Tadabbur Al-Quran Hal. 471 | @kitabulsalaf
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Gafir ayat 35 :
ۨالَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْۗ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ وَعِنْدَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
(yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Sangat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang.
- Riyadus Salihin Gafir ayat 35 :
Dari Abdullah bin Mas'ud Ra., dari Nabi Saw,, beliau bersabda, Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat bji sawi, Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya laki-laki menyukal apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?" Beliau menjawab, Sesunggutnya Allah Swt itu bagus, menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia" iHR Muslim, An-Nawawi, Riyādus Salihin, No, 612. 2010 M 197).
- Mu'jam Gafir ayat 35 :
مَقْتًا
Makna Al-Magtu ialah kebencian yang sa ngat besar terhadap orang yang melakukan kejelekan. Seperti diungkapkan dalam Firman-nya, Wals tankih mã nakaha aba'ukurm mian nisa a mi gad salafa innatü kana fahisyatan wa maqtan wa sa'a sabilane (Den janganlah karnu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kekejian pada masa yang telah lampau. Sungguh, perbuatan itu Sangat keji dan dibenci (oleh Aluh) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh), (0S An-Nisā. 4 22) (Ar-Rägitb Al-Asfatäni, Mujanu Mufradáti Aitazi ALQur'ani, 1431 H/2010 M: 356)
- Tazkiyyatun Nafs :
Penentangan terhadap Islam bersumber dari kesombongan orang-orang yang menganggap dirinya lebih berilmu, sebagaimana Allah Swt. berfirman, Maka ketika para rasul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka merasa senang dengan ilmu yang ada pada mereka. (0S Gāfir, 40: 83). inilah keadaan orang-orang yang bodoh lagi zalim karena apabila mempunyai sedikit ilmu, mereka merasa lebih istimewa daripada orang yang lebih bodoh dari mereka, dan dengan ilmu itu mereka merasa berhasil mendapat popularitas dan harta benda. Maka, apabila datang kepada mereka orang yang lebih berilmu dari mereka, mereka menentangnya dengan ilmu yang ada pada mereka dan mencela ilmu orang itu dengan berbagai macam celaan. Allah Swt. berfirman, .Demikianlah Allah Swt.
membiarkan sesat orang yang melampau batas dan ragu-ragu, (yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah Swt. tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Sangat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah Swt. dan orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah Swt. mengunci hati setiap orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang. (QS Gāfir, 40: 34-35) dan firman-Nya, <Sesungguhnya, orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai.... (QS Gāfir, 40: 56) dan firman-Nya, .dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran... (QS Gāfir, 40: 5). Dan firman-Nya, Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan; tetapi orang yang kafir membantah dengan (cara) yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak (kebenaran), dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku
dan apa yang dịperingatkan terhadap mereka sebagai olok-olokan. (QS Al-Kahf, 18: 56). Dan banyak lagi ayat-ayat di dalam Al Qur'an yang menjelaskan celaan Allah Swt. terhadap orang-orang yang menentang kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dengan pikiran dan logika, serta perkataan batil sebagai bentuk kekufuran. Karena itu, barangsiapa menentang wahyu dengan pikiran-pikiran seseorang, maka perkataannya itu sebagai bentuk dari perkataan-perkataan orang-orang yang sesat tersebut. Malik berkata, Apakah setiap kali datang kepada kita seseorang yang lebih kuat perbantahannya dari orang lain, lalu kita akan mengabaikan wahyu yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Saw. karena perbantahan orang itu?" Orang-orang yang mengetahui prinsip-prinsip mereka yang menentang dan sumber-sumbernya, tentu akan jelas baginya bahwa penentangan itu timbul dari dua prinsip. Pertama, kesombongan yang menolak kebenaran. Kedua, hawa nafsu yang membutakan akal dan berbagai syubhat yang menimpanya bagaikan malam yang gelap qulita. Maka karena sifat inilah mereka menentang para nabi dengan akalnya dan akal orang yang berbaik sangka terhadap mereka. Selanjutnya, berbagai syubhat itu masuk pada hati suatu kaum yang mempunyai agama, keimanan, dan kebaikan, namun mereka tidak berdaya menolaknya. Karena itu, berbagai syubhat tersebut dijadikan agama oleh kaum tersebut, dan mereka menyangka bahwa hal itu sebagai pembenaran terhadap apa yang dibawa oleh Rasul-Nya. Maka, mereka berperang atas nama berbagai syubhat itu dan menghalalkan darah orang yang menentang mereka dalam hal itu. Mereka itu berada di antara orang jahil pengekor atau mujtahid berniat lurus namun keliru, dengan orang yang zalim lagi melampaui batas juga fanatik. (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, As-Sawā iqu'l Mursalatu, Juz 3, 1418 H/1998 M: 901-903).
- Riyāduş Şālihin :
Dari Abdullah bin Mas'ūd Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi." Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah Swt. itu bagus, menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR Muslim). Hadis di atas mengandung beberapa faedah di antaranya:
(a) Keharaman bersikap sombong. Orang yang sombong tidak akan masuk surga jika kesombongannya itu menolak keimanan. Namun, jika derajat kesombongannya di bawah itu ia tidak akan masuk surga di permulaan.
(b) Dibolehkan memperbagus penampilan selama bukan karena kesombongan.
(Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 520).
- Medical Hadis :
Dari Anas bin Mälik Ra., ia berkata, "Rasulullah Savw. seringkali meminyaki kepala, menyisir janggut, dan seringkali memakai sorban kepala, sehingga seakan-akan pakaian beliau seperti penuh minyak." (HR At-Tirmizi) (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, t.t.: 236-237.
