بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Rabu, 31 Desember 2025

Tadabbur Al Quran hal. 438

Tadabbur Al-Quran Hal. 438
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Fatir ayat 35 :

ۨالَّذِيْٓ اَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهٖۚ  لَا يَمَسُّنَا فِيْهَا نَصَبٌ وَّلَا يَمَسُّنَا فِيْهَا لُغُوْبٌ

yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.”

- Asbabun Nuzul Fatir ayat 35 :

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab Al-Ba'ts dan Ibnu Abi Hatim dari Nafi' bin Al-Harits yang bersumber dari Abdullah bin Abi 'Aufa, bahwa ada seoranglaki-laki yang bertanya kepada Nabi Saw.: "Ya Rasulullah Sesungguhnya tidur adalah kenikmatan dari Allah di dunia ini. Apakah nantidi surga kita tidur?". Rasulullah menjawab: "Tidak ada! Karena tidur itu kawannya maut dan di surga tidak ada maut". Ia bertanya lagi: "Bagaimana istirahat mereka itu. Pertanyaan ini menyinggung perasaan Rasulullah dengan sabdanya: "Tidak ada capek disurga, semuanya senang dan enak". Ayat ini turun sebagai penegasan akan ucapan Rasulullah tadi.

- Tafsir Al Muyassar Fatir ayat 35 :

Dia-lah yang membuat kami tinggal di surga dengan karunia-Nya, di dalamnya kami tidak merasa lelah atau capek.

- Mujam QS Fatir, 35:34 :

Aż-Zahaabu artinya berlalu dan pergi. Di- katakan, ia pergi membawa sesuatu dan menghilangkan sesuatu. Kata ini digunakan baik dalam makna menghilangkan suatubenda yang terlihat maupun menghilangkan sesuatu yang bersifat maknawi, seperti firman Allah, Dan brahim berkata, "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku. (QS As- Sāffat, 37:99), dan firman Allah, maka tatkala rasa takut hilang dari lbrahim, (05 Hud, 11: 74). Dan terkadang juga digunakan sebagai kiasan dari kematian atau kebinasaan diri, seperti firman Allah, Maka janganiah dirimu menjadi binasa karena kesedihan terhadap mereka. (QS Fātir, 35: 8), dan firman-Nya, Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan menggənti(mu) dengan makhłuk yang baru. (QS Ibrāhim, 14: 19). (Ar-Ragib Al-Asfahany. Mujamu Mufradāti Alfāzhil Qurani, 1431 H/2010 M:137).

- Tazkiyyatun Nafs :

Di antara tempat persinggahan lyyāka Na budu wā lyyāka Nasta in adalah Hazan (kesedihan hati atau duka cita). Tapi ini bukan merupakan tempat persinggahan yang dituntut atau diperintahkan untuk disinggahi, sekalipun mungkin orang yang sedang mengadakan perjalanan harus menyinggahinya. Sebab di dalam Al-Qur'an tidak disebutkan kata Hazan, melainkan sesuatu yang dilarang atau pun dinafikan. Yang dilarang seperti   Allah Swt., éDan janganlah kamu (merasa) lermah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman. (QS Ali Imrān, 3: 139). Sedangkan yang dinafikan seperti firman Allah Swt., <Kami berfirman, "Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS Al-Baqarah, 2: 38). Sebabnya, kesedihan hati merupakan tempat pemberhentian dan bukan pendorong untuk mengadakan perjalanan serta tidak ada kemaslahatannya bagi hati. Di samping itu, yang paling disukai setan ialah membuat hati hamba bersedih, lalu dia tidak mau melanjutkan perjalanannya dan mendorongnya untuk berhenti, sebagaimana firman-Nya, (Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk (perbuatan) setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, sedang (pembicaraan) itu tidaklah memberi bencana sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah Swt. Dan kepada Allah Swt. hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal. (QS Al-Mujādalah, 58: 10). Rasulullah Saw. juga melarang tiga orang yang sedang berkumpul, sementara dua orang saling berbisik-bisik, karena yang demikian itu membuat orang yang ketiga bersedih hati. Kesedihan hati bukan sesuatu yang dituntut, tidak ada tujuan dan manfaatnya. Nabi Saw. berlindung dari kesedihan hati, sebagaimana dalam doa beliau, "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kekhawatiran dan kesedihan." Tapi dari segi kenyataan hidup, memang tempat persinggahan ini tidak bisa dihindari. Karena itu, para penghuni surga berucap saat mereka memasukinya, ..Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kamibbenar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. (QS Fātir, 35: 34). Hal ini menunjukkan bahwa dahulunya mereka pernah mengalami kesedihan hati, selagi masih di dunia, sebagaimana mereka ditimpa musibah-musibah lain tanpa menghendakinya. Sementara Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis şahih, "Tidaklah seorang Mukmin ditimpa kekhawatiran, keletihan dan kesedihan hati, melainkan Allah Swt. mengampuni sebagian dari kesalahan-kesalahannya." Hal ini menunjukkan bahwa itu semua merupakan musibah yang ditimpakan Allah Swt. kepada hamba-Nya, supaya dengan itu Allah Swt. mengampuni kesalahan-kesalahannya, bukan karena menunjukkan kedudukan kesedihan hati ini yang merupakan tuntutan.

