بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kamis, 19 Oktober 2023

Mengobati Penyakit Futur

One Day One Hadits (285)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Mengobati Penyakit Futur

عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَيَحْيَى بْنُ جَعْدَةَ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ الرَّسُولِ قَالَ ذَكَرُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَوْلاَةً لِبَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ إِنَّهَا قَامَتِ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ. قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَكِنِّى أَنَا أَنَامُ وَأُصَلِّى وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ فَمَنِ اقْتَدَى بِى فَهُوَ مِنِّى وَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ثُمَّ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى بِدْعَةٍ فَقَدْ ضَلَّ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ فَقَدِ اهْتَدَى »

Dari Mujahid, ia berkata, aku dan Yahya bin Ja’dah pernah menemui salah seorang Anshor yang merupakan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, para sahabat Rasul membicarakan bekas budak milik Bani ‘Abdul Muthollib. Ia berkata bahwa ia biasa shalat malam (tanpa tidur) dan biasa berpuasa (setiap hari tanpa ada waktu luang untuk tidak puasa). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Akan tetapi aku tidur dan aku shalat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohiku, maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku, maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad 5: 409).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1. Secara bahasa Futur berarti putusnya kegiatan setelah kontinyu bergerak. Juga dapat berarti dalam diam setelah bergerak. Atau : malas, lamban dan santai setelah sungguh-sungguh. Penyakit futur ini menimpa orang-orang yang telah bergerak. Ia tidak menimpa orang yang tidak atau belum bergerak.

2. Riwayat di atas menunjukkan bahwa setiap orang akan semangat dalam sesuatu, dan waktu ia kendor semangatnya. Dan di antara sebab mudah futur (malas dalam ibadah) adalah karena terlalu berlebihan dalam suatu amalan. Sehingga sikap yang bagus adalah pertengahan dalam amalan atau belajar, tidak meremehkan dan tidak berlebihan.

3. Untuk mengobati penyakit futur ini, beberapa ulama memberikan beberapa resep.
a. Jauh dari kemaksiatan.
b. Tekun mengamalkan amalan siang dan malam.
c. Mengagendakan amalan yang ia kerjakan.
d. Menjauhi hal-hal yang berlebihan.
Berlebihan dalam kebaikan bukan merupakan tindakan bijaksana. Apalagi berlebihan
dalam keburukan
e. Melazimi Jamaah
“ Jamaah itu rahmat. Sehingga terhindarlah ia dari kebosanan dan kerutinan".
f. Mengenal kendala yang akan menghadang.
g. Memilih teman yang shalih
h. Menghibur diri dengan hal yang mubah.
i. Mengingat mati, syurga dan neraka
k. Muhasabah (menghisab) diri.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:

1. Jauh dari kemaksiatan

 وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي ۖ وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَىٰ

“Dan janganlah kamu melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan –Ku menimpamu. Dan barang siapa di timpa musibah oleh kemurkaan-Ku, makabinasalah ia”. (QS. Toha;81)

2. Tekun mengamalkan amalan siang dan malam.

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

Dan orang-orang yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri untuk Robb mereka”. (QS. Al-Furqon:64).

3. Menjauhi hal-hal yang berlebihan.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ 

Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu !
(QS. At-Taghobun:16)

4. Mengenal kendala yang akan menghadang

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ 

Dan beberapa banyak Nabi yang berpernag bersama mereka sebagian besar karena bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak pula lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang orang yang sabar. (QS. Ali- Imran :146).

Senin, 16 Oktober 2023

SIFAT-SIFAT TERCELA

Tematik (172)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
 
SIFAT-SIFAT TERCELA

Al-Ustadz Abu Hafy Abdullah حفظه الله تعالى

Di antara surat yang agung nan mulia dan sering diperdengarkan oleh para imam adalah surat Al-Ma'un. Dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى menerangkan tentang beberapa sifat tercela yang merupakan ciri orang yang mendustakan adanya hari pembalasan. Selain itu juga memuat keterangan tentang ancaman bagi orang-orang yang melalaikan shalatnya.

Surat Al-Ma'un merupakan salah satu surat Makkiyah (diturunkan sebelum hijrahnya Nabi ke Madinah). Surat yang terdiri dari tujuh ayat ini seluruhnya mengatur tentang pelaksanaan hubungan vertikal seseorang dengan Rabbnya dan hubungan horizontal dengan sesamanya. Allah berfirman 

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١)

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan?" 
[Q.S. Al-Ma'un: 1]

Di awal ayat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tentang salah satu kewajiban yang telah dilalaikan oleh kebanyakan manusia. Yaitu
kewajiban untuk memercayai adanya hari pembalasan. Allah menyatakan kepada Rasul-Nya, “Tidakkah engkau saksikan wahai Muhammad, orang-orang yang mendustakan hari pembalasan ?” Meskipun yang diajak bicara dalam ayat ini adalah Rasulullah ﷺ, namun sasarannya adalah umum bagi seluruh umatnya. 

Allah سبحانه وتعالى mengingatkan kita mengenai orang yang mendustakan hari pembalasan. Mengingkari terhadap hari pembalasan adalah perbuatan kufur sebagaimana Allah sebutkan dengan tegas dalam firman-Nya yang artinya, "Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan pernah dibangkitkan.

Katakanlah, 'Tidak demikian. Demi Rabbku benar-benar kamu akan dibangkitkan. Kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”' 
[Q.S. At-Taghabun: 7]

Kemudian pada ayat berikutnya akan diterangkan bagaimana kriteria orang-orang yang mendustakan hari pembasalan ini. Allah berfirman: 

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢)

“Itulah orang yang menghardik anak yatim.”

Sifat yang pertama adalah tidak adanya belas kasih terhadap anak yatim. Padahal statusnya sebagai anak yatim menjadikannya sangat pantas dan layak untuk mendapatkan kasih sayang dan uluran tangan dari sesama manusia. Betapa tidak, anak yatim adalah seseorang yang ditinggal mati ayahnya dalam keadaan belum mencapai usia baligh.

Anak kecil yang kehilangan figur seorang ayah yang selama ini mencarikan nafkah dan memberikan perlindungan untuknya. Namun orang ini justru menghardik anak yatim, menzalimi haknya, tidak memberikan makanan kepadanya, dan berbagai perbuatan tercela yang lainnya. Jikalau terhadap anak yatim saja dia tidak menaruh belas kasihan lalu bagaimana dengan yang lainnya. 

