بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kamis, 25 Juni 2026

Tadabbur Al Quran hal. 462a

Tadabbur Al-Quran Hal. 462
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Az-Zumar ayat 36 :

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَافٍ عَبْدَهٗۗ وَيُخَوِّفُوْنَكَ بِالَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖۗ وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍۚ

Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan (sesembahan) yang selain Dia. Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

- Asbabun Nuzul Az-Zumar ayat 36 :

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq yang bersumber dari Ma'mar, bahwa kaum musyrikin berkata kepada Nabi: "Hentikanlah makianmu terhadap tuhan-tuhan kami, atau kami perintahkan Tuhan kami untuk menjadikan kau orang gila". Ayat ini turun sebagai penegasan kepada Nabi Muhammad Saw. Bahwa hanya Allah yang dapat memberi petunjuk.

- Tafsir Al Muyassar Az-Zumar ayat 36 :

Bukankah Allah telah menjaga hamba-Nya Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dari tipu daya dan maker orang-orang musyrikin sehingga mereka tidak kuasa menimpakan keburukan atasnya? Benar, sesungguhnya Allah akan mencukupkan untuknya perkara agama dan dunianya, membelanya dari siapa yang hendak bertindak buruk terhadapnya. Dan mereka (wahai Rasul) menakut-nakutimu dengan llah-llah mereka dimana
mereka mengatakan bahwa ia akan menyakitimu. Barangsiapa yang dibiarkan oleh Allah lalu disesatkannya dari jalan kebenaran, maka dia tidak akan menemukan orang yang bias memberinya petunjuk.

- Tazkiyyatun Nafs :

Rahasia penciptaan, perintah, kitab-kitab, syariat, pahala, dan siksa terpusat pada dua penggal kalimat ini yang sekaligus merupakan inti 'ubūdiyah dan tauhid. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Allah Swt. menurunkan seratus empat kitab yang makna-maknanya terhimpun dalam Taurat, Injil, dan A-Qur'an. Makna-makna tiga kitab ini terhimpun di dalam Al-Qur'an. Makna-makna A-Qur'an terhimpun dalam surah-surah yang pendek. Makna-makna dalam surah-surah yang pendek terhimpun dalam surah Al-Fatihah. Makna-makna Al-Fātihah terhimpun di dalam kalimat lyyāka Nabudu wa lyyāka Nasta'in. Dua kalimat ini dibagi antara milik Allah Swt. dan milik hamba-Nya. Sebagian bagi Allah Swt., yaitu lyyāka Na budu, dan sebagian lagi bagi hamba-Nya, yaitu lyyāka Nasta in. lbadah mengandung dua dasar: cinta dan penyembahan. Menyembah di sini berarti merendahkan diri dan tunduk. Siapa yang mengaku cinta namun tidak tunduk, berarti bukan orang yang menyembah. Siapa yang tunduk namun tidak cinta, juga bukan orang yang menyembah. Dia disebut orang yang menyembah jika cinta dan tunduk. Karena itu, orang-orang yang mengingkari cinta hamba terhadap Allah Swt. adalah orang-orang yang mengingkari hakikat ubūdiyah dan sekaligus mengingkari keberadaan Allah Swt. sebagai Zat yang mereka cintai, yang berarti mereka juga mengingkarí keberadaan Alah Swt. sebagai llah (sesembahan), sekalipun mereka mengakui Allah Swt. sebagai penguasa semesta alam dan pencipta-nya. Inilah tauhid mereka yang terbatas pada tauhid Rubūbiyah, seperti pengakuan bangsa Arab, tapi mereka tidak keluar dari syirik, sebagaimana firman Allah Swt., <Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka menjavwab, "Allah Swt.. (0S Az-Zumar, 39: 38). Istiānah (memohon pertolongan) menghimpun dua dasar: kepercayaan terhadap Allah Swt. dan penyandaran kepada-Nya. Adakalanya seorang hamba menaruh kepercayaan terhadap seseorang, tapi dia tidak menyandarkan semua urusan kepadanya karena dia merasa tidak membutuhkan dirinya. Atau juga, adakalanya seseorang menyandarkan berbagai urusan kepada seseorang. padahal sebenarnya dia tidak percaya kepadanya karena dia merasa membutuhkannya dan tidak ada orang lain yang memenuhi kebutuhannya. Karena itu, dia bersandar kepadanya. Tawakal merupakan makna yang juga cocok dengan dua dasar ini, kepercayaan dan penyandaran, yang sekaligus merupakan hakikat yyāka Na'budu wa lyyāka Nasta in. Tawakal dan ibadah disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur'an secara berurutan, di antaranya, «Dan milik Allah Swt. meliputi rahasia langit dan bumi dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Hūd, 11: 123). (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju AsSālikin Manāzilu lyyāka Na'budu wa lyyāka Nasta inu, Juz 1, t.t.: 85-88). 

Riyāduş Şälihin :

Dari Mu'aż Ra., ia berkata, "Aku pernah dibonceng di belakang Nabi Saw. di atas seekor keledai, lalu beliau bertanya, Wahai Mu'až, tahukah kamu apa hak Allah Swt. atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Alah Swt.?' Aku jawab, 'Allah Swt. dan Rasul-Nya yang lebih tahu.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya hak Allah Swt. atas para hamba-Nya adalah hendaklah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu Hadis di atas mengandung faedah di antaranya, Allah Swt. mengutamakan para hamba-Nya dengan magfirah dan rahmat. Dibolehkan untuk menyembunyikan kabar baik sekiranya akan mendorong seseorang kepada perkara yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang lebih utama. (Dr. Mustafa Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis şālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 386). 