Sedangkan hadiš Hindun bin Abu Halah yang menggambarkan Nabi Saw., "Bahwa beliau selalu tampak bersedih hati," ini hadis yang sama sekali tidak kuat, dan di dalam isnad-nya ada seseorang yang tidak diketahui (majhū). Di samping itu, bagaimana mungkin beliau senantiasa bersedih hati, padahal beliau telah dijaga Allah Swt. agar tidak bersedih hati karena tidak mendapatkan dunia dan sebab-sebabnya, dilarang bersedih hati dalam menghadapi orang-orang kafir, dan dosa-dosa beliau yang lampau maupun yang akan datang sudah diampuni? Lalu apa yang membuat beliau harus senantiasa bersedih hati? Beliau adalah orang yang senantiasa banyak senyum dan manis muka. Begitu pula riwayat yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah Swt. mencintai setiap hati yang banyak bersedih." Isnad riwayat ini tidak diketahui, begitu pula siapa yang meriwayatkannya. Andaikan ada hadiš yang şahih dan ada ayat yang menggambarkan kesedihan, maka maksudnya adalah musibah yang ditimpakan kepada hamba. Yang pasti para ulama telah sepakat bahwa kesedihan hati di dunia bukan sesuatu yang terpuji, kecuali Abu Usman Al-Hiry. Dia berkata, "Menampakkan kesedihan di hadapan setiap orang adalah kemuliaan dan tambahan pahala bagi orang mukmin, selagi kesedihan itu bukan karena musibah yang menimpanya." (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju As-Sālikina Manāzilu lyyāka Na budu wa lyyāka Nasta in, Juz 1, t.t.: 542-547), 

- Riyāduş Şālihin :

Dari Abu Umāmah Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda, "Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah Swt. kecuali dua tetes dan dua bekas. Dua tetes itu adalah tetesan air mata karena takut kepada Allah Swt. dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah Swt. Adapun dua bekas itu adalah bekas karena di jalan Allah Swt. dan bekas karena melaksanakan kewajiban Allah Swt." (HR Tirmiži, dan ia berkata, "Ini hadis hasan."). Hadis tersebut mengandung beberapa faedah, antara lain keutamaan menangis karena takut kepada Allah Swt., karenanmenangis merupakan petunjuk keimanan yang benar kepada Allah Swt. (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 407).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat Milh (Garam)

Milh ataù garam dapat memperbaiki tubuh manusia dan makanan mereka, dan dapat memperbaiki segala benda apapun yang bercampur dengannya, termasuk pula emas dan perak, sebab di dalamnya terkandung kekuatan yang bisa menambah kadar kekuningan emas dan kadar keputihan perak. Di dalamnya juga terkandung kejernihan dan penguraian, menghilangkan kelembaban yang menebal dan mengeringkan. Garam dapat memperkuat badan, mencegah kerusakannya dan dapat pula berguna untuk menyembuhkan infeksi. (bnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zādul Ma'adi fi Hadyi Khayril lbādi, Juz 4, t.t.. 396).

- Medical Hadiš :

Dari Anas bin Malik Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Lauk teristimewa kalian adalah garam." (HR Ibnu Mājah). Maksudnya, pemimpin sesuatu ialah yang memberi kemaslahatan kepadanya dan memiliki campur tangan dengannya. Hampir semua lauk menjadi enak karena garam. (A2-Zahabi, At-Tibbun Nabawi, 1410 H/1990 M:B194; lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-TibbunbNabawi, t.t.. 309).

