بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sabtu, 12 Agustus 2023

RINGKASAN SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW

Tematik (160)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

RINGKASAN SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW.

     Merupakan satu keharusan bagi setiap Muslim untuk mengetahui sejarah (tarikh) Nabi Muhammad saw. baik secara keseluruhan atau secara ringkas, sebagaimana banyak para ulama yang telah mengkhususkan peringkasannya (ikhtishar). Untuk itu, berikut ini akan kami kemukakan ringkasan sejarah beliau yaitu:

     Bahwa Nabi Muhammad saw. dilahirkan di kota Makkah pada malam Senin, tanggl 12 Rabi'u-Awwal, tahun Gajah. Atau bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muththalib. Ibunya bernama Aminah binti Wahab.

     Menjelang saat dilahirkannya Nabi Muhammad saw., banyak terjadi berbagai peristiwa aneh yang belum pernah dialami oleh manusia. Pada malam kelahiran Nabi saw, semua berhala (patung) yang ada di mana saja jatuh tersungkur dari tempat
nya. Api yang sejak beratus-ratus tahun lamanya disembah dan dipuja oleh bangsa Persi, tiba tiba saja padam, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi seperti itu. Dan itulah irhasy (penampakan) tanda-tanda kenabian.

     Nabi Muhammad saw. adalah keturunan bangsawan Quraisy di negeri Makkah. Beliau memiliki paras muka yang amat elok dan tampan. Putih bersih kulitnya, terpuji kelakuannya, lagipula sangat jujur dan bijaksana.

     Ketika beliau berada dalam kandungan ibunya lima bulan,
ayahnya wafat. Kemudian ibunya menyusul wafat ketika beliau
berusis empat tahun. Lalu beliau dirawat oleh kakeknya (Abdul
Muththalib). Tiga tahun kemudian, ketika beliau berumur tujuh tahun, kakeknya pun meninggal dunia. Maka selanjutnya beliau dipelihara oleh pamannya, Abu Thalib, yakni ayah Sayyidina Ali.

     Sesudah dilahirkan, Nabi saw. menyusu kepada Tsuwaibah al-Aslamiyah, oleh karena beliau tidak mau menyusu kepada ibunya sendiri, Kemudian beliau disusukan oleh Haliman Sa'diyah dan berada dalam perawatannya hingga usia empat tahun. Pada usianya yang kesepulun tahun, beliau menggembala kambing. Kemudian beliau ikut berdagang bersama pamannya ke negeri Syam. Bersama pamannya inila beliau memperoleh pengalaman yang sangat berharga dalam bidang perdagangan.

     Pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan Siti Khadijah, seorang janda yang kaya raya. Sebelum pernikahannya itu, beliau juga menjajakan dagangan Siti Khadijah, sehingga perdagangannya pun menjadi maju dengan pesatnya, oleh karena kejujuran dan keamanatan beliau.

     Pada usia 40 tahun, Nabi saw. menerima wahyu yang pertama di gua Hira. Dan kurang lebih selama sebelas tahun, beliau menyampaikan risalah, Tuhannya dan mendakwahkan kerasulannya.

     Kemudian setahun sebelum Hijrah - yakni pada tanggal 27 Rajab- terjadilah Isra' dan Miraj Nabi Muhammad saw.
untuk menerima perintah shalat lima waktu baginya dan umatnya.

     Pada usia kurang lebih limapuluh tahun, beliau bersama para sahabatnya berhijrah ke Madinah. Dan selama kurang lebih 23 tahun, bersama para sahabatnya itu pula beliau menegakkan agama Islam. Yakni sebelas tahun di Makkah dan duabelas tahun di Madinah. Menurut keterangan sebagian ulama, al-Qur'an itu diturunkan dalam masa 22 tahun 22 bulan dan 22 hari. Sedang al-Qur'an sendiri berisi 114 surat yang terbagi
dalam 30 juz dan mengandung 6666 ayat.

     Pada usia 63 tahun yakni setelah beliau berhasil menegakkan agama Islam di Madinah beliau berpulang ke
rahmatullah dan dikuburkan pula di situ (Madinah).

     Demikianlah sejarah ringkas Nabi Muhammad saw.

     Sebagai tambahan, berikut ini akan dijelaskan pula tentang asal keturunan Nabi saw., kemudian nama-nama istri, anak dan cucunya. Juga nama-nama empat orang sahabatnya yang menjadi khalifah sesudah beliau secara bergantian:

     Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Kemudian keturunan beliau biasa disebut Bani Hasyim.

     Ibunya ialah Aminah binti Wahab. Sedang dua orang ibu yang menyusukannya ialah Tsuwaibah al- Asiamiyah dan Halimah as-Sa'diyah.