- Medical Hadis :

Dari Ummu Salamah Ra., bahwa Nabi Saw. apabila melumuri badannya, maka beliau memulai dengan auratnya terlebih dahulu, kemudian istrinya yang melumuri seluruh badannya dengan kapur wangi." (HR Ibnu Mājah). (Aż-Žahabi, At-Tibbun Nabawi, 1410H/1990M: 200; lbnu'l Qayyim A-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, tt.. 312).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat Nürah atau Nawrah

Nürah artinya kapur wangi. Ada yang berpendapat bahwa yang pertama kali mandi dengan mempersiapkan kapur wangi adalah Sulaiman bin Dāud. Kapur wangi bisa dicampur dengan air hingga berwarna kebiru-biruan dan dibiarkan terkena sinar matahari, lalu diletakkan di kamar mandi. Cara menggunakannya, kapur wangi dioleskan ke seluruh tubuh dan dibiarkan beberapa lama tanpa terkena sinar matahari, lalu dibersihkan dengan air ketika mandi dan untuk menghilangkan efek api atau panasnya dapat dilumuri dengan inai. (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdu'l Ma ãdi fi Hadyi Khayril lbādi, Juz 4, t.t.: 399-400).

- HADIS NIAGA QS Az-Zumar, 39: 36
:

Memohon kepada Allah agar Diberi Kecukupan

Dari Ali dia mengatakan bahwa seorang budak mukatab mendatanginya kemudian budak itu berkata, "Sesungguhnya, aku tidak mampu membayar uang cicilan kemerdekaanku. Oleh karena itu, bantulah aku." Ali berkata, "Maukah engkau aku beri tahukan beberapa kalimat yang diajarkan kepadaku oleh Rasulullah ? Seandainya engkau mempunyai utang sebesar gunung niscaya Allah akan melunasinya darimu. Katakanlah, 'Allāhummakfini bihalālika 'an harāmika wa agnini bi fadlika 'amman siwāka.' (Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki yang Engkau halalkan dari yang Engkau haramkan dan cukupilah aku dengan karunia-Mu dari siapa pun selain-Mu)." (HR Tirmizi, 3563)

- Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 32-40 :

Ayat 32-40 menjelaskan lima poin berikut : 
1. Orang yang paling zalim ialah yang menganggap Allah dan Rasul-Nya pembohong dan menolak Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw. sebagai sistem hidup. Tempat mereka nanti di akhirat adalah neraka Jahannam. 
2. Orang-orang yang meyakini kebenaran Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan mereka adalah orang-orang yang bertakwa dan bagi mereka apa saja yang mereka inginkan di surga. Allah hapuskan dosa-dosa mereka dan balas kebaikan mereka dengan berlipat ganda. 
3. Cukup Allah sebagai pelindung bagi kaum mukmin. Mereka tidak boleh takut terhadap upaya yang dilakukan orang - orang kafir untuk menakut-nakutkan mereka pada tuhan-tuhan yang mereka sembah. 
4. Hidayah itu di tangan Allah. Siapa yang disesatkan-Nya tidak ada yang dapat memberinya petunjuk dan siapa yang diberi-Nya petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Allah Mahaperkasa dan memiliki pembalasan dendam. 
5. Kaum musyrikin itu mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi. Namun, mereka tidak mau mentauhidkan (mengesakan) Allah. Padahal, jika Allah berkehendak memberi mereka mudarat (bahaya), apakah tuhan-tuhan yang  mereka sembah itu mampu menghilangkannya? Atau ketika Allah menghendaki mereka manfaat atau kebaikan, apakah tuhan-tuhan tersebut dapat menghalanginya?  
6. Allah mengajarkan Rasul saw. dan umatnya agar bertawakkal kepada Allah dalam menjalankan ajaran Islam. Biarkan kaum kafir itu  berbuat apa yang mereka inginkan. Rasul saw. dan umatnya berbuat pula sesuai yang Allah  gariskan. Nanti kaum kafir akan mengetahui azab neraka yang menghinakan mereka.

Tadabbur Al Quran hal. 463

Tadabbur Al-Quran Hal. 463
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Az-Zumar ayat 45 :

وَاِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهُ اشْمَـَٔزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِۚ وَاِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ

Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira.

- Asbabun Nuzul Az-Zumar ayat 45 :

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Mujahid, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kegembiraan kaum musyrikin ketika mendengar nama tuhannya disebut-sebut oleh Rasulullah ketika membaca surat An-Najm (Surat An-Najm: 19) didekat Ka'bah.

- Tafsir AlI Muyassar Az-Zumar ayat 45 :

Bila nama Allah semata disebut, maka hati orang-orang yang tidak beriman kepada kebangkitan setelah kematian akan menolak. Namun bila berhala-berhala, patung-patung dan para wali yang disembah selain Allah itu disebut, maka mereka akan bersuka cita, karena syirik memang sesuai dengan hawa nafsu mereka.

