بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Selasa, 05 Mei 2026

Tadabbur Al Quran hal. 455

Tadabbur Al-Quran Hal. 455
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Sad ayat 34 :

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمٰنَ وَاَلْقَيْنَا عَلٰى كُرْسِيِّهٖ جَسَدًا ثُمَّ اَنَابَ

Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat. [753]

- [753] Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ujian ini ialah kacaunya kerajaan Nabi Sualiman sehingga orang lain menduduki singgasana beliau.

- Tafsir Al Muyassar Sad ayat 34 :

Dan sungguh Kami menguji Sulaiman dan Kami menjatuhkan separuh tubuh anaknya di atas singgasananya. Anak ini lahir setelah Sulaiman bersumpah akan menggilir istri-istrinya, masing-masing dari mereka melahirkan seorang penunggang kuda handal yang berjihad di jalan Allah, namun dia tidak mengucapkan: Insya Allah, lalu Sualiman pun melakukan sumpahnya dengan menggilir seluruh istrinya, dan tidak seorang pun dari mereka yang mengandung kecuali seorang istri yang akhirnya hanya melahirkan separuh jasad bayi.

- Tazkiyyatun Nafs :

Menyimak Al-Quran artinya memusatkan perhatian hati kepada makna-maknanya, memusatkan pikiran untuk mengamati dan memikirkannya. Inilah maksud diturunkannya Al-Quran, dan bukan sekadar membacanya tanpa pemahaman, pendalaman dan perhatian. Firman-Nya, <Kitab (A-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran (0S Şād, 38: 29). Al-Hasan berkata, "Al-Quran diturunkan agar diperhatikan dan diamalkan. Maka amalkanlah apa yang kalian baca." Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba di dunia dan di akhirat serta yang lebih dekat dengan keselamatannya selain dari mendalami dan menmperhatikan Al-Qur'an serta memikirkan makna ayat-ayatnya, karena makna-makna ini akan menunjukkan tanda-tanda kebaikan dan keburukan dengan segala hiasannya, menunjukkan jalan, sebab dan buah kebaikan dan keburukan, menyodorkan kunci-kunci simpanan kebahagiaan dan ilmu yang bermanfaat, meneguhkan sendi-sendi keimanan di dalam hati, mengokohkan bangunannya, memperlihatkan gambaran dunia dan akhirat, surga dan neraka, memperlihatkan keadaan berbagai umat, keadilan Allah Swt. dan karunia-Nya, Zat, sifat, Asmā (nama-nama) dan perbuatan-Nya, apa yang dicintai dan dibenci-Nya, menunjukkan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, penghambat-penghambat jalan dan ujiannya, memperlihatkan tingkatan-tingkatan orang yang berbahagia, menderita serta macam-macam manusia dan golongannya. Secara umum makna-makna Al-Quran ini memperkenalkan Allah Swt. yang diserukan-Nya dan jalan yang menghantarkan kepada-Nya. Kebalikan dari hal-hal di atas, makna-makna AI-Quran juga menunjukkan apa yang diserukan setan, jalan yang menghantarkan kepadanya, dan akibat yang bakal diterima orang yang memenuhi seruan ini, berupa kehinaan dan siksaan setelah dia sampai kepadanya. Inilah berbagai perkara yang perlu diperhatikan hamba, agar dia bisa mengetahui akhirat seakan-akan dia berada di sana dan tidak lagi berada di dunia ini dan bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil dalam perkara-perkara yang diperselisihkan, sehingga yang haq benar-benar haq dan yang batil benar-benar batil, membernya cahaya untuk membedakan petunjuk dan kesesatan, jalan lurus dan jalan menyimpang, memberikan kekuatan di dalam hati kehidupan, kelapangan dan kegembiraan. Makna-makna Al-Quran berkisar pada masalah tauhid dan penjelasan-penjelasannya, ilmu tentang Allah Swt. dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, sifat-sifat kekurangan yang dijauhkan dari-Nya, pengenalan hak-hak hamba dan hak-hak yang mengutus mereka, iman kepada malaikat yang merupakan utusan Allah Swt. dalam menangani urusan alam atas dan alam bavwah. khususnya segala urusan manusia, apabyang telah disiapkan Allah Swt. bagi musuh-musuh-Nya, berupa kampung siksaan yang di dalamnya sama sekali tidak ada kegembiraaan dan kesenangan, rincian perintah dan larangan, syariat dan qadar, halal dan haram, nasihat dan peringatan, kisah-kisah dan pemisalan, sebab-sebab, hukum, prinsip, tujuan dan lain sebagainya. (Ibnu'l Qayyim A-Jauziyyah, Madāriju As-Sālikina Manāzilu lyyāka Na'budu wa lyyāka Nasta in. Juz 1, t.t.: 485-487).

- Riyāduş Şālihin :

Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid untuk membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah Swt. akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya." (HR Muslim).

Hadiš tersebut mengandung beberapa faedah antara lain:
(a) Dianjurkan berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Al Quran, karena hal itu menyebabkan datangnya ketenangan, turunnya rahmat, dan kehadiran para Malaikat As., serta Allah Swt. meridai mereka dan akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya karena perbuatan mereka yang mulia itu.
(Dr. Mustafa Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 761-762 ).

