بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Senin, 22 Juni 2026

Tadabbur Al Quran hal. 462

Tadabbur Al-Quran Hal. 462
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Az-Zumar ayat 36 : اَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَافٍ عَبْدَهٗۗ وَيُخَوِّفُوْنَكَ بِالَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖۗ وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍۚ Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan (sesembahan) yang selain Dia. Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. - Asbabun Nuzul Az-Zumar ayat 36 : Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq yang bersumber dari Ma'mar, bahwa kaum musyrikin berkata kepada Nabi: "Hentikanlah makianmu terhadap tuhan-tuhan kami, atau kami perintahkan Tuhan kami untuk menjadikan kau orang gila". Ayat ini turun sebagai penegasan kepada Nabi Muhammad Saw. Bahwa hanya Allah yang dapat memberi petunjuk. - Tafsir Al Muyassar Az-Zumar ayat 36 : Bukankah Allah telah menjaga hamba-Nya Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dari tipu daya dan maker orang-orang musyrikin sehingga mereka tidak kuasa menimpakan keburukan atasnya? Benar, sesungguhnya Allah akan mencukupkan untuknya perkara agama dan dunianya, membelanya dari siapa yang hendak bertindak buruk terhadapnya. Dan mereka (wahai Rasul) menakut-nakutimu dengan llah-llah mereka dimana mereka mengatakan bahwa ia akan menyakitimu. Barangsiapa yang dibiarkan oleh Allah lalu disesatkannya dari jalan kebenaran, maka dia tidak akan menemukan orang yang bias memberinya petunjuk. - Tazkiyyatun Nafs : Rahasia penciptaan, perintah, kitab-kitab, syariat, pahala, dan siksa terpusat pada dua penggal kalimat ini yang sekaligus merupakan inti 'ubūdiyah dan tauhid. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Allah Swt. menurunkan seratus empat kitab yang makna-maknanya terhimpun dalam Taurat, Injil, dan A-Qur'an. Makna-makna tiga kitab ini terhimpun di dalam Al-Qur'an. Makna-makna A-Qur'an terhimpun dalam surah-surah yang pendek. Makna-makna dalam surah-surah yang pendek terhimpun dalam surah Al-Fatihah. Makna-makna Al-Fātihah terhimpun di dalam kalimat lyyāka Nabudu wa lyyāka Nasta'in. Dua kalimat ini dibagi antara milik Allah Swt. dan milik hamba-Nya. Sebagian bagi Allah Swt., yaitu lyyāka Na budu, dan sebagian lagi bagi hamba-Nya, yaitu lyyāka Nasta in. lbadah mengandung dua dasar: cinta dan penyembahan. Menyembah di sini berarti merendahkan diri dan tunduk. Siapa yang mengaku cinta namun tidak tunduk, berarti bukan orang yang menyembah. Siapa yang tunduk namun tidak cinta, juga bukan orang yang menyembah. Dia disebut orang yang menyembah jika cinta dan tunduk. Karena itu, orang-orang yang mengingkari cinta hamba terhadap Allah Swt. adalah orang-orang yang mengingkari hakikat ubūdiyah dan sekaligus mengingkari keberadaan Allah Swt. sebagai Zat yang mereka cintai, yang berarti mereka juga mengingkarí keberadaan Alah Swt. sebagai llah (sesembahan), sekalipun mereka mengakui Allah Swt. sebagai penguasa semesta alam dan pencipta-nya. Inilah tauhid mereka yang terbatas pada tauhid Rubūbiyah, seperti pengakuan bangsa Arab, tapi mereka tidak keluar dari syirik, sebagaimana firman Allah Swt., <Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka menjavwab, "Allah Swt.. (0S Az-Zumar, 39: 38). Istiānah (memohon pertolongan) menghimpun dua dasar: kepercayaan terhadap Allah Swt. dan penyandaran kepada-Nya. Adakalanya seorang hamba menaruh kepercayaan terhadap seseorang, tapi dia tidak menyandarkan semua urusan kepadanya karena dia merasa tidak membutuhkan dirinya. Atau juga, adakalanya seseorang menyandarkan berbagai urusan kepada seseorang. padahal sebenarnya dia tidak percaya kepadanya karena dia merasa membutuhkannya dan tidak ada orang lain yang memenuhi kebutuhannya. Karena itu, dia bersandar kepadanya. Tawakal merupakan makna yang juga cocok dengan dua dasar ini, kepercayaan dan penyandaran, yang sekaligus merupakan hakikat yyāka Na'budu wa lyyāka Nasta in. Tawakal dan ibadah disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur'an secara berurutan, di antaranya, «Dan milik Allah Swt. meliputi rahasia langit dan bumi dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Hūd, 11: 123). (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju AsSālikin Manāzilu lyyāka Na'budu wa lyyāka Nasta inu, Juz 1, t.t.: 85-88). Riyāduş Şälihin : Dari Mu'aż Ra., ia berkata, "Aku pernah dibonceng di belakang Nabi Saw. di atas seekor keledai, lalu beliau bertanya, Wahai Mu'až, tahukah kamu apa hak Allah Swt. atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Alah Swt.?' Aku jawab, 'Allah Swt. dan Rasul-Nya yang lebih tahu.