- Tazkiyyatun Nafs :

Allah Swt. berfirman, <Allah Swt. memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah Swt. bagi kaum yang berpikir. (QS Az-Zumar, 39: 42). Tentang ayat ini (QS Az-Zumar, 39: 42) Ibnu Abbās Ra. menjelaskan, "Telah sampai kabar kepada saya bahwa ketika seseorang sedang tidur, maka rohnya bertemu dengan roh orang yang telah meninggal, lalu terjadi
dialog di antara mereka. Maka Allah Swt. memegang roh orang yang telah meninggal dan melepaskan roh orang yang masih hidup kembali ke dalam jasadnya." (HR lbnu Mandah) Tentang ayat ini pula As-Sudi mengatakan, "Allah Swt. mematikannya ketika dia tidur, maka roh orang yang masih hidup bertemu dengan roh orang yang telah meninggal dunia, lalu mereka saling berkenalan dan mengadakan pembicaraan. Setelah itu, roh orang yang hidup kembali kepada jasadnya di dunia hingga tersisa waktu hidupnya yang telah ditentukan, dan roh orang yang telah meninggal kembali kepada jasadnya (di alam kubur), sehingga
tertahan di sana." (HR Ibnu Abu Hātim).

Demikian salah satu di antara dua penafsiran tentang ayat ini, yaitu Allah Swt. menahan roh orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan roh orang yang sedang tidur. Berdasarkan penafsiran ini, ayat itu bermakna Allah Swt. mewafatkan roh seseorang, lalu Dia memegangnya dan tidak mengembalikannya kepada jasad orang itu sebelum hari kiamat, dan mewafatkan roh orang yang sedang tidur, namun kemudian melepaskannya kepada jasad sampai waktu yang ditentukan, lalu akan mewafatkannya untuk yang kedua kali. (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, ArRūh, 1395 H/1975 M: 28-29).

- Riyāduş Şälihin :

Dari Huzaifah dan Abu Zar Ra., keduanya berkata, "Rasulullah Saw. apabila hendak tidur, maka beliau membaca doa: 'bismika Allāhumma Ahyā wa bismika Amūtu (Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati). Dan apabila bangun dari tidur, beliau membaca doa: 'Alhamdu li'llāhil Laži Ahyānā bada mā  Amātanā wailaihinnusyūru (Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nyalah tempat kami kembali)." (HR Al-Bukhāri).

Hadis di atas mengandung faedah tentang anjuran membaca doa ini ketika hendak tidur dan bangun dari tidur supaya doa ini senantiasa mendorong seseorang agar teringat untuk menghadap Allah Swt. setiap saat, baik ketika bangun maupun tidur. (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Sālihina, Juz 2., 1407 H/1987 M: 988-989).

- Medical Hadis :

Dari Ummu Salamah Ra., ia berkata, "Para wanita yang baru melahirkan biasa duduk empat puluh hari selama nifasnya. Salah seorang di antara kami ada yang mengolesi wajahnya dengan wars (jenis tumbuh-tumbuhan berwarna kuning) untuk menghilangkan bintik-bintik." (HR Ahmad). (Hadiš Hasan Sahih, Şahih wa Da 'f Sunan Abu Dāwud, no. 311). (Ibnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, t.t.. 316).

- Tibbun Nabawi :

Khasiat Wars

Menurut Abu Hanifah Al-Lughawy, Wars bukan termasuk tumbuh-tumbuhan liar, dan saya tidak mengetahui bahwa ada yang tumbuh di luar negeri Arab, bahkan di luar negeri Yaman. "la memiliki daya panas dan kering di permulaan derajat kedua. Yang paling baik berwarna kemerah-merahan dan terasa lembut di tangan, minim dedak. Manfaatnya tidak jauh berbeda dengan Qust Bahry." (bnu'l Qayyim AlJauziyyah, Zãdu'l Ma ādi fi Hadyi Khayril lbadi, Juz 4, t.t.: 402-403).

- Hadis Motivasi QS 39: 42 :

Dari Abu Hurairah dia berkata, Nabi bersabda: "Apabila seseorang dari kalian hendak tidur maka hendaklah día mengibaskan di atas tempat tidurrnya dengan kain sarungnya karena dia tidak tahu apa yang terdapat di atas kasurnya. Lalu mengucapkan doa. 'Bismika rabbi wada'tu janbi wabika arfa'uhu, in amsakta nafs farhamhā, wain arsattahā falfazhă bimä tahfazu bihi bädakaşsalihin (Dengan nama-Mu, wahai Tuhanku, aku nembaringkan punggungku dan atas namaMu, aku mengangkatnyd. Dan ika Engkau menahan diriku maka rohmatilah aku. dan jika Engkau melepaskannya maka jagalah, sebagaimana Engkou menjaga hamba-Mu yang saleh." (HHR Bukhari, 5961)

- HADIS NIAGA QS Az-Zumar, 39: 47 :

Setiap Kezaliman Akan Dibalas pada Hari Kiamat

Dari Abu Sa'id Al-Khudri , dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: "Jika orang-orang beriman telah melewati neraka, mereka akan ditahan di suatu jembatan yang disebut Qantarah yang terletak antara surga dan neraka. Lalu, di sana mereka akan di-qisas (dibalas) atas kezaliman yang terjadi selama mereka di dunia sehingga jika tidak ada lagi dosa, barulah mereka diizinkan untuk memasuki surga. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh seorang dari mereka berada di tempat tinggalnya di surga lebih aku kenali daripada rumah mnereka di dunia." (HR Bukhari, 2440)

- AMAL NIAGA :

1. Bersegeralah menunaikan hak orang lain yang masih ada pada diri Anda.
2. Jauhilah perbuatan menzalimi orang lain dalam aktivitas bisnis yang Anda lakukan karena doa orang terzalimi pasti dijabah.

- Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 41-47 :

Ayat 41-47 menjelaskan beberapa hal berikut : 
1. Allah menurunkan Al-Qur’an pada Rasul saw. dengan benar dan berisi kebenaran. Sebab itu, siapa yang beriman dengan mentauhidkan Allah akan mendapat kebaikan dan keselamatan dan siapa yang tetap kafir, maka menanggung sendiri resikonya. 
2. Di antara tanda kebesaran Allah ialah,  Dia menggenggam nyawa orang-orang yang  mati dan orang-orang yang tidur yang ditetapkan-Nya mati. bagi yang belum ditetapkan mati, maka Allah mengirim nyawa mereka kembali sampai ajal yang ditentukan-Nya. Sebab itu, pantaskah manusia meminta pertolongan  kepada berhala-berhala itu? Padahal mereka tidak menguasai apapun dan tidak pula berakal. Yang memiliki semua bentuk pertolongan itu hanya Allah karena kerajaan langit dan bumi ini milik-Nya, kemudian semua manusia akan dikembalikan kepada-Nya. 
3. Di antara ciri orang-orang tidak beriman  pada akhirat ialah apabila diingatkan Allah itu Esa, maka hati mereka kesal sekali. Tapi apabila disebut tuhan-tuhan selain Allah, mereka bergembira. Sungguh tidak masuk akal, karena Allah adalah Pencipta Tunggal langit dan bumi, Maha Mengetahui perkara gaib dan yang nyata. Allah juga yang akan memutuskan apa yang diperselisihkan manusia. 
4. Nanti di akhirat atau di hari kimat, orang-orang kafir dan musyrik itu akan menyesal. Sekiranya mereka memiliki kekayaan senilai satu  bumi atau sejenisnya, pasti mereka akan jadikan sebagai tebusan bagi azab neraka yang  menimpa mereka. Pada hari itu penyesalan tidak berguna lagi dan sudah terlambat. Allah akan membukakan pada mereka apa yang tidak mereka perkirakan sewaktu hidup di dunia.

Sabtu, 20 Juni 2026

Tadabbur Al Quran hal. 461

Tadabbur Al-Quran Hal. 461
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.

