بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Selasa, 17 Desember 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 409

Tadabbur Al-Quran Hal. 409
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Ar-Rum ayat 46 :

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ يُّرْسِلَ الرِّيٰحَ مُبَشِّرٰتٍ وَّلِيُذِيْقَكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِاَمْرِهٖ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira [1174] dan agar kamu merasakan sebagian dari rahmat-Nya dan agar kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya [1175] dan (juga) agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.

- [1174] Pembawa berita gembira maksudnya ialah awan yang tebal yang ditiup angin lalu menurunkan hujan. Karenanya rahmat Allah dapat dirasakan dengan tumbuhnya benih-benih yang telah disemaikan, menghijaunya tanaman-tanaman serta berbuahnya tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.
- [1175] Yaitu dengan izin dan kehendak Allah.

- Tafsir Al Muyassar Ar-Rum ayat 46 :

Di antara bukti-bukti Allah yang menunjukkan bahwa Dia adalah sembahan yang haq semata tiada sekutu bagi-Nya, dan besar-Nya kuasa-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin di depan hujan sebagai berita gembira karena angin tersebut menggiring awan, maka jiwa manusia bergembira menyambutnya. Dia hendak merasakan mereka terhadap rahmat-Nya dengan menurunkan hujan yang menghidupkan negeri dan manusia, agar perahu-perahu bisa berjalan di laut dengan perintah dan kehendak Allah, agar kalian bisa mencari sebagian dari karunia-Nya melalui perniagaan dan lainnya. Allah melakukan hal itu agar kalian
mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dan menyembah-Nya semata.

- Riyāduş şālihin :

Dari Jabir Ra., ia berkata, "Rasulullah Saw. pernah mengirim kami dengan Abu Ubaidah sebagai komandannya, untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Setelah kami sampai di pantai lautan, kami dihadapkan dengan suatu pemandangan yang tampaknya seperti gundukan air. Ketika kami menghampiri, ternyata itu adalah hewan laut yang disebut Anbar (sejenis ikan yang panjang dan besar kepalanya)." Jabir Ra. berkata, "Lalu Abu Ubaidah berkata, ltu adalah bangkai. Kemudian dia melanjutkan, "Namun tidak mengapa, kita adalah utusan Rasulullah Saw. yang mengemban tugas di jalan Allah Swt. dan kalian dalam keadaan terpaksa. Karena itu, kalian boleh memakannya." Jabir Ra. berkata, "Kami menetap di tempat itu selama sebulan dan jumlah kami semuanyan ada tiga ratus orang dan kami menjadi gemuk semuanya (karena makan daging itu)." Jabir Ra. melanjutkan, "Sungguh kami telah mengetahui, saat itu kami mengambil minyaknya dari rongga matanya dan menampungnya dengan tempayan besar. Kemudian kami memotong-motong dagingnya seperti memotong seekor lembu. Kemudian Abu Ubaidah Ra. memanggil tiga belas prajurit untuk ke rongga mata ikan, lalu mereka mengambil kerangkanya dan menegakkannya, kemudian unta kami yang paling besar disuruh berjalan di bawah kerangka ikan tersebut. Lalu kami mengambil daging ikan itu sebagai perbekalan kami dan untuk kami masak. Setelah kami tiba di Madinah. Kami menemui Rasulullah Saw. dan memberitahukan hal itu kepada beliau, maka beliau bersabda, 'ttu adalah rezeki yang diberikan Allah Swt. kepada kalian. Apakah kalian membawa sedikit dagingnya untuk kami makan?" Jabir Ra. berkata, "Lantas kami mengirimkanvdaging tersebut kepada Rasulullah Saw. lalu beliau memakannya." (HR Muslim).
Hadiš di atas mengandung beberapa faedah, antara lain:
(a) Kebolehan melakukan ijtihad dan perubahannya dalam hasil ijtihadnya. Meskipun pada awalnya Abu Ubaidah melarang memakan ikan tersebut, kemudian dia mengubah ijtihadnya sendiri dan menyuruh para sahabat yang lain untuk memakannya.
(b) Allah Swt. melindungi para sahabat dan memuliakannya. Sungguh Allah telah memberikan rezeki pada mereka tatkala Allah Swt. mengetahui kebutuhan dan keikhlasan mereka.
(Dr. Muştafā Salid Al-Khin, Nuzhatul Muttagina Syarhu Riyādis salihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 450-451).

