بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Selasa, 14 Mei 2024

Pengaruh Berteman dengan Orang Shaleh dan Berteman dengan Orang Jelek

One Day One Hadits (306)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pengaruh Berteman dengan Orang Shaleh dan Berteman dengan Orang Jelek

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
((مَثَلُ الجليس الصالح وجليس السوء؛ كحامل المسك ونافخ الكِير، فحامل المسك: إما أن يُحْذِيَك، وإما أن تبتاع منه، وإما أن تجد منه ريحاً طيبة، ونافح الكِير: إما أن يحرق ثيابك، وإما أن تجد منه ريحاً خبيثة))؛ متفقٌ عليه.

Dari Abu Musa Al-'Asy'ari radhiyallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
((Permisalan duduk dengan orang shalih dan duduk dengan orang jelek; seperti penjual minyak wangi dengan tukang besi, maka penjual minyak wangi: baik ia memberikan minyak wanginya kepadamu, atau kamu membeli minyak wanginya atau minimal kamu mendapatkan bau harum darinya adapun tukang besi: baik ia akan membakar pakainmu atau minimal kamu mendapatkan bau busuk darinya)). mutafaqun alaihi

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1. Hadits ini memberikan pelajaran sesungguhnya duduk bersama orang shalih dan semua teman-temanya memberikan kebaikan, berkah, manfaat dan keuntungan seperti penjual minyak wangi yang dapat memberikan bermanfaat bagi siapa yang besamanya baik berupa hadiah atau membeli atau minimal mendapatkan sesuatu; kondisi duduk bersamanya kamu akan mendapatkan ketenangan diri dan kelapangan dada dengan bau harum minyak wangi, ini pendekatan dan permisalan duduk bersama orang shalih.

2. Akan tetapi kebaikan yang didapatkan seorang hamba dari duduk bersama orang shalih lebih luas dan lebih utama dari minyak wangi: baik ia akan mengajarkanmu urusan-urusan yang bermanfaat bagi agamamu atau mengajarkanmu urusan-urusan yang bermanfaat bagi duniamu atau keduanya atau akan memberikanmu petunjuk berupa nasihat yang bermanfaat bagi kehidupanmu ketika engkau masih hidup dan setelah engakau meninggal atau akan melarangmu atas apa-apa yang dapat mendatangkan kerugian bagimu; maka engkau bersamanya akan selalu mendapatkan manfaat dan keuntungan yang banyak -dengan izin Allah-.

3. Maka kamu akan dapatkan jika ia melihat engkau malas dalam keta'atan kepada Allah, ia akan memberimu petunjuk, maka keinginanmu untuk ta'at semakin bertambah dan kamu akan bersungguh-sungguh untuk menambah keta'atan, dan kamu akan melihat ia memaparkan kepadamu aib-aibmu dan mengajakmu menuju kemuliaan dan kebaikan  akhlaq dengan ucapan, perbuatan dan keteladanan.

4. Dan minimal manfaat yang didapat dari duduk bersama orang shalih adalah menjaga seseorang dari perbuatan jelek, kemungkaran dan maksiat; saling menjaga karena persahabatan, saling berlomba-lomba dalam kebaikan dan saling meninggalkan kejelekan.

5. Dan manfaat lain yang dapat peroleh dari duduk bersama orang shalih adalah sesungguhnya ia akan menjaga kehormatanmu ketika engkau tidak ada dan ketika engkau ada, ia akan selalu menjaga dan melindungimu.

6. Selain itu ia akan selalu mendoakanmu baik ketika hidup maupun setelah meninggal.

7. Adapaun persahabatan dengan orang yang jelek, maka ini adalah racun yang sangat mematikan dan musibah yang besar, maka engkau akan dapatkan mereka berani berbuat maksiat dan kemungkaran dan mereka menginginkan hal tersebut.

8. Kemudian mereka akan membuka pintu-pintu kejelekan bagi siapa yang ingin bergabung dan duduk bersama mereka dan menghiasinya dengan jenis-jenis kemaksiatan.

9. Mereka mengajak merusak ciptaan Allah dan mengingatkatkan urusan-urusan kejelekan yang mereka tidak akan pernah merubah pikirannya, jika salah seorang diantara mereka ingin bertaubat dan meninggalkan maksiat maka mereka akan membujuknya dan memperlihatkan keindahan-keindahan perbuatan maksiat dan angan-angan kosong, dan sungguh kondisi anda akan lebih hina dari yang lainnya, kemudian tempat taubatmu apabila engkau telah lanjut usia, dan apa yang didapatkan dari bergaul dan berkerjasama dengan mereka adalah lebih besar dari ini.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1. Allah Subhana wa Ta'ala telah mengabarkan kepada kita tentang kondisi majelis mereka dan di akhirat sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling bermusuhan

الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ 

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. ( QS. Az Zukhruf : 67 )

2. Perhatikan kondisi Abi Thalib dan siapa yang menjadi teman duduknya dan bagaimana pengaruh persahabatnya pada akhir urusannya .

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya"[Al-Qosos:56].

Sabtu, 11 Mei 2024

BENERAN MAU MASUK NERAKA ?

Tematik (203)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

BENERAN MAU MASUK NERAKA ?

Baca ini pelan-pelan dan renungkan, sebelum menjadi penyesalan :

1). Neraka adalah tempat terburuk

Allah Ta’ala berfirman,

إنها سآءت مستقراً ومقاماً

“Sesungguhnya neraka Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” (QS. Al-Furqan: 66).

2). Di Neraka adai Rantai dan Belenggu yang menyala.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَلَٰسِلَاْ وَأَغۡلَٰلٗا وَسَعِيرًا

“Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala” (QS. Al-Insan: 4).

Allah Ta’ala juga berfirman,

إِذِ اْلأَغْلاَلُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلاَسِلُ يُسْحَبُونَ فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ

“ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, sambil mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api” (QS. Ghafir: 71-72).

3). Api Neraka Itu Sangat Amat Panas.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

نَارُكم هذِه ما يُوقدُ بنُو آدمَ جُزْءٌ واحدٌ من سبعين جزءاً من نار جهنَّم

“Api yang dinyalakan oleh Ibnu Adam adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya api Jahannam” (HR. Bukhari no. 3265, Muslim no. 2834).

