Tadabbur Al-Quran Hal. 438
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Fatir ayat 35 :
ۨالَّذِيْٓ اَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهٖۚ لَا يَمَسُّنَا فِيْهَا نَصَبٌ وَّلَا يَمَسُّنَا فِيْهَا لُغُوْبٌ
yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.”
- Asbabun Nuzul Fatir ayat 35 :
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab Al-Ba'ts dan Ibnu Abi Hatim dari Nafi' bin Al-Harits yang bersumber dari Abdullah bin Abi 'Aufa, bahwa ada seoranglaki-laki yang bertanya kepada Nabi Saw.: "Ya Rasulullah Sesungguhnya tidur adalah kenikmatan dari Allah di dunia ini. Apakah nantidi surga kita tidur?". Rasulullah menjawab: "Tidak ada! Karena tidur itu kawannya maut dan di surga tidak ada maut". Ia bertanya lagi: "Bagaimana istirahat mereka itu. Pertanyaan ini menyinggung perasaan Rasulullah dengan sabdanya: "Tidak ada capek disurga, semuanya senang dan enak". Ayat ini turun sebagai penegasan akan ucapan Rasulullah tadi.
- Tafsir Al Muyassar Fatir ayat 35 :
Dia-lah yang membuat kami tinggal di surga dengan karunia-Nya, di dalamnya kami tidak merasa lelah atau capek.
- Mujam QS Fatir, 35:34 :
Aż-Zahaabu artinya berlalu dan pergi. Di- katakan, ia pergi membawa sesuatu dan menghilangkan sesuatu. Kata ini digunakan baik dalam makna menghilangkan suatubenda yang terlihat maupun menghilangkan sesuatu yang bersifat maknawi, seperti firman Allah, Dan brahim berkata, "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku. (QS As- Sāffat, 37:99), dan firman Allah, maka tatkala rasa takut hilang dari lbrahim, (05 Hud, 11: 74). Dan terkadang juga digunakan sebagai kiasan dari kematian atau kebinasaan diri, seperti firman Allah, Maka janganiah dirimu menjadi binasa karena kesedihan terhadap mereka. (QS Fātir, 35: 8), dan firman-Nya, Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan menggənti(mu) dengan makhłuk yang baru. (QS Ibrāhim, 14: 19). (Ar-Ragib Al-Asfahany. Mujamu Mufradāti Alfāzhil Qurani, 1431 H/2010 M:137).
- Tazkiyyatun Nafs :
Di antara tempat persinggahan lyyāka Na budu wā lyyāka Nasta in adalah Hazan (kesedihan hati atau duka cita). Tapi ini bukan merupakan tempat persinggahan yang dituntut atau diperintahkan untuk disinggahi, sekalipun mungkin orang yang sedang mengadakan perjalanan harus menyinggahinya. Sebab di dalam Al-Qur'an tidak disebutkan kata Hazan, melainkan sesuatu yang dilarang atau pun dinafikan. Yang dilarang seperti Allah Swt., éDan janganlah kamu (merasa) lermah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman. (QS Ali Imrān, 3: 139). Sedangkan yang dinafikan seperti firman Allah Swt., <Kami berfirman, "Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS Al-Baqarah, 2: 38). Sebabnya, kesedihan hati merupakan tempat pemberhentian dan bukan pendorong untuk mengadakan perjalanan serta tidak ada kemaslahatannya bagi hati. Di samping itu, yang paling disukai setan ialah membuat hati hamba bersedih, lalu dia tidak mau melanjutkan perjalanannya dan mendorongnya untuk berhenti, sebagaimana firman-Nya, (Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk (perbuatan) setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, sedang (pembicaraan) itu tidaklah memberi bencana sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah Swt. Dan kepada Allah Swt. hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal. (QS Al-Mujādalah, 58: 10). Rasulullah Saw. juga melarang tiga orang yang sedang berkumpul, sementara dua orang saling berbisik-bisik, karena yang demikian itu membuat orang yang ketiga bersedih hati. Kesedihan hati bukan sesuatu yang dituntut, tidak ada tujuan dan manfaatnya. Nabi Saw. berlindung dari kesedihan hati, sebagaimana dalam doa beliau, "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kekhawatiran dan kesedihan." Tapi dari segi kenyataan hidup, memang tempat persinggahan ini tidak bisa dihindari. Karena itu, para penghuni surga berucap saat mereka memasukinya, ..Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kamibbenar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. (QS Fātir, 35: 34). Hal ini menunjukkan bahwa dahulunya mereka pernah mengalami kesedihan hati, selagi masih di dunia, sebagaimana mereka ditimpa musibah-musibah lain tanpa menghendakinya. Sementara Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis şahih, "Tidaklah seorang Mukmin ditimpa kekhawatiran, keletihan dan kesedihan hati, melainkan Allah Swt. mengampuni sebagian dari kesalahan-kesalahannya." Hal ini menunjukkan bahwa itu semua merupakan musibah yang ditimpakan Allah Swt. kepada hamba-Nya, supaya dengan itu Allah Swt. mengampuni kesalahan-kesalahannya, bukan karena menunjukkan kedudukan kesedihan hati ini yang merupakan tuntutan.
