataannya, sebab mereka adalah pemeluk al-Kitab dan mereka memiliki pengetahuan tentang para nabi yang tiada kita miliki." Kedua utusan itu pun berangkat. Setibanya di Madinah, mereka bertanya kepada para pendeta Yahudi tentang Rasulullah. Mereka gambarkan keadaan serta ucapan beliau. Maka para pendeta itu berkata," tanyai dia tentang tiga hal. Kalau dia memberi jawaban semuanya, berarti dia memang Nabi yang diutus. Kalau tidak, berarti dia hanya mengada-ada. Tanyai dia tentang segolongan pemuda di masa lampau yang amat menakjubkan kisahnya, tanyai dia tentang seorang pria pengembara yang telah mencapai ujung timur dan barat dan tanyai dia tentang ruh. Setelah mereka kembai dan bertemu dengan kaum quraisy, mereka berkat, "kami datang membawa keputusan antara kita dan Muhammad." Lalu mereka mendatangi Rasulullah dan menanyakan ketiga hal itu. Beliau menjawab," aku akan beritahu kalian jawabannya besok", tanpa mengucapkan Insya Allah. Orang-orang itu pun pergi. Akan tetapi sampai lima belas hari lamanya Allah tidak meurunkan wahyu mengenai hal yang ditanyakan itu, jibril pun tidak menemui beliau sehinga penduduk Mekah gempar. Tidak turunnya wahyu itu membuat sedih Rasulullah, dan perbincangan penduduk mekah memberatkan beliau. Hingga akhirnya jibril diutus untuk menurunkan surat ashabul kahfi, yang di dalamnya Allah menegur kesedihan beliau atas penduduk mekah, juga bersisi jawaban atas pertanyaan mereka.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Uthbah bin Rabiah, Syaibah bin rabiah, abu jahal, an-Nadhr bin Haris, Umayyah bin khalaf, al-Ash bin wail, al-Aswad ibnul Muththalib, abul bakhtari dan sejumlah orang quraisy berkumpul . ketika itu Rasulullah sudah merasa amat sedih menyaksiakan permusuhan kaumnya kepad beliau dan pengingkaran mereka terhadap nasihat yang beliau bawa, maka allah menurunkan ayat ini.

- Tafsir Al Muyassar Al-Kahf ayat 6 :

Mungkin kamu, wahai Rasul, akan membinasakan dirimu karena bersedih terhadap pengaruh kaummu yang berpaling darimu, ketika mereka tidak membenarkan dan mengamalkan al-Qur'an ini.

- Riyaduş Salihin :

Dari 'Abdullah bin Amru bin Al-Aş Ra., ia berkata, Rasulullah Saw. berdoa, Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepadaMu!" (HR Muslim).

Hadis ini memberi faedah:
(a) Hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Swt. akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.
(b) Seyogyanya seorang hamba itu meminta pertolongan kepada Allah Swt. dalam menggapai hidayah dan istiqamah serta tidak ragu-ragu.
(c) Seorang hamba apabila menyandarkan segala urusan kepada dirinya sendiri, pasti binasa. 
(d) Hamba yang beriman akan mencari keselamatan dan menempuh jalannya dengan meminta tolong kepada Allah Swt. yang semua kunci-kunci segala sesuatu itu ada dalam kekuasaan-Nya.
(Abu Usamah Salim bin 'idul Hilali, Bahjatun Nāzirina Syarhu Riyādis Sālihina, Jilid 2, t.t:544).

- Hadiš Qudsi :

Dari Anas bin Malik, ia berkata, "Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah Saw. Beliau tertawa, lalu bertanya, "Tahukah kalian apa yang membuatku tertawa?"
la (Anas) berkata, kami menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda, "Aku tertawa karena percakapan seorang hamba dengan Rabbnya. la berkata, Wahai Rabb, bukankah Engkau telah menghindarkanku dari kezaliman" Dia
menjawab, Ya la berkata,"Sesungguhnya aku tidak mengizinkan jiwaku kecuali untuk menjadi saksi atas diriku sendiri."
Beliau meneruskan, "Allah berfirman, Kalau begitu pada hari ini cukuplah jiwamu yang menjadi saksi atas dirimu dan juga para malaikat yang mulia yang mencatat amalmu.' Beliau meneruskan, "Lalu dibungkamlah mulut dan dikatakan kepada anggota badannya, Bicaralah.' Maka anggota badannya pun mengungkap semua
amal perbuatan yang dilakukannya." Beliau meneruskan, "Kemudian dilepaskanlah antara ia dan ucapannya hingga ia berkata, "Celakalah kalian, bukankah aku dulu membelamu?" (HR Muslim).
(IsamuddinAş-Sababați, Jämiul Ahadisi Qudsiyyati, Jilid 2, t.t: 346-347).