4). Neraka itu Sangat Dalam.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, beliau berkata,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدْرُونَ مَا هَذَا قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا

“Kami pernah bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba-tiba beliau mendengar seperti suara benda jatuh ke dasar. Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya, ‘Tahukah kalian suara apa itu?’ Kami menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Ini adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak 70 tahun yang lalu dan sekarang baru mencapai dasarnya’” (HR. Muslim no. 2844).

5). Makanan dan Minuman Penduduk Neraka
Minuman penduduk neraka.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا

“ِmereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah” (QS. An Naba’: 24-25).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَسُقُوا مَاء حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءهُمْ

“Mereka (penghuni neraka) diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong usus-usus mereka” (QS. Muhammad: 15).

Diantara makanan penduduk neraka adalah buah zaqqum. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ طَعَامُ الْأَثِيمِ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai ngerinya buah zaqqum,

لَوْ أنَّ قطْرةً من الزَّقُّومِ قَطَرَتْ في دار الدُّنْيَا لأفْسَدَتْ على أهلِ الدنيا مَعَايِشَهُمْ

“Kalaulah saja setetes dari buah zaqqum menetes di dunia, niscaya akan menimbulkan kerusakan terhadap kehidupan penduduk dunia” (HR. At Tirmidzi no. 2585, ia berkata, “hasan shahih”).

6). Pakaian Penduduk Neraka

Allah Ta’ala berfirman,

فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ ٩ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ ٢٠ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ١ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا مِنۡ غَمٍّ أُعِيدُواْ فِيهَا وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ

“Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.” (QS. Al-Hajj: 19-21).

7). Siksaan yang Paling Ringan di Neraka

Dari An Nu’man bin Basyir radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ أهْوَنَ أهل النارِ عذاباً مَنْ لَهُ نَعْلانِ وشِرَاكانِ من نارٍ يَغلي منهما دماغُه كما يغلي المِرْجَل ما يَرَى أنَّ أحداً أشدُّ منهُ عَذَاباً وإنَّهُ لأهْونُهمْ عذاباً

”Penduduk neraka yang paling ringan siksaannya di neraka adalah seseorang yang memakai dua sandal neraka yang memiliki dua tali. Kemudian otaknya mendidih karena panasnya sebagaimana mendidihnya air di kuali. Orang tersebut merasa tidak ada orang lain yang siksanya lebih pedih dari siksaannya. Padahal siksaannya adalah yang paling ringan diantara mereka” (HR. Muslim no. 213).

8). Satu Celupan Saja di Neraka Membuat Kenikmatan Dunia Tidak Ada Artinya

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُؤتَى بأنْعَم أهل الدنيا مِنْ أهل النار فيُصْبَغُ في النارِ صَبْغَةً ثم يُقَال: يا ابنَ آدمَ هل رأيتَ خيراً قطُّ هل مَرَّ بكَ نعيمٌ قط؟ فيقولُ لا والله يا ربِّ، ويؤْتَى بأشَدِّ الناسِ بؤساً في الدنيا مِنْ أهل الجنة فيصبغُ صبغةً في الجنة فيقال: يا ابن آدمَ هل رأيتَ بؤساً قط؟ هل مَرَّ بك من شدة قط؟ فيقولُ: لا والله يا ربِّ ما رأيتُ بؤساً ولا مرّ بِي مِنْ شدةٍ قَطُّ

“Didatangkan penduduk neraka yang paling banyak nikmatnya di dunia pada hari kiamat. Lalu ia dicelupkan ke neraka dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan sedikit saja? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan sedikit saja?’ Ia mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku.” Didatangkan pula penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya” (HR. Muslim no. 2807).

9). Penduduk neraka sampai menangis darah.

Dari Abdullah bin Qais radhiallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَهْلَ النَّارِ لَيَبْكُونَ فِي النَّارِ حَتَّى لَوْ أُجْرِيَتِ السُّفُنُ فِي دُمُوعِهِمْ لَجَرَتْ، ثُمَّ إِنَّهُمْ لَيَبْكُونَ الدَّمَ بَعْدَ الدُّمُوعِ وَبِمِثْلِ مَا هُمْ فِيهِ

“Sungguh, penduduk Neraka akan menangis di Neraka. Seandainya perahu dijalankan di genangan air mata mereka, niscaya perahu tersebut akan berjalan. Kemudian mereka akan menangis darah, sebagai ganti air mata mereka.” [HR. Ibnu Majah, lihat ash-Shahihah no. 1679]

Jumat, 10 Mei 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 377

Tadabbur Al-Quran Hal. 377
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- An-Naml ayat 8 :

فَلَمَّا جَاۤءَهَا نُوْدِيَ اَنْۢ بُوْرِكَ مَنْ فِى النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَاۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Maka ketika dia tiba di sana (tempat api itu), dia diseru, “Telah diberkahi orang-orang yang berada di dekat api, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”

- Tafsir Al Muyassar An-Naml ayat 8 :

Manakala Musa datang kepada api, Allah memanggilnya dan mengabarkan kepadanya bahwa tempat ini adalah tempat suci, Allah memberkahinya dan menjadikannya
sebagai tempat untuk berbicara kepada Musa dan mengangkatnya sebagai utusan. Dan bahwa Allah
memberkahi malaikat yang ada pada api itu dan yang ada di sekitarnya, sebagai ungkapan penyucian bagi Allah Rabb seluruh makhluk dari apa yang tidak layak bagi-Nya.

- Hadis Motivasi An-Naml ayat 8 :

Dari Hakim bin Hizam dia berkata, Aku
pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah lalu beliau memberiku. Kemudian, aku meminta lagi maka beliau pun masih memberiku lagi seraya bersabda: "Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi
manis maka barang siapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya." (HR Bukhari. 2599)

- Asmä'ul Husnā :

Allah Swt. berfirman, { Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Alah, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. }(QS An-Naml, 27: 9).
Dan, "Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang". (QS Asy-Syu'arā, 26: 9).

Allah Swt. mempunyai nama. Al Aziz    artinya yang menguasai urusan-Nya. Dialah yang mempunyai ketinggian dan kekuasaan dalam kerajaan. Dialah Sang Raja diatas Arasy-Nya, yang tunggal dalam nama dan sifat, yang tiada bandingan dalam sifat kesempurnaan. Yang Mahakuat, yang tiada menandingi, Yang Maha Esa tidak ada yang serupa. Kekuatan adalah sarung-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya.