     Ayahnya bersaudara empat lelaki dan seorang perempuan yaitu: Abu Lahab, Abu Thalib, Abbas, Hamzah dan Shafiyah.

     Putra dan putrinya yaitu: Qasim, Thayyib, 1brahim, Fathimah, Zainab, Rugayyah dan Ummu Kaltsum.

     Cucunya dari perkawinan Fathimah dengan Ali bin Abu Thalib ialah Hasan dan Husain.

     Istri-istri Nabi saw. selain Siti Khadijah ialah: Siti Aisyah, Hafshah, Saudah, Shafiyah, Maimunah, Ramlah, Hindun (Ummu Salamah), Zainab dan Juwariyah.

    4 orang sahabat Nabi saw. yang menjadi khalifah secara berurutan ialah: Abu Bakar, Umar, Utsman dan All-radhiyal-lahu 'anhum. 4 orang sahabat inilah yang membantu dan
meneruskan perjuangan beliau menegakkan agama Islam.

Dengan Waktu Hidup Kita Besuk Akan Dihisab

One Day One Hadits (274)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan Waktu Hidup Kita Besuk Akan Dihisab

رَوى ابنُ حِبَّانَ والترمذيُّ في جامِعِه أنَّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قالَ: “لا تزولُ قَدَمَا عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يُسألَ عن أربعٍ عَن عُمُرِه فيما أفناهُ وعن جسدِهِ فيما أبلاهُ وعن عِلمِهِ ماذا عَمِلَ فيهِ وعن مالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وفيما أنفقَهُ “. 

Diriwayatkan oleh Ibnu  Hibban dan  At Tirmizi,  Sesungguhnya  Rasulullah saw bersabda :
Tidak  akan bergeser  kedua telapak  kedua  kaki seorang  hamba dihari kiamat  sehingga  ditanya denan empat macam, yaitu : Tentang  umurnya  habis digunakan untuk  apa,  jasadnya rusak digunakan untuk  apa, lmunya  bagaimana  mengamalkannya, hartanya   dari  mana mencari dan kemana membelanjakannya. 

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

1. Seseorang selama masih hidup di dunia tidak lepas dari ruang dan waktu, keduanya berobah dan berobah hanya saja perubahan waktu terasa begitu cepat. Kurun waktu dua belas bulan tahun 1443h telah kita tinggalkan dan kita memasuki kurun waktu dua belas yang akan datang yaitu tahun 1444h.
Yang dengan waktu akan berakhir hidup kita dan bisuk akan dihisab, maka hisablah diri kita sebelum dihisab.

2. Besuk dihari hisab seseorang tidak bergerak dari tempat  tinggalnya sampai  ditanyakan 4 perkara.

a. Tentang umurnya.  Sejak baligh digunakan untuk  apa sampai mati,  bila  digunakan untuk  melaksanakan  apa yang  diwajibkan oleh  Allah dan menjauhi apa yang  diharamkanNya maka sungguh  ia telah selamat, bila tidak maka hancurlah.

b. Tentang  jasad/ badan. Bila  digunakan untuk taat  kepada  Allah sungguh  ia telah  mendapatkan kebahagian  dan kesuksesan bersama  orang - orang yang  sukses tetapi bila digunakan untuk  maksiat  kepada  Allah maka sungguh  termasuk orang yang rugi  dan gagal.

c. Tentang  ilmunya.  Apa yang  diamalkan atau ditanya,  apakah kamu perbuat belajar ilmu agama yang  Allah  telah wajibkan atasmu?.
Ilmu  agama  ada  dua, Ilmu  agama yang sangat  dibutuhkan /dhoruri bila dipelajari dan diamalkan maka akan  bahagia  dan selamat. Bila diremehkan tidak diamalkan setelah  dipelajarinya maka akan  rugi, celaka dan hancur. Demikian juga  orang yang  tidak mempelajarinya termasuk dari orang yang rugi dan hancur. Dalam  sebuah  riwayat  disebutkan :

” وَيْلٌ لِمَنْ لَا يَعْلَمُ، وَوَيْلٌ لِمَنْ عَلِمَ ثُمَّ لَا يَعْمَلُ“. 

Celakalah bagi siapa tidak  mengerti, dan Celakalah bagi yang  mengerti  kemudian  tidak  mengamalkan.

d. Tentang hartanya. Sedang  tentang  hartanya seseorang  ditanya dihari  kiamat apa yang ada  ditangannya dulu  didunia, bila  mencari dengan  jalan tidak  haram maka tidak dihukum dengan  syarat harta itu dibelanjakan sesuai dengan apa yang disyareatkan. 
Manusia  dalam  urusan harta ada tiga, dua celaka dan satu selamat. 
Yang celaka :

- Seseorang  mengumpulkan harta  yang haram. 
- Mengumpulkan harta dengan cara yang  halal kemudian  dibelanjakan pada yang  haram Dan juga dibelanjakan ditempat yang  halal tapi  untuk  riya'. 