- Hadis Motivasi QS 35: 33 :

Dari Jabir bin Abdillah dia mengatakan, Rasulullah bersabda: "Aku masuk surga. Tak tahunya, aku berada di sebuah istana emas. Maka oku bertanya: Milile siapakah ini?" Mereka menjowab: 'Milik seseorang dari Quraiy. Dan tiada yang menghalangiku untuk memasukinya, hai lbnul Khattab, kecuali karena aku tahu kecemburuanmu." Lalu. Umar menjawab, "Apakah terhadapmu aku cemburu. ya Rasulullah." (HR Bukhari. 6621)

- HADIS NIAGA QS Fäțir, 35: 33 :

Diperbolehkan Menjual Sutra

Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Umar melihat sejenis mantel yang bersulam sutra dijual, lalu dia berkata, "Wahai Rasulullah, andaikan engkau mau membelinya dan memakainya untuk menemui para utusan ketika berkunjung menemui engkau atau untuk dikenakan waktu salat Jumat." Beliau lalu bersabda: "Yang memakai pakaian ini hanyalah mereka yang tidak mendapatkan bagian di akhirat." Hari berikutnya beliau memberi Umar sejenis mantel yang terbuat dari sutra, Umar pun protes, "Wahai Rasulullah, engkau memberikannya kepadaku padahal engkau berujar tidak boleh memakainya." Beliau menjawab: "Aku memberikan kepadamu bukan untuk dipakai, tetapi agar kamu jual atau kamu berikan kepada istrimu." (HR Bukhari, 5841; Muslim 2068)

- AMAL NIAGA :

1. Jika Anda seorang laki-laki, janganlah mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra karena pada perkara tersebut terdapat kesombongan dan keserupaan dengan orang-orang kafir. Seorang laki-laki juga akan kehilangan kegagahan saat mengenakannya,

- Tadabbur Surah Fatir Ayat 31-38 :

Ayat 31-38 menjelaskan beberapa hal berikut : 
1. Al-Qur’an yang Allah wahyukan kepada Rasul saw, itu adalah kebenaran, membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dan diturunkan berdasarkan kebutuhan manusia. Nabi yang mewarisi Al-Qur’an itu adalah hamba pilihan. Umatnya terbagi tiga: 1) Jauh dari Allah dan bergelimang dosa. 2) Kebaikan dan keburukannya nyaris sama. 3) Ketaatan dan amal salehnya jauh melebihi amal buruknya.  
2. Karunia yang besar itu, yakni surga Adn Allah peruntukkan bagi mereka yang Ketaatan  dan amal salehnya jauh melebihi amal buruknya. Mereka diberi perhiasan emas dan mutiara dan pakaian sutera. Mereka kekal di dalamnya. Allah hapus dari mereka kesedihan dan menghilangkan rasa letih dan lesu.  
3. Orang-orang yang kafir pada Allah, Rasul-Nya dan Al-Qur’an bagi mereka neraka Jahannam. Mereka ditetapkan tidak mati dan tidak diringankan siksaan atas mereka. Itulah balasan yang setimpal bagi setiap orang kafir. Mereka berteriak-teriak di dalam neraka itu dan meminta kepada Allah agar dikeluarkan dan berjanji akan beramal saleh. Allah menjawab: Bukankah Kami telah anugerahkan kalian umur panjang di dunia, diberi kesempatan untuk berpikir dan telah diutus kepada kalian Muhammad saw. yang memberi peringatan akan azab neraka? Maka rasakan azab neraka itu dan tidak akan ada bagi orang zalim itu seorang penolongpun. Sungguh Allah Mengetahui keghaiban langit dan bumi dan Dia Maha Mengetahui tentang isi hati manusia. 

Jumat, 26 Desember 2025

Tadabbur Al Quran Hal. 437

Tadabbur Al-Quran Hal. 437
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Fatir ayat 29 :

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi,

- Asbabun Nuzul Fatir ayat 29 :

Diriwayatkan oleh Abdul Ghani bin Sa'id Ats-Tsaqafi di dalam tafsirnya yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Hushain bin Al-Harits bin Abdul Mutthalib bin Abdi Manaf Al-Quraisy. Ayat ini menegaskan cirri-ciri yang diijabahi amalnya oleh Allah Swt.

- Tafsir Al Muyassar Fatir ayat 29 :

Sesungguhnya orang-orang yang membaca Al Qur'an dan mengamalkannya, menjaga shalat pada waktunya, menafkahkan dari apa yang Kami rizkikan kepada mereka dengan berbagai bentuk nafkah, baik yang wajib, maupun yang dianjurkan, secara rahasia dan terang-terangan. Mereka itu mengharapkan dengan itu sebuah perniagaan yang tidak merugi dan tidak binasa, yaitu ridha Allah kepada mereka, keberuntungan meraih pahala-Nya yang agung,

- Riyāduş şālihin :