Ini menjadi tanda yang menunjukkan bahwa qalbunya telah mati sehingga tidak punya keinginan untuk meraih pahala dengan berbuat baik kepada anak yatim. Di sisi lain ia juga tidak merasa takut kepada hukuman Alah سبحانه وتعالى terhadap orang yang berbuat zalim kepada anak yatim. Sementara begitu banyak nash dalam Al-Ouran dan hadits yang memerintahkan supaya berbuat baik kepada anak-anak yatim. 

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣) 

“Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin."

Kemudian sifat yang kedua adalah tidak memberikan dorongan kepada orang lain supaya memberi makan kepada orang miskin. Kalau memberi dorongan saja tidak, terlebih lagi memberikan bantuan makanan kepada mereka. Sebagaimana kondisi anak yatim, seorang hamba yang miskin juga sangat layak untuk mendapatkan bantuan dan kasih sayang. 

Sebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa orang miskin adalah seseorang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan seutuhnya. Kedua sifat tercela di atas juga Allah sebutkan secara beruntun dalam firman-Nya yang artinya, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim dan tidak saling mengajak supaya memberi makan orang miskin." 
(Q.S. Al-Fajr: 17-18).

Salah satu tema penting yang dibahas dalam ayat ini adalah ancaman bagi orang-orang yang lalai dari shalatnya. Allah سبحانه وتعالى menyatakan:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (٥) 

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya."

Para ulama ahli tafsir telah menerangkan bahwa kelalaian yang dimaksud dalam ayat ini adalah sebagai berikut:
   
1. Melalaikan shalat dengan meninggalkan sebagian pelaksanaan shalat sebagaimana dilakukan oleh orang-orang munafik. Tatkala mereka berada bersama kaum muslimin, mereka pun melaksanakan shalat. Namun ketika sendirian mereka tidak melaksanakannya sama sekali. Inilah pendapat yang dipilih oleh Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما dan yang lainnya. 

2. Melalaikan shalat dengan tidak melaksanakannya pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat. Sehingga mereka melaksanakan shalat ketika waktu shalat telah berlalu secara keseluruhan. Demikian dijelaskan oleh Masruq dan Abu Adh-Dhuha. Oleh karenanya Atha' bin Dinar رحمه الله mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah berfirman, 'orang-orang yang lalai dari shalatnya' dan tidak mengatakan, 'orang-orang yang lalai dalam shalatnya.” 

Lalai dari shalat adalah sesuatu yang tercela sebagaimana jenis yang kedua ini. Adapun lalai dalam shalat artinya lupa gerakan shalatnya, jumlah rakaatnya atau yang lainnya dari rukun atau kewajiban shalat. Bahkan Nabi ﷺ pernah lupa dalam shalatnya sehingga beliau sujud sahwi untuk menggantikan kekurangan tersebut. Padahal beliau adalah orang yang paling khusyuk dalam melaksanakan shalat. 

3. Melalaikan shalat dengan tidak melaksanakannya di awal waktu. Namun ia sering, bahkan selalu 
menangguhkan pelaksanaan shalatnya di akhir waktu. 

4. Melalaikan shalat dengan tidak melaksanakan rukun-rukun dan syarat-syarat shalat sesuai yang dituntunkan oleh Nabi ﷺ. 

5. Melalaikan shalat dengan tidak menghadirkan kekhusyukan dalam shalat dan tidak menghayati bacaan shalatnya. 

Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam 
tafsirnya setelah menyampaikan 
tafsiran di atas, “Lafazh ayat tersebut mencakup seluruh tafsir yang telah disebutkan di atas. Sehingga siapa saja yang melakukan salah satu kelalaian di atas, maka telah masuk dalam celaan ayat tersebut.

Terlebih lagi seseorang yang melakukan seluruh kelalaian di atas, sungguh telah sempurna nifaq amali (kemunafikan secara lahir) yang dia lakukan. Sebagaimana telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah shalatnya orang munafik, itu adalah shalatnya orang munafik.

Dia duduk sambil menunggu terbenamnya matahari, hingga tatkala matahari telah berada di antara dua tanduk setan, dia pun bangkit lalu mengerjakan shalat empat rakaat bagaikan burung mematuk-matuk makanannya (dengan cepat). Dia tidaklah mengingat Allah dalam shalatnya melainkan hanya sedikit sekali."

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah akhir waktu shalat Ashar atau shalat wustha sebagaimana telah tersebut dalam hadits. Dan waktu tersebut merupakan waktu yang dibenci untuk mengerjakan shalat Ashar.

Dia bangkit untuk shalat di akhir waktu tersebut, lantas shalat sebagaimana seekor burung gagak mematuk makanannya. Dia tidak tuma'ninah dan tidak pula khusyuk dalam shalatnya. Oleh karenanya beliau menyatakan bahwa orang tersebut tidak berdzikir kepada Allah kecuali sangat sedikit."

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦)

“Merekalah orang yang berbuat riya'."

Allah menyifatkan mereka sebagai orang yang selalu berbuat riya dalam beribadah. Riya adalah melakukan suatu amal ibadah dengan tujuan supaya dilihat manusia. Dia bersedekah dengan tujuan supaya dikatakan sebagai orang yang dermawan. Berjihad supaya mendapat julukan sebagai pahlawan pemberani dan demikian pula dengan ibadah-ibadah yang lainnya.

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧)

"Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.''

Mereka tidak mau memberikan atau meminjamkan barang-barang yang tidak akan merugikan pemiliknya. Seperti misalnya bejana, timba, pisau dan peralatan ringan yang lainnya. Padahal saling meminjam atau memberi barang-barang seperti itu telah menjadi kebiasaan dan adat istiadat di berbagai negeri. 

Jikalau mereka enggan memberikan bantuan berupa barang-barang semacam ini, maka tentunya mereka lebih enggan lagi untuk memberikan bantuan yang lebih besar dan berharga darinya. 

Surat ini secara keseluruhan memberikan sebuah faedah yang sangat berharga bagi setiap muslim. Yaitu ia harus senantiasa memperbaiki serta menjaga hubungan dengan Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hamba-Nya. Sungguh, takwa kepada Allah tidak akan bisa dimiliki dengan mengabaikan salah satu dari keduanya. Karena kriteria orang yang bertakwa adalah senantiasa berbuat ihsan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hamba-Nya.