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur'an :

1. Yakni hitung-hitunglah diri kita sebelum kita dimintai pertanggung jawaban, dan perhatikanlah apa yang kita tabung buat diri kita berupa amal-amal saleh untuk bekal hari kita dikembalikan, yaitu hari dihadapkan kita kepada Robul'alamin. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya); dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari akhirat). Dan (sekali lagi diingatkan): Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Amat Meliputi PengetahuanNya akan segala yang kamu kerjakan.
[Surat Al-Hasyr 18]

 2. Bahwa masalah duniawi itu adalah masalah yang rendah, pasti lenyap, sedikit, dan pasti rusak. Maka perlu diwaspadai supaya  selamat dan beruntung. 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran: 185]

Kamis, 10 Agustus 2023

Tadabbur Al-Quran Hal. 327

Tadabbur Al-Quran Hal. 327
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-Anbiya' ayat 69 :

قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!”

- Tafsir Al Muyassar Al-Anbiya' ayat 69 :

Maka Allah menolong Rasul-Nya dan berkata kepada api: Jadilah dingin dan keselamatan bagi lbrahim. Karena itu, Ibrahim tidak mendapat suatu hal yang menyakitkan dan tidak pula terkena suatu yang dibenci di dalamnya.

- Hadis Sahih Al-Anbiya' ayat 69 :

Dari lbnu 'Abbās Ra., ia berkata, "Hasbunalläh wa ni'mal wakil," adalah ucapan brahim As. ketika dilemparkan ke api. Juga diucapkan oleh Nabi Saw. ketika orang-orang kafir berkata, 'Sesungguhnya kami telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka". Akan tetapi, perkataan itu menambah keimanan (Nabi dan para sahabat) sembari menjawab, Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung'. (HR Bukhari, Al-Jämi'u Sahihul Bukhāri, Juz 3, No. Hadis 4563: 211)

- Tafsir Ibnu Kasir :

Ketika argumen-argumen mereka telah dikalahkan, maka semakin tampaklah kele-mahan mereka. Kebenaran telah muncul dan kebatilan telah sirna. Mereka mencoba menggunakan kekuasaan mereka seraya berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak berbuat." Lalu mereka mengumpulkan kayu bakar yang sangat banyak. As-Suddi berkata, "Seandainya saat itu ada seorang wanita yang sakit, niscaya ia akan ber-nażar jika sembuh, ia akan membawa kayu bakar untuk membakar lbrahim As. Kemudian mereka mengumpulkannya di sebuah tanah yang luas dan membakar kayu-kayu tersebut. Api menyala semakin membesar dan membumbung tinggi yang tidak ada satu pun api yang pernah dinyalakan seperti itu sebelumnya. Mereka menempatkan Ibrahim As. di atas alat pelempar batu atas petunjuk seorang laki-laki Arab penunggang kuda dari bangsa Kurdi. Lalu Allah Swt. menenggelamkannya dipermukaan bumi dalam keadaan menyombongkan diri hingga hari kiamat. Ketika mereka melemparkannya (ke tengah-tengah api tersebut), maka lbrahim As berdoa, "Cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baikbpenolong." Al-Hāfiż Abu Ya'lā meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Tatkala lbrahim As. dilemparkan ke dalam api tersebut, maka ia berdoa, Ya Allah, sesungguhnya Engkau itu hanya ada satu di langit, sedangkan aku pun sendirian di bumi menyembah-Mu." Allah Swt. berfirman, .Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi lbrahim. artinya, tidak ada api yang tersisa di bumi kecuali ia akan dipadamkan. Ka'ab Al-Ahbar berkata, "Pada saat itu juga tidak ada seorang pun yang membawa api bermanfaat dan api itu tidak membakar Ibrahim kecuali belenggunya." Aś-Sauri meriwayatkan dari Ali bin Abu Talib mengenai firman Allah Swt., (Allah) berfirman, 'Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi lbrahim,', ia berkata, "Api itu menjadi dingin sampai hampir saja api itu membunuhnya." Qatādah mengatakan, "Pada hari itu tidak ada seekor hewan pun yang datang kecuali mereka akan memadamkan api, kecuali cicak." Az-Zuhri berkata, "Nabi Saw. memerintah untuk membunuhnya (cicak) dan beliau Saw. menamakannya dengan sebutan Fuwaisiq (hewan fasik kecil)." (Ibnu Kaśir, Tafsirul Qur'anil Azimi, Jilid 9, 1421 H/2000 M: 415-418).