- Medical Hadis :

Dari lbnu Umar Ra., ia berkata, "Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Saw., dihidangkanlah kurma yang sudah kering. Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya di antara pohon-pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya, dan itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim. Ceritakan kepadaku pohon apakah itu? Maka orang-orang menganggapnya sebagai pohon-pohon yang ada di lembah, sedangkan menurut perkiraanku bahwa itu pohon kurma. Maka aku hendak mengatakannya, lalu aku melihat kepada orang-orang yang hadir, ternyata aku yang paling muda usianya sehingga aku diam. Maka Rasulullah Saw. pun menjawab, Dia adalah pohon kurma. Kemudian aku ceritakan hal itu kepada bapakku (Umar), Maka ia berkata, "Aku lebih suka bila engkau ungkapkan saat itu daripada begini dan begini." (HR A-Bukhāri dan Muslim). (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-Tibbu An-Nabawi, t.t.: 310).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat Nakhl (Pohon Kurma)

Nakhl (pohon kurma) disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur'an. Pada hadis di atas terkandung makna bahwa orang yang pandai mengajukan pertanyaan kepada para sahabatnya, untuk menguji dan mengecek pengetahuan mereka. Di dalamnya juga terkandung pemisalan dan perumpamaan. Di dalamnya juga terkandung makna rasa malu sahabat di hadapan orang-orang yang lebih tua sehingga harus membuatnya menahan perkataan yang hendak diucapkannya. Di dalamnya juga terkandung kesenangan seorang ayah atas kebenaran pengetahuan anaknya. Di dalamnya juga terkandung pelajaran, hendaknya seseorang tetap menjawab sebuah pertanyaan yang diketahui jawabannya, meskipun dia lebih muda. Di dalamnya juga terkandung perumpamaan orang muslim seperti pohon kurma, yang banyak manfaatnya, rindang dan baik buahnya, serta senantiasa tumbuh. Tentang manfaat buahnya sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Pohon kurma pula yang menangis di dekat Rasulullah Saw., ketika beliau hendak meninggalkannya, karena ia akan dirundung rindu kepada beliau. Pohon itu juga mendengar perkataan beliau. Ketika Maryam melahirkan putranya, Isa As., pohon ini pula yang mengayominya dan buahnya menjadi makanannya. (Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdu'l Ma adi f Hadyi Khayril 1bādi, Juz 4, t.t.: 397-398)

- Hadis Motivasi QS 38: 31 :

Dari Abu Hurairah dia berkata. Rasulullah bersabda: "Barang siapa ditawarkan kepadanya wewangian maka Janganlah menolaknya karena sesungguhnya wangian-wangian ingan bebannya dan harum baunya." (HR Muslim. 2253)

- HADIS NIAGA QS Sad, 38: 34 :

Musibah Merupakan Tanda Cinta Allah kepada Hamba

Dari Anas bin Malik Rasulullah bersabda: "ika Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan kepadanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang dia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari Kiamat kelak." Lalu, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya, besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya. jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan memberikan cobaan kepada mereka. Siapa yang ridha (terhadap cobaan itu) maka baginya keridhaan dari-Nya. Siapa yang murka (terhadap cobaan itu) maka baginya kemurkaan dariNya." (HR Tirmizi, 2396)

- AMAL NIAGA :

1. Bersabarlah dalam menghadapi musibah karena hal itu merupakan cara Allah untuk membersihkan dosa-dosa Anda. 2.Hendaklah berprasangka baik atas musibah dalam bisnis Anda, karena hal itu merupakan bentuk kecintaan Allah kepada Anda.
3. Sebagai seorang mukmin, hendaklah Anda ridha atas musibah yang menimpa Anda serta tidak berputus asa dan murka karenanya.

- Tadabbur Surah Shad Ayat 27-42 :

Menciptakan langit, bumi dan apa saja yang adi antara keduanya sia-sia. Hal tersebut hanya dugaan kaum kafir saja. Mereka celaka karena akan masuk neraka. Allah tidak memperlakukan sama antara orang beriman dan beramal saleh dan yang merusak di muka bumi, atau antara orang yang bertakwa dan pendosa. Untuk itulah, Allah turunkan Al-Qur’an yang penuh berkah agar ditadabburkan isinya dan pelajaran bagi orang-orang berakal.  

Ayat 30-40 menjelaskan, Allah menjadikan Sulaiman pewaris Daud. Allah berikan padanya kerajaan yang sangat kuat dan lengkap seperti yang dijelaskan dalam surat An-Naml ayat 15-44. Sebagai manusia, Sulaiman pernah dilalaikan oleh kuda-kudanya yang indah dan kuat sehingga ia salat asar mendekati maghrib. Lalu ia bertaubat pada Allah. Allahpun ganti dengan  angin yang lebih baik dan lebih cepat. Di akhirat nanti, ia mendapat kedudukan yang dekat di sisi Allah. 

Ayat 41 dan 42 menjelaskan Nabi Ayyub sakit keras akibat gangguan setan. Lalu Allah menyuruhnya menghentakkan kakinya ke bumi sehigga keluar mata air dingin untuk ia mandi  dan minum. Maka penyakitnya pun sembuh.