Dari Zaid bin Khalid Ra., ia berkata, "Rasulullah Saw. mengimami kami dalam salat subuh di Hudaibiyyah, di mana pada malam itu turun hujan. Setelah selesai salat, beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak, lalu bersabda, Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian? Orang-orang menjawab, Allah dan RasulNya lebih mengetahui.' Beliau bersabda, (Allah berfirman) Di pagi ini ada hamba-hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Orang yang berkata, Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya,' maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-
bintang. Adapun orang yang berkata, Hujan turun disebabkan bintang ini atau itu, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang." (HR Al-Bukhāri-Muslim).
Hadiš tersebut memberikan beberapa faedah, antara lain:
(a) Allah Swt. adalah penyebab utama semua kejadian yang ada di alam semesta.
(b) Keyakinan bahwa terjadinya sesuatu semata-mata diakibatkan oleh sebab-sebab alam merupakan hakikat kekufuran dan syirik. Namun jika disertai keyakinan bahwa Allah Swt yang telah menciptakannya, maka keyakinan seperti itu diperbolehkan.
(Dr. Muştafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 2, 1407 H/1987 M: 1179-1180). 

- Hadiš Nabawi :

Dari Abu Umamah Al-Bahili, ia berkata, "Dua orang disebutkan di sisi Rasulullah Saw., salah seorang adalah ahli ibadah dan yang lain seorang yang berilmu, kemudian Rasulullah Saw. bersabda, Keutamaan seorang alim dari seorang 'abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian.' Kemudian beliau melanjutkan sabdanya, "Sesungguhnya Allah, Malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR At-Tirmiži, dan ia berkata, "Hadis ini garib." (HR At-Tirmiži, Sunan At-Tirmiži, Juz 5, No. Hadis, 2685, 1397 H/1977M: 50).

- Hadis Qudsi :

Dari Abu Darda Ra., ia berkata, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, 'Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, maka Allah Swt. akan mempermudah baginya jalan menuju surga. Para Malaikat As. akan membentangkan sayapnya karena rida kepada penuntut ilmu. Dan seorang penuntut imu akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air. Sungguh, keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi As., dan para nabi As. tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil keuntungan yang sangat besar. (HR lbnu Mājah, Sunanu lbni Mặjah, No. Hadis 223, t.t.: 56). Hadis Şahih, Sahih Al-Jāmi No. 6297.

- HADIS NIAGA QS Fāțir, 35: 29 :

Tidak Melakukan Aktivitas Jual-Beli di Dalam Masjid

Dari Abu Hurairah dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: "Jika kalian melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, ucapkanlah, 'Semoga Alah tidak memberi keuntungan pada perdaganganmu." Jika kalian melihat orang yang mengumumkan barang hilang di dalam masjid, ucapkanlah, 'Semoga Allah tidak mengembalikan barang itu kepadamu." (HR Tirmizi, 1321)

- AMAL NIAGA :
1. Larangan jual-beli di masjid ditetapkan agar orang tidak sibuk dengan urusan dunia di masjid sehingga dia lalai dari akhirat dan lalai dari zikir kepada Allah di rumah Allah.
2. Lakukanlah segala hal ukhrawi di dalam masjid dan hindarilah melakukan atau membicarakan urusan duniawi, kecuali yang menyangkut urusan kaum muslim, baik urusan agama, kehidupan sosial, maupun hal-hal yang bermanfaat bagi kepentingan mereka.
3. Para ulama bersepakat bahwa jual-beli yang dilakukan di masjid, meskipun hukumnya haram, tetapi akadnya tetap dinyatakan sah.

- Tadabbur Surah Fatir Ayat 19-30 :

Ayat 19-30 menjelaskan tiga hal penting: 
1. Perumpamaan orang yang kafir kepada Allah, Rasulullah dan Al-Qur’an dengan yang  beriman padanya ialah seperti orang yang buta dengan yang melihat, gelap dengan cahaya, teduh dengan panas dan mati dengan hidup. Allah  yang  memberi  hidayah itu, sedangkan tugas Rasul saw. hanya menyampaikan berita gembira dan kabar takut. Setiap umat ada Rasul yang diutus Allah. Allah menimpakan azab kepada setiap umat yang ingkar pada-Nya. 
2. Di antara bukti kekuasaan dan kebesaran Allah, menurunkan air dari langit, lalu Dia keluarkan dari bumi buah-buahan yang beragam warnanya dan gunung-gunung yang bergaris putih, merah dan hitam pekat. Demikian pula manusia dan hewan ternak yang beragam warnanya. Sesunguhnya yang takut pada Allah itu ialah orang yang beriman yang mengetahui kebesaran Allah di alam semesta.  
3. Sungguh perniagaan dengan Allah tidak  akan merugi. Syaratnya, baca Al-Qur’an, tegakkan salat dan berinfak secara rutin. Allah pasti sempurnakan balasannya dan menambahkan karunia-Nya kepada yang melakukannya. 