- Riyāduş Sälihin :

Dari Abu Hurairah Ra., Nabi Saw. bersabda, "Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya. Yaitu seorang imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum, lalu ia menolak seraya berkata, Aku takut kepada Allah.' Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan yang terakhir adalah seorang yang meneteskan air mata saat berziki, mengingat, dan menyebut nama Allah dalam kesunyian." (HR Al- Bukhāri-Muslim).

Hadiš di atas memberikan faedah :

keutamaan orang yang merasa tenteram bersama Allah Swt. dengan cara ibadah dan mengingat-Nya kemudian ia menangis karena takut dan mengharapkan pahala dari-Nya. Dengan takut dan menangisnya seorang hamba, Allah Swt. akan memberikan rasa aman dan kebahagiaan pada hari kiamat. (Dr. Muştafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 1,1407 H/1987 M).

- Hadis Nabawi : 

Dari lbnu Abbās Ra., ia berkata, "Hasbunallāh wa ni'mal wakil," adalah ucapan lbrahim As. ketika dilemparkan ke api. Juga diucapkan oleh Nabi Saw. ketika orang-orang kafir berkata, 'Sesungguhnya kami telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka. Akan tetapi, perkataan itu menambah keimanan (Nabi dan para sahabat) sembari menjawab, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung." (HR Al-Bukhāri, Al-Jāmi'u Sahihu' Bukhāri, Juz 3, No. Hadis,4563:211).

- Hadiš Qudsi :

Dari Anas bin Malik Ra. dia berkata, "Aku mendengar Nabi Saw. bersabda, Allah Swt. berfirman, "Apabila Aku menguji hamba-kKu dengan penyakit pada kedua matanya, kemudian ia mampu bersabar, maka Aku akan menggantinya derngan surga." (HR Ahmad dan Bukhāri). (Mulla Ali Al-Qāri, Al-Ahādšu'l Qudsiyyatu'l Arba iniyyah, Juz 1: 41).

- Penjelasan Surah Al-Anbiya' Ayat 45-57 :

Ayat 45-47 menjelaskan bahwa Rasul Saw. memberikan peringatan kepada manusia dengan Al-Qur’an. Orang-orang yang tersumbat  telinganya tidak akan bisa mendengarkan peringatan tersebut. Kemudian, azab dunia tidak seberapa dibandingkan dengan azab akhirat yang akan mereka rasakan. Di akhirat nanti semua amal manusia akan  ditimbang seadil adilnya.  Manusia sedikit pun tiada akan dizalimi dan tidak ada satupun amal kebaikan dan kenburukan mereka yang terlupakan Allah kendati hanya sebesar inti atom.

Ayat 48 -50 menjelaskan bahwa Allah berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat yang membedakan antara hak dan batil dan menjadi cahaya dan peringatan bagi kaum yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang takut pada Allah kendati tidak dapat melihat-Nya dan juga takut pada peristiwa kiamat. Demikian juga Al-Qur’an sebagai peringatan yang penuh berkah. Diturunkan  Allah dari sisi-Nya. Apakah masih diingkari?

Ayat 51-57 menjelaskan pertarungan Ibrahim dengan kaumnya yang mencintai kemusyrikan daripada tauhid. Allah telah anugerahkan kepadanya kecerdasan sebelum diangkat jadi Rasul-Nya. Ia mengeritik bapak dan kaumnya  yang menyembah berhala. Mereka menyembahnya karena mengikuti tradisi nenek moyang belaka. Lalu Ibrahim menjelaskan bahwa mereka dalam keadaan sesat yang nyata.

Mereka menolak ajaran tauhid yang dibawa Ibrahim.  Lalu Ibrahim jelaskan bahwa konsep tauhid itu datang dari Pencipta langit dan bumi. Ibrahim  adalah saksinya. Melihat penolakan yang tidak logis itu, Ibrahim merancang sebuah strategi yang sangat cerdas.

Selasa, 08 Agustus 2023

LIMA (5) TINGKATAN MANUSIA DALAM SHALAT

Tematik (159)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

LIMA (5) TINGKATAN MANUSIA DALAM SHALAT

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

PERTAMA 
Tingkatan orang yang DZALIM kepada dirinya dan teledor, yaitu orang yang kurang sempurna dalam wudhunya, waktu shalatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.

KE-DUA 
Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas- batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan BISIKAN JAHAT dari dirinya. Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya.

KE-TIGA 
Orang yang bisa menjaga batas-batasnya dan rukun- rukunnya. Ia berupaya keras untuk mengusir bisikan jahat dan pikiran lain dari dirinya, sehingga dia terus-menerus sibuk berjuang melawan musuhnya agar jangan sampai berhasil mencuri shalatnya. Maka, DIA SEDANG BERADA DI DALAM SHALAT, sekaligus JIHAD.