Contoh doa dengan menggunakan
nama ini berdasar kepada hadis 'Aisyah Ra., bahwa Rasulullah Saw. jika melaksanakan salat malam, beliau berdoa, "Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa dan Maha Menaklukkan, Tuhan seluruh langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya, Yang Maha kuat dan Maha Pengampun..." (Sahih Al-Jāmi, 4693).
Bagi seorang muslim yang berdoa dengan nama Allah ini, hendaknya ia merasakan kehadiran kekuatan yang bisa dirasakan oleh setiap muslim ketika mengesakan, beribadah dan mencintai Tuhannya. Setiap amalan hendaknya menambah kedekatan
dengan-Nya. la senantiasa yakin bahwa kekuatan itu hanya akan ada jika menjalankan perintah-Nya, karena Allah Swt.

Yang Mahakuat telah memberikan kekuatan kepada Rasul-Nya, pengikut dan pendukungnya. Seorang muslim tidak akan rida kekuatan Islam dan umatnya tergantikan dengan yang lain. (DR. Mahmūd Abdurrazāk Ar-Ridwāni, Ad-Du'āu bil Asmāil Husnā, 2005: 24).

- Riyāduş Şälihin :

Dari Abdullah bin Amr bin AI-As bahwa Nabi Saw. pernah membaca firman Allah dalam surah lbrahim, (Ya Tuhan, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia.

Barangsiapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku... (QS Ibrahim, 14:36) hingga akhir ayat, dan mengenai Isa As. dalam surah Al-Maidah, 5: 118, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya
berdoa, "Ya Allah, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku. Beliau menangis.

Kemudian Allah Swt. berfirman kepada
malaikat Jibril, Temuilah Muhammad dan Rabbmulah yang lebih tahu-dan tanyakan kepadanya, Apa yang membuatmu menangis? Maka malaikat Jibril pun bertanya
kepada beliau, dan beliau menjawabnya dengan apa yang difirmankan Allah Swt. dan Allah Swt. lebih mengetahui hal itu.

Kemudian Allah Swt. berfirman, "Wahai
Jibril, temuilah Muhammad dan katakan bahwa Kami akan membuatmu senang dengan umatmu dan tidak akan membuatmu
sedih." (HR Muslim).

Hadiš di atas memberikan faedah:
(a) Penjelasan syafaat Nabi Saw. pada
matnya dan pertolongannya dengan
memberikan kemashlahatan pada me-
reka serta perhatian terhadap perma-
salahan mereka.
(b) Kasih sayang Allah bersama mereka dan Allah mencintai Nabi-Nya.
(Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 1, 1407H/1987 M: 385-386).

- Hadis Nabawi :

Dari Anas, dari Nabi Saw., beliau bersabda, "Terus saja penghuni neraka dimasukkan ke dalamnya, dan neraka berkata, "Masih adakah tambahan?" Maka Allah Rabbul 'alamin meletakkan telapak kaki-Nya, sehingga satu
sama lain (di antara penghuni neraka) saling berdesakan, lalu neraka berkata, "Cukup-cukup" Demi kekuasaan dan kemuliaan-Mu.

Sedangkan di surga masih saja ada lebihnya sehingga Allah menciptakan makhluk baru, lalu menempatkan mereka di dalam surga yang selebihnya tersebut." (HR Al-Bukhāri,
Sahihu'l Bukhāri, Juz 4, No. Hadis 7384, 1400 H:380-381).

- HADIS NIAGA QS An-Naml, 27: 4 :

Mengetahui Hakikat Dunia

Dari Abu Hurairah

Dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: "Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir." (HR Muslim, 2392)

- AMAL NIAGA :

1. Seorang muslim harus meyakini bahwa dunia ini akan ada akhirnya.
Tidak ada yang abadi di dunia ini, bahkan dunia itu sendiri.
2. Hal yang abadi adalah amal saleh. Maka dari itu, perbanyaklah dan
perbaikilah amal saleh dengan keikhlasan. Dunia memang tidak akan
dibawa mati, tapi nilai amal dunia yang Allah titipkan itu yang akan dibawa mati.
3. Janganlah iri kepada orang lain yang mungkin memiliki dunia dan harta yang lebih banyak. Orang yang paling mulia dalam Islam bukanlah
mereka yang memiliki banyak harta dan tinggi kedudukannya, melainkan mereka yang menjaga dan terus menaikkan ketakwaannya kepada Allah .

Senin, 06 Mei 2024

PERJALANAN MENUJU AKHIRAT

Tematik (202)
---------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

PERJALANAN MENUJU AKHIRAT
 
Hari akhirat adalah hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allâh 'Azza wa Jalla dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna dan hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia. Juga pada hari itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata penuh penyesalan :  
 
يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي  
“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.”  
[QS. Al-Fajr/89 : 24]  
 
Maka hendaknya setiap Muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. 
 
Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan bagi manusia yang sesungguhnya. Kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia.  
Allâh Azza wa Jalla berfirman :  
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ  
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  
[QS. Al-Hasyr/59 : 18] 
 
Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qatâdah rahimahullah[1]  berkata : 
 
“Senantiasa tuhanmu (Allâh 'Azza wa Jalla) mendekatkan hari kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok”[2].  
 
Semoga Allâh 'Azza wa Jalla meridhai Sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu yang telah mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal :  
 
“Hisablah (introspeksilah) dirimu saat ini, sebelum kamu dihisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat). Timbanglah dirimu saat ini, sebelum amal perbuatanmu ditimbang (pada hari kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu menghadapi hari kiamat jika kamu mengintrospeksi dirimu saat ini; dan hiasilah dirimu dengan amal shaleh untuk menghadapi hari yang besar ketika manusia dihadapkan kepada Allâh 'Azza wa Jalla."  
 
Allâh 'Azza wa Jalla berfirman :  
 
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنْكُمْ خَافِيَةٌ  
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).”  
[QS. Al-Hâqqah/69 : 18][3] 
 
Senada dengan ucapan di atas, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu berkata, 
 
“Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat telah datang menghampiri kita, dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini waktunya beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok di akhirat adalah saat perhitungan dan tidak ada waktu lagi untuk beramal”[4]. 
 