Kamis, 18 Desember 2025

Tadabbur Al Quran Hal. 436

Tadabbur Al-Quran Hal. 436
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Fatir ayat 15 :

۞ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.

- Tafsir Al Muyassar Fatir ayat 15 :

Wahai manusia, kalian membutuhkan Allah dalam segala sesuatu, kalian tidak bisa terlepas dari memerlukan-Nya sekejap pun, sebaliknya Allah Mahakaya sehingga Dia tidak membutuhkan manusia dan tidak memerlukan apapun dari makhluk-Nya. Dia Maha Terpuji pada Dzat, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, Maha Terpuji atas nikmat-nikmat-Nya, karena segala nikmat yang diterima manusia adalah dari-Nya. Bagi-Nya segala puji dan syukur dalam segala keadaan.

- Mu'jam Fatir ayat 15 :

الْحَمِيْدُ
Lafaz AHamdulilát Ta a merupakan pujian kepada Allah atas keutamaan Nya. Akan tetapi kata AHamdu (puja-puja) lebih khusus darisekedar pujar biasa (Al-Madhu). dan letbih umun datipada syukur. Karena syukur tidak diungkapkan kecuai saat menerima suatu nikmat. maka setiap syukur tu adalah hamdun (puja puji) dan tidak setiap hamdun (puja-puji) itu syukur, dan setiap hamdun ipuja-puji) itu adalah madhun (pujan) dan tidak setiap madhun itu bisa bemakna hamdun. Dan dikatakan Fulan itu mabmud apabila ia dipuj, dan si Fulan itu muhaimadun apabila sa memiliki banyak sifat yang pantas dipuji (Ar-Rāghih A-Asfahani Mu'jamu Mufradat Altaa Al Qurani, 1431H2010M 100)

- Asmā'ul Husnã :

Allah Swt. mempunyai nama
الْحَمِيْدُ
artinya bahwa hanya Allah yang berhak untuk dipuji dan disanjung. Dialah Allah Yang Maha Terpuji dengan apa yang telah diciptakan-Nya, yang telah dibuat-Nya, yang telah dianugerahkan-Nya, yang telah memberikan manfaat dan madarat, dan yang telah memberikan karunia ataupun menahan karunia itu atas hamba-Nya. Dialah yang memegang langit untuk berada di atas bumi supaya tidak terjatuh. Dialah yang telah membentangkan bumi, sehingga menjadi terbentang, dan segala sesuatu menjadi luas dan mudah untuk dikerjakan. Dialah yang terpuji atas hikmah menciptakan hamba, baik yang bermaksiat, beriman ataupun yang kafir sekalipun. Dialah Yang Maha Terpuji untuk mengutus para rasul dan menjadikan musuh bagi mereka. Dialah Yang Maha Terpuji atas keadilan terhadap musuh-musuh-Nya, sebagaimana Dia terpuji atas karunia terhadap para wali-Nya. Setiap butiran debu yang ada di alam semesta ini menjadi saksi yang memuji-Nya,
dan tidaklah ada sesuatu kecuali bertasbih dengan memuji-Nya. Seorang muslim yang mengesakan Allah dengan nama ini, ia yakin bahwa pujian mencakup sanjungan kepada Zat yang dipuji dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, serta mengikuti kegagahan-Nya dengan kecintaan, keridaan dan ketundukan. Orang yang mendustakan sifat-sifat yang dipuji tidaklah disebut seorang pemuji. Seorang yang mengesakan Allah hendaknya memuji Allah, dengan harapan hatinya mengikuti petunjuk untuk memilih keimanan dalam hati, memujinya dengan zikir dengan lisan, menyanjung Allah untuk memberatkan timbangan amal, memuji Allah dengan perbuatan anggota badan, serta memohon pertolongan dan memohon bertambahnya keimanan. (Dr. Mahmūd Abdurrazāk Ar-Ridwāni, Ad-Du'au bil Asmāil Husnā, 2005: 72).

- Riyāduş şälihin :

Dari Abu Umamah Ra., bahvwa Nabi Saw. jika mengangkat lambungnya (selesai makan), beliau membaca, Alhamdulilāhi Hamdan Kaširān Tayiban Mubārakan fihi Gaira Makfiyyin walā Mustagnan 'anhu. Rabbanā." (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik dan yang mengandung keberkahan di dalamnya, bukan pujian yang tidak dianggap dan tidak dibutuhkan olehNya, ya Tuhan kami) (HR AI-Bukhāri). Hadiš tersebut memberikan faedah tentang anjuran untuk memuji Alah setelah selesai makan sebagai sikap meneladani Nabi Saw. (Dr. Mustafā Sa'id AI-Khin, Nuzhatul Muttagina Syarhu Riyādis şälihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 602). 