- Hadis Nabawi :

Dari lbnu Umar Ra., ia berkata, "Sesungguhnya Tamim Ad-Dāri bertanya kepada Umar bin A-Khattab Ra. tentang perjalanan di laut, sedangkan di laut itu terdapat perdagangan yang besar, maka ia perintahkan untuk meringkas salat." Allah Swt. berfirman, Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) dilautan.. (Qs Yünus, 10: 22). (HR AI-Baihaqi, Sunanu Al-Baihaqi Al-Kubrā, Juz 3, No. Hadis 5487, 1424 H/2003 M: 220).

- Hadis Qudsi :

Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, Rasulullah Saw., bersabda, "Allah Swt. menjamin bagi orang yang keluar di jalan-Nya tidak ada yang mengeluarkannya kecuali berjihad di jalan-Ku serta beriman kepada-Ku dan membenarkan rasul-Ku, maka ia terjamin untuk Aku masukkarn ke dala surga atau mengembalikannya ke tempatnya yang darinya ia keluar, dan mendapatkan apa yang ia dapatkan berupa pahala dan rampasan perang." (HR An-Nasā). (Isāmuddin As-Sabābati, Jāmiu'1 Ahādisil Qudsiyyati, Jilid 2, t.t: 259).

- Hadis Motivasi QS 30: 44 :

Dari Zaid bin Khalid AJuhani, dia berkata, Pada masa Rasulullah hujan turun maka beliau bersabda: "Apakah tadi malam kalian tidak mendengar perkataan Rabb kalian? Dia berfirman: Tidaklah Aku menganugerahkan suatu nikmat kepada hamba-hamba-Ku kecuali sebagian mereka ada yang kufur dengan nikmat tersebut. Mereka berkata. 'Kani diberi hujan dengan sebab bintang ini don itu. Sementara itu, orang yang beriman kepoda-Ku, dia memuft-Ku karena air yang Aku turunkan maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang." Sementara itu, orang yang berkata, 'Kami diberi hujan dengan sebab bintang ini dan itu, adalah orang yang kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bíntang." (HR Nasa'i, 1525)

- HADIS NIAGA QS Ar-Rüm, 30: 46 :

Berdagang pada Musim Haji

Dari Abu Umamah At-Taimi, dia berkata, Dahulu aku seorang lelaki yang melakukan sewa-menyewa dalam perkara (perjalanan haji) ini, tetapi orang-orang berkata kepadaku, "Hajimu tidak sah." Kemudian aku menemui lbnu Umar , aku berkata, "Wahai Abu Abdurrahman, aku adalah seorang lelaki yang melakukan sewa-menyewa dalam perkara (perjalanan haji) ini dan orang-orang berkata kepadaku bahwa hajiku tidak sah." Kemudian lbnu Umar berkata, "Bukankah engkau berihram, membaca talbiah, tawaf di Ka'bah, bertolak dari Arafah, dan melempar jumrah?" Aku menjawab, "Ya."ibnu Umar berkata, "Hajimu sah. Telah datang seorang lelaki kepada Nabi dan bertanya seperti yang engkau tanyakan kepadaku. Kemudian Rasulullah # terdiam. Beliau tidak menjawab sampai turun ayat: "Tidak berdosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu." Kemudian Rasulullah mengutus seseorang kepadanya (orang yang bertanya) dan membacakan ayat ini. Beliau berkata: "Hajimu sah." (HR Abu Dawud, 1733)

- AMAL NIAGA :

Jika telah selesai menunaikan rukun haji, Anda diperbolehkan melakukan perdagangan dalam rangka mengharapkan karunia Allah.