الله أعلم.

Jumat, 13 Oktober 2023

Tadabbur Al-Quran Hal. 341

Tadabbur Al-Quran Hal. 341
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.


- Al-Hajj ayat 77 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۚ۩

Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung.

- Tafsir Al Muyassar Al-Hajj ayat 77 :

Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, ruku'lah dan sujudlah dalam shalat kalian, sembahlah Rabb kalian semata-mata tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan berbuatlah kebajikan agar kalian beruntung.

- Tafsir bnu Kasir :

Firman Allah, { .. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.. } yaitu dengan harta, lisan dan diri-diri kalian. Sebagaimana Allah berfirman, { ...Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya... } (Qs Ali Imrān, 3: 102).

Firman Allah, { ...Dia telah memilih kamu.. } Wahai umat Islam! Dia telah memilih kalian atas seluruh umat, serta mengutamakan dan mengistimewakan kalian dengan diutusnya Rasul yang paling mulia dan syariat yang amat sempurna.

{ ..dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam  agama... } , yakni Kami tidak membebani kalian dengan sesuatu yang kalian tidak mampu serta tidak mengharuskan kalian dengan sesuatu yang memberatkan, tetapi memberikan kelapangan dan jalan keluar. Salat yang merupakan rukun Islam terbesar setelah dua kalimah syahadat, dalam keadaan mukim mesti dilaksanakan dengan empat rakaat. Tetapi ketika dalam kedaan safar (bepergian) boleh dilakukan dengan dua rakaat, dalam keadaan Khauf (situasi peperangan) - menurut sebagian para imam - dilakukan dengan satu rakaat, sambil berjalan atau berkendaraan, menghadap kiblat maupun tidak. Demikian pula salat sunat ketika sa-
far dilakukan dengan menghadap kiblat maupun tidak. Selain itu, kewajiban berdiri dalam salat dapat gugur bila terdapat uzur sakit, sehingga orang yang sakit dapat melakukannya sambil duduk, jika tidak mampu, maka dilakukan sambil berbaring. Serta keringanan-keringanan lainnya dalam seluruh ibadah fardu dan wajib. Untuk itu, Rasulullah Saw. bersabda, "Aku diutus dengan membawà agama yang lurus dan mudah."

Ketika mengutus Mu'aż dan Abu Musa ke Yaman sebagai amir, beliau bersabda, "Berilah kabar gembira, janganlah membuat mereka takut, dan mudahkanlah jangan dipersulit."

Firman Allah, { ...(kutilah) agama nenek moyangmu lbrahim... } maknanya sama dengan firman-Nya, Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama lbrahim yang lurus... (QS Al-An'ām, 6: 161).

Firman Allah, { ..Dia (Alah) telah menamai kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan (begitu pula) dalam Al Qur'an.. } Menurut Mujahid dan yang lainnya maksudnya ialah Allah telah menamai kalian orang-orang muslim sejak dahulu dalam kitab-kitab terdahulu dan di dalam Al-Qur'an. 

{ ..Maka laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.. } Maksudnya, terimalah anugerah yang sangat agung ini dengan mensyukurinya dan tunaikanlah hak Allah dengan melaksanakan apa yang Dia wajibkan, taat terhadap apa yang Dia wajibkan dan meninggalkan apa yang Dia haramkan.

Yang terpenting di antara semua itu ialah mendirikan salat dan menunaikan zakat: yaitu berbuat baik kepada sesama makhluk Allah dengan apa yang Dia wajibkan kepada orang kaya terhadap saudaranya yang fakir, yakni dengan mengeluarkan sebagian harta mereka kepada orang yang lemah dan yang membutuhkan.

Firman Allah, { ..dan berpegang teguhlah kepada Allah.. } yaitu minta tolonglah, bertawakallah dan mintalah kekuatan kepada-Nya. 

{ ..Dialah pelindungmu.. }, yaitu Pemelihara, Penolong, dan Pemberi kemenangan kepada kalian atas musuh-musuh kalian. { ... Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. } (lbnu Kašir, Tafsirul QurānilAzimi, Jilid 10, 1421 H/2000 M: 99-101).

- Riyāduş Şālihin : 

Dari lbnu Abbās Ra., Rasulullah Saw. ketika mengutus Mu'aż Ra. ke Yaman, beliau bersabda, "Sesungguhnya kamu menghadapi Suatu kaum Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah mengesakan Allah Swt. Apabila mereka mengenal Alah Swt., maka beritahukanlah bahwa Allah Swt. mewajibkan kepada mereka salat lima waktu pada siang dan malam, apabila mereka melakukannya, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah Swt. telah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari orang kaya di antara mereka lalu dibagikan kepada orang fakir di antara mereka." (HR A-Bukhāri-Muslim).

Hadiš di atas memberikan faedah tentang tahapan dakwah Islam dan istiqamah pada rukun-rukunnya sedikit demi sedikit, sehingga mereka tidak lari dikarenakan banyaknya kewajiban-kewajiban. Yang pertama kali harus diperhatikan adalah dakwah tentang tauhid, karena itu merupakan fondasi agama, dan amal apa pun tidak akan diterima sebelum ada pengakuan atas keesaan Allah Swt (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis sālihina, Juz 2, 1407 H/1987 M 858-857).

- Hadis Nabawi :

Dari lbnu 'Abbas Ra., ia mengatakan bahwa ketika Nabi Saw. mengutus Mu'aż Ra. ke negeri Yaman, beliau bersabda, "Ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaatinya, maka beritahukanlah bahwa Allah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Dan jika mereka telah menaatinya, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sadagah (zakat) dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka." (HR A Bukhari, Sahihu'l Bukhāri, Juz 1, No. Hadis 1395, 1400 H: 430).

