Tadabbur Al-Quran Hal. 460 ---------------------------------------------- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ - Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Az-Zumar ayat 17 : وَالَّذِيْنَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوْتَ اَنْ يَّعْبُدُوْهَا وَاَنَابُوْٓا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الْبُشْرٰىۚ فَبَشِّرْ عِبَادِۙ Dan orang-orang yang menjauhi tagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, - Asbabun Nuzul Az-Zumar ayat 17 : Diriwayatkan oleh Juwaibir dengan menyebutkan sanadnya yang bersumber dari Jabir bin Abdillah, bahwa sleuruh ayat "laha sab'atu abwabin" (Surat Al-Hijr: 44) datanglah seorang laki-laki Anshar menghadap kepada Nabi Saw. Dan berkata: "Ya Rasulullah, aku mempunyai tujuh hamba telah aku merdekakan seluruhnya untuk ketujuh pintu neraka". Ayat ini (Surat Az-Zumar: 17-18) turun berkenaan dengan peristiwa yang menyatakan bahwa orang tersebut telah mengikuti perunjuk Allah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Aslam, bahwa yang dimaksud dengan "alladzinajtanibut thaghut" dalam ayat ini (Surat Az-Zumar: 17) ialah Zaid bin 'Amr bin Nafil, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi di zaman jahiliyah telah mengaku bahwa "Tiada Tuhan kecuali Allah". - Tafsir Al Muyassar Az-Zumar ayat 17 : Dan orang-orang yang menolak untuk taat kepada setandan tidak menyembah selain Allah, bertaubat kepada-Nya dengan beribadah kepada-Nya seraya mengikhlaskan agama untuk-Nya, bagi mereka adalah berita gembira dalam kehidupan dunia ini dengan sanjungan yang bagus dan taufik dari Allah. Sedangkan di akhirat mereka mendapatkan ridha Allah dan kenikmatan langgeng dalam surga. Maka sampaikanlah berita gembira (wahai Nabi) kepada hamba-hamba-Ku. - Tazkiyyatun Nafs : Simā' berarti mendengarkan. Simā' merupakan Masdar (infinitif) seperti kata Niyat. Allah Swt. telah memerintahkan Simā ini di dalam Kitab-Nya, memuji para pelakunya dan mengabarkan bahwa mereka akan mendapat kabar gembira, sebagaimana firman-Nya dalam surah An-Nisā', 4: 46, dan firman-Nya dalam surah Az-Zumar, 39: 17-18. Pendengaran yang diberikan Allah Swt., dan mereka yang bisa mendengar, merupakan bukti bahwa mereka mengetahui kabar tentang diri mereka. Jika tidak, berarti mereka tidak mempunyai bukti itu, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Anfāl, 8: 23. Allah Swt. mengabarkan tentang musuh-musuh-Nya, bahwa mereka tidak mau mendengar dan menghalangi orang lain untuk mendengar, sebagaimana firman-Nya Simā' merupakan utusan iman ke hati, penyeru dan pengajarnya. Berapa banyak disebutkan di dalam Al-Quran, dalam surah Fussilat, 41:26. "Tidakkah kalian mendengar?" Simā' merupakan dasar akal dan asas iman untuk semua yang dibangun di atasnya, juga merupakan penuntun, tangan kanan dan pendampingnya. Tapi yang lebih penting lagi adalah apa jenis yang didengarkan. Hakikat Simā' merupakan peringatan bagi hati tentang makna yang didengarkan. Penggeraknya adalah pencarian, penghindaran, cinta dan kebencian, yang merupakan pendorong bagi setiap orang hingga dia berada di tempat berpijaknya. Di antara mereka ada yang mendengar dengan naluri, hasrat jiwa dan nafsunya. Tentu saja yang demikian ini sejalan dengan pembavwaannya. Di antara mereka ada yang mendengar beserta Allah Swt. dan tidak mau mendengar dengan selain Allah Swt. Yang pasti, pembicaraan tentang Simā harus dikaitkan dengan pujian dan celaan, yang berarti harus ada kejelasan tentang gambaran yang didengarkan, hakikat, sebab, pendorong. hasil, dan tujuannya. Dengan uraian di bawah ini bisa dirinci masalah Simā ini, dapat dibedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahayā, mana yang haq dan mana yang