Sedangkan hadiš Hindun bin Abu Halah yang menggambarkan Nabi Saw., "Bahwa beliau selalu tampak bersedih hati," ini hadis yang sama sekali tidak kuat, dan di dalam isnad-nya ada seseorang yang tidak diketahui (majhū). Di samping itu, bagaimana mungkin beliau senantiasa bersedih hati, padahal beliau telah dijaga Allah Swt. agar tidak bersedih hati karena tidak mendapatkan dunia dan sebab-sebabnya, dilarang bersedih hati dalam menghadapi orang-orang kafir, dan dosa-dosa beliau yang lampau maupun yang akan datang sudah diampuni? Lalu apa yang membuat beliau harus senantiasa bersedih hati? Beliau adalah orang yang senantiasa banyak senyum dan manis muka. Begitu pula riwayat yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah Swt. mencintai setiap hati yang banyak bersedih." Isnad riwayat ini tidak diketahui, begitu pula siapa yang meriwayatkannya. Andaikan ada hadiš yang şahih dan ada ayat yang menggambarkan kesedihan, maka maksudnya adalah musibah yang ditimpakan kepada hamba. Yang pasti para ulama telah sepakat bahwa kesedihan hati di dunia bukan sesuatu yang terpuji, kecuali Abu Usman Al-Hiry. Dia berkata, "Menampakkan kesedihan di hadapan setiap orang adalah kemuliaan dan tambahan pahala bagi orang mukmin, selagi kesedihan itu bukan karena musibah yang menimpanya." (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju As-Sālikina Manāzilu lyyāka Na budu wa lyyāka Nasta in, Juz 1, t.t.: 542-547),
- Riyāduş Şālihin :
Dari Abu Umāmah Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda, "Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah Swt. kecuali dua tetes dan dua bekas. Dua tetes itu adalah tetesan air mata karena takut kepada Allah Swt. dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah Swt. Adapun dua bekas itu adalah bekas karena di jalan Allah Swt. dan bekas karena melaksanakan kewajiban Allah Swt." (HR Tirmiži, dan ia berkata, "Ini hadis hasan."). Hadis tersebut mengandung beberapa faedah, antara lain keutamaan menangis karena takut kepada Allah Swt., karenanmenangis merupakan petunjuk keimanan yang benar kepada Allah Swt. (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 407).
- Tibbun Nabawi :
Khasiat Milh (Garam)
Milh ataù garam dapat memperbaiki tubuh manusia dan makanan mereka, dan dapat memperbaiki segala benda apapun yang bercampur dengannya, termasuk pula emas dan perak, sebab di dalamnya terkandung kekuatan yang bisa menambah kadar kekuningan emas dan kadar keputihan perak. Di dalamnya juga terkandung kejernihan dan penguraian, menghilangkan kelembaban yang menebal dan mengeringkan. Garam dapat memperkuat badan, mencegah kerusakannya dan dapat pula berguna untuk menyembuhkan infeksi. (bnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zādul Ma'adi fi Hadyi Khayril lbādi, Juz 4, t.t.. 396).