KE-EMPAT 
Orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak- haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. HATINYA LARUT dalam upaya MEMELIHARA batas-batas dan hak- haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya. Bahkan seluruh perhatiannya tercurah untuk melaksanakannya sebagaimana mestinya, dengan cara yang sesempurna dan selengkap mungkin. Jadi, hatinya dipenuhi oleh urusan shalat dan penyembahan kepada Rabbnya Tabaaraka wa Ta'ala .

KE-LIMA 
Orang yang melaksanakan SHALAT DENGAN SEMPURNA. Dia mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Rabbnya Azza wa Jalla. Dia memandang dan memperhatikan-Nya dengan hatinya yang dipenuhi rasa cinta dan hormat kepada-Nya. Seolah-olah ia melihat-Nya dan menyaksikan-Nya secara langsung.

Bisikan dan pikiran jahat tersebut telah melemah. Hijab antara dia dengan Rabbnya telah diangkat. Jarak antara shalat orang semacam ini dengan shalat orang yang lainnya lebih tinggi dan lebih besar daripada jarak antara langit dan bumi. Di dalam shalatnya, dia sibuk dengan Rabbnya. Dia merasa tenteram lewat shalat.

KELOMPOK 1 :
AKAN DISIKSA

KELOMPOK 2 :
AKAN DIPERHITUNGKAN AMALNYA.

KELOMPOK 3 :
AKAN DIHAPUS DOSANYA.

KELOMPOK 4 : 
AKAN DIBERI BALASAN PAHALA.

KELOMPOK 5 :
AKAN MENDAPAT TEMPAT YANG DEKAT DENGAN RABBNYA, karena dia menjadi orang yang KETENTRAMAN HATINYA ADA DALAM SHALAT.

Barangsiapa yang tenteram hatinya dengan shalat di dunia, maka hatinya akan tenteram dengan kedekatannya kepada Rabbnya di akhirat dan akan tenteram pula hatinya di dunia.

Barangsiapa yang hatinya merasa tenteram dengan Allah Ta’ala, maka semua orang akan merasa tenteram dengannya.

Barangsiapa yang hatinya tidak bisa merasa tenteram dengan Allah Ta’ala , maka jiwanya akan terpotong-potong karena penyesalan terhadap dunia.

Sumber : 
Al-Wabilush Shayyib karya Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah, hal 25-29.   

Barakallahu fiikum....

Senin, 07 Agustus 2023

Hukum Orang Tua yang Menyia-menyiakan Kepada Anak

One Day One Hadits (273)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Hukum Orang Tua yang Menyia-menyiakan Kepada Anak

عن عبد الله بن عمرو بن العاص-رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله ﷺ: كفى بالمرء إثماً أن يضيّع من يَقُوت[حديث صحيح رواه أبو داود وغيره، ورواه مسلم].

Dari Abdullah bin Amr bin Al 'as radhiAllah anhuma berkata, bersabda Rasulullah sallahu alaihi wa salam :
Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya,” (Hadis shahih Riwayat Abu Daud dan yang lainnya dan juga Hr Muslim).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

1. Hanya anak yang bisa durhaka pada orang tua. Tapi, bisa juga berlaku sebaliknya, bahwa ada orang tua yang menyia-menyiakan kepada anak, jika melakukan perilaku yang termasuk dosa orang tua terhadap anak yang dibenci Allah Subhanahu wa ta'ala.

2. Beragam kasus menyeruak ke permukaan tentang perbuatan buruk orang tua pada anak ini di masyarakat kita saat ini. Sebut saja kasus ibu membuang anaknya, orang tua yang tega menyiksa anak, menelantarkan, hingga kasus berat memperkosa anak. Kasus-kasus seperti itu, bahkan semakin marak.

3. Salah satu yang kadang tidak terasa adalah dengan menyia-nyiakan keberadaan anak yang sudah menjadi tanggung jawab bagi orang tua.
Pembinaan dan pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tua.
Bahkan Rasulullah SAW memberi tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada orang tua.
Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu radhiallahu ‘anhu yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya,” (HR Bukhari).

4. Menyia-nyiakan anak yang paling parah adalah membiarkannya begitu saja tanpa diberikan nafkah dan pendidikan serta tidak mengajarkannya adab Islam.

5. Padahal, menjadi orang tua yang baik tidak hanya dengan memberikan kebutuhan sandang dan pangan serta rumah saja.

6. Cukup seseorang itu dikatakan berdosa artinya, cukup baginya dosa besar. Sebagai mana rasul bersabda cukup bagi seseorang dusta dia berkata apa yang ia dengar, ini menunjukkan ancaman yang keras dan dosa besar bagi seseorang berkata setiap apa yang ia dengar.