- Hadiš Nabawi :

Dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw., bersabda, "Barangsiapa yang duduk di suatu majelis, kemudian dia banyak salahnya, sebelum berangkat ia membaca, "Mahasuci Engkau ya Allah, dengan pujian milik-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Engkau, aku memohon ampun pada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.." kecuali Allah akan mengampuni dosa dan kesalahan dia selama berada di majelis itu." (Sahih Al-Jāmi, 6192). Begitu pun Umar Ra. melantangkan bacaan berikut, "Mahasuci Engkau, ya Allah, dengan memuji-Mu, Mahasuci nama-Mu, Yang Mahatinggi keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan selain-Mu." (Sahih Bukhāri,4042).

- Hadis Motivasi QS 35: 12 :

Dari Anas dia berkata. Rasulullah pernah bernapas tiga kali ketika minum. Beliau berkata: "Itu lebih melegakan, lebih bersih, dan lebih bermanfaat." Anas berkata.  "Oleh karena itu. aku bernapas tiga kali setiap minum." (HR Muslim, 2028)

- HADIS NIAGA QS Fäțir, 35: 15 :

Empat Kelompok yang Dibenci Allah

Dari Abu Hurairah dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: "Empat golongan yang dibenci Allah, yitu penjual yang suka bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua renta yang berzina, dan pemimpin yang durjana." (HR Nasa'i, 2576)


- AMAL NIAGA :

1. Jika Anda seorang pedagang, janganlah banyak bersumpah dengan harapan agar orang lain menmbeli barang dagangan Anda. Rasulullah bersabda: "Sumpah itu akan menjadikan barang dagangan menjadi laris manis, (akan tetapi) mernghapuskan keberkahan." (HR Bukhari, 2087; Muslim, 1606).
2. Seorang niagawan muslim hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar menganugerahinya kejujuran dalam setiap aktivitas niaga yang dilakukan.
3. Apabila Anda seorang pimpinan dalam satu perusahaan, janganlah menjadikan jabatan dan wewenang untuk memperkaya diri sendiri. Ingatlah bahwa setiap kekuasaan akan berakhir dan akan dimintai pertanggungjawaban.

- Tadabbur Surah Fatir Ayat 12-18 :

Ayat 12-18 menjelaskan tiga hal penting: 
1. Meneruskan ayat sebelumnya terkait kekuasaan dan kebesaran Allah. Dua laut yang berbeda, yang satu airnya tawar dan enak diminum dan yang satu lagi asin. Dari keduanya Allah titipkan rezeki untuk manusia berupa berbagai jenis akan segar dan perhiasan yang dipakai manusia. Kapal-kapal yang berlabuh di atasnya sebagai untuk mencari karunia-Nya. Semoga manusia bisa bersyukur pada Allah. Allah juga yang menjadikan malam dan siang silih berganti, menundukkan matahari  dan bulan. Masing-masing beredar hingga  batas waktu yang ditentukan-Nya. Semua  itu Allah yang menicptakannya. 
2. Allah mengajak manusia memikirkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya, kemudian tuhan-tuhan yang disembah selain-Nya.  Kekuasaan dan kebesaran-Nya sangat jelas dan dahsyat, sedangkan tuhan-tuhan yang diklaim manusia itu tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan sekulit aripun. Sebab itu, orang yang  tidak memahami kekuasaan dan kebesaran  Allah itu sulit untuk mendengarkan kebenaran Al-Qur’an dan Islam, apalagi meyakini dan mengamalkannya. Padahal di akhirat nanti mereka mengingkari kemusyrikan tersebut. Allah Mahateliti dalam memberi tahu manusia. Sungguh  manusia sangat membutuhkan Allah. Allah  mampu melenyapkan mereka dan menggantinya dengan generasi baru. Semua itu mudah  saja bagi Allah. 
3. Allah menetapkan setiap manusia memikul dosa masing-masig dan tidak bisa dialihkan kepada orang lain kendati karib kerabat. Yang bisa memahami peringatan Rasul saw, itu ialah yang takut pada Allah dan menegakkan salat.

Sabtu, 06 Desember 2025

Tadabbur Al Quran hal. 435

Tadabbur Al-Quran Hal. 435
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Fatir ayat 8 :

اَفَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ فَرَاٰهُ حَسَنًاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرٰتٍۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَصْنَعُوْنَ

Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

- Asbabun Nuzul Fatir ayat 8 :

Diriwayatkan oleh Juwaibir dari Adh-Dhahak yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Nabi Saw. Berdo'a: "Allahumma a'iz dinaka bi Umar bin Khatthab au bi Abi Jahl bin Hisyam". Allah memberi hidayah kepada 'Umar dan menyesatkan Abu Jahl. Ayat ini turun berkenaan dengan kedua orang ini.