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya hak Allah Swt. atas para hamba-Nya adalah hendaklah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu Hadis di atas mengandung faedah di antaranya, Allah Swt. mengutamakan para hamba-Nya dengan magfirah dan rahmat. Dibolehkan untuk menyembunyikan kabar baik sekiranya akan mendorong seseorang kepada perkara yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang lebih utama. (Dr. Mustafa Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis şālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 386). - Medical Hadis : Dari Ummu Salamah Ra., bahwa Nabi Saw. apabila melumuri badannya, maka beliau memulai dengan auratnya terlebih dahulu, kemudian istrinya yang melumuri seluruh badannya dengan kapur wangi." (HR Ibnu Mājah). (Aż-Žahabi, At-Tibbun Nabawi, 1410H/1990M: 200; lbnu'l Qayyim A-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, tt.. 312). - Tibbun Nabawi : Khasiat Nürah atau Nawrah Nürah artinya kapur wangi. Ada yang berpendapat bahwa yang pertama kali mandi dengan mempersiapkan kapur wangi adalah Sulaiman bin Dāud. Kapur wangi bisa dicampur dengan air hingga berwarna kebiru-biruan dan dibiarkan terkena sinar matahari, lalu diletakkan di kamar mandi. Cara menggunakannya, kapur wangi dioleskan ke seluruh tubuh dan dibiarkan beberapa lama tanpa terkena sinar matahari, lalu dibersihkan dengan air ketika mandi dan untuk menghilangkan efek api atau panasnya dapat dilumuri dengan inai. (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdu'l Ma ãdi fi Hadyi Khayril lbādi, Juz 4, t.t.: 399-400). - HADIS NIAGA QS Az-Zumar, 39: 36 : Memohon kepada Allah agar Diberi Kecukupan Dari Ali dia mengatakan bahwa seorang budak mukatab mendatanginya kemudian budak itu berkata, "Sesungguhnya, aku tidak mampu membayar uang cicilan kemerdekaanku. Oleh karena itu, bantulah aku." Ali berkata, "Maukah engkau aku beri tahukan beberapa kalimat yang diajarkan kepadaku oleh Rasulullah ? Seandainya engkau mempunyai utang sebesar gunung niscaya Allah akan melunasinya darimu. Katakanlah, 'Allāhummakfini bihalālika 'an harāmika wa agnini bi fadlika 'amman siwāka.' (Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki yang Engkau halalkan dari yang Engkau haramkan dan cukupilah aku dengan karunia-Mu dari siapa pun selain-Mu)." (HR Tirmizi, 3563) - Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 32-40 : Ayat 32-40 menjelaskan lima poin berikut :  1. Orang yang paling zalim ialah yang menganggap Allah dan Rasul-Nya pembohong dan menolak Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw. sebagai sistem hidup. Tempat mereka nanti di akhirat adalah neraka Jahannam.  2. Orang-orang yang meyakini kebenaran Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan mereka adalah orang-orang yang bertakwa dan bagi mereka apa saja yang mereka inginkan di surga. Allah hapuskan dosa-dosa mereka dan balas kebaikan mereka dengan berlipat ganda.  3. Cukup Allah sebagai pelindung bagi kaum mukmin. Mereka tidak boleh takut terhadap upaya yang dilakukan orang - orang kafir untuk menakut-nakutkan mereka pada tuhan-tuhan yang mereka sembah.  4. Hidayah itu di tangan Allah. Siapa yang disesatkan-Nya tidak ada yang dapat memberinya petunjuk dan siapa yang diberi-Nya petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Allah Mahaperkasa dan memiliki pembalasan dendam.  5. Kaum musyrikin itu mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi. Namun, mereka tidak mau mentauhidkan (mengesakan) Allah. Padahal, jika Allah berkehendak memberi mereka mudarat (bahaya), apakah tuhan-tuhan yang  mereka sembah itu mampu menghilangkannya? Atau ketika Allah menghendaki mereka manfaat atau kebaikan, apakah tuhan-tuhan tersebut dapat menghalanginya?   6. Allah mengajarkan Rasul saw. dan umatnya agar bertawakkal kepada Allah dalam menjalankan ajaran Islam. Biarkan kaum kafir itu  berbuat apa yang mereka inginkan. Rasul saw. dan umatnya berbuat pula sesuai yang Allah  gariskan. Nanti kaum kafir akan mengetahui azab neraka yang menghinakan mereka.