- Az-Zumar ayat 23 : اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, [763] gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk. - [763] Hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang penyebutannya di dalam Al Qur'an agar lebih kuat pengaruhnya dan lebih meresap. Sebagian mufasir mengatakan bahwa maksudnya adalah bahwa ayat-ayat Al Qur'an itu diulang-ulang membacanya seperti yang tersebut dalam Mukadimah surah Al Fatihah. - Asbabun Nuzul Az-Zumar ayat 23 : Al-hakim dan lainnya meriwayatkan dari saad bin abi waqqash bahwa al-quran diturunkan kepada Nabi saw. Lalu selama beberapa masa beliau membacakannya kepada mereka, dan mereka mengatakan, 'ya rasulallah, bagaimana kalau anda bercerita kepada kami? Maka turunlah ayat,'Allah telah menurunkan perkataan yang baik..."(39:23). Ibnu hatim menambahkan, lalu mereka mengatakan,"ya Rasulallah, bagaimanakah kalau anda beri kami nasihat, maka allah menurunkan .."belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyu mengingat Allah....(57:16). Ibnu jarir meriwayatkan dari ibnu abbas bahwa mereka mengatakan , 'Ya Rasulullah bagaimana kalau anda ceritakan kepada kami" maka turunlah ayat ini. - Tafsir Al Muyassar Az-Zumar ayat 23 : Allah menurunkan perkataan terbaik yaitu Al Qur'an yang agung, sebagian darinya mirip dengan sebagaian yang lain dalam kebagusan, kecanggihan dan keakuratannya. Di dalamnya terkandung kisah-kisah, hukum-hukum, hujjah-hujjah dan keterangan-keterangan diulang, tilawahnya juga diulang, namun jiwa tidak merasa bosan karena banyaknya pengulangan. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka bergetar dan merinding karena mendengarnya, karena mereka terpengaruh dengan ancaman siksa yang ada di dalamnya. Kemudian kulit dan hati mereka melunak karena berbahagia dengan janji pahala Allah yang ada di dalamnya. Pengaruh Al Qur'an terhadap diri itu merupakan hidayah Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dan Allah membimbing siapa yang dia kehendaki dari hamba-hamba- Nya dengan Al Qur'an. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah dari iman dengan Al Qur'an ini karena kekufuran dan penentangannya, maka dia tidak memiliki orang yang bisa membimbing dan memberinya hidayah. - Tazkiyyatun Nafs : Allah Swt. berfirman, <Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang jelas, agar dia (Muhammad Saw.) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir (QS Yāsin, 36: 69-70) dan firman-Nya, Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya (QS Qaf, 50:37). Allah Swt. memberitahukan bahwa mengambil manfaat dari Al-Qur'an berikut peringatannya hanyalah bisa diperoleh orang yang hatinya hidup. Seperti disebutkan pula dalam surah Al-Anfāl, 8: 24. Allah Swt. mengabarkan bahwa kehidupan kita hanyalah dengan memenuhi apa yang diserukan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya, baik berupa ilmu maupun iman. Dari sini diketahui, mati dan binasanya hati adalah dengan hilangnya hal tersebut. Allah Swt. menyamakan orang yang tidak memenuhi seruan Rasul-Nya dengan para penghuni kubur. Ini adalah sebaik-baik perumpamaan. Sesungguhnya tubuh-tubuh mereka adalah kuburan bagi hati mereka. Hati mereka telah mati dan dikubur dalam tubuh-tubuh mereka. Allah Swt. berfirman, dan tidak (pula) sama orang yang hidup dengan orang yang mati. Sungguh, Allah Swt. memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki dan engkau (Muhammad) tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar (Q5 Fātir, 35: 22). Sungguh sangat tepat apa yang diungkapkan seorang penyair, "Dan dalam kebodohan, sebelum kematian adalah kematian bagi pemiliknya. Jasad-jasad mereka, sebelum kuburan adalah kuburan. Ruh-ruh mereka berada dalam kebuasan tubuh-tubuh mereka dan mereka tidak memiliki kebangkitan, meskipun pada saat hari kebangkitan." Karena itu, Allah Swt. menjadikan wahyu yang di sampaikan-Nya kepada para nabi sebagai ruh, seperti disebutkan dalam QS Gāfir, 40: 15. Sebab, kehidupan segenap ruh dan hati adalah dengan wahyu itu, dan kehidupan yang baik inilah kehidupan yang diberikan Allah Swt. secara khusus kepada orang yang mau menerima wahyu-Nya dan mengamalkannya. Allah Swt. mengkhususkan mereka dengan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, sebagaimana firman-Nya dalam surah An-Nahl., 16: 30. Allah Swt. menjelaskan bahwa kebaikan yang dilakukan orang yang berbuat baik itu sungguh akan membahagiakannya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Swt. juga memberitahukan bahwa orang yang berbuat jahat akan sengsara dengan kejahatannya, baik di dunia maupun di akhirat. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam QS Taha, 20: 124. Dan Allah Swt. menghimpun keduanya dalam firman-Nya, <Barangsiapa dikehendaki Allah Swt. akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah Swt. menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman (QS Al-An'äm, 6:125). Orang yang beriman dan memperoleh petunjuk akan mendapatkan kelapangan dan keluasan dada, sedangkan orang yang sesat akan sempit dan sesak dadanya. Allah Swt. berfirman, Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah Swt. untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah Swt. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata (0S Az-Zumar, 39: 22). Orang-orang yang beriman berada dalam cahaya dan kelapangan dada, sedangkan orang-orang yang sesat berada dalam kegelapan dan kesempitan dada. Pada Bab Kebersihan Hati, insya Allah akan dibicarakan lebih luas. Maksudnya adalah bahwa kehidupan dan bercahayanya hati merupakan modal bagi segala kebaikan, sedangkan kematian dan kegelapan hati merupakan modal bagi segala keburukan. (bnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, lgāšatul Lahfāni fi Maşāyidi Asy-Syaitani, Juz 1, t.t.: 65- 66). - Riyāduş Salihin : Dari Anas Ra., Rasulullah Saw. bersabda, "Apabila orang kafir mengerjakan suatu kebaikan, maka karena kebaikannya itu ia diberi sesuap makanan di dunia, sedangkan orang mukmin itu kebaikan-kebaikannya disimpan oleh Allah Swt. di akhirat dan dia diberi rezeki di dunia karena ketaatannya." (HR Muslim). Hadis di atas mengandung faedah di antaranya: Sesungguhnya orang kafir akan dibalas perbuatan baiknya di dunia, berupa penambahan rezeki atau terhindar dari sesuatu yang tidak disukainya, namun di akhirat mereka tidak memiliki bagian apapun, karena kekufurannya telah menghapus ganjaran di akhirat. Orang mukmin akan diganjar atas amalnya baik di dunia maupun di akhirat. (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis sālihina, Juz 1, 1407 H/1987 M: 387). - Medical Hadiš : Dari Anas bin Mālik Ra., ia berkata, "Seorang tukang jahit (pakaian) mengundang Rasulullah Saw. untuk makan yang telah dibuatnya sendiri. Aku ikut pergi bersama Rasulullah Saw. Roti dari gandum dan kuah pun dihidangkan dan didekatkan kepada Rasulullah Saw., yang di dalamnya ada labu dan dendeng daging. Maka Aku melihat Rasulullah Saw. terus menerus mencari-cari labu yang berada di sekeliling piring besar, sehingga sejak saat itu aku menjadi senang dengan labu." (HR Muslim, Ibnu'l Qayyim al-Jauziyyah, At-Tibbu An-Nabawi, t.t.: 316). - Tibbun Nabawi : Khasiat Yagtin (Labu) Labu bersifat dingin dan lembab, rendah kalori, mudah meninggalkan perut sekalipun ia belum hancur dicerna. Di antara khasiatnya adalah menghasilkan campuran yang baik. Jika biji sawi dimakan, menimbulkan rasa sedikit pedas. la lembut dan banyak air, baik untuk orang yang suhu badannya panas dan tidak cocok untuk orang yang suhu badannya rendah dan dingin. la menyembuhkan panas, demam, dan pusing kepala jika di minum perasannya, dan lembut di perut. Jika direbus dan airnya diminum dengan campuran madu, dia menghasilkan banyak cairan tubuh. Secara keseluruhan, labu merupakan makanan yang paling lembut, empuk, dan cepat reaksinya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Mālik Ra., bahwa Rasulullah Saw. sering kali mengonsumsi labu. (lbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Zädu'l Ma 'adi fi Hadyi Khayril bādi, Juz 4, t.t.: 403-405). - (Hadis Motivasi QS 39: 23 : Dari Aisyah v, dia berkata bahwa Nabi pernah ditanya mengenai kulit binatang yang telah mati. Kemudian, beliau bersabda: "Penyamakannya adalah penyuciannya." (HR Nasa'i. 4244) - HADIS NIAGA QS Az-Zumar. 39: 23 : Amalan Ringan Berpahala Besar Dari Abdullah bin Busr bahwasanya seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam berat untukku maka beri tahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan." Beliau bersabda: "Senantiasa lidahmu basah karena zikir kepada Allah." (HR Tirmizi, 3375) - AMAL NIAGA : 1. Seorang niagawan muslim hendaknya senantiasa berzikir kepada Allah & karena hal itu sangat ringan untuk dilakukan tetapi berat dalam timbangan pada hari Kiamat kelak. 2. Lakukanlah amal yang sedikit secara berkesinambungan karena dengannya, Allah & akan memberi balasan yang melimpah. - Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 22-31 : Ayat 22-31 menjelaskan beberapa hal :  1. Orang yang dilapangkan Allah hatinya untuk menerima Islam, maka ia berada di bawah  cahaya-Nya. Orang yang keras hatinya berzikir pada Allah ia akan celaka dan tersesat.  2. Sebaik-baik perkataan Allah adalah Al-Qur’an. Orang beriman bergetar kulitnya karena takut pada Allah, menangis matanya, takut dan harap hatinya pada Allah. Itulah ciri-ciri orang dapat hidayah Allah. Siapa yang disesatkan Allah, tidak akan ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.  3. Orang yang beriman dan taat pada Allah dan Rasul-Nya tidaklah sama kondisi mereka dengan orang musyrik dan kafir di hari kiamat nanti. Orang kafir dan musyrik akan merasakan  azab neraka sebagai alasan dari kekafiran dan  kemusyrikan yang meraka lakukan.  4. Sebelum kafir Quraisy sudah banyak kaum yang kafir kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya. Mereka diazab Allah di dunia dan azab akhirat jauh lebih besar, jika mereka menyadarinya.  5. Allah membuat berbagai perumpamaan  dalam Al-Qur’an. Di antaranya, orang musyrik  sama dengan budak yang dimiliki oleh seorang saja dan orang musyrik sama dengan budak yang dimiliki banyak orang yang sedang berselisih. Rasul saw. akan mati, mereka juga akan  mati, dan di akhirat mereka akan berbantah-bantahan di sisi Allah. 