- Hadis Nabawi :

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Ruh-ruh itu bagaikan prajurit prajurit yang berkelompok-kelompok. Apabila masing-masing saling mengenal di antara mereka, maka mereka akan menjadi sahabat-sahabat yang sangat akrab, dan apabila masing-masing saling bermusuhan di antara mereka, maka mereka akan saling bermusuhan pula."
(HR Bukhāri dan Muslim). (Syaikh Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Juz 9: 110).

- Penjelasan Surah Al-Kahfi Ayat 5-15 :

Ayat 5-8 meneruskan ayat 4 sebelumnya. Tuduhan kaum musyrik dan Ahlul Kitab bahwa Allah memiliki anak itu tidak didasari ilmu, hanya mengikuti warisan nenek moyang saja. Amat besar murka Allah atas tuduhan tersebut. Allah menegur Rasul Saw. agar tidak terlalu sedih jika kaum kafir itu tidak juga beriman. Allah jadikan kenikmatan dunia ini sebagai hiasan untuk mengetahui siapa yang beriman dan beramal saleh. Allah Maha Kuasa menghancurkan semua tumbuh-tumbuhan yang ada di atas bumi dan menjadikannya tandus kering kerontang.

Ayat 8-15 menjelaskan kisah para penghuni gua (Ashabul Kahfi) yang sangat unik sebagai mukjizat dan kebesaran Allah. Sedangkan Al-Qur’an itu jauh lebih besar mukjizat dan keagungannya dari pada kisah tersebut.

Mereka adalah beberapa anak muda yang kuat iman pada Allah. Mereka lari dari kejahatan penguasa zalim di negeri mereka. Lalu Allah tidurkan mereka dalam gua. Mereka selalu meminta rahmat dan jalan lurus dari Allah. Allah teguhkan hati mereka dalam keimanan dan tauhid, kendati kaum dan penguasa negeri mereka menyekutukan Allah. Manusia yang paling zalim ialah yang mengada-ada tentang Allah dengan kebohongan.

Selasa, 02 Mei 2023

TERMASUK DOSA BESAR, SUKA MENCELA!

Tematik (138)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

TERMASUK DOSA BESAR, SUKA MENCELA!

Lidah merupakan salah satu kenikmatan Allâh Azza wa Jalla yang besar bagi manusia. Dengannya manusia dapat merasakan makanan lezat, berkomunikasi, dan sebagainya. Lidah juga sebagai alat untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , dengan berdzikir, membaca al-Qur’an, berbicara yang baik, dan lain-lain. Namun jika tidak dijaga, lidah juga dapat mencelakakan pemiliknya. Lidah bisa menjadi alat untuk berbuat dosa, seperti berdusta, mengadu domba, dan mencela. Oleh karena itu, agama Islam mengajarkan kepada umatnya agar selalu berbicara baik, jika tidak bisa hendaklah diam.

Jangan Mencela Siapapun Dan Apapun

Termasuk keburukan yang dilakukan oleh lidah adalah mencela. Bahkan Imam adz-Dzahabi rahimahullah memasukkan  perbuatan suka mencela dalam daftar dosa-dosa besar. Beliau berkata, “Dosa besar ke empat  puluh empat adalah orang yang banyak melaknat/ mencela”. [Al-Kabair, hal: 164]

Oleh karena itu sepantasnya seorang Mukmin menjauhinya, sebagaimana wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam kepada  Abu Jurayyi Jabir bin Sulaim Radhiyallahu anhu :

لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا قَالَ فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا وَلَا عَبْدًا وَلَا بَعِيرًا وَلَا شَاةً