7. Jadi hukum orang tua yang menyia-menyiakan kepada anak termasuk dosa besar. 

Tema hadist yang berkaitan dengan al quran:

1. Hadis di atas menyatakan kewajiban nafkah berupa makanan. Namun demikian, yang wajib bukan hanya makanan, tetapi semua kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya untuk hidup secara ma’ruf (layak) sesuai kelayakan di masyarakat. Allah SWT berfirman:

…وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَاۚ …

Kewajiban ayah untuk memberi makan dan pakaian kepada para ibu secara layak. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya (QS al-Baqarah [2]: 233).

أَسۡكِنُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ سَكَنتُم مِّن وُجۡدِكُمۡ 

Tempatkanlah mereka (para istri) di tempat kalian tinggal menurut kemampuan kalian (QS ath-Thalaq [65]: 6).

2.  Dalam Islam, orang tua diberi tanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik anaknya dengan baik.
Sebab, anak lahir dalam keadaan yang belum mengetahui apa-apa dan tugas besar menanti para orang tua untuk membimbing anak-anaknya dengan baik.
Dalam Alquran Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS At Tahrim: 6).

Minggu, 06 Agustus 2023

Tadabbur Al-Quran Hal. 326

Tadabbur Al-Quran Hal. 326
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Al-Anbiya' ayat 57 :

وَتَاللّٰهِ لَاَكِيْدَنَّ اَصْنَامَكُمْ بَعْدَ اَنْ تُوَلُّوْا مُدْبِرِيْنَ

Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya. [532]

- [532] Ucapan-ucapan itu diucapkan Nabi lbrahim alaihissalam dalam hati saja. Maksudnya, Nabi lbrahim akan menjalankan tipu dayanya untuk menghancurkan berhala-berhala mereka setelah mereka meninggalkan tempat-tempat berhala itu.

- Tafsir Al Muyassar Al-Anbiya' ayat 57 :

Demi Allah, sungguh aku akan memperdaya dan menghancurkan berhala-berhala kalian, sesudah kalian pergi berpaling darinya.

- Riyadus Salihin Al-Anbiya' ayat 57 :

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy Ra., dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hati. Itulah selemah-lemah iman" (HR Muslim). (An-Nawawi, Riyādus Sālihin, No. Hadis 184, 2010 M: 78).

- Kisah Nabi & Rasul :

Ketika lbrāhim As. hendak memperlihatkan dan membuka mata kaumnya, bahwa betapa lemah dan tak berdayanya berhala-berhala yang mereka sembah, Ibrāhim mencari cara untuk mengemukakan argumen kepada mereka. Mulailah Ibrahim As. mencari kesempatan yang tepat supaya bisa berbuat terhadap berhala-berhala yang mereka sembah. la memandang sekilas ke bintang-bintang lalu berkata, "Sesungguhnya aku sakit." Tujuannya agar mereka menghindari dirinya ketika mereka mendengar sakit itu.

Ibrahim As. berbuat seperti itu agar bisa sampai ke tempat berhala-berhala mereka.

Waktu itu mereka memiliki hari besar (yang mereka rayakan satu kali pada setiap tahun). Mereka semua keluar untuk merayakannya.Tatkala mereka keluar, Ibrahim As. segera menuju tempat berhala-berhala mereka secara diam-diam sambil mengatakan, -Demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya. Ucapan lbrahim As. ini terdengar oleh orang yang lemah (yang tidak ikut dalam perayaan) di kalangan mereka dan orang yang paling akhir keluar.
la pun menuju berhala-berhala yang berada di sebuah ruangan yang sangat besar. Berhala-berhala itu ditempatkan berjajar, setiap satu berhala (yang besar) di sampingnya berhala yang kecil sampai penuh. Setelah mereka menganggap cukup menyajikan makanan-makanan di hadapan berhala-berhala itu, mereka berkata, "Kami tinggalkan (untuk) tuhan-tuhan hingga kami kembali, silakan untuk dimakan."

Ketika lbrahim As. melihat makanan-makanan yang disajikan di hadapan berhala-berhala mereka itu, Ibrahim As. berkata, "Kenapa kalian tidak memakannya?" Ketika tidak ada salah satu pun yang menjawab, ia berkata, "Kenapa kalian tidak bicara?" Lalu dihadapinya (berhala-berhala) itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya. la menghancur-leburkannya dengan kapak di tangan kanannya dan tidak ada yang tersisa kecuali berhala yang paling besar.

Lalu Ibrahim As. meletakkan kapak yang ia gunakan itu pada tangan berhala tersebut.

Ibrahim As, pun pergi meninggalkannya. Ketika kaumnya kembali (dari perayaan itu) dan melihat apa yang terjadi pada berhala-berhala mereka, mereka pun terpana melihatnya dan menganggapnya bagai masalah yang sangat serius. Mereka berkata, Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim.' (lbnul Ašir Al-Jazari, A-Kāmil fit Tārikhi, Jilid 1:74-75). 