- Hadis Qudsi :

Dari Jubair bin Nufair bin Jahhasy Al-Qurasyi bahwa pada suatu hari Rasululah Saw. meludah di telapak tangannya, lalu beliau meletakkan jarinya di atas telapak tangannya, kemudian beliau bersabda, "Allah telah berfirman, Wahai anak Adam, bagaimana kamu menganggap-Ku lemah, sedangkan Aku telah menciptakanmu dari keadaan seperti ini, lalu ketika Aku telah menjadikanmu berwujud dan kuat, engkau berjalan dengan pongahnya sambil mengenakan burdah (pakaian luar sejenis jubah). Kamu mengumpulkan harta dan menghalangi orang lain darinya hingga bila nyawamu telah sampai di dada, engkau berkata, Aku hendak bersedekah, lalu kapan waktu untuk bersedekah itu?" (HR Ahmad) (isāmuddin As-Şabābati, Jāmiu'l Ahādisi Qudsiyyati, Jilid 1, t.t: 263-264).

- Tadabbur Surah Al-Hajj Ayat 73-78 :

Ayat 73-78 menjelaskan:

1. Tuhan-tuhan yang disembah selain Allah itu tidak bisa berbuat apa-apa. Saking tidak berdayanya, sekiranya lalat merampas sesuatu dari tuhan-tuhan tersebut, mereka tidak bisa mempertahankannya. Apalagi menciptakan lalat, tentu lebih mustahil lagi 

2. Kekufuran kepada Allah itu terjadi bila manusia tidak bisa menghormati Allah dengan pas dan pantas. Padahal Allah itu Mahakuat dan Mahaperkasa.

3. Allah memilih dari malaikat menjadi utusan untuk mengurusi alam ini, termasuk manusia. Allah juga memilih dari manusia untuk menjadi rasul (utusan)-Nya untuk menyampaikan perintah dan larangan-Nya kepada sesama manusia agar mereka selamat di dunia dan akhirat. Sungguh Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat kebutuhan hamba-Nya   kepada jalan kesealamatan mereka di dunia dan di akhirat. Kepada-Nya jualah manusia akan dikembalikan.

4. Allah mengimbau kaum mukmin untuk rukuk, sujud, beribadah kepada Allah dan berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Itulah cara  mereka meraih pertolongan Allah.

5. Di antara kewajiban kaum Mukmin yang lain ialah, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar berjihad, yakni secara maksimal, dengan alasan dan tujuan yang dibolehkan Allah seperti yang dijelaskan pada ayat 39 dan 40 sebelumnya. Sungguh dipilih Allah menjadi pengikut Rasul Saw. adalah nikmat yang amat besar. 

6. Allah sama sekali tidak menjadikan dalam agama Islam itu kesempitan. Islam juga agama Ibrahim. Allah menamakan orang-orang yang menganut agama Islam itu  dengan kaum “muslimin” sejak dulu dan juga di  dalam Al-Qur’an, supaya Rasul Saw. menjadi  saksi bagi kaum Muslimin dan kaum Muslimin menjadi saksi di tengah-tengah manusia lainnya. Sebab itu, kaum muslimin wajib menegakkan salat, mebayar zakat dan berpegang teguh pada agama Allah (Islam). Dialah Pelindung kaum Mukmin. Sungguh Dia sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Selasa, 10 Oktober 2023

Ancaman Kepada Polisi di Akhir Zaman

One Day One Hadits (284)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ancaman Kepada Polisi di Akhir Zaman

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَمْزَةَ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ الْحِمْصِيُّ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ شُرَحْبِيلَ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُولُ: «سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شَرَطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ»

“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Yahya bin Hamzah ad-Dimasyqiy, telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuroih al-Himshiy, telahj menceritakan kepada kami Ismail bin ‘Ayyaasy, dari Syurohbiil bin Muslim, dari Abi Umaamah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “kelak akan datang pada akhir zaman, polisi yang pagi hari dalam kondisi dimurkai Allah dan sore harinya juga dibenci Allah, maka waspadalah untuk berteman dengan mereka”.[Bukhori, sebagaimana dalam At-Taqriib.].

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1.  Orang yang menghukum manusia dengan sewenang-wenang dan melampaui batas, digambarkan dengan cambuk yang selalu ada ditangannya, yang dia gunakan untuk menyiksa manusia siang dan malam, 

يكون في هذه الأمة في آخر الزمان رجال معهم سياط كأنها أذناب البقر، يغدون في سخط الله ويروحون في غضبه

“akan ada pada umat ini, nanti pada akhir zaman, orang-orang yang memegang cambuk seperti ekor Sapi, pagi hari dalam keadaan dibenci Allah dan sore harinya dalam keadaan dibenci-Nya”.
[Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya]

2. Hadits di atas menjelaskan tentang tercela dan terlaknatnya polisi di akhir zaman, apa sebab? Hal ini dijelaskan oleh Qadhi Iyad, beliau berkata, “Mereka dimasukkan ke dalam neraka kemungkinan karena kezaliman, penyiksaan yang mereka lakukan dan kesemena-menaan terhadap manusia dengan memukul menggunakan cemeti dan sejenisnya. Bisa juga mereka dimasukkan ke dalam neraka karena kemaksiatan yang menjerumuskan mereka ke dalam neraka, seperti kekufuran dan selainnya.” (Ikmalul Muallim Syarh Shohih Muslim 6/332)

3. Ini menjadi intropeksi bagi pihak kepolisian apakah mereka melakukan penyiksaan terhadap para tersangka dan memvonis hukuman semena-mena kepada mereka siang dan malam harinya?, jika seperti itu adanya –Wallahul Musta’aan, maka ancaman berat akan menimpanya, yakni dengan murka Allah dan tidak dimasukkan kedalam surga, jangankan masuk baunya saja dia tidak akan menciumnya –Naudzubillahi min Dzaalik-.

4. Pada dasarnya profesi sebagai polisi berpotensi menjadi sarana ketaatan kepada Allah seperti yang dilakukan oleh ‘polisi-polisi’ Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-. Namun, jika tidak berhati-hati juga berpotensi menyeret seseorang ke dalam neraka  sebagaimana ramalan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-terhadap polisi akhir zaman.

5. Jabatan atau kewenangan itu adalah amanah yang dampaknya bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, siapa saja yang mendapat tugas menjadi pejabat atau aparat, harus mampu menjadikan jabatannya sebagai sarana mendapat ridha Allah Ta’ala. Sebaliknya, jabatan akan berbahaya jika digunakan untuk merugikan masyarakat, merusak –apalagi—berdampak pada penghilangan nyawa seseorang. Sudah tidak sedikit ancaman hadits dan surat dalam al-Quran yang isinya memberi ancaman pada pejabat, aparat yang tidak amanah.