“Janganlah engkau mencela seorangpun!” Abu Jurayyi berkata, “Maka setelah itu aku tidak pernah mencela seorang yang merdeka, seorang budak, seekor onta, dan seekor kambing”. [HR. Abu Dawud, no: 4084; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Makna Mencela

Mencela di dalam bahasa Arab disebut dengan sabb (سَبٌّ) atau sibâb (سِبَابٌ)  , artinya: memutuskan orang yang dicela dari kebaikan, atau menampakkan keburukan. [Lihat: Fathul Bâri, 1/86; ‘Umdatul Qâri, 1/278]

Juga disebut dengan laknat (لَعْنَةٌ), artinya secara bahasa adalah: menjauhkan dari kebaikan. [Lihat Syarah Shahih Bukhâri, 8/374, karya Ibnu Baththal]

Jangan Mencela Orang Islam

Seorang Muslim dan Mukmin memiliki kedudukan istimewa di hadapan Allâh Azza wa Jalla , maka janganlah seseorang suka mencelanya, karena hal itu merupakan perbuatan kefasikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam telah mengingatkan hal ini dengan sabdanya dalam hadits di bawah ini:

عَنْ زُبَيْدٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا وَائِلٍ عَنْ الْمُرْجِئَةِ فَقَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Dari Zubaid, dia berkata: “Aku bertanya kepada Abu Wail tentang Murji’ah (satu kelompok yang berpendapat bahwa bahwa amal tidak termasuk iman, sehingga kemaksiatan tidak membahayakan iman-pen), maka dia berkata: Abdullah telah menceritakan kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Mencela seorang Muslim merupakan kefasikan, dan memeranginya merupakan kekafiran”. [HR. Al-Bukhâri, no: 48; Muslim, no: 64; dll]

Jawaban Abu Wail dengan membawakan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam di atas sebagai bantahan kepada Murji’ah, yang mereka tidak menjadikan celaan kepada seorang Muslim sebagai kefasikan, dan memeranginya sebagai kekafiran. [Lihat Syarah Shahih Bukhâri, 1/111, karya Ibnu Baththal]

Bahkan melaknat seorang Mukmin itu seperti membunuhnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ حَلَفَ بِمِلَّةٍ غَيْرِ الإِسْلاَمِ كَاذِبًا فَهُوَ كَمَا قَالَ، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ، وَلَعْنُ المُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ، وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ

 [HR. Al-Bukhâri, no. 6105, 6652]

Jangan Mencela Binatang

Tentang larangan mencela dan melaknat binatang dapat difahami dari hadits sebagai berikut:

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ بَيْنَمَا جَارِيَةٌ عَلَى نَاقَةٍ عَلَيْهَا بَعْضُ مَتَاعِ الْقَوْمِ إِذْ بَصُرَتْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَضَايَقَ بِهِمْ الْجَبَلُ فَقَالَتْ حَلْ اللَّهُمَّ الْعَنْهَا قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُصَاحِبْنَا نَاقَةٌ عَلَيْهَا لَعْنَةٌ

Dari Abu Barzah al-Aslami, dia berkata: “Ketika seorang budak wanita berada di atas seekor onta tungangan, dan di atas onta itu terdapat barang milik orang-orang lain. Ketika onta itu melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam sedangkan (jalan) gunung sempit dengan (lewatnya) mereka. Maka budak wanita itu berkata: “Yak cepatlah hai onta, ya Allâh laknatlah onta ini!” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Onta yang dilaknat tidak boleh menemani kita”. [HR. Muslim, no: 2595]

Jangan Mencela Ayam Jantan

Bahkan secara khusus terdapat larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dari mencela ayam jantan, karena ayam jantan itu berkokok untuk membangunkan manusia agar beribadah kepada Penciptanya.