- Tibbun Nabawi :
Khasiat Duhn (minyak)
Duhn dapat melindungi pori-pori badan dan mencegah apa yang terlepas darinya. Apabila digunakan dengan air panas setelah mandi dapat memperbagus tubuh dan mengeringkannya dan jika digunakan untuk rambut, dapat memperbagus dan menyuburkannya. Selain itu, berkhasiat pula untuk mengobati penyakit campak dan mencegah penyakit pes. Duhn digunakan untuk daerah yang panas, seperti Hijaz dan lain-lain, termasuk sarana yang baik untuk menjaga kesehatan badan dan memperbaikinya dan bahkan dapat dikatakan urgen bagi mereka, sedangkan penduduk daerah yang bersuhu dingin tidak membutuhkannya. Bahkan bagi mereka rambut yang sering diminyaki dapat menimbulkan dampak negatif pada mata. Adapun bahan minyak rambut yang paling sederhana ialah terbuat dari minyak, mentega, dan minyak wijen. (Ibnu'l Qayyim AlJauziyyah, Zädu'l Ma adi fi Hadyi Khayri bādi, Juz 4, t.t.: 308).
- Hadis Motivasi QS 40: 34 :
Dari Abu Hurairah beliau bersabda: "Seorang laki-laki telah melampaui batas atas dirinya. Tatkala hendak meninggal, dia berwasiat kepada anaknya seraya berkata. 'Apabila aku mati maka bakarlah aku lalu buanglah aku dan buanglah sebagiannya di laut. Demi Allah. jika Rabb-ku berkehendak. pasti Dia akan menyiksaku dengan suatu siksoan yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun." Perawi berkata, "Lalu mereka melakukan wasiat tersebut. Kemudian Allah berfirman kepada bumi: Tunaikan apa yang telah kamu ambil. Lalu, dia pun berdiri. Setelah itu, Allah bertanya kepada orang tersebut: Mengapa kamu melakukan hal tersebut?" dari Rasulullah wahai Rabb-ku.' Karena hal itu. Allah mengampuninya." (HR Muslim. 2756) Dia menjawab, 'Karena takut kepada-Mu.
- HADIS NIAGA QS Gāfir, 40: 39 :
Waspada dari Gemerlap Kehidupan Dunia
Dari Abu Sa'id Al-Khudri , dia mengatakan bahwa Rasulullah berdiri untuk berkhutbah di hadapan orang-orang lalu bersabda: "Demi Allah, tidak ada yang aku khawatirkan terhadap kalian, wahai umat manusia, kecuali terhadap yang telah dikeluarkan oleh Allah untuk kalian berupa keindahan dunia." Lalu, seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kebaikan akan mendatangkan keburukan?" Kemudian, Rasulullah diam sejenak lalu berkata: "Apa yang engkau katakən?" Laki-laki itu berkata, "Aku bertanya, 'Apakah kebaikan akan mendatangkan keburukan?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya, kebaikan tidak akan mendatangkan sesuatu, kecuali kebaikan yang serupa ..." (HR Muslim, 1052)
- AMAL NIAGA :
1. Perniagaan Anda dapat menghasilkan kemewahan dunia. Saat kemewahan dunia ada di hadapan Anda, berhati-hatilah dari pengaruh buruk dan fitnahnya.
2. Selama menikmati kelezatan dunia yang diperbolehkan, mohonlah kepada Allah agar hati Anda tidak bergantung kepadanya,
- Tadabbur Surah Al-Mukmin Ayat 34-40 :
Ayat 34-40 meneruskan kisah lelaki mukmin dari keluarga Fir’aun. Ia menjelaskan: Sebelum Musa sudah ada Nabi Yusuf dengan berbagai bukti kebenaran dari Allah. Namun kalian meragukan kerasulannya. Setelah ia mati, kalian menduga Allah tidak akan mengutus lagi seorang Rasul kepada Kalian. Orang-orang yang melawan kebenaran wahyu yang datang dari Allah dan ragu-ragu padanya menyebabkan Allah tidak memberi mereka petunjuk. Allah sangat murka dan juga kaum mukmin terhadap mereka yang membantah wahyu Allah tanpa dasar ilmu. Mereka adalah orang-orang yang sombong dan sewenang-wenang membunuh atau menyengsarakan manusia. Allah menutup hati mereka yang sombong dan berbuat sewenang-wenang itu.
Sambil menghina Musa dan memperlihatkan kesobongannya, Fir’aun berkata kepada Haman, menterinya: Bangunkan saya istana yang tinggi agar saya bisa melihat Tuhan Musa (Allah). Ucapan ini tentulah ucapan kesombongan belaka dengan tujuan menghina Musa di hadapan kaumnya. Ucapan tersebut juga memperlihatkan kebodohannya, karena mustahil Haman mampu membangun istana sampai ke langit. Lebih mustahil lagi keinginannya melihat Allah. Begitulah cara Fir'aun membohongi rakyatnya dengan membalikkan fakta sambil berkata: Saya yakin Musa itu pembohong. Perilaku Fir’aun yang buruk itu menyebabkan cara pandangnya menjadi terbalik dan terhalang dari pandangan yang lurus.
Lelaki mukmin itu dengan berani berkata: Wahai kaumku. Ikuti aku, jangan dengarkan kebohongan Fir’aun itu. Aku akan tunjukkan kalian ke jalan yang benar. Ingatlah, kehidupan dunia ini hanya kesenangan sementara. Sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Siapa yang mengerjakan keburukan maka dibalas dengan balasan yang setimpal. Sebaliknya, siapa yang mengerjakan amal saleh dari laki-laki dan perempuan sedangkan ia beriman kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, maka mereka akan masuk surga dan di dalamnya diberi rezeki tanpa batas.