Senin, 15 Juni 2026

Tadabbur Al Quran hal. 460

Tadabbur Al-Quran Hal. 460
----------------------------------------------
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

- Al Qur'an Indonesia Tajwid.
- Az-Zumar ayat 17 : وَالَّذِيْنَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوْتَ اَنْ يَّعْبُدُوْهَا وَاَنَابُوْٓا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الْبُشْرٰىۚ فَبَشِّرْ عِبَادِۙ Dan orang-orang yang menjauhi tagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, - Asbabun Nuzul Az-Zumar ayat 17 : Diriwayatkan oleh Juwaibir dengan menyebutkan sanadnya yang bersumber dari Jabir bin Abdillah, bahwa sleuruh ayat "laha sab'atu abwabin" (Surat Al-Hijr: 44) datanglah seorang laki-laki Anshar menghadap kepada Nabi Saw. Dan berkata: "Ya Rasulullah, aku mempunyai tujuh hamba telah aku merdekakan seluruhnya untuk ketujuh pintu neraka". Ayat ini (Surat Az-Zumar: 17-18) turun berkenaan dengan peristiwa yang menyatakan bahwa orang tersebut telah mengikuti perunjuk Allah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Aslam, bahwa yang dimaksud dengan "alladzinajtanibut thaghut" dalam ayat ini (Surat Az-Zumar: 17) ialah Zaid bin 'Amr bin Nafil, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi di zaman jahiliyah telah mengaku bahwa "Tiada Tuhan kecuali Allah". - Tafsir Al Muyassar Az-Zumar ayat 17 : Dan orang-orang yang menolak untuk taat kepada setandan tidak menyembah selain Allah, bertaubat kepada-Nya dengan beribadah kepada-Nya seraya mengikhlaskan agama untuk-Nya, bagi mereka adalah berita gembira dalam kehidupan dunia ini dengan sanjungan yang bagus dan taufik dari Allah. Sedangkan di akhirat mereka mendapatkan ridha Allah dan kenikmatan langgeng dalam surga. Maka sampaikanlah berita gembira (wahai Nabi) kepada hamba-hamba-Ku. - Tazkiyyatun Nafs : Simā' berarti mendengarkan. Simā' merupakan Masdar (infinitif) seperti kata Niyat. Allah Swt. telah memerintahkan Simā ini di dalam Kitab-Nya, memuji para pelakunya dan mengabarkan bahwa mereka akan mendapat kabar gembira, sebagaimana firman-Nya dalam surah An-Nisā', 4: 46, dan firman-Nya dalam surah Az-Zumar, 39: 17-18. Pendengaran yang diberikan Allah Swt., dan mereka yang bisa mendengar, merupakan bukti bahwa mereka mengetahui kabar tentang diri mereka. Jika tidak, berarti mereka tidak mempunyai bukti itu, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Anfāl, 8: 23. Allah Swt. mengabarkan tentang musuh-musuh-Nya, bahwa mereka tidak mau mendengar dan menghalangi orang lain untuk mendengar, sebagaimana firman-Nya Simā' merupakan utusan iman ke hati, penyeru dan pengajarnya. Berapa banyak disebutkan di dalam Al-Quran, dalam surah Fussilat, 41:26. "Tidakkah kalian mendengar?" Simā' merupakan dasar akal dan asas iman untuk semua yang dibangun di atasnya, juga merupakan penuntun, tangan kanan dan pendampingnya. Tapi yang lebih penting lagi adalah apa jenis yang didengarkan. Hakikat Simā' merupakan peringatan bagi hati tentang makna yang didengarkan. Penggeraknya adalah pencarian, penghindaran, cinta dan kebencian, yang merupakan pendorong bagi setiap orang hingga dia berada di tempat berpijaknya. Di antara mereka ada yang mendengar dengan naluri, hasrat jiwa dan nafsunya. Tentu saja yang demikian ini sejalan dengan pembavwaannya. Di antara mereka ada yang mendengar beserta Allah Swt. dan tidak mau mendengar dengan selain Allah Swt. Yang pasti, pembicaraan tentang Simā harus dikaitkan dengan pujian dan celaan, yang berarti harus ada kejelasan tentang gambaran yang didengarkan, hakikat, sebab, pendorong. hasil, dan tujuannya. Dengan uraian di bawah ini bisa dirinci masalah Simā ini, dapat dibedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahayā, mana yang haq dan mana yang batil, mana yang terpuji dan mana yang tercela. Obyek yang didengarkan dapat dibagi menjadi tiga macam, antara lain Simā' yang dicintai dan diridai Allah Swt. Ini merupakan Simā' yang diperintahkan Allah Swt. di Kitab-Nya, yang pelakunya dipuji dan disanjung, yang berpaling darinya dicela dan dilaknat, bahkan mereka dianggap lebih sesat daripada binatang dan mereka menjadi penghuni neraka, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Mulk, 67: 10. Simā' merupakan dasar dari bangunan yang didirikan di atasnya. Ada tiga macam Simā': Simā' pengetahuan dengan indera pendengaran, Simā pemahaman dan akal, Simā' pemahaman, pemenuhan, dan penerimaan. Tiga macam ini disebutkan di dalam Al-Qur'an. Sima' pengetahuan disebutkan dalam firman Allah Swt. yang mengisahkan para jin yang beriman, yang berkata, Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, (QS A-Jinn, 72: 1-2). Ini merupakan Simấ pengetahuan yang membawa kepada iman dan pemenuhan atau jawaban. Sedangkan Simā' pemahaman adalah Simā' yang dinafikan dari orang- orang yang berpaling dan lalai, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Ar-Rūm, 30: 52. Sedangkan Simā penerimaan dan pemenuhan terdapat di dalam firman Allah Swt yang mengisahkan hamba-hamba-Nya yang beriman, yang berkata, é... Kami mendengar dan kami taat. Ini merupakan Sima penerimaan dan pemenuhan yang menghasilkan ketaatan. Yang pasti, Simā ini mencakup tiga macam Simā ini, mereka tahu apa yang didengarkan, memahami dan memenuhinya. (bnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, Madāriju al Sālikina Manāzilu lyyāka Na budu wa lyyāka Nasta in, Juz 1, t.t.: 516-522). - Riyāduş Şālihin : Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, "Ketika