6. Semoga kita semua diampuni oleh Allah Ta’aalaa dan dimasukkan kedalam Jannah-Nya dan senantiasa berada dalam keridhoan-Nya. Amiin.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-qur'an :

- Dengan demikian maka janganlah menjadikan jabatan sebagai tujuan apalagi tuhan, karena semua yang ada di dunia ini, termasuk jabatan hanyalah semu belaka. Syeikh Ibn Atha’illah Al-Sakandari mengatakan, “Bila engkau tidak ingin tergeser (merugi) maka jangan mencintai jabatan yang tidak abadi bagimu”.

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)” (QS: Al-Taghaabun [64] : 15).

Minggu, 08 Oktober 2023

RASULULLAH TELAH MENGABARKAN PERPECAHAN UMATNYA DIAKHIR ZAMAN

Tematik (170)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
 
RASULULLAH TELAH MENGABARKAN PERPECAHAN UMATNYA DIAKHIR ZAMAN.

Perpecahan kaum muslimin dalam agama, sebagaimana yang kita saksikan pada zaman sekarang ini, telah jauh-jauh hari dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ: أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu al-jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 4597, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بني إسرائيل حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Pasti akan datang kepada umatku, sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal. Sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan, maka pasti di antara umatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan 
umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka. 
kecuali satu golongan.”

Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan yang ditempuh oleh aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dinilai hasan oleh Al-Albani.

Faidah dari hadits-hadits tentang perpecahan umat
Terdapat banyak faidah yang dapat kita ambil dari hadits-hadits tentang perpecahan umat di atas. Dalam tulisan ini, kami sarikan sebagian faidah tersebut dalam poin-poin singkat berikut ini:

* Faidah pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa satu golongan yang selamat tersebut adalah al-jama’ah.

Kalau kita memperhatikan dalil-dalil syar’i, istilah “al-jama’ah” itu kembali kepada dua makna:

Al-jama’ah dalam makna “bersatu karena berpegang teguh dengan kebenaran”. Inilah makna al-jama’ah dalam istilah “ahlus sunnah wal jama’ah”. Yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga mengikuti kesepakatan (ijma’) para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Inilah makna al-jama’ah yang diisyaratkan dalam hadits di atas, yaitu bersatu dalam kebenaran.

Artinya, al-jama’ah adalah sifat orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran, yaitu ijma’ salaf. Dengan kata lain, al-jama’ah itu tidak identik dengan kelompok, organisasi, yayasan, atau partai tertentu. Karena al-jama’ah itu adalah sifat, siapa saja yang bersifat dengan al-jama’ah, maka dia adalah al-jama’ah.

selama seseorang itu berpegang dengan ijma’ salaf, maka dia berada dalam al-jama’ah, meskipun secara kenyataan dan realita, dia seorang diri dan tidak memiliki teman. Hal ini sebagaimana kata sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

إنما الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك

“Al-jama’ah itu hanyalah yang mencocoki kebenaran, meskipun Engkau seorang diri.” (Al-hawaadits wal bida’, karya Abu Syaamah, hal. 22)

Pengertian ke dua dari al-jama’ah adalah bersatu untuk mengakui dan patuh kepada penguasa muslim, dan haram memberontak kepada penguasa (ulil amri) yang sah. Sehingga siapa saja yang berada di tengah-tengah negeri kaum muslimin, namun dia meyakini boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin yang sah, maka dia pada hakikatnya tidak berada dalam al-jama’ah meskipun secara lahiriyah dia tinggal di negeri tersebut.

Al-jama’a dengan pengertian ke dua ini, adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Ada tiga hal yang jika terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan terbebas dari al-ghill (yaitu, menghendaki kejelekan untuk orang lain atau permusuhan yang tersembunyi, pen.), yaitu (1) seseorang beramal ikhlas karena Allah Ta’ala; (2) menginginkan kebaikan (memberikan nasihat) kepada para pemimpin kaum muslimin; dan (3) komitmen dengan jamaah kaum muslimin (yaitu jamaah kaum muslimin di atas satu komando pemimpin yang sah, pen.). Karena seruan itu meliputi dari belakang mereka (maksudnya, ketika seorang pemimpin telah diangkat sebagai penguasa oleh yang berhak mengangkatnya, maka kewajiban taat mengikat semua kaum muslimin, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2658, Ibnu Majah no. 230, Ahmad 3: 225, hadits shahih)

* Faidah ke dua, hadits-hadits di atas adalah dalil bahwa umat-umat terdahulu (yaitu Yahudi dan Nasrani) sebelum umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami perpecahan.

Meskipun mereka tampak bersatu, tetapi pada hakikatnya mereka berpecah belah dalam banyak aliran, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kita tidak perlu tertipu dengan tampilan-tampilan yang mengesankan bahwa tidak ada perpecahan dalam agama mereka.

Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat orang-orang jahiliyyah, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan juga para penyembah berhala dengan Allah Ta’ala katakan,

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ؛ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 31-32)

* Faidah ke tiga, perpecahan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits ini bukanlah perpecahan karena urusan atau perkara duniawi sebagaimana persangkaan sebagian orang. Misalnya, bukan karena memperebutkan harta dan memperebutkan pangkat dan jabatan. Akan tetapi, perpecahan yang disebutkan Nabi adalah perpecahan dalam masalah (Pemahaman) agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan dalam hadits di atas,

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً

“Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga ‘millah’ (golongan).” (HR. Tirmidzi no. 2641)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut masing-masing aliran dengan istilah “millah” (agama). Hal ini menunjukkan bahwa aliran-aliran tersebut berbeda dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Sehingga perbedaan antara millah-millah (yang menyimpang) tersebut dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perbedaan jalan, perbedaan pemahaman, atau perbedaan metodologi dalam beragama.

* Faidah ke empat, hadits ini menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu banyak, sedangkan jalan_kebenaran_itu_hanya_satu_saja (tunggal, tidak berbilang). Artinya, banyak model kesesatan. Untuk menjadi orang sesat itu banyak jalannya, sehingga tinggal “memilih”.