batil, mana yang terpuji dan mana yang tercela. Obyek yang didengarkan dapat dibagi menjadi tiga macam, antara lain Simā' yang dicintai dan diridai Allah Swt. Ini merupakan Simā' yang diperintahkan Allah Swt. di Kitab-Nya, yang pelakunya dipuji dan disanjung, yang berpaling darinya dicela dan dilaknat, bahkan mereka dianggap lebih sesat daripada binatang dan mereka menjadi penghuni neraka, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Mulk, 67: 10. Simā' merupakan dasar dari bangunan yang didirikan di atasnya. Ada tiga macam Simā': Simā' pengetahuan dengan indera pendengaran, Simā pemahaman dan akal, Simā' pemahaman, pemenuhan, dan penerimaan. Tiga macam ini disebutkan di dalam Al-Qur'an. Sima' pengetahuan disebutkan dalam firman Allah Swt. yang mengisahkan para jin yang beriman, yang berkata, Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, (QS A-Jinn, 72: 1-2). Ini merupakan Simấ pengetahuan yang membawa kepada iman dan pemenuhan atau jawaban. Sedangkan Simā' pemahaman adalah Simā' yang dinafikan dari orang- orang yang berpaling dan lalai, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Ar-Rūm, 30: 52. Sedangkan Simā penerimaan dan pemenuhan terdapat di dalam firman Allah Swt yang mengisahkan hamba-hamba-Nya yang beriman, yang berkata, é... Kami mendengar dan kami taat. Ini merupakan Sima penerimaan dan pemenuhan yang menghasilkan ketaatan. Yang pasti, Simā ini mencakup tiga macam Simā ini, mereka tahu apa yang didengarkan, memahami dan memenuhinya. (bnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju al Sālikina Manāzilu lyyāka Na budu wa lyyāka Nasta in, Juz 1, t.t.: 516-522). - Riyāduş Şālihin : Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, "Ketika Nabi Saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui, lalu bertanya, Kapan datangnya hari kiamat?" Namun Nabi Saw. tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata, Beliau mendengar perkataannya, akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu, dan ada pula sebagian yang berkata, Beliau tidak mendengar perkataannya.' Hingga akhirnya Nabi Saw. menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata, 'Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?' Orang itu berkata, "Aku, wahai Rasulullah!". Maka Nabi Saw. bersabda, 'Apabila sudah hilang amanah, maka tunggulah terjadinya kiamat. Orang itu bertanya, Bagaimana hilangnya amanat itu?" Nabi Saw. menjawab, Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat." (HR Al-Bukhāri). (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, juz 2, 1407 H/1987 M: 1249). - Medical Hadiš : Dari lbnu Abbās Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa dianugerahi makanan oleh Allah Swt., hendaklah ia mengucapkan, Ya Allah, berkahilah kami pada makanan ini, dan berilah kami rezeki kebaikan darinya.' Dan barangsiapa dianugerahi minuman air susu oleh Allah Swt., hendaklah ia mengucapkan, "Ya Allah, berikanlah kami keberkahan padanya dan tambahkanlah kami darinya. Sesungguhnya aku tidak mengetahui makanan dan minuman yang bermanfaat kecuali air susu." (HR Ibnu Mājah) Hadis Hasan, Sahih Al-Jāmi, no. 381. (Ilbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, t.t.: 299). - Tibbun Nabawi : Khasiat Laban (Air Susu) Meskipun air susu itu tidak seberapa jika dilihat dari aspek rasa, namun pada hakikatnya ia tersusun dari tiga elemen: keju, mentega dan air. Keju bersifat dingin dan lembab, dapat menyuplai gizi pada tubuh. Mentega memiliki sifat panas dan lembab yang seimbang, sangat cocok untuk tubuh manusia yang sehat. Air bersifat panas dan lembab, dapat membebaskan tabiat dan melembabkan tubuh. Susu yang paling baik ialah yang baru saja diperah. Kualitasnya berkurang seiring dengan perjalanan