“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing…” Dunia adalah tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup, maka dengan izin Allâh 'Azza wa Jalla dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dengan sabdanya, 
 
“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.“[5] 
 
Hadits ini sebagai nasehat bagi orang beriman, bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara; tidak terikat hatinya pada tempat persinggahannya, serta terus merindukan kembali ke kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang Mukmin di dunia yang hatinya, selalu terikat dan rindu kembali ke kampung halaman yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam 'alaihissallam dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia. Dalam sebuah nasehat tertulis yang disampaikan oleh Imam Hasan al-Bashri rahimahullaht kepada Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, beliau berkata :  
 
“…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal yang sebenarnya, dan hanyalah Adam 'alaihis sallam diturunkan ke dunia untuk menerima hukuman akibat perbuatan dosanya…”[6]. 
 
Dalam mengungkapkan makna hal ini Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam  syairnya, 
 
"Marilah (kita menuju) surga ‘adn (tempat menetap) karena sesungguhnya itulah Tempat tinggal kita yang pertama, yang di dalamnya terdapat kemah (yang indah) Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh (setan), maka apakah kamu melihat Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman kita dengan selamat?"[7]  
 
Sikap hidup ini menjadikan seorang Mukmin tidak panjang angan-angan dan terlalu muluk dalam menjalani kehidupan dunia, karena “barangsiapa yang hidup di dunia seperti orang asing, maka dia tidak punya keinginan kecuali mempersiapkan bekal yang bermanfaat baginya ketika kembali ke akhirat. Dia tidak berambisi dan berlomba bersama orang- orang yang mengejar kemewahan dunia, karena keadaannya seperti perantau, yaitu tidak merasa risau dengan kemiskinan dan rendahnya kedudukannya.”[8].  
 
Makna inilah yang diisyaratkan `Abdullâh bin Umar radhiyallahu 'anhu : 
 
”Jika kamu berada di waktu sore maka janganlah menunggu datangnya waktu pagi; dan jika kamu berada di waktu pagi maka janganlah menunggu datangnya waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum kematian menjemputmu”[9].  
 
Bahkan inilah makna zuhud di dunia yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah :  
 
“Maknanya adalah tidak panjang angan-angan, yaitu seseorang yang ketika berada di waktu pagi dia berkata : “Aku khawatir tidak akan bisa mencapai waktu sore lagi””[10].  
 
“Berbekallah, dan sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa.”  
 
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى  
Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah takwa, yang berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allâh 'Azza wa Jalla yang dikhawatirkan akan menimpanya, yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya”[11].  
 
Maka sesuai dengan keadaan seorang hamba di dunia dalam melakukan ketaatan kepada Allâh 'Azza wa Jalla dan meninggalkan perbuatan maksiat, begitu pula keadaannya di akhirat kelak. Semakin banyak dia berbuat baik di dunia akan semakin banyak pula kebaikan yang akan di raihnya di akhirat nanti, yang berarti semakin besar pula peluangnya meraih keselamatan menuju surga. Inilah di antara makna yang diisyaratkan oleh Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :  
 
“Setiap orang akan dibangkitkan (pada hari kiamat) sesuai dengan keadaannya sewaktu dia meninggal dunia”[12]. 
 
Artinya dia akan mendapatkan balasan pada hari kebangkitan kelak sesuai dengan amal baik atau buruk yang dilakukannya sewaktu di dunia[13].  
 
Oleh karena itu, sebaik- baik bekal yang perlu dipersiapkan untuk selamat dalam perjalanan besar ini adalah memurnikan tauhid (mengesakan Allâh 'Azza wa Jalla dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik) yang merupakan inti makna syahadat Lâ ilâha illallâh dan menyempurnakan al ittibâ‘ (mengikuti sunnah Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi perbuatan bid’ah) yang merupakan inti makna syahadat Muhammadur Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allâh 'Azza wa Jalla akan memudahkan bagi manusia dalam menghadapi peristiwa besar yang akan dialami mereka pada hari kiamat, sesuai dengan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua landasan utama Islam ini sewaktu di dunia. Ujian keimanan dalam kubur merupakan peristiwa besar pertama yang akan dialami manusia setelah kematiannya. Mereka akan ditanya oleh dua malaikat yaitu Munkar dan Nakir[14] dengan tiga pertanyaan :  
“Siapa Tuhanmu?, apa agamamu? dan siapa nabimu?”[15].  
 
Allâh 'Azza wa Jalla hanya menjanjikan kemudahan dan keteguhan iman ketika menghadapi ujian besar ini bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkan dua landasan Islam ini dengan benar, sehingga mereka akan menjawab : 
“Tuhanku adalah Allâh 'Azza wa Jalla, agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”[16]  
 
Allâh 'Azza wa Jalla berfirman :  
 
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ  
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang- orang yang dzalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”  
[QS. Ibrâhim/14 : 27] 
 
Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat ini ditafsirkan sendiri oleh Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahîh riwayat al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu'anhu, bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
 
“Seorang Muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Lâ Ilâha Illallâh) dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah makna firman-Nya :  
 
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”[17] 
 
Termasuk peristiwa besar pada hari kiamat adalah mendatangi telaga Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kemuliaan, warna airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, dan baunya lebih harum daripada minyak wangi misk (kesturi), barang siapa yang meminum darinya sekali saja maka dia tidak akan kehausan selamanya[18].  
 
Dalam hadits yang shahîh [19] juga disebutkan bahwa ada orang-orang yang dihalangi dan diusir dari telaga Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Hal itu karena sewaktu di dunia mereka berpaling dari petunjuk dan Sunnah Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah bid’ah. Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah [20] berkata :  
 
“Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allâh 'Azza wa Jalla dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid’ah) yang menyelisihi pemahaman jama’ah kaum Muslimin, seperti orang-orang Khawârij, Syî’ah, Râfidhah dan para pengikut hawa nafsu. 
 
Demikian pula orang- orang yang berbuat zhalim yang melampaui batas dan menentang kebenaran, serta orang- orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan. Mereka semua dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam)[21].  
 