Adapun jalan kebenaran, yaitu jalan Allah, jalan Rasul-Nya, dan jalan ini pula yang ditempuh oleh para sahabat, itu hanya satu dan tidak berbilang. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153)

Pada ayat di atas, Allah Ta’ala menggunakan kata tunggal ketika menyebutkan jalan-Nya, yaitu “shirath”. Sedangkan ketika Allah Ta’ala menyebutkan jalan kesesatan, Allah Ta’ala memakai bentuk jamak, yaitu “as-subul”. Sekali lagi, ini menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu hanya itu, itulah_jalan_Allah, sedangkan jalan kesesatan itu banyak dan berbilang.

* Faidah ke lima, sebagian orang sala paham dengan hadits di atas dengan mengatakan bahwa, “Mereka (yang mengklaim dirinya sebagai ahlus sunnah) ingin mengkapling surga sendiri.” Ini adalah salah paham dengan hadits di atas.

Hal ini karena tujuh puluh dua golongan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan sesat, mereka_itu_masih_menjadi_bagian umat_Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga berhak masuk surga, namun_mereka #terancam_dengan_neraka.

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي

“Dan umatku akan terpecah … “

Umat apa yang dimaksud? Perlu diketahui bahwa ada dua jenis umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

- Pertama adalah “umat dakwah”, yaitu semua orang yang menjadi objek sasaran dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang hidup sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasul, hingga hari kiamat. 

- Ke dua adalah “umat ijabah”, yaitu mereka yang menerima dan merespon dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi bagian dari kaum muslimin.

Pengertian “umatku” dalam hadits di atas bermakna umat ijabah. Sehingga tujuh puluh dua golongan tersebut masih termasuk dalam bagian umat Islam yang nantinya akan masuk surga, bukan orang kafir yang kekal di neraka.

Lalu, apakah mereka pasti masuk neraka? Jawabannya, belum tentu. Ancaman untuk masuk neraka ini terwujud (benar-benar terwujud) jika syarat-syarat terpenuhi dan tidak ada penghalang. Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa dalil-dalil yang berisi ancaman neraka itu akan terwujud jika syarat (kondisi) terpenuhi dan tidak ada faktor penghalang.

Orang yang meninggal dan dia berada di salah satu dari tujuh puluh dua golongan, berarti bahwa telah terpenuhi syarat (kondisi) orang tersebut untuk terkena ancaman. Namun, masih ada faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah adanya rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Kalau ternyata Allah Ta’ala mengampuni, maka tentu tidak jadi masuk neraka.

Berdasarkan penjelasan ini, maka_tidak_benar bahwa surga itu “dimonopoli” oleh ahlus sunnah wal jama’ah saja. Kecuali kalau jalan kesesatan mereka itu berada di luar tujuh dua golongan itu (alias kesesatan_yang menyebabkan_kekafiran sehingga tidak lagi termasuk dalam umat ijabah), maka mereka kekal di neraka, seperti golongan Ahmadiyyah.

* Faidah ke enam, adanya_tujuh_puluh_dua
golongan_kesesatan, sedangkan 
jalan_kebenaran_itu_hanya_satu, tidak mengharuskan bahwa jumlah orang yang berada dalam kesesatan itu lebih banyak daripada jumlah ahlus sunnah yang berada di atas kebenaran.

Sebagian orang beranggapan bahwa mayoritas umat saat ini berada di atas ‘aqidah Asy’ariyyah. Perkataan ini adalah perkataan yang tidak benar. Karena tidak ada orang yang beraqidah Asy’ariyyah, kecuali dia menekuni buku-buku atau kitab-kitab Asy’ariyyah. Sehingga yang benar, bahwa mayoritas umat sekarang adalah ahlus sunnah.

Di antara buktinya, jika dalam suatu acara akan dibacakan Al-Qur’an, maka pembawa acara akan mengatakan, “Mari kita mendengarkan sejenak firman Allah Ta’ala … “

Kalimat di atas adalah salah satu dari sekian banyak_bukti bahwa orang-orang awam kaum muslimin berada di atas aqidah ahlus sunnah. Karena jika mereka beraqidah Asy’ariyyah, tentu mereka tidak akan pernah mengucapkan kalimat itu, karena Al-Qur’an bukanlah firman Allah # menurut_aqidah_Asy’ariyyah.

Wallahu a'lam.

Sabtu, 07 Oktober 2023

Tadabbur Al-Quran Hal. 340

Tadabbur Al-Quran Hal. 340
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-Hajj ayat 70 : 

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.

- Tafsir Al Muyassar Al-Hajj ayat 70 : 

Apakah kamu tidak mengetahui, wahai Rasul, bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi dengan pengetahuan sempurna yang telah dicatat-Nya dalam al-Lauh al-Mahfuzh? Sesungguhnya pengetahuan itu adalah mudah bagi Allah yang tidak dapat dilemahkan oleh suatu pun.

- Hadis Sahih Al-Hajj ayat 70 : 

Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-As, dia berkata, "Saya pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, 'Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi Rasulullah menambahkan, Dan Arsy Allah itu berada di atas air." (HR Muslim, Sahih Muslim, Juz 4, No. Hadis 2653, 1412 H/1991 M: 2044).

- Riyāduş Şālihin :

Dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw. bersabda, "Allah Swt. tertawa terhadap dua orang yang satu membunuh yang lainnya, akan tetapi keduanya yang membunuh dan terbunuh) sama-sama masuk surga. Yang satu berperang di jalan Allah hingga terbunuh. Kemudian Allah menerima tobat orang yang membunuhnya itu, lalu dia pun (berperang) hingga mati syahid." (HR A- Bukhāri-Muslim).

Hadiš di atas memberikan beberapa faedah di antaranya:

(a) Wajib tobat dari perbuatan dosa sebesar apa pun, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah Swt.
(b) Islam akan menghapus dosa kekafiran yang telah lalu, begitu pula tobat akan menghapus dosa besar yang telah lalu.
(Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 1, 1407H/1987 M: 55).

- Hadiš Qudsi :

Dari Aswad bin Sari, sesungguhnya Nabi Saw. bersabda,"Ada empat jenis orang pada hari kiamat nanti: Seorang laki-laki tuli yang tidak mendengar apa pun, seorang laki-laki bodoh, seorang laki-laki yang pikun, dan seorang laki-laki yang mati dalam masa-masa kevakuman (ajaran agama atau risalah kenabian tidak sempat menjumpai dirinya).