- Tafsir Al Muyassar Fatir ayat 8 :

Apakah orang yang amal-amal buruknya berupa kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah, kekufuran, penyembahan kepada llah-llah lain dan berhala-berhala selain Allah diperindah oleh setan sehingga dia melihatnya bagus adalah seperti orang yang diberi petunjuk oleh Allah, sehingga dia melihat yang baik adlaah baik dan yang buruk adalah buruk? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka janganlah mencelakakan dirimu sendiri karena sedih terhadap kekufuran orang-orang yang tersesat itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui keburukan-keburukan mereka dan akan membalas karenanya dengan balasan paling buruk.

- Riyāduş şālihin :

Dari 'Aisyah Ra., ia berkata, "Apabila datang angin yang bertiup sangat kencang. maka Nabi Saw. berdoa, "Allahumma Inni Asaluka Khairahā, wa Khaira mã fihā, wa Khaira mã Ursilat bihi. Wa Aūżubika min Syarrihā, wa Syarri mã fihā, wa Syarri mā Ursilat. (Ya Allah, sungguh, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin, kebaikan yang dikandung-nya, dan kebaikan yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan-nya, keburukan yang ada di dalamnya dan keburukan yang dibawanya.)" (HR Muslim).
Hadis tersebut mengandung beberapa faedah, antara lain:
(a) Berlindung kepada Allah Swt. dan merendahkan diri kepada-Nya ketika menyaksikan suatu perkara buruk dan menakutkan dari berbagai fenomena alam yang terjadi.
(b) Dianjurkan untuk berdoa dengan doa yang terdapat dalam hadis tersebut, tatkala terjadi angin yang berhembus menghamburkan debu.
(Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 2, 1407 H/1987 M: 1178).

- Hadiš Nabawi :

Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, Jarak antara dua tiupan (sangkakala) adalah empat puluh." Seseorang bertanya kepada Abu Hurairah, Empat puluh hari? Dia menjawab, Aku tidak dapat menentukannya Orang itu bertanya lagi, 'Empat puluh bulan? Dia menjawab, 'Aku tidak dapat menentukannya." Orang itu bertanya lagi. 'Empat puluh tahun?" Dia menjawab, Aku tidak dapat menentukannya.' Kemudian beliau bersabda, "Setelah itu, Allah Swt. menurunkan air dari langit, maka mereka pun hidup kembali sebagaimana tumbuhnya sayur-sayuran. Tidak ada tersisa sedikit pun dari manusia kecuali ia akan hancu, kecuali satu tulang yakni tulang ekor. Dari tulang itulah, manusia dibangkitkan kembali pada hari kiamat." (HR Al-Bukhāri, Sahihul Bukhāri, Juz3, No. Hadis, 4935. 1400 H: 320).

- Hadiš Qudsi :

Imam Al-Bukhāri berkata, telah menceritakan kepada kami Migdām bin Muhammad, ia berkata, telah menceritakan kepadaku pamanku yaitu Al-Qāsim bin Yahya, dari Ubaidullah dari Nāfi, dari lbnu Umar Ra. dari Rasulullah Saw., beliau bersabda, "Pada hari kiamat Allah menggenggam bumi, dan langit berada di tangan kanan-Nya, lantas Allah berfirman, Akulah Raja." (Mustafā bin 'Adawi, As-Sahihul Musnad minal Ahādišil Qudsiyyati, t.t: 127).

- HADIS NIAGA QS Fäțir, 35: 6 :

Pasar Menjadi Sasaran Utama Setan

Dari Salman , dia berkata, "Jika bisa, janganlah kamu menjadi orang yang pertama kali masuk ke dalam pasar dan orang terakhir kali keluar darinya. Bagaimanapun, pasar itu menjadi sasaran utama setan dan di situlah setan mengibarkan benderanya." Salman berkata, Aku pernah diberi tahu bahwa Jibril datang kepada Rasulullah Pada saat itu, Ummu Salamah ada di samping beliau. Beliau mulai berbicara, berdiri, dan akhirnya bertanya kepada Ummu Salamah: "Siapa ini? (atau sebagaimana yang beliau katakan kepadanya). Ummu Salamah menjawab, "ini Dihyah Al-Kalbi." Salman berkata, Ummu Salamah pernah berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah berprasangka buruk kepadanya hingga aku mendengar khutbah Rasulullah yang menuturkan berita tentang kami (atau sebagaimana yang beliau sabdakan)." Aku bertanya kepada Abu Usman, "Dari siapa engkau mendengar berita ini?" Abu Usman menjawab, "Dari Usamah bin Zaid." (HR Muslim, 2451)

- AMAL NIAGA :

1. Mintalah perlindungan kepada Allah agar setan tidak menyesatkan Anda dari jalan-Nya dan mohonlah kepada-Nya agar Anda tetap berada di atas agama-Nya hingga Anda menjumpai-Nya.