Termasuk peristiwa besar pada hari kiamat adalah melintasi ash-Shirâth (jembatan) yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam, di antara surga dan neraka. Dalam hadits yang shahîh[22] disebutkan bahwa keadaan orang yang melintasi jembatan tersebut bermacam- macam; sesuai dengan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia.  
 
“Ada yang melintasinya secepat kerdipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda pacuan yang kencang, ada yang secepat menunggang onta, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, dan ada yang disambar dengan pengait besi kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam”[23] – na’ûdzu billâhi min dâlik. 
 
Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-‘Utsaimîn ketika menjelaskan perbedaan keadaan orang-orang yang melintasi jembatan tersebut, mengatakan :  
 
“Ini semua  bukan atas pilihan masing-masing orang, karena kalau dengan pilihan sendiri tentu semua orang ingin melintasinya dengan cepat. Akan tetapi keadaan manusia sewaktu melintasinya sesuai dengan cepat atau lambatnya mereka dalam menerima dan mengamalkan syari'at Islam di dunia ini. Barangsiapa yang bersegera dalam menerima petunjuk dan sunnah dari Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan cepat melintasinya. Sebaliknya barangsiapa yang lambat dalam hal ini, maka dia akan lambat melintasinya; sebagai balasan yang setimpal, dan balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya[24]. 
 
“Balasan akhir yang baik (surga) bagi orang-orang yang bertakwa”  وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ . 
 
Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada ujungnya; surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di sinilah Allâh 'Azza wa Jalla akan memberikan balasan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman :  
 
فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ ﴿٣٧﴾ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿٣٨﴾ فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ﴿٣٩﴾ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٤٠﴾ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ  
“Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”  
[QS. An Nâzi’ât/79 : 37-41] 
 
Maka balasan akhir yang baik hanya Allâh 'Azza wa Jalla peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa dan membekali dirinya dengan ketaatan kepada-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :  
 
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ  
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”  
[QS. Al-Qashash/28 : 83] 
 
Syaikh Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah berkata :  
 
“…Jika mereka tidak mempunyai keinginan untuk menyombongkan diri atau berbuat maksiat di muka bumi, maka berarti keinginan mereka hanya tertuju kepada Allâh 'Azza wa Jalla. Tujuan mereka hanya mempersiapkan bekal untuk akhirat, dan keadaan mereka sewaktu di dunia selalu merendahkan diri kepada hamba-hamba Allah; serta selalu berpegang kepada kebenaran dan mengerjakan amal shaleh. Mereka itulah orang-orang bertakwa yang akan mendapatkan balasan akhir yang baik (surga dari Allâh 'Azza wa Jalla)”[25]. 
 
PENUTUP  
 
Setelah merenungi tahapan-tahapan perjalanan besar ini, marilah bertanya kepada diri sendiri : sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup agar selamat dalam perjalanan tersebut?  
Kalau jawabannya : belum, maka jangan berputus asa, masih ada waktu untuk berbenah diri dan memperbaiki segala kekurangan kita – dengan izin Allâh 'Azza wa Jalla –  Caranya, bersegeralah untuk kembali dan bertaubat kepada Allâh 'Azza wa Jalla, serta memperbanyak amal shaleh pada sisa umur kita yang masih ada.  
Dan semua itu akan mudah bagi orang yang diberi Allâh 'Azza wa Jalla taufik dan kemudahan baginya.  
 
Imam Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah [26] pernah menasehati seseorang lelaki, beliau berkata, 
 
“Berapa tahun usiamu?" 
Lelaki itu menjawab : “Enam puluh tahun.” Fudhail rahimahullah berkata : “Berarti sudah enam puluh tahun kamu menempuh perjalanan menuju Allâh 'Azza wa Jalla; dan mungkin saja kamu hampir sampai.” Lelaki itu menjawab : “Sesungguhnya kita ini milik Allâh 'Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya.” Maka Fudhail  rahimahullah berkata : “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata bahwa aku milik Allâh 'Azza wa Jalla dan akan kembali kepada- Nya; barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allâh 'Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan- Nya pada hari kiamat. Barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan- Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di dunia. Barangsiapa yang mengetahui akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya), maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya.”  
Maka lelaki itu bertanya : “Lantas bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri ketika itu?” Fudhail rahimahullah menjawab : “Caranya mudah”. Lelaki itu bertanya lagi : “Apa itu?” Fudhail rahimahullah berkata : “Perbaikilah dirimu pada sisa umurmu, maka Allâh 'Azza wa Jalla akan mengampuni dosamu di masa lalu, karena jika kamu tetap berbuat buruk pada sisa umurmu, maka kamu akan disiksa (pada hari kiamat) karena dosamu di masa lalu dan pada sisa umurmu”[27].  
 
Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa dari Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam [28] untuk kebaikan agama, dunia dan akhirat kita :  
"Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku, dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku, serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya), jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku, dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan." 
 
 وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَآخِرُ دَعْوَاناَ أَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ  
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIII/1430/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]   
 
