Tadabbur Al-Quran Hal. 473 | @KitabulSalaf
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Gafir ayat 56 :
اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
- Asbabun Nuzul Gafir ayat 56 :
Diriwayatakn oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil 'Aliyah, bahwa kaum Yahudi menghadap kepada Rasulullah Saw. Mempersoalkan Dajjal dengan berkata: "Apakah mungkin diantara kita nanti di akhir zaman mengagumi Dajjal dengan ajarannya dan mengagung-agungkan perbutannya". Ayat ini (Surat Ghafir: 56) turun sebagai keterangan bahwa persoalan yang dikemukakannya hanyalah menunjukkan kebodohan dan kesombongan mereka, serta memerintahkan kepada Nabinya untuk berindung kepada Allah dari fitnah Dajjal.
- Tafsir Al Muyassar Gafir ayat 56 :
Sesungguhnya orang-orang yang menolak kebenaran dengan kebatilan, menolak hujjah-hujjah Allah yang shahih dengan syubhat-syubhat yang rusak tanpa argumentasi dan hujjah dari Allah, di dalam dada mereka hanyalah kesombongan untuk menerima kebenaran, ditambah dengan kedengkian dari mereka atas karunia yang Allah berikan kepada Nabi-Nya, dan kemuliaan derajat kenabian yang Dia limpahkan kepadanya, sesuatu yang tidak akan mereka dapatkan dan raih. Maka berlindunglah kepada Allah dari keburukan mereka, sesungguhnya Allah Maha Mendengar perkataan-perkataan mereka, Maha Melihat perbuatan-perbuatan mereka, dan Dia akan membalas mereka atasnya.
- Asma'ul Husnā :
Allah Swt. mempunyai nama al basyiir artinya bahwa Allah disifati dengan Maha Melihat. Melihat merupakan salah satu sifat di antara sifat Zat-Nya yang berkaitan dengan kegagahan-Nya, yang wajib disematkan bagi Allah tanpa harus ada perumpamaan atau penyesuaian, penghilangan, atau penghapusan lagi. Dialah Yang Maha Melihat alam gaib maupun alam nyata. Dia melihat segala sesuatu betapa pun tersembunyi, Maha Menampakkan sesuatu, seberapa pun kecilnya atau besarnya. Allah Swt. Maha Mengetahui terhadap makhluk-Nya. Mengetahui apa yang luput dari pandangan dan apa yang tersembunyi di dalam dada. Tidak ada satu pun pekerjaan hamba-Nya yang luput dari pandangan-Nya. Sesuatu yang rahasia, bagi Allah adalah sangat terang, begitu juga yang gaib, bagi-Nya adalah nyata. Allah Maha Melihat gerakan semut hitam di padang pasir pada waktu malam gelap gulita. Allah Maha Melihat aliran keringat dan makanan yang mengalir ke dalam tubuh setiap makhluk. Dialah Yang Maha Melihat kaum mukminin dengan kedermawanan dan rahmatNya, mengaruniakan nikmat dan surga-Nya kepada mereka. Kemudian menambah kemuliaan mereka dengan pertemuan dan perjumpaan dengan-Nya. Tidak melihat kepada orang kafir adalah keputusan yang merupakan hukuman-Nya karena mereka kekal di dalam siksa-Nya dan terhalang untuk melihat-Nya. Seorang muslim yang mengesakan Allah dengan nama ini diharapkan meningkat kepada tingkatan ihsān, serta senantiasa dipengaruhi oleh kesempurnaan pengawasan. Sebagaimana diceritakan oleh Umar Ra.. bahwa Rasulullah Saw. bersabda tentang arti ihsān, "Adalah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihatmu". (Sahih Bukhāri, 50). Seorang hamba mesti berkeyakinan bahwa Tuhannya selalu memperhatikan dia pada setiap ketaatan yang dilakukan, meyakini bahwa Dia di atas 'Arsy-Nya, Maha Melihat segala bentuk ibadah kita kepada-Nya, Maha Melihat keikhlasan dan niat hamba. Allah Swt. berfirman: Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasu-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS At-Taubah, 9:105). Termasuk di antara bentuk pengesaan Allah dalam nama ini adalah kita bisa melihat kebesaran makhluk dan ciptaan Allah, kesempurnaan kekuasaan-Nya dan kesempurnaan hikmah-Nya. (Dr. Mahmūd Abdurrazāk Ar-Ridwāni, Ad-Du'au bi'l Asmāil Husnā, 2005: 35).
- Riyāduş şälihin :
Dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw. bersabda, "Seorang hamba yang paling dekat dari Rabbnya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah doa." (HR Muslim). Hadiš di atas memberikan faedah bahwa dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud dengan tasbih (Subhāna Rabbiyal Alā) untuk penyempurnaan kerendahan hati manusia pada Tuhannya ketika ia menempatkan kepalanya ke tanah sebagai wujud pengamalan atas perintah Allah Swt. Oleh karena itu, ketika bersujud adalah waktu yang paling dekat dengan Allah Swt. dan secara makna menunjukkan keridaan Allah Swt. pada hamba-Nya dan mengabulkan permohonannya. (Dr. Mustafa Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 2, 1407 H/1987 M: 979).