waktu. Susu yang baru saja diperah lebih minim tingkat kedinginannya dan lebih banyak tingkat kelembabannya. Bisa dipilih empat puluh hari setelah melahirkan. Yang paling baik ialah yang paling putih warnanya, baik baunya, lezat rasanya, sedikit manis, diperah dari binatang yang masih muda dan sehat, tidak terlalu gemuk dan tidak kurus, digembala di tempat yang baik. Susu yang sangat baik dapat menghasilkan darah yang baik, melembabkan badan yang kering, dapat menghilangkan was-was dan kegundahan serta berbagaí penyakit lemah semangat. Jika diminum dengan madu dapat menyembuhkan infeksi dalam, dan bila diminum dengan gula, dapat membuat kulit menjadi bagus. la dapat menjaga dari dampak karena jima', baik pula untuk orang yang batuk, tapi kurang baik bagi kesehatan gigi jika terlalu banyak meminumnya. Karena itu, sesudah meminumnya harus berkumur dengan air. Disebutkan di dalam Şahihain, bahwa Nabi Saw pernah meminum susu lalu beliau meminta air untuk digunakan berkumur, seraya bersabda, "Karena di dalamnya terkandung lemak. (lbnu' Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdu'l Ma ādifi Hadyi Khayril Tbādi, Juz 4, t.t.: 384-385). - HADIS NIAGA QS Az-Zumar, 39: 15 : Orang yang Paling Merugi Dari Abu Dzar i dia berkata bahwa dia menemui Rasulullah saat beliau dalam lindungan Ka'bah. Lalu, Rasulullah bersabda: "Mereka adalah orang yang paling rugi, demi Rabb Ka'bah. Mereka adalah orang yang paling rugi, demi Rabb Ka'bah." Aku berkata dalam hati, apa salahku? Apakah beliau melihat sesuatu yang tidak beres kepadaku? Apa salahku? Lalu, aku duduk kepadanya dan beliau berkata: "Aku tak bisa diam!" Lalu, beliau menutupiku sekehendak Allah. Maka aku berkata, "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, siapa mereka yang merugi, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Yaitu mereka yang paling banyak hartanya, kecuali yang mengatakan, 'Sepeti ini, seperti ini, dan seperti ini (maksudnya menyedekahkan hartanya)." (HR Bukhari, 6638) - AMAL NIAGA : 1. Sebagai seorang niagawan, bersedekahlah dengan sebagian harta Anda dan berlindunglah kepada Allah dari kejahatan fitnah harta. 2. Infakkanlah sebagian harta Anda dengan selalu mengingat bahwa Anda hanyalah wakil Allah yang diminta Allah untuk mengurus harta tersebut. 3. Periksalah kembali zakat harta Anda dan keluarkanlah sedekah. - Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 11-21 : Ayat 11-21 menjelaskan bahwa Rasulullah saw. diperintahkan Allah menyembah-Nya, ikhlas menjalankan agama-Nya menjadi muslim pertama dan takut azab akhirat jika durhaka Allah. Yang paling merugi ialah orang dan kelurganya di akhirat diazab dalam neraka yang apinya berlapis-lapis dari atas dan dari bawah. Itulah yang Allah peringatkan hamba-Nya. Sebab itu, manusia harus bertakwa pada-Nya dan tidak menyembah thaghut dan kembali kepada-Nya. Bagi mereka yang mau mendengarkan, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an merekalah yang diberi Allah petunjuk-Nya dan merekalah orang-orang yang sehat akalnya. Rasul saw. tidak akan mampu menyelamatkan orang yang sudah pasti menjadi penghuni neraka. Orang yang bertakwa pada Allah akan mendapatkan rumah bertingkat di surga dan di bawahnya mengalir berbagai sungai. Itu adalah janji Allah yang pasti. Maka perhatikanlah bagaimana Allah menurunkan air dari langit dan mengalirkannya menjadi mata air di bumi dan proses berbagai tumbuhan. Semua itu bukti kekuasaan Allah bagi yang berakal sehat.
Sebaik-baik manusia ialah mereka yang hidup di zamanku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelahnya lagi…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Senin, 15 Juni 2026
Tadabbur Al Quran hal. 460
Langganan:
Postingan (Atom)