- Medical Hadiš :
Dari Anas bin Malik Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Lauk teristimewa kalian adalah garam." (HR Ibnu Mājah). Maksudnya, pemimpin sesuatu ialah yang memberi kemaslahatan kepadanya dan memiliki campur tangan dengannya. Hampir semua lauk menjadi enak karena garam. (A2-Zahabi, At-Tibbun Nabawi, 1410 H/1990 M:B194; lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-TibbunbNabawi, t.t.. 309).
- Hadis Motivasi QS 35: 33 :
Dari Jabir bin Abdillah dia mengatakan, Rasulullah bersabda: "Aku masuk surga. Tak tahunya, aku berada di sebuah istana emas. Maka oku bertanya: Milile siapakah ini?" Mereka menjowab: 'Milik seseorang dari Quraiy. Dan tiada yang menghalangiku untuk memasukinya, hai lbnul Khattab, kecuali karena aku tahu kecemburuanmu." Lalu. Umar menjawab, "Apakah terhadapmu aku cemburu. ya Rasulullah." (HR Bukhari. 6621)
- HADIS NIAGA QS Fäțir, 35: 33 :
Diperbolehkan Menjual Sutra
Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Umar melihat sejenis mantel yang bersulam sutra dijual, lalu dia berkata, "Wahai Rasulullah, andaikan engkau mau membelinya dan memakainya untuk menemui para utusan ketika berkunjung menemui engkau atau untuk dikenakan waktu salat Jumat." Beliau lalu bersabda: "Yang memakai pakaian ini hanyalah mereka yang tidak mendapatkan bagian di akhirat." Hari berikutnya beliau memberi Umar sejenis mantel yang terbuat dari sutra, Umar pun protes, "Wahai Rasulullah, engkau memberikannya kepadaku padahal engkau berujar tidak boleh memakainya." Beliau menjawab: "Aku memberikan kepadamu bukan untuk dipakai, tetapi agar kamu jual atau kamu berikan kepada istrimu." (HR Bukhari, 5841; Muslim 2068)
- AMAL NIAGA :
1. Jika Anda seorang laki-laki, janganlah mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra karena pada perkara tersebut terdapat kesombongan dan keserupaan dengan orang-orang kafir. Seorang laki-laki juga akan kehilangan kegagahan saat mengenakannya,
- Tadabbur Surah Fatir Ayat 31-38 :
Ayat 31-38 menjelaskan beberapa hal berikut :
1. Al-Qur’an yang Allah wahyukan kepada Rasul saw, itu adalah kebenaran, membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dan diturunkan berdasarkan kebutuhan manusia. Nabi yang mewarisi Al-Qur’an itu adalah hamba pilihan. Umatnya terbagi tiga: 1) Jauh dari Allah dan bergelimang dosa. 2) Kebaikan dan keburukannya nyaris sama. 3) Ketaatan dan amal salehnya jauh melebihi amal buruknya.
2. Karunia yang besar itu, yakni surga Adn Allah peruntukkan bagi mereka yang Ketaatan dan amal salehnya jauh melebihi amal buruknya. Mereka diberi perhiasan emas dan mutiara dan pakaian sutera. Mereka kekal di dalamnya. Allah hapus dari mereka kesedihan dan menghilangkan rasa letih dan lesu.
3. Orang-orang yang kafir pada Allah, Rasul-Nya dan Al-Qur’an bagi mereka neraka Jahannam. Mereka ditetapkan tidak mati dan tidak diringankan siksaan atas mereka. Itulah balasan yang setimpal bagi setiap orang kafir. Mereka berteriak-teriak di dalam neraka itu dan meminta kepada Allah agar dikeluarkan dan berjanji akan beramal saleh. Allah menjawab: Bukankah Kami telah anugerahkan kalian umur panjang di dunia, diberi kesempatan untuk berpikir dan telah diutus kepada kalian Muhammad saw. yang memberi peringatan akan azab neraka? Maka rasakan azab neraka itu dan tidak akan ada bagi orang zalim itu seorang penolongpun. Sungguh Allah Mengetahui keghaiban langit dan bumi dan Dia Maha Mengetahui tentang isi hati manusia.