- Riyāduş şālihin :

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy Ra., dia berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hati. Itulah selemah-lemah iman," (HR Muslim).

Hadiš di atas memberikan faedah:

(a) Wajib mengubah kemungkaran dengan fasilitas atau perantara apa saja yang memungkinkan.

(b) Manfaat dari mengingkari kemungkaran dengan hati adalah membenci kemungkaran dan mengingatkan diri kita untuk
selalu mengingkarinya.

(c) Memerintahkan kebaikan dan menolak kemungkaran merupakan urusan umat Islam yang sifatnya kemasyarakatan, karena hal tersebut fardu kifayah (perkara wajib yang dilakukan oleh sebagian umat Islam).

(d) Disebutkan bahwa hadis di atas merupakan sepertiga ajaran Islam, karena mencakup perintah atas kebaikan dan penolakan terhadap kemungkaran. Adapula yang mengatakan bahwa hadis itu mencakup seluruh ajaran Islam, karena amalan-amalan syariat itu ada yang sifatnya kebaikan yang wajib untuk dikerjakan, ada pula kemungkaran yang wajib ditinggalkan.
(Dr. Muştafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 208).

- Hadis Nabawi :

Dari Abu Hurairah Ra., dia berkata, "(tentang pemberian syafaat Nabi Saw.) Rasulullah Saw. bersabda, "...Pergilah menemui lbrahim!" Lalu mereka menemui Ibrahim As. seraya berkata, "Wahai lbrahim! Engkau adalah nabi Allah dan khalil-Nya dari penduduk bumi, mintakanlah syafaat untuk kami kepada Rabbmu? Tidakkah engkau lihat keadaan kami?" Lalu beliau menjawab, "Sungguh, satu hari Rabbku telah marah dengan kemarahan yang belum pernah marah sebelumnya seperti itu dan tidak juga marah setelahnya seperti itu. Aku dahulu pernah berdusta dengan tiga kedustaan lalu beliau sebutkan hal tersebut, diriku sendiri pun butuh syafaat..." Dalam riwayat
melalui jalur Abu Zurah, terdapat tambahan dalam kisah lbrahim As. yang menyebutkan perkataan Ibrahim tentang sebuah planet, "Inilah Rabbku." juga perkataan Ibrahim As. berkenaan dengan tuhan-tuhan sembahan orang-orang musyrik (dari kaumnya) "Bahkan yang telah menghancurkannya adalah (patung) yang paling besar ini," juga perkataan Ibrahim As. "Sesungguhnya aku sakit." Beliau bersabda, "Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya jarak antara dua daun pintu dari daun-daun pintu surga adalah bagaikan jarak antara Mekah dan Hajar atau Hajar dan Mekah." (HR Muslim, Sahih Muslim, No. Hadis, 327, 1412 H/1991 M: 184).

- Nasihat & Pelajaran :

Apa yang dikatakan oleh Raja Namruz beserta pengikutnya terhadap Ibrahim As. setelah ternyata berhala-berhala yang dijadikan sesembahan mereka hancur lebur, "Sungguh dia termasuk orang yang zalim," seandainya mereka benar-benar berpikir dan menggunakan akal sehat, maka apa yang mereka lakukan akan menjadi sebuah bukti yang nyata bagi mereka. Mengapa tuhan-tuhan yang mereka sembah selama ini dapat dihancurkan? Apabila benar berhala-berhala itu tuhan mereka, kenapa mereka tidak kuasa membela diri dari orang yang hendak merusaknya. Akan tetapi, karena kebodohan mereka, kurangnya pemikiran mereka, terlalu sesat dan kufur, mereka malah mengatakan,..Siapa yang melakukan
(perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh dia termasuk orang yang zalim. (Abu'l Fidā Al-Qurasyi, Qisaşu'l Anbiyā 1417H/1977 M: 176).

- Penjelasan Surah Al-Anbiya' Ayat 45-57 :

Ayat 45-47 menjelaskan bahwa Rasul Saw. memberikan peringatan kepada manusia dengan Al-Qur’an. Orang-orang yang tersumbat telinganya tidak akan bisa mendengarkan peringatan tersebut. Kemudian, azab dunia tidak seberapa dibandingkan dengan azab akhirat yang akan mereka rasakan. Di akhirat nanti semua amal manusia akan  ditimbang seadil adilnya.  Manusia sedikit pun tiada akan dizalimi dan tidak ada satupun amal kebaikan dan kenburukan mereka yang terlupakan Allah kendati hanya sebesar inti atom.

Ayat 48 -50 menjelaskan bahwa Allah berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat yang membedakan antara hak dan batil dan menjadi cahaya dan peringatan bagi kaum yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang takut pada Allah kendati tidak dapat melihat-Nya dan juga takut pada peristiwa kiamat. Demikian juga Al-Qur’an sebagai peringatan yang penuh berkah. Diturunkan  Allah dari sisi-Nya. Apakah masih diingkari?