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ

Dari Zaid bin Khalid, dia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Janganlah kamu mencela ayam jantan, karena ayam jantan itu membangunkan (orang) untuk shalat”. [HR. Abu Dawud, no: 5101; Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam : “karena ayam jantan itu membangunkan (orang) untuk shalat”, yaitu dengan berkokok, ayam jantan itu membangunkan orang untuk shalat malam. Sedangkan orang yang membantu melakukan ketaatan berhak dipuji, bukan dicela. Dan telah menjadi kebiasaan bahwa ayam jantan itu berkokok beriringan ketika mendekati fajar. [Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Abi Dawud, hadits no: 5101]

Jangan Mencela Angin

Demikian juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam melarang mencela angin, karena sesungguhnya angin itu berhembus dengan perintah Penciptanya, bukan atas kemauannya sendiri. Maka mencela angin berarti mencela Allâh Ta’ala. Bahkan jika seseorang melihat hembusan angin yang menakutkannya hendaklah dia berdoa dengan doa yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam sebagaimana hadits berikut ini:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَسُبُّوا الرِّيحَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا مَا تَكْرَهُونَ فَقُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيحِ وَمِنْ خَيْرِ مَا فِيهَا وَمِنْ خَيْرِ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيحِ وَمِنْ شَرِّ مَا فِيهَا وَمِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

Dari Ubayy bin Ka’b, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam , beliau bersabda, “Janganlah kamu mencela angin! Jika kamu melihat apa yang kamu tidak suka dari angin itu maka katakanlah, ‘Wahai Allâh! Kami mohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini, dan dari kebaikan yang ada pada angin ini, dan dari kebaikan yang angin ini dikirim. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan dari keburukan yang ada pada angin ini, dan dari keburukan yang angin ini dikirim”. [HR. Tirmidzi, no: 1599; Ahmad, 5/123]

Jangan Mencela Masa

Banyak hadits-hadits shahih yang melarang mencela masa. Inilah di antaranya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam , Beliau bersabda : “Janganlah kamu mencela masa, karena Allâh  adalah masa!” [HR. Muslim, no: 5- 2246]

Mencela masa dan menisbatkan kesialan kepada masa berarti menyakiti Allâh Azza wa Jalla .

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Dari Abu Hurairah  Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Allâh ‘Azza wa Jalla berfirman: “Anak Adam menyakiti-Ku, yaitu dia mencela masa, sedangkan Aku adalah masa, yaitu segala urusan ditangan-Ku, Aku membalikkan malam dan siang”. [HR. Al-Bukhâri, no: 4826; Muslim, no: 2246]

Jangan Mencela Demam

Jika orang diuji dengan penyakit, sering dia tidak bersabar, bahkan berkeluh kesah atau mencela penyakit yang dia derita. Padahal semua yang dialami seorang Mukmin itu baik baginya, jika dia menyikapinya seperti yang dituntunkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam. Contohnya adalah penyakit demam, ini akan membersihkan seorang Mukmin dari dosa-dosanya.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ أَوْ أُمِّ الْمُسَيَّبِ فَقَالَ مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ تُزَفْزِفِينَ قَالَتْ الْحُمَّى لَا بَارَكَ اللَّهُ فِيهَا فَقَالَ لَا تَسُبِّي الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

Dari Jabir bin Abdullâh, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam menemui Ummu Sâib atau Ummul Musayyab, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam  bersabda: “Kenapa engkau wahai Ummu Sâib”, atau ”Wahai Ummul Musayyab engkau gemetar”. Dia menjawab: “Demam, semoga Allâh tidak memberkahinya”. Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Janganlah engkau mencela demam, sesungguhnya demam itu akan menghilangkan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api pandai besi membersihkan kotoran besi”. [HR. Muslim, no: 2575]

Banyak Laknat, Bukan Sifat Seorang Mukmin

Banyak melaknat bukanlah perangai seorang Mukmin, maka jika seseorang biasa mencela dan melaknat, dia harus menjauhkan dirinya dari sifat tersebut. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang Mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” [HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain]

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

لَا يَنْبَغِي لِصِدِّيقٍ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak sepatutnya bagi seorang shiddîq menjadi pelaknat.” [HR. Muslim, no. 2597]

Juga diriwayatkan dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ، يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafa’at dan tidak pula syuhada pada hari kiamat.” [HR. Muslim, no. 2598]

Inilah ajaran Islam yang agung dan mulia, maka hendaklah kita bersemangat mengamalkannya. Hanya kepada Allâh Azza wa Jalla kita memohon pertolongan.

Barakallahu fiikum..