FOOTNOTE  
 
[1] Qatâdah bin Di’âmah As-Sadûsi Al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), adalah Imam besar dari kalangan Tâbi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah n (lihat kitab “Taqrîbut tahdzîb“, hal. 409).  
[2] Dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya “Ighâtsatul lahfân” (hal. 152-Mawâridul amân).  
[3] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau “Az Zuhd” (hal. 120), dengan sanad yang hasan.  
[4] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “Az Zuhd” (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab beliau “Jâmi’ul ‘ulûmi wal hikam” (hal. 461).  
[5] HR al Bukhâri (no. 6053).  
[6] Dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya “Ighâtsatul Lahfân” (hal. 84 – Mawâridul amân).  
[7] Miftâhu Dâris Sa’âdah (1/9-10), juga dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam” (hal. 462).  
[8] Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam” (hal. 461), dengan sedikit penyesuaian.  
[9] Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dalam kitab “Shahîhul Bukhâri”  (no. 6053).  
[10] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab “Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam” (hal. 465).  
[11] Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab “ Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam ” (hal. 196).  
[12] HR Muslim (no. 2878).  
[13] Lihat penjelasan al-Munâwi dalam kitab beliau “Faidhul qadîr” (6/457).  
[14] Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 1083) dan dinyatakan shahîh oleh Syaikh al-Albâni dalam “Ash- Shahîhah” (no. 1391).  
[15] Hadits shahih riwayat Ahmad (4/287-288), Abu Dâwud (no. 4753) dan al-Hâkim (1/37-39), dinyatakan shahîh oleh al-Hâkim dan disepakati oleh adz-Dzahabi.  
[16] Ibid.  
[17] HR al-Bukhâri (no. 4422), hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2871).  
[18] Semua ini disebutkan dalam hadits yang shahîh riwayat imam al-Bukhâri (no. 6208) dan Muslim (no. 2292).  
[19] Riwayat Imam al-Bukhâri (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Mâlik rahimahullah.  
[20] Yûsuf bin Abdullâh bin Muhammad bin Abdul Barr An-Namari Al-Andalusi (wafat 463 H), adalah Syaikhul Islam dan Imam besar Ahlus Sunnah dari wilayah Magrib. Biografi beliau dalam kitab “Tadzkiratul huffâzh” (3/1128).  
[21] Kitab “Syarh Az-Zarqâni ‘Ala Muwaththa-Il Imâmi Mâlik” (1/65).  
[22] Riwayat imam al-Bukhâri (no. 7001) dan Muslim (no. 183) dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu.  
[23] Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab beliau “Al-Aqîdah Al Wâsithiyyah” (hal. 20).  
[24] Kitab “Syarhul Aqîdatil Wâsithiyyah” (2/162).  
[25] Taisîrul karîmir Rahmân fî tafsîri kalâmil Mannân (hal. 453).  
[26] Fudhail bin ‘Iyâdh bin Mas’ûd At-Tamîmi (wafat 187 H), adalah seorang Imam besar dari dari kalangan atba’ut tâbi’în yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seorang ahli ibadah (lihat kitab “Taqrîbut Tahdzîb“, hal. 403).  
[27] Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam” (hal. 464).  
[28] Dalam HR Muslim (no. 2720) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

Minggu, 05 Mei 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 376

Tadabbur Al-Quran Hal. 376
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Ash-Syu'ara ayat 214 :

وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ ۙ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat,

- Asbabun Nuzul Ayat 214-215 :

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Juraij bahwa ketika turun ayat, "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat." beliau memulai dari keluarga dan marganya, sehingga hal itu terasa berat atas kaum muslimin. Maka Allah menurunkan ayat 215.

- Tafsir Al Muyassar Ash-Syu'ara ayat 214 :

Berilah peringatan (wahai Rasul) dengan memulai dari yang lebih dekat kemudian yang dekat dari kaummu, dari siksa kami agar ia tidak menimpa mereka.

- Tafsir bnu Kasir :

<Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang nengikutimu. (Qs Asy-Syu'arā, 26: 214-215).

Allah Swt. berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya Saw. agar memberi peringatan kepada kerabat-kerabatnya (Muhammad) yang terdekat. Karena tidak ada yang bisa menyelamatkan seorang pun dari mereka kecuali dengan imannya terhadap Rabb-nya. Di samping itu juga, Allah memerintahkan beliau agar bersikap lemah lembut terhadap hamba-hamba Allah yang beriman yang mengikutinya. Apabila ada makhluk Allah yang bermaksiat kepadanya (Nabi Saw.)-siapa pun orangnya- maka ia terbebas dari tanggung jawab. Oleh karenanya, Allah Swt. berfirman, «Kemudian jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan." (Qs Asy-Syu'arā, 26: 216).

Peringatan khusus kepada kerabat dekat ini tidak menafikan peringatan umum kepada untuk semua orang, namun yang khusus adalah bagian dari yang umum, seperti firman Allah Swt., éagar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (QS Yāsin, 36: 6) dan firman-Nya, ..agar engkau memberi peringatan kepada penduduk ibukota (Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) di sekelilingnya.. (Qs Asy-syūrā, 42: 7) dan firman-Nya, Peringatkanlah dengannya (Al-Qur 'an) itu orang yang takut akan dikumpulkan menghadap Tuhannya (pada hari kiamat)... (QS Al-An'äm, 6: 51) dan firman-Nya, ..agar dengan itu engkau dapat memberi kabar gembira kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar engkau dapat memberi peringatan kepada kaum yang membangkang. (QS Maryam, 1997) dan firman-Nya, 4,.. Barangsiapa mengingkarinya (A-Quran) di antara kelompok-kelompok (orang Quraisy), maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya.. (QS Hüd, 11: 17).

Dalam kitab Sahih Muslim, "Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidakkah seseorang yang mendengarkanku dari umat ini, baik Yahudi ataupun Nasrani, kemudian tidak beriman kepadaku, kecuali pasti masuk neraka." (lbnu Kašir, Tafsirul Qurānil Azimi, Jilid 10, 1421 H/2000 M: 367-375).

- Riyāduş Şālihin :

Dari Abu Rifa'ah Ra., ia berkata, "Aku tiba di tempat Rasulullah Saw. saat beliau sedang berkhutbah. Lalu aku berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah Saw., ada orang asing yang sengaja datang kepada Anda untuk bertanya tentang agama, ia tidak tahu apa agamanya.' Maka Rasulullah Saw. pun mendatangiku dan memutuskan khutbahnya. Ketika beliau sampai di dekatku, diberikanlah sebuah kursi. Selanjutnya Rasulullah Saw. duduk di kursi tersebut dan mengajarkan kepadaku perihal agama yang telah diajarkan Allah kepada beliau. Setelah itu, beliau meneruskan khutbahnya hingga selesai." (HR Muslim).