Nabi Saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui, lalu bertanya, Kapan datangnya hari kiamat?" Namun Nabi Saw. tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata, Beliau mendengar perkataannya, akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu, dan ada pula sebagian yang berkata, Beliau tidak mendengar perkataannya.' Hingga akhirnya Nabi Saw. menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata, 'Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?' Orang itu berkata, "Aku, wahai Rasulullah!". Maka Nabi Saw. bersabda, 'Apabila sudah hilang amanah, maka tunggulah terjadinya kiamat. Orang itu bertanya, Bagaimana hilangnya amanat itu?" Nabi Saw. menjawab, Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat." (HR Al-Bukhāri). (Dr. Mustafā Sa'id Al-Khin, Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyādis Şālihina, juz 2, 1407 H/1987 M: 1249). - Medical Hadiš : Dari lbnu Abbās Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa dianugerahi makanan oleh Allah Swt., hendaklah ia mengucapkan, Ya Allah, berkahilah kami pada makanan ini, dan berilah kami rezeki kebaikan darinya.' Dan barangsiapa dianugerahi minuman air susu oleh Allah Swt., hendaklah ia mengucapkan, "Ya Allah, berikanlah kami keberkahan padanya dan tambahkanlah kami darinya. Sesungguhnya aku tidak mengetahui makanan dan minuman yang bermanfaat kecuali air susu." (HR Ibnu Mājah) Hadis Hasan, Sahih Al-Jāmi, no. 381. (Ilbnu'l Qayyim Al-Jauziyyah, At-Tibbun Nabawi, t.t.: 299). - Tibbun Nabawi : Khasiat Laban (Air Susu) Meskipun air susu itu tidak seberapa jika dilihat dari aspek rasa, namun pada hakikatnya ia tersusun dari tiga elemen: keju, mentega dan air. Keju bersifat dingin dan lembab, dapat menyuplai gizi pada tubuh. Mentega memiliki sifat panas dan lembab yang seimbang, sangat cocok untuk tubuh manusia yang sehat. Air bersifat panas dan lembab, dapat membebaskan tabiat dan melembabkan tubuh. Susu yang paling baik ialah yang baru saja diperah. Kualitasnya berkurang seiring dengan perjalanan waktu. Susu yang baru saja diperah lebih minim tingkat kedinginannya dan lebih banyak tingkat kelembabannya. Bisa dipilih empat puluh hari setelah melahirkan. Yang paling baik ialah yang paling putih warnanya, baik baunya, lezat rasanya, sedikit manis, diperah dari binatang yang masih muda dan sehat, tidak terlalu gemuk dan tidak kurus, digembala di tempat yang baik. Susu yang sangat baik dapat menghasilkan darah yang baik, melembabkan badan yang kering, dapat menghilangkan was-was dan kegundahan serta berbagaí penyakit lemah semangat. Jika diminum dengan madu dapat menyembuhkan infeksi dalam, dan bila diminum dengan gula, dapat membuat kulit menjadi bagus. la dapat menjaga dari dampak karena jima', baik pula untuk orang yang batuk, tapi kurang baik bagi kesehatan gigi jika terlalu banyak meminumnya. Karena itu, sesudah meminumnya harus berkumur dengan air. Disebutkan di dalam Şahihain, bahwa Nabi Saw pernah meminum susu lalu beliau meminta air untuk digunakan berkumur, seraya bersabda, "Karena di dalamnya terkandung lemak. (lbnu' Qayyim Al-Jauziyyah, Zãdu'l Ma ādifi Hadyi Khayril Tbādi, Juz 4, t.t.: 384-385). - HADIS NIAGA QS Az-Zumar, 39: 15 : Orang yang Paling Merugi Dari Abu Dzar i dia berkata bahwa dia menemui Rasulullah saat beliau dalam lindungan Ka'bah. Lalu, Rasulullah bersabda: "Mereka adalah orang yang paling rugi, demi Rabb Ka'bah. Mereka adalah orang yang paling rugi, demi Rabb Ka'bah." Aku berkata dalam hati, apa salahku? Apakah beliau melihat sesuatu yang tidak beres kepadaku? Apa salahku? Lalu, aku duduk kepadanya dan beliau berkata: "Aku tak bisa diam!" Lalu, beliau menutupiku sekehendak Allah. Maka aku berkata, "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, siapa mereka yang merugi, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Yaitu mereka yang paling banyak hartanya, kecuali yang mengatakan, 'Sepeti ini, seperti ini, dan seperti ini (maksudnya menyedekahkan hartanya)." (HR Bukhari, 6638) - AMAL NIAGA : 1. Sebagai seorang niagawan, bersedekahlah dengan sebagian harta Anda dan berlindunglah kepada Allah dari kejahatan fitnah harta. 2. Infakkanlah sebagian harta Anda dengan selalu mengingat bahwa Anda hanyalah wakil Allah yang diminta Allah untuk mengurus harta tersebut. 3. Periksalah kembali zakat harta Anda dan keluarkanlah sedekah. - Tadabbur Surah Az-Zumar Ayat 11-21 : Ayat 11-21 menjelaskan bahwa Rasulullah saw. diperintahkan Allah menyembah-Nya, ikhlas menjalankan agama-Nya menjadi muslim pertama dan takut azab akhirat jika durhaka Allah. Yang paling merugi ialah orang dan kelurganya di akhirat diazab dalam neraka yang apinya berlapis-lapis dari atas dan dari bawah. Itulah yang Allah peringatkan hamba-Nya. Sebab itu, manusia harus bertakwa pada-Nya dan tidak menyembah thaghut dan kembali kepada-Nya. Bagi mereka yang mau mendengarkan, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an merekalah yang diberi Allah petunjuk-Nya dan merekalah orang-orang yang sehat akalnya.  Rasul saw. tidak akan mampu menyelamatkan orang yang sudah pasti menjadi penghuni neraka. Orang yang bertakwa pada Allah akan mendapatkan rumah bertingkat di surga dan di bawahnya mengalir berbagai sungai. Itu adalah janji Allah yang pasti. Maka perhatikanlah  bagaimana Allah menurunkan air dari langit  dan mengalirkannya menjadi mata air di bumi dan proses berbagai tumbuhan. Semua itu bukti kekuasaan Allah bagi yang berakal sehat.