- Tadabbur Surah Fatir Ayat 4-11 :

1. Ayat 4-11 menjelaskan bahwa penolakan  kepada Rasululullah saw. itu juga terjadi pada Rasul-Rasul sebelumnya. Maka, manusia harus ingat bahwa janji Allah itu benar. Sebab itu, jangan sampai tertipu oleh kehidupan dunia dan  setan, karena setan itu musuh dan mengajak manusia menjadi penghuni neraka.  
2. Orang-orang yang kafir akan mendapatkan azab neraka, sedang yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan ampunan dan pahal yang amat besar. Orang yang kafir itu melihat kekufurannya sebagai kebaikan. Sebab itu tidak perlu bersedih terhadap mereka, karena Allah memberikan petunjuk atau menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya. Diantara kekuasaan-Nya, mengirimkan angin untuk menggerakkan awan ke negeri yang mati tanahnya, lalu bumi itu menjadi hidup kembali. Maka seperti itu pula pada hari kiamat nanti, 
3. Allah  menghidupkan manusia yang sudah mati. Sebab itu, carilah kemuliaan itu dari Allah. Allah menerima perkataan dan amal saleh. Mereka yang berbuat makar atas agama-Nya, bagi mereka azab yang keras, sedangkan makar mereka akan sia-sia. Karena Allah yang menciptakan manusia dari tanah, kemudian sperma, kemudian berpasang-pasangan. Kelahiran, ditambah atau dikuranginya umur adalah sesuai ilmu-Nya. Bagi Allah mudah saja.  

Senin, 01 Desember 2025

Kezaliman Terhadap Hak Allah

One Day One Hadits (332)
------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kezaliman Terhadap Hak Allah

َ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابن مسعود رضي اللَّه عنه قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ 

Dari 'Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu dia berkata; Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; 'Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab; 'Bila kamu menyekutukan Allah, padahal dialah yang menciptakanmu. Aku berkata; tentu itu sungguh besar.' Aku bertanya lagi; 'Kemudian apa? Beliau menjawab; 'Apabila kami membunuh anakmu karena takut membuat kelaparan.' Aku bertanya lagi; 'kemudian apa? ' beliau menjawab; 'Berzina dengan istri tetanggamu.'[Hr Bukhori] 

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Zalim ada dua macam: pertama, kezaliman terkait dengan hak Allah ‘Azza wa Jalla, kedua, kezaliman terkait dengan hak hamba.

2. Kezaliman terhadap hak Allah. 
Kezaliman yang terbesar yang terkait dengan hak Allah adalah kesyirikan.

3. Syirik merupakan dosa paling besar disisi Allah dan tidak akan diampuni. Karena syirik merupakan perbuatan yang melanggar hak Allah.sedangkan hak Allah yang wajib dipenuhi oleh setiap hamba adalah tidak berbuat syirik kepada-Nya.

4. Syirik disebut kezoliman karena syirik merupakan perbuatan yang menempatkan sesuatu perkara atau ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya. Oleh karena itu siapa yang menyekutukan Allah maka ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :

1. Kezhaliman yang paling besar adalah syirik kepada Allah. 

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku janganlah kamu mempersekutukan (syirik) kepada Allah dan sesungguhnya syirik itu merupakan kezaliman yang paling besar.” (Terj. Luqman: 13)

2. Syirik Akbar (besar) adalah beribadah kepada selain Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah, meminta berkah (keberuntungan, syafa’at, perlindungan dan lain-lain) kepada orang yang mati atau masih hidup tapi tidak berada di tempat orang yang meminta (tidak ada di dekatnya).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا 

“Beribadahlah kepada Allah dan jangan kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apapun.” (Terj. An-Nisa’: 36)

3. Syirik itu bercokol pada umat sekarang.

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

Artinya: “Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah, kecuali mereka dalam keadaan berbuat syirik.” (Terj. Yusuf: 106)

4. Syirik merupakan dosa paling besar disisi Allah dan tidak akan diampuni. Karena syirik merupakan perbuatan yang melanggar hak Allah.sedangkan hak Allah yang wajib dipenuhi oleh setiap hamba adalah tidak berbuat syirik kepada-Nya. 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya. ( Q.S An Nisa: 116)