Hadis di atas memberikan beberapa faedah di antaranya:
(a) Kesempurnaan rendah hati Nabi Saw., dan kelemahlembutan beliau kepada orang muslim serta simpatinya pada kaum muslimin.
(b) Beliau bergegas untuk menjawab perkara agama dan mendahulukan perkara yang penting bagi umat.
(c) Pembicaraan beliau kepada orang yang bertanya tentang agama tatkala beliau sedang khutbah dipandang jarang sekali, namun tidak mengganggu orang-orang yang hadir pada waktu itu. karena Nabi Saw. melanjutkan khutbahnya.
(d) Semangat beliau mengajarkan perkara-perkara agama kepada mereka.
(Dr. Muştafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 516-517)

- Hadis Nabawi :

Dari Anas Ra., dia berkata, "Nabi Saw. bersabda kepada Abu Talhah, 'Aku berpendapat sebaiknya kamu berikan untuk kaum kerabat.' Abu Talhah berkata, 'Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah. Maka Abu Talhah membagikannya untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya. Ibnu 'Abbas Ra. berkata, Ketika turun surah Asy-Syu'arā', 26: 214, (yang artinya: Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang terdekat), maka Nabi Saw. berseru, Wahai Bani Fih, wahai Bani Adiy' yaitu nama-nama suku Quraisy. Abu Hurairah Ra. berkata "Ketika turun 05 Asy-Syu'arā, 26: 214, yang artinya: ("Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang terdekat"), maka Nabi Saw. berseru, "Wahai kaum Quraisy." (HR AI-Bukhäri, Sahibul Bukhāri, Juz 4, No. Hadis 2752, 1400 H: 6),

- Hadiš Qudsi :

Dari Anas Ra., dia berkata, "Pada hari kiamat, manusia saling bergelombang satu dengan yang lainnya. Mereka mendatangi Adam As., dan berkata, Mintakan syafā'at pada Rabbmu bagi kami.' la berkata, Aku tidak berhak untuk itu, namun temuilah lbrahim As. sesungguhnya dia Khalil ArRahmān (Kekasih Allah). Mereka pun mendatangi lbrahim As. ia pun berkata, 'Aku tidak berhak untuk itu, namun temuilah Musa As., sesungguhnya dia Kalimullāh (yang berbicara langsung dengan Allah). Mereka pun mendatangi Musa As..Bia juga berkata, Aku tidak berhak untuk itu, akan tetapi temuilah Isa As,, sesungguhnya dia Ruh Allah (yang langsung ditiupkan kerahim Maryam) dan Kalimat-Nya. Lalu mereka mendatangi Isa As., ia pun berkata, Aku tak berhak untuk itu, tapi temuilah Muhammad Saw. Lalu mereka pun mendatangiku, dan aku berkata, Akulah yang berhak untuk itu (memberikan syafä at). Kemudian aku meminta izin kepada Rabb-ku, dan aku diizinkan. Dia mengilhamiku dengan makna-makna pujian (yang belum pernah aku tahu sebelumnya), aku pun tersungkur dan sujud kepada-Nya. Kemudian dikatakan, 'Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah. (perkataanmu) akan didengar, mintalah. (maka) kamu akan diberi, mintalah syafä at (maka) kamu akan diberi syafa at. Maka aku berkata, Wahai Rabb-ku, umatku, umatku. Dia (Allah) berfirman, Pergilah! Dan keluar kan siapa saja yang mempunyai iman yang jauh lebih kecil dari biji sawi di hatinya. Maka akupun pergi dan melaksanakannya. (HR Imam Al-Bukhari) (Mustafā bin Adawi. Aş-Sahihul Musnad minal Ahādisil Qudsiyyati, t.t. 144)

- Penjelasan Surah Asy-Syu'ara Ayat 207-227 :

Ayat 207-227 surah Asy-Syu’ara ini meneruskan penjelasan ayat sebelumnya terkait orang-orang yang kafir kepada Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw. Mereka itu tidak akan lolos dari azab Allah. Allah tidak binasakan suatu kaum kecuali setelah diutus kepada mereka rasul-Nya. Rasul Saw. diperintahkan berdakwah agar manusia tidak  menyekutukan Allah. Kemusyrikan itu akan  menyebabkan azab Allah turun seperti yang dialami oleh umat-umat sebelumnya.

Allah perintahkan Rasul saw. berdakwah kepada keluarga yang terdekat, setelah itu kepada masyarakat Arab dan kemudian ke seluruh dunia. Beliau juga diperintahkan agar merendahkan hati kepada para pengikutnya kaum mukmin, tawakal pada Allah, merasakan pengawasan-Nya, menjelaskan setan itu mudah menguasai orang-orang pendusta, para penyair yang menyimpang yang suka mengembara di setiap lembah dan suka mengatakan perkara yang tidak mereka lakukan. Kecuali para penyair beriman,  beramal saleh, mengingat Allah yang banyak dan mereka menang setelah dizalimi. Orang-orang zalim itu akan mengetahui tempat kembali mereka.

Sabtu, 04 Mei 2024

Jalan Menuju Surga

One Day One Hadits (304)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Jalan Menuju Surga

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرْ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ . [رواه مسلم]

Dari Abu Abdullah, Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiallahuanhuma : Seseorang bertanya kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata : Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, Menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram ) dan saya tidak tambah sedikitpun, apakah saya akan masuk surga ?. Beliau bersabda : Ya.
(Riwayat Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1. Setiap muslim dituntut untuk bertanya kepada ulama tentang syariat Islam, tentang kewajibannya dan apa yang dihalalkan dan diharamkan baginya jika hal tersebut tidak diketahuinya.

2. Penghalalan dan pengharaman merupan aturan syariat, tidak ada yang berhak menentukannya kecuali Allah ta’ala.

3. Amal saleh merupakan sebab masuknya seseorang kedalam syurga.

4. Keinginan dan perhatian yang besar dari para shahabat serta kerinduan mereka terhadap syurga serta upaya mereka dalam mencari jalan untuk sampai kesana.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran :

1. Evaluasi diri / muhasabah 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Hasyr: 18]

2. Rindu syurga 

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ 

Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir'aun, ketika ia berkata, "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim, "
[At-Tahrim:11]

3. Memperhatikan halal haram dalam kehidupan

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedangkan mereka dalam keadaan tunduk.[At-taubah:29].

Jumat, 03 Mei 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 375

Tadabbur Al-Quran Hal. 375
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Ash-Syu'ara ayat 205 :

اَفَرَءَيْتَ اِنْ مَّتَّعْنٰهُمْ سِنِيْنَ ۙ

Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka Kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun,

- Tafsir Al Muyassar Ash-Syu'ara ayat 205 :

Apakah kamu mengetahui (wahai Rasul) bila Kami memberi mereka kenikmatan dalam hidup selama bertahun-tahun dengan menunda ajal mereka,

- Asbabun Nuzul Ayat 205-207 :

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Juhdham bahwa Nabi saw. terlihat sedang bingung, lalu para sahabat bertanya, dan beliau menjawab, "Mengapa?"Aku bermimpi melihat musuhku yang berasal dari umatku setelah aku mati." Maka turunlah ayat 205- 207. Maka hati beliau lega.

