Tadabbur Al-Quran Hal. 464
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Az-Zumar ayat 53 :
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa [765] semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
- [765] Lihat surah An Nisa' ayat 48, kecuali dosa syirik.
- Asbabun Nuzul Az-Zumar ayat 53 :
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang shahih yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kaum musyrikin Mekkah yang keterlaluan melakukan maksiat. Ayat ini memperingatkan mereka untuk tidak putus harapan mencari ampunan Allah.
Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ath-Thabrani yang bersumber dari Ibnu 'Umar, bahwa Ibnu Umar berkata: "Kami pernah menganggap bahwa taubat seseorang yang menyimpang dari agama Islam, bahkan meninggalkannya dengan penuh kesadaran tidak akan diterima". Ketika Rasulullah tiba di Madinah (Hijrah dari Mekkah) turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa Allah akan mengampuni dosanya walaupun telah melampaui batas.
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dengan sanad lemah yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa rasulullah mengirim utusan kepada Wahsyi (pembunuh Hamzah) agar dia masuk Islam. Wahsyi menjawab: "Bagaimana mungkin kau mengajak aku masuk agama Islam padahal engkau menganggap bahwa orang yang membunuh dan zina atau syirik, akan mendapat siksa bahkan dilipatgandakan siksaannya pada hari kiamat serta abadi didalamnya dengan terhina. Aku termasuk orang yang seperti itu. Apakah ada pengecualian bagiku?'. Maka turunlah ayat ini (Surat Maryam: 60, Surat Al-Furqan: 70) yang menunjukkan jalan yang seharusnya. Setelah turun ayat itu, Wahsyi berkata: "Syarat itu terlalu berat bagiku, mungkin aku tidak bisa melaksanakannya". Maka turunlah ayat 48 dan 116 Surat An-Nisa yang menegaskan bahwa Allah akan mengampuni dosa seseorang kecuali syirik. Dengan turunnya ayat itu, Wahsyi berkata: "Aku masih ragu apakah aku termasuk orang yang dikehendaki Allah untuk diampuni? Apakah ada ketentuan selain ini?". Maka Allah menurunkan ayat diatas (Surat Az-Zumar: 43) yang melarang berputus asa dari rahmat Allah. Setelah turun ayat ini, Wahsyi berkata: "Inilah yang aku harapkan". Kemudian ia masuk Islam.
- Tafsir Al Muyassar Az-Zumar ayat 53 :
Katakanlah (wahai Rasul) kepada hamba-hamba-Ku yang terbenam dalam kemaksiatan, dan melampaui batas atas diri mereka sendiri dengan melakukan dosa-dosa ajakan dari hawa nafsu mereka: Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah hanya karena banyaknya dosa kalian, karena sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa bagi siapa yang bertaubat darinya dan meninggalkannya sebanyak apa pun dosa-dosa itu. Sesungguhnya Allah Maha Perngampun bagi dosa para hamba-Nya yang bertaubat kepada-Nya, lagi Maha Penyayang kepada mereka.