Orang tuli menyampaikan alasannya, Wahai Rabbku, telah datang Islam hanya aku tidak mendengar apa pun tentang hal itu'. Adapun orang yang bodoh beralasan, "Wahai Rabbku, Islam telah datang. Dan anak-anak melempariku dengan kotoran unta.' Adapun yang pikun berkata, "Wahai Rabbku, telah datang Islam hanya aku tidak bisa berpikir sama sekali.' Adapun orang yang mati dalam masa-masa kevakuman berkata, "Wahai Rabbku, para utusan-Mu tidak mendatangiku dan mengambil janji orang-orang untuk taat kepadanya Lantas Allah Swt. mengutus para malaikat Nya untuk mengatakan Masuklah kalian ke dalam neraka. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalaulah
mereka memasuki api tersebut, niscaya api tersebut akan menjadi dingin dan menyelamatkan mereka." (HR Ahmad (Mustafā bin Adawi, As-Sahihul Musnad minal Ahādisil Qudsiyyati: 53).

- Penjelasan Surah Al-Hajj Ayat 65-72 :

Ayat 65-72 menjelaskan betapa banyak rahmat Allah yang diberikan kepada manusia. Namun demikian,  kebanyakan mereka tidak mau menyembah-Nya dengan konsep tauhid yang diturunkan-Nya kepada para rasul-Nya. Di antara kasih sayang-Nya, Dia tundukkan bagi manusia apa yang ada di bumi,  kapal yang berlayar di laut dan Dia tahan benda-benda langit agar tidak jatuh ke atas bumi,  kecuali jika diizinkan-Nya. Allahlah yang menghidupkan manusia, kemudian mematikan mereka, kemudian menghidupkan mereka kembali. Kenapa mereka  kafir pada-Nya?

Allah syariatkan kepada setiap umat cara-cara beribadah melalui para rasul-Nya. Tidak pantas orang-orang kafir membantah Nabi Muhammad Saw. tentang syariat beliau. Sebab itu, Allah memerintahkan Rasul Saw. untuk menyeru mereka agar kembali kepada Allah sesuai jalan lurus yang telah Allah wahyukan.

Allah perintahkan Nabi Muhammad Saw.  menjawab orang-orang yang masih bersikukuh menyalahkan ajarannya dan mengatakan kepada mereka: Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Allah akan memutuskan diantara kalian tentang apa yang kalian perselisihkan itu. Bahkan Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Semuanya termaktub dalam catatan-Nya. Semua itu mudah saja bagi-Nya.

Orang-orang kafir itu menyembah tuhan-tuhan yang tidak didasari ilmu. Menyembah tuhan selain Allah itu adalah kezaliman yang besar sehingga Allah tidak menolong pelakunya di akhirat nanti. Pada muka mereka terlihat ciri kekafiran saat dibacakan ayat-ayat Allah. Mereka juga hendak menyerang orang yang membacakan ayat-ayat Allah. Tempat mereka neraka. Itulah tempat yang amat buruk.

Rabu, 04 Oktober 2023

Tadabbur Al-Quran Hal.339

Tadabbur Al-Quran Hal. 339
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-Hajj ayat 60 :

۞ ذٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوْقِبَ بِهٖ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ

Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan (kezaliman) penganiayaan yang pernah dia derita kemudian dia dizalimi (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.

- Asbabul Nuzul Al-Hajj ayat 60 :

Ibnu abi Hatim meriwayatkan dari muqatil bahwa ayt ini turun tentang pasukan yang dikirim Nabi saw dan mereka berjumpa dengan orang-orang musyrik pada dua malam terakhir di bulan muharram. Orang-orang musyrik berkata, "serang saja para sahabat Muhammad, mereka mengharamkan perang di bulan haram." Sementara itu para sahabat menyeru mereka, mengingatkan mereka pada Allah, agar mereka tidak menyerang, sebab mereka tidak membolehkan perang dalam bulan haram, kecuali terhadap orang yang menyerang mereka. Orang-orang musyrik menyerang lebih dahulu, maka para sahabat pun melawan. Mereka bertempur dan Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin. Maka turunlah ayat ini.

- Tafsir Al Muyassar Al-Hajj ayat 60 :

Itulah perkara yang telah Kami kisahkan kepadamu, yaitu dimasukkannya orang-orang yang berhijrah ke dalam surga. Barangsiapa yang dianiaya dan dizalimi, maka sesungguhnya ia telah diizinkan untuk membalas orang jahat setara dengan perbuatannya, dan tiada dosa atasnya. Apabila orang yang jahat ini kembali mengganggunya dan berbuat zalim, maka sesungguhnya Allah akan menolong orang yang teraniaya; karena tidak boleh ia dianiaya disebabkan keadilannya terhadap dirinya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Dia memaafkan orang-orang yang berdosa, sehingga tidak menyegerakan azab kepada mereka, dan mengampuni dosa-dosa mereka.

- Mu'jam Al-Hajj ayat 60 :

لَعَفُوٌّ

Al-Afuwwu ialah niat untuk mengambil sesuatu. Dikatakan, "afāhu wa tafāhu" maksudnya, ia niatkan untuk mengambil apa yang ada di sisinya. Adapun Al-Afwu adalah pembebasan dari dosa atau kesalahan. Katakanlah ..tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat)... (QS Asy-Syūrā, 42:40), .Pembebasan itu lebih dekat kepada takwa... (0S Al-Bagarah, 2: 237), Kemudian Kami memaafkan kamu setelah itu... (QS Al-Baqarah, 2: 52), .Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain)... (QS At-Taubah, 9: 66). Ar-Rāgib A-Aşfahāni, Mujam Mufradāti Alfāzi Al-Qurāni, 1431 H/2010 M: 255).

- Asmaul Husna :

Allah Swt. mempunyai nama yang لَعَفُوٌّ  artinya, mencintai pemaafan dan perlindungan. Allah Maha Memaafkan dosa, sebesar apa pun dosa yang dilakukan; Maha menutupi aib dan tidak menyukai pengumbaran; Maha Memaafkan orang yang berbuat buruk sebagai bentuk pemuliaan dan kebaikan; dan Maha Membuka keluasan rahmat sebagai karunia dan nikmat, sehingga hati tidak berputus asa untuk berharap, dan hati selalu berkait kepada Yang Maha Mengetahui alam ghaib.