- Tadabbur Surah Ar-Rum Ayat 42-50 :

Ayat 42-50 menjelaskan hal-hal berikut : 
1. Allah menyuruh kita untuk melakukan penelitian tentang akibat buruk yang menimpa berbagai kaum musyrik sebelumnya. Allah juga  menyuruh kita agar istiqamah dalam menaati-Nya sebelum datang hari kiamat. Kekufuran  pada Allah akan berakibat buruk pada pelakunya. Demikian pula keimanan pada Allah dan amal saleh akan dirasakan kebaikannya oleh orang yang melakukannya. 
2. Di antara tanda kebesaran Allah ialah mengirimkan angin untuk menggiring awan untuk mendapat rahmatnya berupa hujan dan agar kapal dapat berlabuh di lautan supaya dapat  melakukan perdagangan antar pulau/negeri. Tujuannya supaya manusia mensyukuri-Nya. 
3. Allah mengutus Rasul-Rasul-Nya sebelum Nabi Muhammad. Mereka yang menolak dan  memerangi para Rasul tersebut Allah musnahkan dan yang beriman Allah selamatkan. 
4. Allah mengatur sistem hujan sehingga manusia yang mendapatkannya bergembira. Kenapa tidak diperhatikan bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati? Begitu pula nanti manusia akan dihidupkan kembali. 

Selasa, 03 Desember 2024

Tadabbur Al Quran Hal. 408

Tadabbur Al-Quran Hal. 408
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Ar-Rum ayat 33 :

وَاِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُّنِيْبِيْنَ اِلَيْهِ ثُمَّ اِذَآ اَذَاقَهُمْ مِّنْهُ رَحْمَةً اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُوْنَۙ

Dan apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali (bertobat) kepada-Nya, kemudian apabila Dia memberikan sedikit rahmat-Nya [641] kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka mempersekutukan Allah.

- [641] Yang dimaksud dengan "rahmat" disini ialah terlepas dari bahaya itu.

- Tafsir Al Muyassar Ar-Rum ayat 33 :

Bila manusia ditimpa ujian yang berat, maka mereka memohon kepada Rabb mereka dengan ikhlas kepada-Nya agar mengangkat kemudaratan dari mereka. Namun bila Allah merahmati mereka dan mengangkat kesulitan mereka, ternyata sebagian orang dari mereka menghalangi kesyirikannya pada kaki lain, lalu mereka menyembah bersama Allah dengan selainnya.

- Tazkiyyatun Nafs :