Ayat 51-57 menjelaskan pertarungan Ibrahim dengan kaumnya yang mencintai kemusyrikan daripada tauhid. Allah telah anugerahkan kepadanya kecerdasan sebelum diangkat jadi Rasul-Nya. Ia mengeritik bapak dan kaumnya  yang menyembah berhala. Mereka menyembahnya karena mengikuti tradisi nenek moyang belaka. Lalu Ibrahim menjelaskan bahwa mereka dalam keadaan sesat yang nyata.

Mereka menolak ajaran tauhid yang dibawa Ibrahim.  Lalu Ibrahim jelaskan bahwa konsep tauhid itu datang dari Pencipta langit dan bumi. Ibrahim  adalah saksinya. Melihat penolakan yang tidak logis itu, Ibrahim merancang sebuah strategi yang sangat cerdas.

Rabu, 02 Agustus 2023

Menutup Diri Dan Menjauh Dari Orang Lain Ketika Menunaikan Hajat (Terutama Buang Air Kecil)

Tematik (158)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Menutup Diri Dan Menjauh Dari Orang Lain Ketika Menunaikan Hajat (Terutama Buang Air Kecil)

- Termasuk adab Islam, ketika buang Air berusaha tidak terlihat oleh manusia

- WC umum saat ini kurang sesuai: kencing berdiri dan terlihat (orangnya)
Lebih baik masuk ke kamar mandi di WC umum tersebut

Di WC umum khusus laki-laki ada kloset untuk Buang air kecil (BAK) yang dirancang untuk BAK sambil beridri. Memang terlihat agak tertutup karena dibatasi papan pembatas. Kita mendapati model WC umum seperti ini di mana-mana, di pusat perbelanjaan, perkantoran, bandara, sekolah, terminal dan lain-lain.

Seorang muslim hendaknya memperhatikan adab ketika menunaikan hajat.  Hendaknya ketika BAK di WC semacam ini, ia tidak kencing di kloset model tersebut, akan tetapi hendaknya masuk ke kamar mandi dalam WC umum tersebut, karena tertutup dan tidak dilihat oleh orang lain.

Menutup diri dan menjauh dari manusia ketika buang hajat

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.”[1]

Dari Al-Mughirah bin Syu’bahradhiallahu anhu– dia berkata,

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَقَالَ يَا مُغِيرَةُ خُذْ الْإِدَاوَةَ فَأَخَذْتُهَا فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَارَى عَنِّي فَقَضَى حَاجَتَهُ

“Aku pernah bersama Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam suatu perjalanan, lalu beliau bersabda, “Wahai Mughirah, ambilkan segayung air.” Aku lalu mengambil air untuk beliau, kemudian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- pergi menjauh hingga tidak terlihat olehku, lalu beliau buang hajat.”[2]

Muhammad Asyraf bin Amir Aabadi menjelaskan dalam “aunul Ma’bud”,

أي هذا باب في التخلي عن الناس عند قضاء الغائط والمراد بالتخلي التفرد

“Bab ini mengenai “menjauh dari manusia katika menunaikan hajat”,yang dimaksud dengan menjauh adalah menyendiri.”[3]

Seakan-akan  sepele, tapi Islam memperhatikannya

Mungkin ada yang berkomentar,

“ah seperti itu terlalu diatur-atur, yang gampang kok dibuat rumit”

Maka kita katakan justru ini menunjukkankesempurnaan agama Islam, karena Islam memperhatikan masalah yang kecil, maka masalah yang lebih besar tentu Islam sudah mengatur dan memperhatikannya.

Sebagimana kisah ketika  seorang kafir jahiliah ketika ia berkata kepada sahabat Salman Al-Farisiradhiallahu ‘anhu,

قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ

“Sungguh Nabi kalian- Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mengajari kalian tentang segala hal sampai tata cara buang air”.

Maka Salman menjawab,

أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِيْنِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بَأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بَرَجِيْعٍ أَوْ بِعَظْمٍ

 “Betul, Sungguh kami dilarang menghadap kiblat saat buang air besar atau kecil, (kami juga dilarang) cebok dengan menggunakan tangan kanan atau cebok kurang dari 3 batu, atau cebok dengan kotoran hewan atau tulang”.[4]

[1] HR. Ibnu Majah (I/121 no. 335), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/19 no. 2) Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 268)
[2] HR. Al-Bukhari no. 203 dan Muslim no. 274
[3] ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawus 1/9, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, cet. II, 1415 H, syamilah
[4] HR. Muslim no.262,  Abu Dawud no. 7, At-Tirmidzi no.16, An-Nasa’i no.41 & 49, Ibnu Majah no.316