Di antara doa yang menggunakan nama ini adalah firman Allah yang berbunyi: " Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah". Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (QS Al-Baqarah, 2: 286).

Rasulullah Saw., berdoa ketika berada di samping mayit, "Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia, berikanlah kebaikan dan maafkanlah, muliakanlah tempat persinggahannya, luaskanlah tempat masuknya, dan bilaslah ia dengan air, salju dan air dingin, bersihkanlah ia dari segala macam dosa sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran." (Sahih Muslim, 963).

Abu Bakar Ra. berdoa, "Aku memohon kepada Allah pemaafan dan kebaikan (Misykātu'l Maşābih, 2489). Seorang muslim yang mengesakan Allah dengan nama ini, hendaknya menjadi orang yang mudah memaafkan siapapun yang telah berbuat aniaya kepadanya, berpaling dari orang-orang bodoh, dan lebih menjadi orang yang mempermudah daripada menjadi orang yang selalu mempersulit segala urusan. Tentunya dengan niat mengharapkan maaf dari Allah ketika berjumpa dengan-Nya kelak. (Dr. Mahmüc Abdurrazāk Ar-Ridwāni, Ad-Du'ãu bi As māil Husnā, 2005: 38).

- Riyāduş sālihin :

Dari lbnu Abbās Ra., dia berkata, "Uyainah bin Hişan bin Hużaifah Ra. datang, lalu singgah di rumah anak saudaranya yaitu Al-Hurr bin Qais Ra. la adalah salah seorang yang dekat dengan Umar Ra., salah seorang Qari di majelis Umar Ra. dan dewan syuranya, baik ketika ia masih muda maupun sudah tua. Uyainah Ra. berkata kepada anak saudaranya, "Wahai anak saudaraku, kami memiliki masalah dengan Amirul Mukminin, izinkanlah aku menemuinya." Al-Hurr Ra. berkata, "Aku akan memintakan izin untukmu." lbnu Abbās Ra. berkata, "Maka Al-Hurr Ra. meminta izin untuk Uyainah Ra. agar bisa menemui 'mar Ra., Umar Ra. pun mengizinkannya. Tatkala ia masuk, ia berkata, "Wahai lbnul Khattab, Demi Allah, Anda
tidak memenuhi hak kami dan tidak bersikap adil kepada kami. Maka Umar Ra. marah, hampir saja ia akan memukulnya. Lalu Al-Hurr Ra. berkata kepadanya, Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Saw., Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.' Dan ini termasuk orang-orang yang bodoh." Ibnu Abbās Ra. berkata, "Maka demi Allah, Umar pun tidak jadi menyakitinya ketika ayat itu dibacakan kepadanya. la berhenti saat mendengar Kitabullah." (HR Al-Bukhāri).

Hadis di atas memberikan faedah:

(a) Kedudukan Qurā (orang yang hafal Al-Qur'an). Mereka adalah ulama yang mengamalkan hukum-hukum Al Qur'an, tidak mengambil untung dan mengajarkan Al-Quran pada sekumpulan orang dan termasuk orang orang yang bahagia.
(b) Menyerahkan kepada hakim untuk memilih teman-teman kepercayaan yanig baik, duduk bersama, dan meminta nasihat dari mereka.
(Dr. Mustafā Sa id Al-Khin, Nuzhatul MMuttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 81-82).

- Hadiš Nabawi :

Dari Aisyah Ra., bahwasanya ia berkata, "Wahai Rasulullah, doa apakah yang harus aku baca jika mendapatkan Lailatul Qadar?" Beliau menjawab, "Ucapkanlah, "Allähumma Innaka Afuwwun Karimun Tuhibbul 'Afwa fa'fu 'anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai pemaafan, karena itu, maafkanlah aku.)" (Sahih Al-Jāmi, 4423).

- Penjelasan Surah Al-Hajj Ayat 56-64 :

Ayat 56-59 meneruskan ayat sebelumnya terkait peristiwa kiamat. Di antaranya:

Pada hari kiamat nanti, Allah muncul sebagai Penguasa Tunggal atas semua makhluk-Nya. Allah akan keluarkan keputusan-Nya terhadap manusia berdasarkan keyakinan dan amal perbuatan mereka selama mereka hidup di dunia.

Terkait keputusan Allah itu adalah: a) Orang-orang beriman dan beramal saleh akan Allah putuskan masuk ke dalam surga.  b) Orang-orang kafir dan mengingkari Al-Qur’an, bagi mereka azab yang menghinakan, yakni neraka. c) Orang-orang yang berhijrah di jalan Allah kemudian mereka dibunuh atau mati, maka Allah berikan kepada mereka ampunan agar bisa masuk surga yang disukai mereka. Keputusan tersebut adalah keputusan yang maha adil dari Zat yang Maha Adil pula.

Ayat 60-64 menjelaskan beberapa prinsip Islam sebagai berikut:

Kezaliman yang diderita kaum muslim dari kalangan kaum kafir boleh dibalas dengan balasan yang setimpal dan tidak boleh lebih berat atau lebih keras dari kezaliman yang mereka terima.

Pada prinsipnya, kaum muslimin dilarang berperang di bulan-bulan haram, kecuali jika kaum kafir tetap memerangi dan menganiaya mereka di bulan-bulan tersebut. Allah pasti menolong mereka.

Allah adalah Zat yang Mahabenar. Tuhan-tuhan yang disembah kaum kafir itu adalah batil mutlak. Sesungguhnya Allah itu Mahatinggi lagi Mahabesar.

Kebenaran, Ketinggian dan Kebesaran Allah itu dapat dilihat bagaimana Dia menurunkan hujan. Maka bumi menjadi hijau karena ditutupi berbagai tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Sungguh Allah Mahahalus perlakuan-Nya atas manusia dan Maha Mengetahui atas apa saja yang mereka yakini, ucapkan, dan perbuat.

Allah Pemilik apa saja yang ada di langit dan di bumi. Allah itu Maha Kaya. Sebab itu Allah tidak butuh kepada hamba-Nya. Kekayaan-Nya tidak akan berkurang jika semua manusia meminta kepada-Nya. Allah juga Maha terpuji. Karena itu, Dia tidak butuh pujian siapa pun dan bahkan kemuliaan diberikan-Nya kepada orang yang memuji-Nya.