Jika kaki seorang hamba sudah mantap berada di tempat persinggahan tobat, maka setelah itu dia beralih ke tempat persinggahan Inãbah (kembali kepada Allah Swt.) Allah Swt. telah memerintahkan Inābah ini di dalam Kitab-Nya, seperti firman-Nya dalam surah Qaf, 50: 6-8. Allah Swt. juga mengabarkan bahwa pahala dan surga-Nya diberikan kepada orang-orang yang takut dan kembali kepada-Nya (QS Qaf, 50: 31-34). Allah Swt. juga mengabarkan bahwa kabar gembira hanya diberikan kepadaborang-orang yang kembali kepada-Nya (QS Az-Zumar, 39: 17). Inābah terbagi menjadi dua macam: Pertama, Inābah kepada Rubübiyyah Allah Swt. Ini merupakan inabah-nya semua makhluk, baik orang Islam maupun kafir, orang baik maupun orang jahat, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surah Ar-Rūm, 30: 33. Ini merupakan hak siapa pun yang berdoa kepada Allah Swt. saat dia mendapat bahaya. Inābah ini tidak mengharuskan adanya Islam, karena ini juga meliputi orang-orang musyrik dan kafir. Allah Swt. berfirman tentang mereka dalam surah Ar-Rūm, 30: 33-34. Itulah keadaan mereka setelah mereka kembali kepada Allah Swt. Kedua, Inābah kepada Ulūhiyyah Allah Swt. dan ini merupakan inābah-nya wali-wali Allah Swt., yaitu Inābah 'ubūdiyah dan cinta, yang meliputi empat macam: cinta, tunduk, menghadap kepada Allah Swt., dan berpaling darí selain-Nya. Tidak ada sebutan Munib (orang yang ber-inābah) kecuali bagi orang yang menghimpun empat perkara ini. Penyusun Kitab Manāzil As-Sā iin menjelaskan bahwa nābah, menurut bahasa, adalah kembali kepada kebenaran, yang bisa dibagi menjadi tiga macam. Pertama, kembali kepada kebenaran karena ingin perbaikan, sebagaimana kembali kepada kebenaran karena ingin menyatakan kesalahan dan meminta maaf. Karena orang yang bertobat telah kembali kepada Allah Swt. dengan menyatakan kesalahannya dan membebaskan diri dari kedurhakaan kepada-Nya, untuk menyempurnakan hal ini dia harus kembali kepada Allah Swt. dengan usaha dan nasihat agar dia senantiasa taat kepada-Nya. Tidak ada artinya tobat sambil duduk ongkang-ongkang tanpa usaha. Jadi harus ada tobat dan amal saleh, dengan meninggalkan apa yang dibenci Alah Swt. dan mengerjakan apa yang dicintai-Nya. Kedua, kembali kepada Allah Swt. karena ingin memenuhi hak, sebagaimana ia kembali karena ingin menepati perjanjian dengan-Nya. Engkau kembali kepada Allah Swt., pertama, dengan masuk ke dalam ikatan perjanjian dan kedua, engkau memenuhi perjanjian itu. Semua sisi agama merupakan perjanjian dan pemenuhan. Allah Swt. telah membuat perjanjian dengan semua mukallat agar mereka taat kepadaNya. Ketiga, kembali kepada Allah Swt. secara seketika, sebagaimana dorongan untuk memenuhi seruan, yang bisa menjadi benar dengan tiga cara: (a) Merasa putus asa terhadap amal yang dilakukan. Hal ini bisa ditafsiri dengan dua macam penafsiran: Pertama, dengan melihat pelaku yang sebenarnya dan penggerak pertama. Kalau bukan karena kehendak-Nya, tidak ada perbuatan yang muncul dari dirimu. Karena kehendak-Nyalah ada perbuatanmu dan itu bukan karena semata kehendakmu sendiri. Kedua, merasa putus asa akan mendapatkan keselamatan karena amal diri sendiri. Engkau melihat keselamatan ini hanya berasal dari rahmat Allah Swt. dan karunia-Nya. (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju As-Sālikin Manāzilu lyyāka Na budu wa lyyāka Nasta inu, Juz 1, t.t.: 466-470).

- Riyāduş şālihin :

Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Mendekatlah, tujulah kebenaran, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat karena amalnya. Mereka bertanya, Tidak juga engkau, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat dan karunia padaku." (HR Muslim). Hadis di atas mengandung beberapa faedah, antara lain bahwa amal saleh itu merupakan sebab masuk surga. Namun, kesuksesan amal itu tiada lain dengan karunia, rahmat dan anugerah Allah Swt. (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttagina Syarhu Riyādis Şālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 120).

- Medical Hadiš :

Dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhya telagaku lebih jauh daripada jarak Ailah dengan Adn. Sungguh ia lebih putih daripada salju, dan lebih manis daripada madu yang dicampur susu, jumlah cangkirnya lebih banyak daripada jumlah bintang-bintang.." (HR Muslim no. 604). (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, t.t.: 275).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat Qaşabus Sukkar (Tebu)

Gula adalah barang baru yang tidak pernah dibicarakan para dokter terdahulu. Mereka tidak mengetahuinya dan tidak menyifatinya sebagai bagian dari minuman. Yang mereka kenal adalah madu dan memasukkannya sebagai obat. Tebu bersifat panas dan lembap, bermanfaat untuk mengobati batuk, mengurangi kelembapan, dan melancarkan kencing serta batang paru-paru. Tebu lebih halus daripada gula, bisa membantu mengatasi rasa mual dan menambah produksi mani. Tapi ia juga mengakibatkan sakit kuning. Untuk menetralisirnya bisa digunakan air jeruk yang pahit atau buah delima. Sebagian orang lebih suka gula daripada madu karena suhu panasnya dan minimnya kelembutan. Tentu saja hal ini bagi orang yang memang hendak menghindari madu. Bagaimana pun juga, manfaat madu jauh lebih banyak darí pada manfaat gula, sebab Allah Swt. telah menjadikan madu sebagai penawar dan obat, lauk, dan manisan. (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdu'l Ma adi fi Hadyi Khayri'l bādi,Juz 4, t.t.: 355-356).