- Hadis Nabawi :
Dari Abu Musa, ia menuturkan, "Kami pernah bersama Rasulullah Saw. dalam suatu peperangan. Kami tidak menaiki tanah mendaki atau tanah tinggi atau menuruni lembah selain kami meninggikan suara kami dengan takbir." Kata Abu Musa, "Kemudian Rasulullah Saw. mendekati kami dan bersabda, Hai manusia, rendahkanlah suara kalian ketika berdoa, sebab kalian tidak menyeru Zat yang tuli lagi tidak gaib, tetapi kalian menyeru kepada Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kemudian beliau bersabda, Hai Abdullah bin Qais, maukah kamu kuajari kalimat yang menjadi harta karun surga?, yaitu ucapan Lã Haula walā Quwwata illa billah." (HR Al-Bukhari, Sahih Bukhāri, Juz 4, No. hadis 6610, 1400. H: 211).
- Hadis Motivasi QS 40: 58 :
Dari Al-Bara, dia berkata bahwa ketika turun ayat: "La yastawil qaiduna minal mu'minin." datanglah lbnu Ummi Maktum dan dia adalah orang yang buta. Kemudian dia berkata. "Wahai Rasulullah. bagaimana mengenai diriku. sedangkan aku adalah orang yang buta?" Al-Bara berkata,"Tidak lama kemudian, turunlah ayat: 'Gairu uliddarar." (HR Nasa'i. 3102)
- HADIS NIAGA QS Gāfir, 40: 55 :
Bersabar dari Kefakiran
Dari Abu Sa'id Al-Khudri dia mengadu tentang keperluan hidupnya kepada Rasulullah Beliau pun bersabda: "Bersabarlah engkau, wahai Abu Sa'id! Sesungguhnya, kefakiran yang datang kepada orang yang mencintaiku itu lebih cepat daripada aliran air bah dari atas lembah dan atas gunung ke bagian bawahnya." (HR Ahmad, 11379)
- AMAL NIAGA :
1. Keadaan miskin dan kaya merupakan ujian bagi seorang hamba. Orang miskin diuji dengan kefakirannya, apakah dia dapat bersabar atau tidak. Sedangkan orang kaya diuji dengan kekayaannya, apakah dia dapat bersyukur atau dia kufur terhadap nikmat Allah.
2. Sebagai seorang niagawan mukmin, hendaklah Anda bersyukur saat mendapat kebahagiaan dan bersabar saat mengalami musibah. Dengan begitu, kebaikan dunia dan akhirat akan Anda raih.
3. Bersyukurlah menjadi seorang mukmin karena Anda berpeluang mendapat ganjaran dalam setiap keadaan yang Anda alami. Hal ini tidak didapatkan oleh orang-orang kafir.
- Tadabbur Surah Al-Mukmin Ayat 50-58 :
Ayat 50-52 meneruskan kisah dialog antara para penghuni neraka dengan para malaikat penjaganya. Para penjaga neraka menjawab : Bukankah telah datang kepada kalian rasul-rasul Allah dengan menjelaskan wahyu-Nya? Mereka menjawab: Benar. Para malaikat itu berkata: Kalian sendirilah yang memohon, tidak akan memohonkan ampunan untuk kalian. Sungguh permohonan kaum kafir itu tidak ada gunanya.
Allah menjamin pertolongan bagi para rasul-Nya dan kaum mukminin di dunia dan pada hari ditegakkannya kesaksian, yakni mahsyar. Pada hari itu, orang-orang zalim (kafir dan musyrik) tidak akan diterima permohonan maaf mereka dan bagi mereka laknat Allah dan tempat tinggal yang paling buruk (neraka).
Ayat 53-58 menjelaskan bahwa Allah memberikan kepada Musa petunjuk-Nya dan mewarisakan kepada Bani Israel Kitab Taurat yang menjadi petunjuk hidup bagi mereka dan peringatan bagi mereka yang memilliki akal sehat. Sebab itu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar sabar terhadap kejahatan kaum kafir Mekkah dan kaum kafir lainhya, karena janji Allah akan memenangkan agama dan dakwah-Nya adalah suatu kebenaran mutlak jika mampu bersabar, selalu istighfar (minta ampun pada Allah) dan bertasbih memuji-Nya di waktu petang dan pagi.
Orang-orang yang membantah Al-Qur’an tanpa memberikan bukti yang benar (tidak akan pernah bisa) adalah orang yang di dalam hati mereka terdapat kesombongan yang tidak bisa mereka sampai kepada apa yang mereka sombongkan itu. Allah juga menyuruh Rasul saw. untuk meminta perlindungan dari Allah kerena Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Memenangkan agama dan rasul itu lebih mudah bagi Allah karena penciptaan langit dan bumi ini jauh lebih besar dari penciptaan manusia. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak memahaminya.
Tidaklah sama antara orang buta dengan yang melihat dan begitu pula antara orang-orang berikan dan beramal saleh dengan orang yang berbuat jahat. Sedikit sekali yang dapat mengambil pelajaran.