- Tazkiyyatun Nafs :
Dilihat dari aspek ilmu dan amal, ubūdiyah itu mempunyai beberapa tingkatan. Dari aspek ilmu, ubūdiyah terbagi menjadi dua tingkatan, yaitu ilmu tentang Allah Swt. dan ilmu tentang agama-Nya. lImu tentang Allah Swt. terdiri atas lima macam: (1) ilmu tentang Zat, (2) sifat, (3) perbuatan, (4) asma' Allah Swt., dan (5) membebaskan-Nya dari hal-hal yang tidak sesuai dengan-Nya. Sementara ilmu tentang agama-Nya terdiri atas dua macam: (1) ilmu yang berkaitan dengan perintah dan syariat, yang sekaligus merupakan jalan lurus yang mengantarkan kepada Allah Swt. dan (2) ilmu yang berkaitan dengan pahala serta siksa. Selain itu, ubūdiyah berkisar pada beberapa penopang. Siapa yang dapat menyempurnakan penopang-penopang ini, dia dapat menyempurnakan tingkatantingkatan ubūdiyah di atas. Dalam konteks ini, ubūdiyah itu terbagi atas hati, lisan, dan anggota tubuh. Masing-masing dari tiga bagian ini mempunyai ubūdiyah yang bersifat khusus. Sementara hukum-hukum ubūdiyah ada lima macam: wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Lima hukum ini berlaku untuk hati, lisan, dan anggota tubuh. Yang wajib bagi hati ada yang sudah disepakati kewajibannya dan ada yang diperselisihkan. Yang disepakati kewajibannya adalah ikhlas, tawakal, cinta, sabar, pasrah, takut, berharap, dan pembenaran niat dalam ibadah. Yang diharamkan bagi hati adalah.takabur, riya', ujub, dengki, lalai, dan kemunafikan. Semua ini dapat dihimpun dalam dua perkara: kufur dan kedurhakaan. Kufur seperti keragu-raguan, kemunafikan, syirik dan segala cabangnya. Kedurhakaan ada dua macam, besar dan kecil. Kedurhakaannyang besar seperti riya', takabur, ujub, membanggakan diri, putus asa dari rahmat Allah Swt., merasa aman dari tipu daya Allah Swt., merasa senang melihat penderitaan kaum muslim, suka jika ada kekejian yang menyebar di tengah orang-orang muslim, iri terhadap karunia yang mereka terima, berharap agar karunia itu sirna dari mereka dan hal-hal lain yang sejenis. Semua ini jauh lebih diharamkan daripada pengharaman zina dan minum khamr serta dosa-dosa besar yang lahir. Semua keburukan ini muncul karena ketidaktahuan tentang ubūdiyah hati dan tidak memperhatikannya. Maka, tugas lyyāka Nabudu dibebankan kepada hati terlebih dahulu sebelum dibebankan kepada anggota tubuh. Jika tugas ini diabaikan, maka yang muncul adalah kebalikannya. Dosa-dosa kecil dalam hati, seperti menginginkan hal yang haram dan membayangkannya. Perbedaan tingkat keinginan tergantung pada perbedaan tingkat sesuatu yang dinginkan. Keinginan terhadap kufur dan syirik adalah kufur. Keinginan terhadap bid'ah adalah kefasikan. Keinginan terhadap dosa besar adalah kedurhakaan. Jika seseorang meninggalkan keinginan ini karena Allah Swt. menurut kesanggupannya, dia mendapat pahala. Ubūdiyah lisan ada lima macam: yang wajib adalah mengucapkan syahadatain, membaca apa yang harus dibaca dari isi Al-Quran, seperti yang menjaga keabsahan salat, mengucapkan zikir-zikir yang wajib dalam salat seperti yang diperintahkan Allah Swt. dan Rasul-Nya, membalas ucapan salam, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengajari orang yang bodoh, menunjuki orang yang sesat, memberikan kesaksian yang dibutuhkan, berkata jujur, dan lain-lainnyà; yang sunnah bagi lisan adalah membaca A-Quran, terus-menerus menyebut asmā Allah Swt. menggali ilmu yang bermanfaat, dan lain-lainnya. Sedangkan yang haram bagi lisan ialah mengucapkan perkataan apa pun yang dibenci Allah Swt. dan Rasul-Nya, menyampaikan bid'ah yang bertentangan dengan ketetapan Allah Swt. dan Rasul-Nya, menyeru kepada bid'ah, menuduh,Bdan mencaci kaum muslim, dusta, memberikan kesaksian palsu, dan berkata tentang Allah Swt. tanpa didasari pengetahuan. Sedangkan yang makruh bagi lisan ialah mengatakan sesuatu, padahal andaikata hal itu tidak dikatakan, maka akan lebih baik. Hal ini tidak mengakibatkan siksaan. Ubūdiyah yang harus dilakukan anggota tubuh ada dua puluh lima karena indera ada lima dan masing-masing indera mempunyai lima kewajiban, yang meliputi wajib, sunat, haram, makruh, dan mubah. (bnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju As-Sālikin Manāzilu lyyāka Na budu wa lyyāka Nasta inu, Juz 1, t.t.: 121-131).
- Riyāduş şālihin :
Dari Abu Hurairah Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam." (HR Al-Bukhāri-Muslim). Hadis di atas menunjukkan bahwa di antara bentuk kesempurnaan iman kepada Allah Swt. ialah mengucapkan perkataan yang baik atau menahan diri dari pembicaraan yang tidak berfaedah. (Dr. Muştafā Said Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 2, 1407 H/1987 M:1034-1035).