- Hadis Motivasi QS 30: 38 :

Dari Muadz 6 dia berkata, Aku pernah mernbonceng di belakarng Nabi . di atas seekor keledai yang diberi nama Uqair. Lalu beliau bertanya: "Wahai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak para harnba atas Allah?" Aku jawab. "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda: "Sesungguhnya, hak Allah atas para hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada Nya dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apa pun dan hak para harnba-Nya atas Allah adalah seorang hamba ticdak akan dsiksa selama dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." Lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah. bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?" Beliau menjawab: "Jangan kamu memberitahukan mereka sebab nanti mereka akan berpasrah saja." (HR Bukhari. 2071)

- HADIS NIAGA QS Ar-Rüm, 30: 33 :

Bacaan agar Terhindar dari Marabahaya

Dari Usman bin Affan dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang membaca, Dengan nama Allah, tidak ada sesuatu apa pun yang dapat mencelakakan di Bumi dan di langit dan Dia Malha Mendengar lagi Maha Mengetahui,' sebanyak tiga kali, dia tidak akan tertimpa bencana yang datang tiba-tiba sampai pagi hari. Barang siapa yang membacanyd doa pada pagi hari sebanyak tiga kali, dia tidak akan tertimpa bencana yang datang sore hari." Kemudian Aban bin Usman tertimpa penyakit lumpuh hingga membuat orang-orang yang mendengarkan hadis darinya datang melihat kepadanya. Aban bin Usman berkata, "Mengapa kamu melihat kepadaku? Demi Allah, tídaklah aku berbohong atas Usman dan tidaklah Usman berbohong atas Nabi Namun, pada -tiba sampai hari saat aku tertimpa penyakit, aku sedang dalam keadaan marah hingga aku lupa membacanya." (HR Ibnu Majah, 3869)

- AMAL NIAGA :

1. Bacalah zikir berikut ini di waktu pagi dan petang Anda. "Dengan nama Allah, tidak ada sesuatu apa pun yang dapat mencelakakan di Bumi dan di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

- Tadabbur Surah Ar-Rum Ayat 33-41 :

Ayat 33-41 menjelaskan: 

1. Di antara sifat manusia ialah apabila mendapat kemudaratan, mereka kembali kepada  Allah. Bila mendapat kesenangan, mereka kufur nikmat. Bila diberi Allah rezeki yang banyak, mereka sombong. Namun, bila dapat kesulitan hidup akibat kesalahan mereka sendiri mereka berputus asa.  
2. Kunci rezeki itu di tangan Allah. Dia akan  lapangkan rezeki orang yang dikehendaki-Nya.  Hal tersebut adalah tanda kebesaran Allah bagi orang yang meyakini / berian pada Allah. 
3. Allah memerintahkan agar kita berbagi dengan karib kerabat, fakir miskin dan orang yang kehabisan bekal perjalanannya (ibnussabil). Itulah konsep pengembangan ekonomi yang diberkahi Allah. Hanya orang yang mengharap ridha Allah yang mampu menerapkannya.  
4. Sistem ekonomi berbasis riba (tambahhan dari pinjaman/bunga), tidak akan mendapat kelebihan/tambahan di sisi Allah. Sedangkan sistem yang berbasis zakat dan infak yang dikeluarkan mengharap ridha Allah yang akan dilipat gandakan keberkahan dan jumlahnya. 
5. Allah menciptakan manusia, memberi mereka rezeki, kemudian mematikan mereka dan  setelah itu menghidupkan mereka kembali. Tidak ada keterlibatan sekutu-sekutu mereka dalamnya sedikitpun. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.  
6. Kerusakan di darat dan di laut adalah akibat kejahatan dan dosa manusia. Semoga mereka sadar dan kembali kepada Allah.