- Hadis Sahih (ayat 184-189) :

Ibnu Abbas Ra berkata, "rang Qutaisy berkata kepeda Nabi Saw Berdoalah kepada Tuhanmu bagi kami, agar mengubah bukit Sata menjadi emas niscaya kami akan beriman kepadamu Beliau bersabda, Apakah kalian akan melakukannya? Mereka menjawab, "Benar lalu beliau berdoa maka datanglah Jibril seraya mengatakan, Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam untukmu dan mengatakan kepadamu, kalau engkau berkenan maka bukit Sata akan menjadi emas bagi mereka, namun siapa di antara mereka yang kufur setelah itu, maka kami akan mengazabnya dengan azab yang belum pernah ditimpakan kepada seorang pun di alam ini. Dan jika engkau menghendaki Aku akan membukakan pintu tobat dan rahmat bagi mereka Beliau bersabda, Bahkan pintu tobat dan rahmat (yang aku kehendak) (HR Ahmad, Wusnad tām Ahmat bin Hantal. Iuz 4, No Hadis 2166. 1416 H/1996 Mi 60)

- Tatsir At-Tabari :

Makna ayat ini adalah, Takutlah kalian, wahai kaum, terhadap siksaan Tuhan kalian,' { yang telah menciptakan kalian dan orang-orang terdahulu }, yakni makhluk yang terdahulu.

Mengenai lafaz Al-Jibilah (kaum-kaum) dalam bahasa Arab terdapat dua aksen, ada yang dibaca A-Jibillah dan ada juga A-Jubullah, dan apabila huruf ha'-nya dibuang, maka yang paling banyak digunakan adalah dengan bacaan A-Jubul. Sebagaimana dalam firman-Nya, ..wa laqad adalla minkum jubullan kašira.. (Sungguh ia telah menyesatkan dari mereka kaum-kaum yang banyak). Dari Ibnu Abbās Ra., mengenai firman-Nya, Bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang terdahulu. Artinya, makhluk terdahulu.

Dari Mujāhid, mengenai ayat, ..umatumat yang terdahulu. Artinya ALKhaliqah (yang telah diciptakan). (At-Tabari, JāmiuT Bayāni An Ta wili Ayi'l Qur'āni, Juz 17, 1422 H/2001 M: 635-636).

- Riyāduş şālihin :

Diriwayatkan dari Sa'ad bin Abu Waqqas, Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa membaca saat mendengar muažin, Asyhadu allā lāha illallāhu wahdahu Lã Syari kalahu wa Anna Muhamadan Abduhu wa Rasūluhu Raditu billähi Rabba wabi Muhamamdir rasūla wabil Islāmi Dina' (Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, saya rida Allah Swt. sebagai Tuhan, dan Muhammad sebagai Rasul-Nya, serta Islam sebagai agama), niscaya dosanya akan diampuni. ") (HR Muslim).

Hadis di atas memberikan faedah tentang keutamaan berdoa dengan redaksi diatas apabila mendengar azan. (Faisal bin Abdul 'Aziz Ali Mubārak, Tatrizu Riyādis Sālihina, Juz 2, t.t. :107).

- Hadiš Nabawi :

Dari Anas bin Mālik Ra., dia berkata, "Pernah terjadi pada masa Rasulullah Saw. harga barang menjadi mahal, sehingga orang-orang berkata, Wahai Rasulullah! tetapkanlah harga. Maka Rasulullah Saw. bersabda, 'Sesungguhnya Allah Sang Maha Pencipta, Yang Maha Menggenggam dan Yang Maha Melapangkan, serta hanyalah Dia Yang Maha Penentu harga. Aku berharap bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun yang menuntutku dengan satu pengaduan, baik dalam darah maupun harta." (HR Ahmad, Musnad Al-Hmam Ahmad bin Hanbal, Jilid 20, No. Hadis, 12591: 46). Dişahihkan oleh Syaikh Al-Albāny dalam Sahih wa Daif Sunan Abu Dāwud no. 3451.

- Hadiš Qudsi :

Dari Anas bin Malik Ra., Rasulullah Saw. bersabda, "Allah Swt. berfirman, Sesungguhnya umatmu senantiasa berkata, apa ini dan apa itu hingga mereka mengatakan, Ini Allah yang menciptakan makhluk lalu siapakah yang menciptakan Allah?" (HR Muslim, Sahih Muslim, Juz 1, No. Hadis, 136:121).

- Penjelasan Surah Asy-Syu'ara Ayat 183-206 :

Ayat 184-191 meneruskan kisah kaum Nabi Syuaib yang curang dalam berjual beli dan tidak mau bertakwa kepada Allah yang menciptakan mereka dan manusia sebelum mereka. Mereka malah menuduh Syuaib terkena sihir dan pendusta, karena Syuaib hanya manusia seperti mereka. Mereka bahkan menantang Syuaib agar diturunkan potongan-potongan benda  langit jika kerasulannya benar. Nabi Syuaib menyerahkan semua perbuatan mereka kepada Allah.  Lalu Allah musnahkan mereka pada hari yang ditutupi awan gelap seperti badai. Sebenarnya peristiwa itu menjadi pelajaran bagi manusia setelah mereka. Sungguh Allah itu Mahaperkasa dan Maha Penyayang. 

Ayat 192-206 menjelaskan Al-Qur’an itu diturunkan Pencipta alam semesta. Dibawa malaikat Jibril ke dalam hati Nabi Muhammad Saw. agar ia menjadi pemberi peringatan. Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab yang fasih dan telah disebutkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Apakah tidak cukup sebagai bukti bagi kaum kafir itu bahwa ulama Bani  Israil mengetahui Al-Qur’an itu. Sekiranya Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa non-Arab, mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Demkian Allah masukkan sifat ingkar ke dalam hati para pembangkang sehingga mereka tidak bisa menerima kebenaran. Sebaliknya, mereka meminta azab yang  dijanjikan Allah dipercepat. Bagaimana sekiranya Allah berikan kenikmatan kepada mereka beberapa tahun, kemudian datanglah azab yang dijanjikan itu?