- Tibbun Nabawi :
Khasiat Nabig
Nabiq adalah buah pohon sejenis pohon bidara yang bermanfaat untuk mengobati diare, membersihkan perut, menstabilkan empedu, menambah suplai gizi pada tubuh, membangkitkan selera makan, bagus untuk memproduksi lendir, tepungnya bagus untuk menguatkan usus, dan berbagai khasiat lainnya. (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zadu' Ma ādi fi Hadyi Khayril Ibādi, Juz 4, tt.: 400).
Medical Hadiš :
Diterangkan dalam hadiš sahih bahwa Nabi Saw. menerangkan apa yang dilihat beliau ketika berada di Sidratul Muntaha. Sabda Nabi Saw., "Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata Nabiqnya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah." (HR AI Bukhāri) Abu Nu'aim menyebutkan dalam kitabnya At-Tibbun Nabawi, sebuah hadis Nabi Saw. bahwa setelah Adam turun ke bumi, yang pertama dimakannya ialah buah pohon bidara. (An-Nabiq) (Ibnu] Qayyim A-Jauziyyah, At Tibbun Nabawi, t.t.313).
- Hadis Motivasi QS 39: 53 :
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya orang mukmin mengetahui siksa Allah niscaya tidak ada seorang mukmin pun yang menginginkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir itu mengetahui rahmat Allah maka niscaya tidak ada seorang kafir pun yang berputus asa untuk mengharapkan surga-Nya." (HR Muslim, 2755)
- HADIS NIAGA QS Az-Zumar, 39: 53 :
Berputus Asa dari Rahmat Allah
Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah bersabda: "Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menulis pada suatu kitab yang berada di sisi-Nya di atas Arasy: Sesungguhnya, rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku." Dalam riwayat lain disebutkan juga: ... telah mendahului kemurkaan-Ku." (HR Bukhari, 7404; Muslim, 2751)
- AMAL NIAGA :
1. Kehendak Allah untuk memberi ganjaran kepada seorang hamba yang taat maka itulah ridha dan rahmat-Nya. Sebaliknya, kehendak Allah untuk menyiksa hamba-Nya yang bermaksiat maka itulah murka-Nya.
2. Janganlah berputus asa dari rahmat Allah karena rahmat-Nya mendahului murka-Nya dan begitu luas diberikan kepada para hamba-Nya.
- Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 48-56 :
Ayat 48 meneruskan ayat sebelumnya terkait kondisi orang-orang kafir dan musyrik di akhirat kelak, yakni semua balasan kejahatan yang mereka lakukan akan diperlihatkan dan mereka dikepung oleh azab neraka disebabkan mereka memperolok-olokan agama Allah.
Ayat 49-51 menjelaskan, di antara karakter manusia ialah ketika dapat kesulitan mereka meminta kepada Allah, tapi jika diberi rezeki, mereka sombong dan menganggap sebagai hasil kerja mereka. Padahal rezeki itu sebagai ujian bagi mereka. Sayang, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Sebelum kaum musyrik Mekah, sudah ada berbagai kaum yang bersikap seperti itu. Lalu Allah azab mereka sehingga kekayaan dan kecanggihan ilmu pengetahuan mereka tidak berguna sama sekali dalam menghadapi azab Allah tersebut. Allah timpakan kepada mereka musibah akibat kejahatan yang mereka lakukan. Maka siapapun yang jahat dan zalim akan Allah timpakan padanya azab dan mereka tidak akan mampu melemahkan Allah.
Ayat 52 menjelaskan, Allah menghendaki kaya orang yang dikehendaki-Nya. Ini salah satu tanda Kekuasaan Allah bagi orang beriman.
Ayat 53-56 menjelaskan bahwa Rasulullah saw. diperintahkan Allah untuk menyampaikan pada manusia agar tidak berputus asa atas rahmat Allah. Allah mengampuni semua dosa hamba-Nya karena Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sebab itu, kembalilah kepada Allah dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum azab-Nya datang. Pada saat itu, tidak ada lagi pertolongan-Nya. Ikuti Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya sebelum azab Allah datang secara tiba-tiba. Nanti kalian akan menyesali hak-hak Allah yang kalian lalaikan dan mengaku memperolok-olokan Allah, Rasul dan wahyu-Nya.